LOCAL FOOD, LOCAL PRIDE: MENGENAL PANGAN LOKAL INDONESIA DAN EKONOMI RESTORASI DI SENIMAN PANGAN
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan pangan lokal. Dari beragam jenis umbi, sayuran, buah, rempah, hingga kopi. Setiap daerah punya kekayaan pangan dengan karakter dan cerita yang berbeda. Sayangnya, potensi sebesar ini belum semuanya dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Padahal, pangan lokal bisa menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus identitas yang membanggakan.
Local food, local pride, bukan sekadar slogan, tetapi cara untuk lebih mengenal dan menghargai kekayaan pangan Indonesia. Salah satu tempat yang menarik untuk mengenal pangan lokal yang lokasinya sangat mudah ditemukan adalah Seniman Pangan di Bekasi. Di sini, pangan lokal tidak hanya disajikan sebagai makanan, tetapi juga dikenalkan melalui berbagai pengalaman yang menarik.
Mengenal Seniman Pangan, Rumahnya Pangan Lokal Indonesia
Seniman Pangan di Bekasi bukan sekadar tempat makan, tetapi bagian dari ekosistem yang memperkenalkan pangan lokal Indonesia melalui pengalaman, edukasi, dan kewirausahaan. Di tempat ini juga terdapat Sekolah Seniman Pangan yang didirikan pada tahun 2017 oleh Helianti Hilman, founder Javara Indigenous Indonesia. Sekolah ini hadir untuk mendorong generasi muda dan perempuan di daerah agar melihat pangan lokal sebagai peluang usaha sekaligus cara menjaga kekayaan biodiversitas pangan Indonesia.
Seniman Pangan memiliki luas tanah 3 hektar, berada di kawasan Vida Bekasi dan mengembangkan konsep yang menghubungkan kebun, pangan, budaya, kreativitas, hingga konsumen. Konsep ini sejalan dengan misi Javara Indigeneous Indonesia yang menaungi Seniman Pangan, sebagai yang bekerja bersama petani, perimba, nelayan, dan pengrajin pangan untuk mempertahankan warisan biodiversitas pangan Indonesia yang mulai terlupakan.
Seniman Pangan menjadi ruang edukasi bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan pangan lokal Indonesia. Tidak hanya menikmati makanan, pengunjung juga bisa belajar tentang proses budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan bahan pangan Nusantara. Pengalaman ini membuat kita semakin memahami bahwa pangan lokal punya potensi besar sekaligus cerita yang menarik.
Di kebun Seniman Pangan, terdapat lebih dari 100 varietas tanaman pangan lokal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari kacang mete dari Flores, tebu Papua, talas Bogor, hingga lengkio dan bawang Dayak dari Kalimantan.
Masih banyak pangan lokal lainnya yang bisa ditemukan di sini. Buat yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan pangan Indonesia, Seniman Pangan bisa menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Seniman Pangan juga memperlihatkan bahwa gastronomi tidak hanya berbicara mengenai makanan enak. Ada cerita tentang asal bahan, budaya, biodiversitas, masyarakat, dan pengetahuan yang menyertainya.
Setiap makanan yang kita konsumsi sebenarnya memiliki perjalanan. Ada tanah tempat bahan tumbuh, ada orang yang menanam, ada tradisi yang diwariskan, dan ada proses pengolahan yang membuatnya sampai ke meja. Karena itu, pengalaman makan di Seniman Pangan terasa berbeda. Kita tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga diajak memahami apa yang ada di balik makanan tersebut.
Sekolah Seniman Pangan sendiri mengembangkan pendekatan kewirausahaan berbasis aksi. Pangan dari alam tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Konsepnya bergerak dari nature to value-added product, from farm to table, hingga pengalaman gastronomi dan wisata berbasis alam serta budaya.
