Looking for My Article

10 October 2020

Pantai Air Manis Dan Legenda Batu Malin Kundang

Tahun 2013 pertama kali mengunjungi Padang berkat promo salah satu maskapai. Dengan membayar tiket keberangkatan hanya Rp. 5.000-, dan pulangnya seharga Rp. 199.000-, saya dan beberapa teman-teman dapat mengelilingi kota Padang sepuasnya. Salah satu destinasi wisata yang kami kunjungi adalah Pantai Air Manis, pantai yang terkenal dengan Batu Malin Kundang.



Pantai Air Manis atau dikenal juga dengan nama Pantai Aia Manih dalam bahasa Padang ini berada 10 km menuju selatan dari pusat kota. Pantai ini memiliki pantai yang sangat luas dan terkenal dengan ombaknya yang kecil, sehingga aman jika teman-teman membawa anak kecil. Dekat dari pantai ini juga terdapat pulau kecil yaitu Pulau Pisang Ketek dan Pulau Pisang Gadang. Paling penting pantai ini adalah tempat cerita legenda Batu Malin Kundang.



Di bibir Pantai Air Manis ini, terdapat sebuah batu pahatan yang digadang-gadang sebagai legenda Batu Malin Kundang. Konon katanya, Batu Malin Kundang yang sudah kayak raya berniat pulang dan berlabuh di pantai ini. Mendengar kabar itu, sang ibu hendak menyambutnya. Namun sayang ketika tiba di pantai ini, dia tidak mengakui ibunya. Ibunya murka dan mengutuknya menjadi sebuah batu. Terlepas dari legenda itu, hikmah yang bisa kita petik adalah kita harus tetap menghormati orangtua apapun keadaan mereka. 



Pantai yang cantik dan legenda Batu Malin Kundang membawa pantai ini menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di Kota Padang. Pengunjung biasanya berfoto di pahatan patung Batu Malin Kundang ini dengan latar belakang pantai yang indah. Usut punya usut, saya mendengar cerita dari teman saya yang dosen di salah satu universitas di Padang, bahwa batu ini adalah batu pahatan dari mahasiswa-mahasiswa di Padang. Benar atau tidaknya, biarlah menjadi cerita.




Daya Tarik Pantai Air Manis


1. Pemandangan Pantai

Pantai Air Manis mempunyai warna pasir campuran putih dan hitam, jadi ketika tersapu air laut menurut saya malah jadi indah. Kombinasi langit yang luas dan biru menjadi spot yang ciamik untuk berfoto.



2. Berfoto di Batu Malin Kundang

Sepertinya ini adalah spot wajib untuk berfoto. Ketika saya kesana masih pagi jadi tidak harus antri untuk dapat berfoto di pahatan batu ini.




3. Menikmati kuliner setempat

Nah di tempat ini tersedia juga beberapa warung yang menjual makanan khas Padang, bisa juga loh makan nasi Padang asli di kota ini. Selain itu teman-teman bisa menikmati ikan segar yang dijual oleh pedagang dan nasi Kapau khas Suku Padang. Nasi ini berisi nasi, sambal, lauk khas Kapau, gulai tunjang, gulai babek atau paruik kabau, gulai sayur nangka, dan gulai cangcang.


Sumber Gambar: food.detik.com


4. Menikmati Matahari Terbit dan Terbenam

Ini dia paling ditunggu-tunggu bagi para si pecinta sunrise dan sunset. Di pantai ini kita bisa menikmati matahari terbit dan terbenam. Jangan lupa bawa kamera dan outfit yang ciamik ya temans. Jangan lupa juga siapin pose yang keceh ya.




5. Pulau Pisang Kecil dan Pulau Pisang Besar

Jarak pulau kecil ini hanya sekitar 500-an meter dari Pantai Air Manis. Luasnya juga hanya sekitar 1 ha. Bisa berjalan kaki atau menyewa perahu untuk bisa mengunjungi pulau ini.



6. Bermain sepak bola atau bermain bola volley

Karena mempunyai bibir pantai yang sangat luas dan berombak kecil, wisatawan yang berkunjung ke Pantai Aia Manih ini dapat asik bermain bola atau voli dengan sahabat atau keluarga. Jangan lupa bawa bolanya dari rumah ya untuk hemat pengeluaran.


7. Pulau Pisang Gadang, Pulau Pisang Besar, Pulau Pisang Sikuai

Pulau lain yang dapat kita nikmati di sekitar Pantai Air Manis dan Batu Malin Kundang ini adalah Pulau Pisang Besar, Gadang dan Sikuai.



8. Sewa ATV

Sekarang sudah tersedia ATV yang dapat disewa oleh para pengunjung dengan harga Rp 100.000-, per jam untuk dapat mengelilingi Pantai Air Manis yang panjang ini.



