August 20, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (Part 1)


Bukit Raya, pastinya sudah tidak asing lagi bagi para pendaki Indonesia atau bahkan untuk pendaki dari luar, karena masuk dalam Seven Summit-nya Indonesia. Gunung ini merupakan gunung yang ketinggiannya paling rendah dibandingkan dengan gunung yang masuk kategori Seven Summit Indonesia lainnya yaitu sekitar 2.278 mdpl, namun siapa sangka kalau rutenya lumayan menguras kesabaran karena lumayan panjang.

akhirnya sampai puncak......
picture taken by Mifta

Kami berangkat bulan Agustus tahun ini, dimana musimnya masih musim kemarau. Setidaknya meminimalisir bertemu dengan penghuni sejati gunung ini, yap “sang pacet si penguasa gunung ini”. Binatang ini tidak berbahaya, namun cukup bikin gemas kalau sampai masuk-masuk ke kaki dan menempel di tubuh kita. Serta bentuknya yang kenyal-kenyal bikin geli kalau sampai nempel di kulit.

Berawal dari postingan di sebuah group pendaki, saya daftar untuk gabung, namun ternyata sudah full kuotanya. Tetiba menjelang hari H dikabarin ada slot kosong, thanks to my God, selalu indah pada waktunya J

Seperti biasa, tak ada satupun yang saya kenal sebelumnya, namun justru ini yang bikin seru, ketemu temen-temen baru J


Hari ke-1 (Jakarta à Bandara Internasional Supadio à Pool Damri à Nango Pinoh)

Kami berangkat bersebelas orang, ada yang dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan saya sendiri berangkat dari Kalimantan karena sedang ada pekerjaan di kota ini. Untuk menuju tempat ini, dapat menggunakan pesawat ke Bandara Internasional Supadio Pontianak dengan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 jam dengan rate tiket pesawat 500-1 juta, tergantung waktu kapan membelinya dan maskapai yang digunakan.

Meeting point kami di Pool Damri Pontianak yang ada di Jalan Pahlawan Kota Pontianak, tempat ini dipilih karena dekat dengan bandara dan juga salah satu tempat penjualan tiket Damri ke Nango Pinoh yaitu lokasi terakhir kendaraan darat sebelum ke Rantau Malam yang merupakan desa terakhir sebelum pendakian.

Dari Bandara dilanjutkan ke Pool Damri menggunakan taksi lokal dengan tarif sudah ditentukan sesuai tujuan, kalau banyakan bisa shared cost dan jadi lebih murah. Teman-teman juga bisa menggunakan kendaraan online namun harus jalan jauh keluar, karena transportasi online masih belum boleh masuk ke bandara ini, ya sama seperti di kota-kota lainnya dimana bandara menjadi salah satu zona merah untuk transportasi online.


Kontak Damri Pontianak
Pict taken by Om Maw

Sampai di Pool Damri, teman-teman bisa langsung membeli tiket Damri dengan harga Rp. 175.000 per orang. Tiket bisa juga dipesan jauh-jauh hari sebelumnya melalui telepon. Keberangkatan ke Nango Pinoh hanya ada satu kali setiap pukul 07.00 malam dari Terminal Soedarso. Pool Damri ini bukan tempat keberangkatan, namun hanya untuk pembelian tiket saja. Masih sekitar 10-15 menit lagi dari tempat ini untuk menuju terminal keberangkatan yaitu Terminal Soedarso. Tapi jangan khawatir teman-teman, Pool Damri ini menyediakan jasa antar gratis ke Terminal Soedarso dengan menggunakan mobil elf.

Sambil menunggu diantar ke Terminal Soedarso, teman-teman juga bisa beristirahat di Pool Damri ini. Ada ruang tunggu di lantai 2, ada tempat tidurnya juga, lumayan kan bisa istirahat leyeh-leyeh, gratiiiiiiissss. Ada toilet, mushola juga. Nah kalau mau cari makanan atau wifi bisa geser ke sebrang, ada cafe yang terkenal di Jakarta dan Yogyakarta buka di sini, lumayan kan bisi wifi-an :)


suasana ruang tunggu Pool Damri di Jl. Pahlawan Pontianak
pict taken by Om Ihsan

ada musholanya juga buat penumpang yang hendak beribadah
pict taken by Om Ihsan

Sore sekitar pukul 17.30an kami diantar ke Terminal Soedarso. Sekitar 10 menit kami sudah sampai. Pukul 07.00 malam, bus sudah berangkat menuju Nanga Pinoh. Fasilitas Damrinya cukup memuaskan, AC yang super sejuk, selimut, tempat duduk slipper yang empuk yang bisa dinaikan dan diturunkan kursinya jadi bisa tidur nyaman tuh, ada buat charge, toilet, wifi dan dikasih snack juga loh, nyamanlah pokoknya.


