Bangkok Climate Action Week 2026 dengan tema Rao Likit: Economy We Shape, Climate We Share, hadir membawa semangat Rao Likit, yang dalam bahasa Thailand berarti kita yang menentukan. Tema ini mengingatkan bahwa arah ekonomi dan masa depan menghadapi perubahan iklim bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh pihak lain. Ada peran dan pilihan yang bisa kita lakukan, mulai dari menjaga lingkungan hingga menggunakan sumber daya alam secara bijak.
Salah satunya adalah memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber pangan. Hutan bukan sekadar ruang hijau, tetapi rumah bagi berbagai tumbuhan yang memiliki fungsi ganda. Selain membantu menjaga keseimbangan ekosistem, banyak di antaranya juga menjadi sumber pangan bagi manusia dan satwa. Ketika hutan terjaga, sumber kehidupan pun ikut terlindungi. Dari sinilah aksi sederhana bisa menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.
Salah satu inspirasi menjaga hutan dan memanfaatkan tumbuhan dengan fungsi ganda datang dari Wawiyai Steve dan Daniel Kbarek dari Raja Ampat, yang mengelola mangrove sebagai pelestari lingkungan sekaligus sumber pangan bagi masyarakat di Desa Friwen, Raja Ampat. Keduanya hadir dalam webinar yang diadakan oleh EcoBloggerSquad berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF), dengan tema Inspirasi Ketahanan Pangan Dari Mangrove Di Raja Ampat.
Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat
Ketika membicarakan Raja Ampat, yang sering muncul dalam bayangan adalah laut biru, pulau-pulau karst, terumbu karang, dan kekayaan bawah lautnya. Namun, di balik keindahan tersebut terdapat ekosistem mangrove yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat pesisir. Mangrove bukan hanya berfungsi sebagai pelindung pantai dan habitat berbagai biota, tetapi juga berkaitan langsung dengan pangan dan penghidupan masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pelajaran penting dari kisah Wawiyai Steve dan Daniel Kbarek dalam upaya membangun ketahanan pangan lokal melalui penguatan kelompok perempuan dan pemanfaatan mangrove di kawasan Hutan Desa Kampung Friwen, Raja Ampat.
Mangrove Bukan Sekadar Pohon di Pesisir
Bagi masyarakat Kampung Friwen, mangrove merupakan bagian dari ruang hidup. Ekosistem ini menyediakan tempat bagi ikan, kepiting, kerang, dan berbagai biota yang menjadi bagian dari sumber pangan masyarakat. Ketika mangrove mengalami kerusakan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya pesisir.
Dalam pendampingan masyarakat Raja Ampat, Steve Wawiyai melihat bahwa persoalan konservasi tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan pangan dan ekonomi masyarakat. Ia bersama berbagai pihak mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjaga mangrove, tetapi juga memanfaatkan hasil hutan secara berkelanjutan. Steve sendiri aktif mendampingi masyarakat pesisir melalui Perkumpulan Kawan Pesisir dan memiliki pengalaman dalam pemetaan serta pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat.
Pendekatan ini penting karena konservasi akan lebih kuat ketika masyarakat mendapatkan manfaat nyata tanpa harus merusak ekosistem yang menjadi sumber kehidupannya.
Ketika Perempuan Menjadi Bagian Penting dari Konservasi
Salah satu hal menarik dari cerita Kampung Friwen adalah kuatnya peran perempuan. Berdasarkan pemetaan yang disampaikan dalam berbagai kegiatan pendampingan, pemanfaatan sumber daya mangrove banyak dilakukan oleh perempuan. Mereka mencari ikan dan kerang, memanfaatkan hasil mangrove, hingga mengolahnya menjadi pangan.
Karena itu, penguatan kelompok perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan berbasis mangrove. Di Kampung Friwen dan Yenbeser, perempuan tidak hanya berperan dalam urusan rumah tangga, tetapi juga terlibat dalam penanaman mangrove, menjaga kawasan, serta mengembangkan produk pangan. Bahkan, sekitar 80 persen para perempuan berperan aktif sebagai pengelola KUPS Pengolahan Mangrove, KUPS Agroforestry, KUPS Kerajinan Tangan, Kelompok Patroli dan Pokja Perempuan Perlindungan Mangrove.