Alamat Pantai Air Manis

Pantai Air Manis, Kelurahan Aia Mani, Kecamatan Padang Selatan, Padang, Sumatera Barat.

Harga Tiket Masuk (HTM)
Tahun 2013 kami berkunjung masih harga Rp. 3.000-, per orang
Parkir Elf: Rp 10.000-,

Tahun 2020: Anak-anak Rp. 5.000-, dan Dewasa Rp. 10.000-,
Parkir Roda Dua: Rp. 2.000-, dan Roda Empat Rp 4.000-,

Cara menuju ke Pantai Air Manis

  1. Pertama paling mudah kita bisa menyewa kendaraan pribadi, itu yang kami lakukan dan shared cost bersama teman-teman.
  2. Kedua, menggunakan kendaraan motor, ini lebih mudah karena dapat menghindari kemacetan di kota.
  3. Ketiga, menggunakan kendaraan umum berupa angkot atau trans Padang dengan rute Lubuk Buaya menuju Pasar Raya dan berhenti di Jalan Raya Teluk Bayur. Dari sini teman-teman bisa melanjutkannya dengan angkot atau ojek.

Jalan menuju Pantai Air Manis

Fasilitas

Beberapa fasilitas yang ada di tempat ini sudah semakin membaik, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang  menghabiskan dana sekitar 15 M untuk merevitalisasi dan membangun fasilitas di destinasi wisata Pantai Air Manis ini.
  1. Tempat makan
  2. Toilet
  3. Penginapan
  4. Tempat ibadah
  5. Transportasi umum
  6. Area parkir
  7. Tempat masuk
  8. Keamanan
  9. Jalan yang layak
  10. Penyewaan ATV
  11. Penyewaan perahu dayung dan motor
  12. Penyewaan gazebo


Nah, setelah membaca artikel ini, penasaran kan untuk mengunjungi Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Batu Malin Kundang-nya.



01 October 2020

Ngukuih Hajat, Ritual Adat Pendakian Gunung Bukit Raya

Salah satu pengalaman berkesan dalam pendakian Gunung Bukit Raya yang merupakan gunung tertinggi di Kalimantan ini adalah mengikuti upacara atau ritual adat yang harus dilakukan sebelum melakukan pendakian yaitu Ritual Adat Ngukuih HajatRitual adat ini merupakan upacara atau ritual yang wajib dilakukan oleh semua pendaki  yang hendak melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya. Upacara ini sudah turun temurun dilakukan oleh Suku Dayak Ot Danum, yaitu suku yang tinggal di kaki gunung atau desa terakhir sebelum melakukan pendakian Ke Gunung Bukit Raya. Upacara Adat Ngukuih Hajat dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada saat berangkat agar selama perjalanan kita diberikan perlindungan dan saat turun sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kita karena telah diberikan keselamatan sampai kembali lagi.



Persiapan Ritual Adat Ngukuih Hajat

Bapak Kepala Adat ditemani seorang warga memberitahu kami semua, bahwa sebelum melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya wajib melakukan ritual adat untuk keselamatan kami yaitu Ritual Adat Ngukuih Hajat. Bapak Kepala Adat, istri beserta satu orang warga akan membantu dalam proses pengumpulan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk upacara tersebut. Nanti kami tinggal membayar semua barang-barang tersebut. Tentu saja saya excited  banget ingin segera tahu prosesnya seperti apa. Karena saya selalu tertarik dengan budaya-budaya seperti ini. Menambah wawasan pastinya, dan semakin bangga menjadi warga +62 yang kayak akan peninggalan budayanya.


Bahan-bahan yang disiapkan

Beberapa barang yang digunakan untuk upacara adat Ngukuh Hajat ini adalah berupa ayam kampung, mandau (golok), beras kuning, gelang nanik yang talinya terbuat dari akar yang ada di hutan dan dianggap sakral bagi mereka. Setelah kami berkumpul, kami memulai berdoa dan dipimpin oleh Kepala Adat. Kepala Adat menggunakan pakaian khusus yaitu pakaian kehormatan yang hanya dipakai saat upacara/ritual yang penting saja, termasuk juga peci/kopiah. Kami semua sudah siap mengikuti ritual adat sebelum pendakian ke gunung tertinggi di Pulau Kalimantan ini.