depan-belakang - Om Maksun, Om Ridwan, Me, Om Ihsan, Om Komeng, Mels, Dims, Om Maw, Mifta, Bina, Om Rudy
interior Pool Damri, wefie dulu sebelum perjalanan 9 jam ke Nango Pinoh
pict taken by Om Riswan

Perjalanan akan ditempuh sekitar 8-9 jam sampai Nanga Pinoh. Pukul 11.00 malam bus sempat berhenti di Desa Sosok sekitar ½ jam untuk istirahat dan makan. Pukul 11.30 malam bus kembali melaju dan kami tidur lagi ya teman-teman, buat persiapan trekking yang katanya panjang sekali rutenya dan juga katanya harus bungkuk-bungkuk sebelum ke puncak, have a nice sleep…….


Hari ke-2 (Nanga Pinoh à Dermaga Sungai Serawai à Sungai Serawai à Desa Jelundungan)

Pukul 03.40 pagi kami tiba di Terminal Nango Pinoh. Suasananya cukup dingin dan masih sepi hanya ada beberapa bus yang baru sampai dari kota lainnya. Kami isitirahat di warung depan terminal sambil menunggu angkot yang akan mengantar kami ke dermaga.

Di sekitar terminal ini ada masjid, warung makan, swalayan seperti Alfamart/Indomaret, ATM, toilet juga ada. Bisa untuk membeli beberapa kebutuhan logistik. Untuk sayuran bisa dibeli di pasar tradisional Nango Pinoh dekat dermaga Sungai Serawai.

Dermaga Sungai Serawai. Pasarnya sangat lengkap. Dari sembako sampai pakaianpun ada. Setelah makan, sholat dan rapi-rapi, pukul 06.00 pagi kami berangkat dengan menggunakan satu angkot menuju Dermaga Sungai Serawai. Sekitar 10 menit kami tiba di dermaga menuju Sungai Serawai.


suasana pagi Pasar Tradisional di Dermaga Sungai Serawai

Dua orang dari kami mengurus perizinan Simaksi. Lainnya loading barang dan perempuannya belanja logistik untuk kebutuhan kami beberapa hari. Untuk gas kami beli di Kota Pontianak, ada di beberapa toko dan swalayan karena di Pasar Nango Pinoh kawatir tidak ada.

Tepat pukul 08.00 pagi kami berangkat ke Sungai Serawai dengan menggunakan speed boat yang hanya muat maksimal 7 orang termasuk nakhodanya, sehingga kami harus pesan 2 speed boat. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 5 jam termasuk istirahat makan di rumah makan terapung di sepanjang Sungai Serawai.


wefie dulu di atas speed boat di Dermaga Sungai Serawai
pict taken by Om Maw

sekitar pukul 10.00 pagi kami sempat berhenti untuk makan
pict taken by Om Maw

Pukul 01.00 siang, kami tiba di Sungai Serawai. Dilanjutkan dengan menggunakan Klotok untuk menuju Desa Rantau Malam, yaitu desa terakhir atau basecamp sekaligus di desa ini juga dilakukan ritual adat sebelum melakukan pendakian. Ada sedikit kendala mengenai Klotok yang kami pesan, sehingga pukul 03.00 sore kami baru berangkat menuju Desa Rantau Malam dan kami berangkat dengan 2 buah Klotok.


bentuk klotok yang kami tumpangi untuk menuju Desa Rantau Malam

Karena musim kemarau arus air sangat kecil sehingga Klotok yang kami tumpangi tidak bisa berjalan dengan cepat. Akibatnya kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Rantau Malam. Sekitar pukul 07.40 malam kami tiba di desa ini. Sementara 1 klotok lagi yang teman kami tumpangi, baru tiba pukul 10.00 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menginap di Desa Jelundungan.
jadi total perjalanan kami adalah 9 jam perjalanan darat ke Nango Pinoh, 5 jam lewatin sungai ke Serawai, dan 7 jam perjalanan sungai lagi, menuju Desa Glundung, total 21 jam darat dan sungai, maboooooookkkkkkk

Eits, jangan senag dulu, masih ada perjalanan offroadnya juga berjam-jam, sebelum melakukan pendakian, seruuuu bangetttt, pokoknya, penasaran????