Seniman Pangan x Ecobloggersquad, Ruang Belajar Tentang Local Food Local Pride
Sabtu, 8 Agustus 2026, saya bersama teman-teman blogger dari EcoBloggerSquad berkesempatan mengunjungi Seniman Pangan di Bekasi. Kunjungan ini menjadi pengalaman yang menarik karena saya tidak hanya diajak melihat bagaimana pangan lokal diolah menjadi makanan, tetapi juga memahami perjalanan panjang di balik bahan pangan yang selama ini sering kita anggap biasa.
Kami disambut oleh Ibu Mama Etih Suryatin atau yang akrab disapa Ibu Eet, Partnership Director Seniman Pangan, Ibu Johanna Hehakaja atau Ibu Jo, Business Director Sekolah Seniman Pangan, serta Ibu Corazon Nikijuluw, Food Technology & Education Manager Seniman Pangan.
Sebagai welcoming, kami langsung disuguhi sarapan yang cukup familiar bagi lidah orang Indonesia. Ada pisang kepok, kacang tanah, jagung, serta berbagai minuman segar yang menggunakan bahan pangan lokal.
Sebagai orang Sunda yang sejak kecil cukup akrab dengan makanan kukusan, lalapan, sayuran, dan pola makan sederhana, awalnya saya merasa makanan tersebut biasa saja. Tidak ada yang terlalu mengejutkan. Namun, pemikiran itu berubah setelah berbincang dengan Ibu Jo dan Ibu Eet.
Ternyata, bahan pangan yang terlihat sederhana tersebut memiliki cerita panjang. Bahkan, beberapa bahan yang kami nikmati pagi itu berasal dari luar Pulau Jawa. Dari sini saya mulai memahami bahwa pangan lokal tidak selalu berarti bahan yang tumbuh di sekitar rumah kita. Ada perjalanan, petani, komunitas, pengetahuan tradisional, dan proses panjang yang membuat bahan tersebut akhirnya sampai ke meja makan dan kami santap pagi ini.
Untuk mengenal lebih dekat kekayaan pangan lokal sekaligus merasakan pengalaman langsung bersama tanaman yang tumbuh di Indonesia, kami diajak mengikuti beberapa kegiatan seru secara langsung.
1. Farm tour
Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan di Seniman Pangan adalah Farm Tour. Kami diajak melihat area kebun dan mengenal tanaman pangan secara lebih dekat. Farm tour membuat kita memahami bahwa makanan tidak tiba-tiba muncul di meja makan. Ada proses menanam, merawat, memanen, mengolah, hingga akhirnya menjadi makanan yang bisa kita konsumsi.
Untuk mengenal lebih dekat kekayaan pangan lokal Indonesia, kami diajak berkeliling kebun Seniman Pangan dan melihat ratusan varietas tanaman dari berbagai daerah. Mulai dari bawang lengkio dari Kalimantan, kacang mete dari Flores, talas dari Bogor, hingga beragam tanaman pangan lainnya. Berkeliling kebun ini membuat saya semakin menyadari bahwa biodiversitas pangan Indonesia begitu kaya dan setiap tanaman memiliki cerita serta potensi yang berbeda.
Hari itu kami juga diajak secara langsung menanam sayur, memetik kopi, memanen singkong dan tebu yang berasal dari Papua. Bagi saya, aktivitas seperti ini penting karena hubungan kita dengan makanan semakin jauh ketika semua kebutuhan bisa dibeli dengan mudah. Kita sering mengetahui nama makanannya, tetapi tidak tahu siapa yang menanam, dari mana bahan tersebut berasal, atau bagaimana prosesnya sebelum sampai ke meja makan kita. Melalui farm tour, hubungan antara manusia, tanah, tanaman, petani, dan makanan terasa lebih nyata.
2. From farm to table
Konsep from farm to table menjadi bagian menarik lainnya di Seniman Pangan. Konsep ini memperlihatkan bagaimana bahan pangan dapat bergerak dari kebun hingga menjadi sajian di meja makan. Saat berkunjung, kami tidak hanya melihat prosesnya, tetapi juga ikut mengolah bahan lokal. Salah satunya membuat selai dari rosela dan minuman berbahan kemangi.