Bagaimana proses ritual adat ini

Berdoa

Upacara Adat Ngukuh Hajat akan dimulai. Kami semua diminta untuk duduk berjejer menghadap matahari terbit. Kepala Adat mulai berdiri dan membacakan beberapa kalimat-kalimat dalam bahasa Dayak yang jujur saya tidak mengerti arti dan maksudnya. Hanya saja saya meyakini kalimat-kalimat tersebut merupakan doa yang dipanjatkan untuk keselamatan kami semua. Sambil mengayun--ayun ayam yang dipegangnya, Kepala Adat terus membacakan lafalan doa tersebut dalam rangkaian kalimat bahasa Dayak. Saya pun berdoa dalam hati sesuai dengan kepercayaan saya, agar kami semua dilindungi.  Selang beberapa menit, Kepala Adat meminta salah satu dari kami yang beragama muslim untuk menyembelih ayam tersebut.



Menyembelih ayam

Selesai berdoa, Om Ridwan sebagai perwakilan dari kami melakukan penyembelihan ayam dan darahnya diteteskan ke atas piring yang sudah ada beras kuningnya.

Mengoleskan darah ayam

Ritual berikutnya adalah, Kepala Adat sembari mengucapkan doa dalam bahasa Dayak mengoleskan darah ayam yang sudah dicampur dengan beras kuning yang sudah disiapkan di atas piring ke kaki, lutut, dahi, dan ubun-ubun kami.


Gambar: Om Mawardi


Menggigit mandau

Selesai diolesi dengan darah ayam, kami pun diminta untuk menggigit mandau yang sudah digunakan untuk menyembelih ayam sebanyak 3x. Tentu saja darahnya sudah dibersihkan terlebih dahulu. 



Mengikatkan gelang di lengan

Selesai menggigit mandau, ritual dilanjutkan dengan mengikatkan gelang gelang di lengan kami yang terbuat dari akar kayu yang diambil dari hutan yang dianggap sakral oleh Suku Dayak Ot Danum. Gelang ini tidak boleh dilepas sampai kami turun kembali dari Gunung Bukit Raya. kecuali terlepas sendiri. 

Gambar: Om Mawardi

Talinya cukup kokoh, hampir 3 minggu gelang ini tidak lepas di tangan saya, sengaja saya tidak melepasnya saat turun karena saya masih melanjutkan perjalanan di wilayah pedalaman Kalimantan lainnya. Tangan kami wajib dikepalkan saat tali ini diikatkan di tangan kami.


Pelajaran yang bisa diambil

Toleransi

Pelajaran pertama yang saya dapat, mereka benar-benar menjunjung tinggi yang namanya toleransi. Kenapa?, karena mereka tahu dalam Islam ada aturan tertentu dalam menyembelih binatang, mereka paham orang muslim tidak boleh memakan binatang yang disembelih tanpa doa. Toleransi yang sangat besar namun terkadang terlewatkan untuk menjadi sebuah perhatian besar bagi sebagian banyak orang. Kalau tidak ada toleransi tentu saja Kepala Adat akan menyembelihnya sendiri atau menyuruh siapa saja, tanpa memikirkan yang beragama muslim bisa makan atau tidak. Tapi ternyata tidak seperti itu.


Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Pelajaran kedua yang saya dapat adalah, dimana bumi dipijak, maka disitu langit dijunjung. Di sini saya melihat teman-teman yang juga punya toleransi tinggi untuk mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat adat Suku Dayak sebelum melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya. Mengikuti bukan berarti kita menjadi bagiannya. Tapi lebih ke arah toleransi. Namanya bertamu ya ikuti aturan pemilik rumah. Jika tidak bisa, silakan anda tidak usah bertamu.

Gambar: Om Mawardi


Keberagaman budaya Indonesia

Melihat upacara atau ritual adat Suku Dayak Ot Danum ini, makin membuka pikiran saya, mengenai toleransi, keragamanan budaya, kearifan lokal yang unik yang masih terjaga. Membuat saya makin open minded terhadap keberagaman suku, agama, ras, dan lainnya. Kita patut bangga dengan keberagaman yang dimiliki Indonesia yang belum tentu dimiliki orang negara lain. kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikannya.

Sungguh indah engkau negeriku, semoga diberikan keluasan waktu dan rezeki untuk melihat keanekaragaman Indonesia lainnya lebih dekat.

Upacara selesai, ayam yang tadi disembelih ternyata dimasak oleh ibu Kepala Adat dan menjadi santapan makan malam kami.




Nah mau menyaksikan langsung ritual adat Ngukuh Hajat ini? seperti apa dan bagaimana, silakan berkunjung ke Gunung Bukit Raya ya. Sekarang pendaftarannya sudah bisa dilakukan online dan tentu saja itu mempermudah para pendaki untuk mengunjungi gunung ini.

See you soon Gunung Bukit Raya. Semoga tetap lestari Ritual Adat Ngukuih Hajat.


Popular Posts

Mendaki Puncak Poon Hill di Himalaya

Poon Hill adalah satu dari belasan puncak gunung yang berderet di  Himalaya . Menjadi salah satu puncak gunung yang menjadi incaran banyak ...

Back to Top