36 comments:

  1. Mantap tulisannya dan lanjutkan ceritanya nunggu sambil ngopi enak nih

    ReplyDelete
  2. Wow....lama bener perjalanannya. Aku ga sanggup mbayangin. Dah ahhh baca ceritamu ajahh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah Mba, gunungnya bukan yang paling tinggi dibanding seven summit lainnya, tapi perjalanannya luar biasa 😂😂😂😂 tapi seruuuu

      Delete
  3. Aahh paceeet!! Jadi ingat mandi pake basahan di tengah hutan, dalam keadaan penuh busa sabun lari terbirit-birit gara2 ni binatang, kenyaaalnya bikin aku milih mending nggak mandi sekalian😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha pas aku ke sana musim kemarau, pacetnya pada bobbobo cantik 😂😂😂

      Delete
  4. Kalau masih muda, jalan2 masih semangat ya. Terus melanglang buana ya beb kasih cerita yg banyak ke kami2 ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. siappppp mba panutankue, semoga Allah kasih terus kesempatan buat aku untuk bisa berkeliling dunia menikmati keindahannya :)

      Delete
  5. MAsyaAllah perjalannya beneran butuh perjuangan esktra ini mbaa. Hehhe. Salut ya dan kalau perjalanan gini emang harus kompak terus mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya betul mba makanya harus hati2 pilih temen

      Delete
  6. Wah ini sih pengalaman yang berharga dan selalu terkenang ya mba, perjuangannya keren banget

    ReplyDelete
  7. Aku malah baru tau soal bukit ini. Seru sekali ya perjalanannya

    ReplyDelete
  8. Seru banget travellingnya. Molzania kepingin juga hiking ke gunung. Tapi gak bisa bawa kursi roda ya pasti jalannya gak rata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangat kaka cantik, sekarang ada beberapa gunung yang sudah ramah dengan yang pakai kursi roda, you can do it mba, i trust you, selalu ada jalan buat orang-orang yang percaya diri dan yakin :)

      Delete
  9. Manteppp kak, udh smpe ke tanah pinoh welcom to borneo yaa, aku juga sudah sampai ke bukit itu, perjalanannya memang perlu PR yang berat tp itu kehapus pas indah nya pemandangan disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mba betul banget, wah mba udah ke sana juga ya, seru kan

      Delete
  10. Wih mbak, kalau ga ada jiwa petualangan pasti minta pulang ya heuheu aku tu ga bisa kayaknya perjalanan darat dan sungai lama banget. Hebat mbak mei

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima aksih Mba Sri, malahan seru bikin nagih kalau udah sekali

      Delete
  11. Wah lokasi wisata nya ternyata terjangkau dengan transportasi umum penghubung dari Brunei Darussalam ya?dekat dengan perbatasan luar negeri dong? jadi penasaran banyak turis asing juga nggak ya di sana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketemu hanya 1 orang pas saya seminggu di sana, gunung ini maish jarang karena aksesnya memang masih sulit mba

      Delete
  12. Wow perjalanannya panjang banget ya. Cuma mereka yg emang punya jiwa petualang kuat yg sanggup nempuh proses seperti ini 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang hobby aja yang suka tantangan hehehhe

      Delete
  13. Waduuuh kaaa hebat banget 21 jam total perjalanan ini, aku aja d kereta 15jam rasanya teler lho

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru soalnya bisa lihat yang unik, segar, hijau dan ga ada di kota

      Delete
  14. asyik deh bisa istirahat dulu di pool damri. perjalanan panjang menguras tenaga tapi senang kalau akhirnya jadi sampai tempat tujuan

    ReplyDelete
  15. Aaaawww marimar mau bgt melakukan prjalanan panjang kyk gini. Pasti seru dan asyik bgt apalagi prjalannanya bs ditempuh dgn tansportasi umum ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa bangetttt ayo mba sambil makeupan di sana malahan makin ga berasa ehhehe

      Delete
  16. MasyaAllah Tabarakallah, indah sekali ya, aku jadi pengen juga mbak melihat langsung Bukit Raya Perjuangan ini

    ReplyDelete
  17. kapan aku bisa nyusul ya, udah kepo cerita part dua nya ditunggu om hehe

    ReplyDelete
  18. pagi-pagi di pasar tradisional sesepi itu kak? Yaampun kok beda banget sama di Jakarta ya bisa dipenuhin banyak manusia:((

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya sepi kayak gitu mba jadi kalau belanja tenang bangetetettete

      Delete