Looking for My Article

30 November 2020

SERUNYA VOLUNTOURISM DI PERBATASAN ENTIKONG, INDONESIA MALAYSIA

Pengalaman saya melakukan traveling dan penelitian ke Perbatasan Entikong, yaitu perbatasan darat langsung antara Indonesia dan Malaysia, membawa saya dalam kegiatan serunya voluntourism. Seperti biasa, sebisa mungkin ketika saya traveling, saya akan melakukan kegiatan volunteer di daerah sekitar. Volunteer kali ini saya ambil mengajar selama kurang lebih 1 bulan di beberapa dusun yang ada di perbatasan Entikong. Tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, memberikan pelajaran penting dalam hidup saya yaitu tentang BERBAGI.


AWAL MULA MENGAMBIL VOLUNTOURISM DI PERBATASAN ENTIKONG

Awal mulanya saya bisa melakukan voluntourism adalah, karena saya sempat melakukan penelitian untuk tesis saya di Entikong perbatasan Indonesia Malaysia ini. Menyelam sambil minum air. Selesai penelitian saya melakukan traveling ke beberapa destinasi wisata di kawasan perbatasan Entikong. Selesai melakukan traveling, baru saya melakukan voluntourism.



Saat penelitian, saya mengenal banyak warga dari berbagai kalangan di kawasan perbatasan ini, termasuk para guru. Saya kenal dengan kepala sekolah di salah satu sekolah di pedalaman yang ada di perbatasan Entikong. Setelah berdiskusi akhirnya saya berkesempatan untuk mengajar di 2 sekolah yang beliau pimpin. Saya dititipkan kepada salah satu guru yang mengajar di sana yang rumahnya tidak jauh dari rumah warga yang saya tempati. Jadi setiap pagi saya menumpang beliau untuk ke sekolah tempat saya mengajar. Thank to God, Tuhan memberikan kelancaran saya untuk melakukan voluntourism di perbatasan Entikong, yang merupakan batas negara Indonesia dan Malaysia ini.


AKSES MENUJU PERBATASAN ENTIKONG

Agustus 2018, saya berangkat menuju kawasan perbatasan Entikong dari Bandara Yogyakarta dan transit di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Kemudian dilanjutkan ke Bandara Supadio. Pontianak. Perjalanan dari Yogyakarta sampai ke Pontianak kurang lebih memakan waktu 6 jam. Yang harus diperhatikan adalah tidak setiap jam penerbangan tersedia menuju Bandara Supadio ini. Namun saat ini sudah tersedia penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Pontianak 2x dalam sehari dan hanya dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam saja, tanpa harus transit.


Kondisi jalan menuju perbatasan Entikong

Eits, perjalanannya masih panjang loh. Kegiatan voluntourism ini penuh dengan petualangan. Dari Bandara Supadio, Pontianak saya masih harus ke terminal Damri kurang lebih 30 menit dari Bandara Supadio. Yap, untuk menuju kawasan perbatasan Entikong bisa ditempuh dengan bus besar Damri, milik pemerintah Indonesia, atau bus-bus pemerintah milik Malaysia dan Brunei Darussalam yang hanya ada 2x dalam sehari, yaitu pagi pukul 08.00 WIB dan pukul 08.00 WIB malam. Harga tiketnya waktu itu sekitar Rp. 160.000-, untuk 1 kali perjalanan sampai menuju kawasan perbatasan Entikong.

Perjalanan ditempuh sekitar 5-7 jam dari terminal Bus Damri menuju kawasan perbatasan Entikong. Dulu, katanya perjalanan bisa sampai 10-13 jam, karena kondisi jalan yang sangat rusak, sekarang sudah dibangun dengan jalan aspal yang sangat bagus.


SERUNYA VOLUNTOURISM DI PERBATASAN ENTIKONG

Hari pertama saya melakukan voluntourism, pukul 6 saya sudah berangkat. Karena perjalanan untuk menuju sekolah tempat saya mengajar membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Jadi setiap harinya saya harus menempuh perjalanan selama 4 jam bolak balik. Perjalanan yang sangat luar biasa dan two thumbs up untuk semua guru yang mengajar di pedalaman khususnya di perbatasan Entikong. Selama 1 bulan saya menumpang guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. 

Hari pertama saya begitu menikmati perjalanan. Kami melewati hutan sawit yang luasnya ratusan bahkan ribuan hektar. Semua pemandangannya dikelilingi hutan hijau khas pulau Borneo. Langitnya cerah biru meski masih pagi.


Salah satu jalan menuju perbatasan Entikong

Namun udara panas sudah mulai terasa dari awal berangkat. Perbatasan Entikong ini kalau siang hari memang panasnya bisa mencapai 37 derajat, bisa dibayangkan panasnya seperti apa. Hal ini disebabkan karena Kalimantan Barat merupakan daerah di Indonesia yang paling panjang dilewati garis khatulistiwa. Kulit saya yang alergi panas, awal tinggal di tempat ini terus-terusan memerah dan terasa sekali terbakarnya. Selain itu panasnya juga membuat kepala saya pusing. Namun kondisi ini tak menyurutkan saya untuk tetap melakukan voluntourism di perbatasan Indonesia Malaysia ini.