Menurut Steve, penguatan perempuan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan hutan. Perempuan yang selama ini dekat dengan sumber pangan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang penting untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dari Hutan Menjadi Sumber Pangan
Menariknya, pemanfaatan mangrove di Raja Ampat tidak berhenti pada hasil perikanan di sekitar ekosistem tersebut atau sekadar menjaga pesisir Raja Ampat. Buah mangrove juga dapat diolah menjadi berbagai macam bahan pangan lokal.
Warga Kampung Friwen, Raja Ampat, mengolah mangrove menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah. Buah mangrove dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan dasar makanan, serta dikembangkan menjadi sirup, selai, keripik, hingga cookies. Kreativitas ini menunjukkan bahwa mangrove tidak hanya dijaga sebagai ekosistem, tetapi juga dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung pangan lokal.
Dari mangrove, kita menjadi tahu bahwa ada tumbuhan yang memiliki fungsi ganda. Mangrove membantu menjaga ekosistem pesisir, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi sumber pangan apabila dimanfaatkan dengan pengetahuan dan cara yang tepat. Bahkan berdampak pada meningkatnya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar, melalui produk-produk olahan yang bernilai ekonomis tinggi.
Konsep seperti ini menarik untuk dipahami dalam konteks ketahanan pangan. Ketahanan pangan tidak selalu berarti harus mendatangkan bahan pangan dari tempat lain. Potensi pangan lokal yang sudah tersedia di sekitar masyarakat juga dapat dikembangkan, selama pemanfaatannya tidak menghilangkan sumber daya tersebut.
Hutan Desa Memperkuat Hak Kelola Masyarakat
Upaya menjaga mangrove di Friwen juga berkaitan dengan penguatan tata kelola kawasan. Sejak proses pemetaan partisipatif dilakukan, masyarakat didorong untuk memiliki peran yang lebih kuat dalam pengelolaan wilayahnya.
Pada 2024, masyarakat Kampung Friwen memperoleh penetapan Hutan Desa seluas sekitar 1.025 hektare, sebagai Ruang Lindung, Ruang Pemanfaatan, dan Ruang Pemanfaatan Konservasi. Status tersebut memberikan landasan yang lebih kuat bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis hutan dan pesisir.
Di sinilah peran pendampingan dan penguatan kelembagaan menjadi penting. Daniel Kbarek dari The Asia Foundation juga terlibat dalam penguatan kapasitas pengelola perhutanan sosial, termasuk melalui pelatihan penyusunan rencana kelola dan rencana kerja bagi lembaga pengelola hutan desa dan organisasi masyarakat sipil.
Artinya, menjaga hutan bukan hanya tentang menanam pohon. Ada persoalan tata kelola, pengetahuan, kelembagaan, akses ekonomi, serta keterlibatan masyarakat yang harus berjalan bersama.
Menjaga Hutan Berarti Menjaga Sumber Pangan
Cerita dari Raja Ampat memberikan perspektif sederhana tetapi penting. Ketika mangrove dijaga, yang dilindungi bukan hanya pohonnya. Ada ikan dan kerang yang hidup di dalamnya, ada pangan yang dapat diolah, ada penghasilan masyarakat, ada pengetahuan lokal, dan ada kehidupan generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Friwen, mangrove merupakan bagian dari hubungan antara alam dan kehidupan sehari-hari. Kerusakan mangrove berpotensi mengganggu sumber pangan dan penghidupan, sementara pemulihan ekosistem membuka kembali peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.
Inilah pesan penting dari inspirasi ketahanan pangan berbasis mangrove di Raja Ampat. Menjaga hutan tidak harus selalu dipahami sebagai aktivitas yang jauh dari kebutuhan manusia. Justru dengan menjaga ekosistem, kita sedang menjaga sumber kehidupan.