Kemangi mungkin lebih sering saya kenal sebagai lalapan. Namun, di sini kemangi bisa diolah menjadi minuman dengan karakter rasa yang berbeda. Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa bahan lokal sebenarnya memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan.
Pangan lokal tidak harus selalu disajikan dengan cara yang sama seperti yang kita kenal sejak kecil. Dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat, bahan yang sama bisa memiliki nilai ekonomi baru. Dan inilah yang dilakukan oleh Seniman Pangan, sekaligus mendorong ekonomi restoratif.
3. Culinary showcase
Seniman Pangan juga menghadirkan culinary showcase yang memperkenalkan berbagai pangan dari daerah Indonesia. Menariknya, bahan-bahan tersebut tidak berhenti sebagai produk mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah garam yang dibuat dari pelepah nira dari Papua. Produk ini bukan sekadar garam. Di baliknya ada pengetahuan lokal, sumber daya alam, proses produksi, dan perempuan-perempuan hebat dan berdaya di daerah yang mengolahnya.
Mayoritas produk pangan yang diperkenalkan di cafe Seniman Pangan juga melibatkan para perempuan berdaya di daerah. Mereka mendapatkan pendampingan agar mampu mengembangkan potensi pangan yang ada di wilayahnya. Bagi saya, bagian ini justru menjadi salah satu hal paling menarik dari Seniman Pangan. Ketika kita membeli sebuah produk pangan lokal, sebenarnya kita tidak hanya membeli makanan. Ada kontribusi terhadap ekonomi komunitas di baliknya.
4. Mencicipi pangan indigenous Indonesia
Seniman Pangan juga tidak bisa dilepaskan dari semangat Javara Indigenous Indonesia yang berupaya memperkenalkan kekayaan pangan dan pengetahuan masyarakat adat serta komunitas lokal Indonesia.
Setelah puas berkeliling dan melihat bagaimana pangan lokal diolah menjadi makanan sehat sekaligus memiliki nilai ekonomi, kami pun diajak mencicipi langsung beragam sajian pangan lokal Indonesia. Dari sini, kami semakin memahami bahwa bahan pangan yang sederhana bisa diolah menjadi hidangan yang menarik tanpa kehilangan karakter dan cerita asalnya.
Beberapa sajian pangan lokal yang diperkenalkan antara lain Sambal Tumpang, Inter Singkong dari Bogor, Nasi Subut dari Kalimantan, Ayam Tangkap dari Aceh, ikan goreng, serta Tahu Tempe Bacem. Ada juga Sate Singkong dengan sambal kacang dan Perkedel Jagung dari Mollo, Nusa Tenggara Timur.
![]() |
| Salah satu pangan lokal Nusantara yang wajib dicoba |
Untuk condiment, tersedia Sambal Beberok dari Nusa Tenggara Barat, Sambal Terong Belanda dari Sumatera Selatan, serta berbagai kerupuk dan emping. Sementara untuk dessert, ada Rujak Aceh dan Sagu Sep Pisang dengan Gelato dari Papua. Sagu Sep dengan toping gelato ini jadi favorit saya.
Daftar pangan lokal yang disajikan, memperlihatkan satu hal penting. Indonesia tidak kekurangan pangan lokal. Justru sebaliknya, kita memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus bangga akan hal ini. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tetap dikenal, dikonsumsi, dikembangkan, dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya.
Yuk Bersama Bergerak Berdaya, Dorong Ekonomi Restorasi Dengan Konsumsi Pangan Lokal Dari Rumah
Hal lain yang menarik dari Seniman Pangan adalah peran perempuan dalam pengembangan pangan lokal. Pemberdayaan perempuan dilakukan melalui pendampingan agar mereka tidak hanya menjadi produsen bahan pangan, tetapi juga mampu mengembangkan produk, meningkatkan kualitas, memahami pasar, hingga memiliki kesempatan memperluas akses ekonomi.
Pendampingan ini bahkan tidak berhenti di Indonesia. Seniman Pangan turut membawa pengalaman dan pengetahuan pemberdayaan perempuan hingga ke Fiji dan Samoa. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa isu pangan lokal sebenarnya jauh lebih luas daripada urusan makanan. Ada persoalan ekonomi, perempuan, budaya, lingkungan, hingga keberlanjutan komunitas.