Mangrove mengajarkan bahwa satu ekosistem bisa memiliki banyak fungsi sekaligus. Ia menjadi pelindung pesisir, rumah bagi berbagai biota, sumber pangan, sumber penghidupan, sekaligus ruang belajar bagi masyarakat.
Dan ketika perempuan diberi ruang untuk terlibat, pengetahuan lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan sosial. Pengalaman Kampung Friwen memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari sumber daya yang sudah dimiliki masyarakat, dengan satu syarat penting yaitu alamnya tetap dijaga.
Dari Raja Ampat, kita belajar bahwa menjaga hutan sebenarnya bukan pilihan antara lingkungan atau ekonomi. Keduanya bisa berjalan bersama ketika masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaannya. Mangrove juga memberi contoh bahwa tumbuhan memiliki fungsi ganda, dapat sekaligus menjadi penjaga alam dan sumber pangan. Karena itu, menjaga hutan berarti juga menjaga sumber pangan, pengetahuan lokal, dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Yuk Kenali Tumbuhan Yang Mempunyai Fungsi Ganda Di Sekitar Kita
Berbicara tentang tumbuhan yang mempunyai fungsi ganda, sebenarnya kita tidak perlu mencari terlalu jauh. Kita bisa melihat pohon kelapa yang banyak tumbuh di wilayah pesisir Indonesia. Selama ini mungkin kita mengenalnya hanya sebagai pohon yang menghasilkan kelapa untuk diminum atau dijadikan bahan masakan. Padahal, hampir seluruh bagian pohon kelapa memiliki manfaat.
Menariknya, kelapa bukan tanaman asli Indonesia. Asal-usulnya masih menjadi perdebatan karena kelapa telah menyebar sangat luas sejak ribuan tahun lalu. Namun, penelitian genetika menunjukkan bahwa terdapat dua pusat domestikasi kelapa, yaitu kawasan Samudra Hindia dan Pasifik. Dari wilayah inilah kelapa kemudian menyebar melalui aktivitas manusia dan terbawa arus laut ke berbagai wilayah tropis.
Salah satu yang membuat pohon kelapa menarik adalah fungsi gandanya seperti mangrove. Akar kelapa yang menyebar dan berserat membantu menopang pohon agar tetap berdiri, sekaligus membantu mengikat tanah di sekitarnya. Di kawasan pesisir, keberadaan vegetasi seperti kelapa juga menjadi bagian dari lanskap yang membantu menjaga kondisi lingkungan.
Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan berbagai kebutuhan lainnya. Daunnya bisa digunakan untuk kerajinan atau bahan penutup tradisional. Sabut dan tempurung kelapa juga memiliki nilai guna dan ekonomi. Sementara itu, bagian yang paling mudah kita kenali adalah buahnya.
Buah kelapa bisa dinikmati sebagai air kelapa, daging buahnya dapat diolah menjadi santan, serundeng, kue, dan berbagai makanan tradisional. Dari daging kelapa juga dapat dihasilkan minyak kelapa, termasuk Virgin Coconut Oil atau VCO.
VCO memiliki nilai ekonomi karena dapat dikembangkan menjadi produk pangan dan produk perawatan tubuh. Banyak orang menggunakannya dalam berbagai kebutuhan, termasuk sebagai bahan perawatan kulit dan rambut. Namun, klaim kesehatan mengenai VCO tetap perlu dilihat berdasarkan bukti ilmiah dan cara penggunaannya.
Bagi masyarakat, pengolahan kelapa menjadi produk bernilai tambah juga membuka peluang ekonomi. Kelapa yang awalnya hanya dijual sebagai bahan mentah dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Dari kelapa dan mangrove, kita bisa melihat satu hal sederhana. Tumbuhan tidak hanya memiliki satu fungsi. Ia bisa menjadi penjaga lingkungan sekaligus sumber pangan dan penghasilan. Cara pandang seperti ini penting untuk terus dikenalkan. Ketika kita memahami manfaat tumbuhan di sekitar kita, kita akan lebih menghargai keberadaannya. Menjaga alam bukan hanya tentang menyelamatkan pohon, tetapi juga menjaga sumber kehidupan yang selama ini mungkin kita anggap biasa.
Jaga Hutan Sama Dengan Jaga Sumber Pangan
Selama ini hutan sering dipahami sebagai ruang hijau yang perlu dilindungi karena menyimpan keanekaragaman hayati. Padahal, fungsi hutan jauh lebih besar dari itu. Hutan berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, termasuk sumber pangan. Ketika hutan terjaga, berbagai tumbuhan, satwa, air, tanah, dan ekosistem di dalamnya memiliki kesempatan untuk terus mendukung kehidupan masyarakat. Karena itu, menjaga hutan sebenarnya juga berarti menjaga sumber pangan.
Salah satu caranya adalah mengenali dan menjaga tumbuhan yang mempunyai fungsi ganda. Mangrove menjadi contoh yang sangat dekat dengan pembahasan ketahanan pangan di Raja Ampat. Ekosistem mangrove berperan sebagai pelindung wilayah pesisir sekaligus menjadi habitat berbagai biota seperti ikan, kepiting, dan kerang yang dapat menjadi sumber pangan masyarakat.
Tidak hanya ekosistemnya, beberapa jenis mangrove juga dapat dimanfaatkan secara bijak sebagai bahan pangan. Masyarakat Kampung Friwen, Raja Ampat, misalnya, mengembangkan berbagai olahan dari mangrove seperti tepung, sirup, selai, keripik, hingga cookies. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan ketika sumber daya alam dikelola secara berkelanjutan.
Contoh lainnya adalah pohon kelapa yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kelapa memiliki banyak fungsi, mulai dari akar yang membantu menopang pohon dan mengikat tanah, batang, daun, sabut, tempurung, hingga buah yang dapat dikonsumsi dan diolah menjadi berbagai produk pangan. Sementara bagian dagingnya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi santan dan minyak kelapa. Dari satu tumbuhan, kita mendapatkan manfaat ekologis sekaligus peluang pangan dan ekonomi.
Cara pandang inilah yang penting untuk terus dibangun. Menjaga hutan bukan sekadar menanam pohon, tetapi memastikan tumbuhan yang sudah ada tetap tumbuh, ekosistem tetap berfungsi, dan masyarakat dapat memperoleh manfaat tanpa mengeksploitasi alam.
Semangat tersebut juga selaras dengan Bangkok Climate Action Week 2026 yang mengangkat tema Rao Likit: Economy We Shape, Climate We Share. Gagasan tersebut menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam menentukan arah ekonomi dan menghadapi perubahan iklim. Pilihan kita dalam menggunakan sumber daya alam hari ini akan berpengaruh terhadap kehidupan di masa depan.
Menjaga hutan menjadi salah satu bentuk aksi nyata menghadapi perubahan iklim sekaligus membangun ketahanan pangan. Ketika hutan dan tumbuhan tetap terjaga, sumber pangan lokal memiliki peluang untuk terus tersedia. Masyarakat pun dapat mengembangkan pemanfaatannya menjadi produk bernilai ekonomi tanpa harus mengorbankan ekosistem seperti yang dilakukan oleh masyarakat Friwen, Raja Ampat melalui mangrove.
Jadi, mari mulai dari hal yang dekat dengan kita. Kenali tumbuhan di sekitar, jangan merusaknya, dukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan, dan pilih produk lokal yang berasal dari pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
Karena jaga hutan sama dengan jaga sumber pangan. Jaga sumber pangan berarti menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan hari ini adalah bagian dari menjaga masa depan dan keberlangsungan ketahanan pangan akan terus aman.
Tumbuhan apa yang ada di sekitar kamu yang mempunyai fungsi ganda? Boleh sharing di kolom komentar manfaat dan fungsinya.
