Ketika perempuan memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk lokal dan memperoleh akses pasar yang lebih luas, manfaat ekonominya dapat kembali kepada keluarga dan komunitas. Pada akhirnya, proses inilah yang dapat mendukung economic restoration.
Dari kunjungan ini saya semakin memahami bahwa local food dan local pride sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat. Mencintai pangan lokal bukan berarti kita harus berhenti mengonsumsi makanan dari luar. Lebih dari itu, kita perlu memiliki kesadaran bahwa makanan yang berasal dari daerah sendiri memiliki nilai budaya, ekonomi, dan ekologis yang penting.
Memilih pangan lokal juga bisa menjadi bentuk kontribusi yang dapat dilakukan dari rumah. Kita bisa mulai dengan membeli produk dari petani lokal, memilih bahan pangan dari komunitas sekitar, mencoba pangan tradisional, atau mengenalkan makanan khas daerah kepada keluarga. Langkahnya memang sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama bisa menciptakan permintaan yang membantu menjaga keberlangsungan ekonomi produsen lokal.
Inilah yang kemudian berkaitan dengan awareness for economic restoration using locally sourced food and its relation with the IPLC heritage. IPLC atau Indigenous Peoples and Local Communities merupakan masyarakat adat dan komunitas lokal yang memiliki pengetahuan, tradisi, serta hubungan yang erat dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Pangan menjadi salah satu bagian penting dari warisan tersebut.
Ketika pangan lokal terus dikonsumsi dan memiliki pasar, pengetahuan tradisional yang menyertainya juga memiliki peluang untuk tetap hidup. Petani, nelayan, perajin pangan, dan komunitas lokal mempunyai alasan ekonomi untuk mempertahankan apa yang selama ini mereka miliki.
Dengan demikian, restorasi ekonomi bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan. Ada upaya untuk mengembalikan nilai ekonomi kepada masyarakat yang selama ini menjaga sumber pangan, budaya, dan pengetahuan lokal.
My Thought about Local Food, Local Pride
Pada akhirnya, kunjungan ke Seniman Pangan membuat saya melihat pangan lokal dengan perspektif yang berbeda. Local food bukan hanya tentang apa yang tumbuh di Indonesia, tetapi tentang bagaimana kita menghargai orang-orang yang menjaga dan mengembangkannya.
Local pride juga tidak harus selalu ditunjukkan melalui sesuatu yang besar. Memilih pangan lokal untuk dikonsumsi sehari-hari bisa menjadi langkah sederhana yang punya dampak. Karena ketika kita membeli, mengonsumsi, dan memperkenalkan pangan lokal, kita ikut menjaga pengetahuan tradisional, mendukung perempuan dan komunitas lokal, mempertahankan biodiversitas pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi.
Buat saya, inilah makna local food, local pride yang sebenarnya. Bukan sekadar bangga karena Indonesia kaya pangan, tetapi ikut memastikan kekayaan tersebut tetap hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjaganya.
Saya juga belajar bahwa pangan bukan cuma soal apa yang kita makan. Di dalamnya ada sejarah, pengetahuan, warisan, pengalaman, dan cerita yang perlu terus dijaga. Setiap bahan punya perjalanan dan orang-orang yang berperan di baliknya. Dengan mengenal dan mengonsumsi pangan lokal, kita ikut menghargai petani, perempuan, masyarakat adat, serta komunitas lokal yang menjaga kekayaan pangan Indonesia.
Mari bersama bergerak berdaya untuk mendorong restorasi ekonomi dengan mulai mengonsumsi pangan lokal dari rumah. Langkah sederhana ini bukan hanya mendukung petani dan komunitas lokal, tetapi juga ikut menjaga pengetahuan, warisan, serta cerita di balik pangan Indonesia agar terus hidup dan berkelanjutan.








0 Comment
Silakan berkomentar dengan bijak dan positif. Terima kasih.