Jalan yang saya lewati menuju sekolah, melewati jalan berbatu besar dan kecil yang masih terjal naik turun, kadang melewati jalan tanah yang kalau musim hujan motor yang saya tumpangi tidak bisa naik, karena tanahnya lengket ke ban motornya. Sehingga berkali-kali saya harus membantu mendorongnya. Sering juga saya harus berjalan kaki ratusan meter melewati tanah-tanah licin dan lengket itu. 


Salah satu jalur menuju sekolah, dalam proses pembangunan


Belum lagi kondisi jalan naik turun. Melewati sungai-sungai kecil yang kalau pas hujan akan meluap. Sampai sepatu kesayangan saya rusak. Selama 1 bulan saya berkutat dengan kondisi jalan seperti ini. Di beberapa area memang dalam proses pembangunan aspal, tapi sebagian lagi ya memang jalannya seperti itu, belum tersentuh pembangunan. Belum lagi kalau kondisi hujan, bisa dibayangkan ya, udah becek, licin pula. Namun untungnya beberapa jalur jalan cukup lebar. Mungkin ini salah satu sebab kenapa lokasi ini masih jarang dikunjungi oleh para volunteer.


Kondisi jalan menuju sekolah, masih jalan tanah


Cuaca dan kondisi akses menuju sekolah tidak menyurutkan semangat saya untuk bertemu dan berbagi dengan anak-anak di pedalaman perbatasan. Fasilitas untuk proses belajar mengajar masih jauh dari sempurna dan layak. Saya semakin bersyukur karena dulu saya diberikan kesempatan untuk mendapatkan fasilitas sekolah yang sangat layak.


Kondisi ruangan guru


Di sisi lain saya sangat bahagia, sambutan murid-murid di sekolah ini begitu mengharukan. Saya melihat air muka mereka begitu nampak senang menyambut kedatangan saya. Mereka begitu antusias, menyambut kehadiran saya yang mereka sebut sebagai "ibu guru muda". Membuat saya semakin bersemangat menghabiskan waktu berbagi dengan mereka. Hari pertama, saya berbagi dengan anak-anak kelas 1 dan kelas 3. Tapi saya diperkenalkan juga dengan semua siswa dari Kelas 1 sampai Kelas 6.




Masih di hari pertama, jam pelajaran sudah selesai, waktunya pulang. Mereka antri satu persatu bersalaman dan mencium tangan saya. Mengingatkan saya sewaktu masih SD tentang apa itu sopan santun. Setelah keluar semuanya, saya menutup pintu kelas, saya kaget beberapa anak perempuan dan beberapa anak laki-laki yang mungil-mungil berkerumun dan berhamburan memeluk saya bersamaan di depan pintu.

"Besok ibu guru muda datang ke sini lagi kan?"

Tanya salah satu murid perempuan dengan logat khas melayunya dan masih belum saya ingat siapa namanya hari itu. Mereka memanggilku dengan sebutan ibu guru muda. Entah ide dari mana. Karena sewaktu di kelas mereka tidak memanggilku dengan nama itu.

"Ya dong, ibu guru muda besok ke sini lagi, kan mau ketemu lagi dengan adek-adek, kan kita besok mau menggambar lagi, jangan lupa PR-nya  ya dikerjakan di rumah".

Jawabku sembari menjongkokkan tubuhku agar setara dengan anak-anak mungil ini dan mengingatkan mereka soal PR menggambar.

"Asiiiiik besok ibu guru muda ke sini lagi".

Teriak mereka dengan muka senang.

"Ibu guru muda akan lama kan di sini?"

Tukas anak lainnya dengan cepat.

"Mungkin, emang senang ya kalau ibu guru muda ke sini lagi?"

Tanya ku dengan penasaran sambil menatap satu-satu wajah anak-anak yang belum kuhapal kelas berapanya.

"Kami senang sekali ibu guru muda, kami bosan di sini tidak ada ibu guru, di sini tidak ada guru perempuan"

Jawab salah satu murid perempuan.

"Ya sudah sampai ketemu besok ya adek-adek, jangan lupa PR-nya dikerjakan ya".

Jawabku buru-buru, karena melihat guru yang saya tumpangi sudah melambai-lambaikan tangannya, tandanya sudah waktunya pulang.

"Ya ibu guru muda" 

Jawabnya serentak. 

Anak-anak itu terlihat bahagia dan lari berhamburan sambil meneriakkan nama ibu guru muda. Bahagia dan terharu bercampur aduk. Tak terasa air mata membasahi kelopak mataku. Saya merasa hidup saya sangat berharga hari itu. Merasa menjadi manusia yang sangat bermanfaat. Mungkin ini masih hal kecil, tapi membuat saya satu langkah merasa lebih bermanfaat untuk orang lain. Betul kata pepatah.

"Kita akan menjadi berharga saat berada di tempat yang tepat".

Setiap hari selama 1 bulan saya berkutat dengan anak-anak SD yang lucu-lucu ini. Saya mengajar di 2 sekolah yang berbeda dan jaraknya lumayan jauh. Hari Senin - Rabu saya mengajar di sekolah A dan hari Kamis - Sabtu saya mengajar di sekolah B. Saya berbagi ilmu dengan anak-anak dari mulai kelas I sampai kelas VI.


Keterbatasan guru membuat kelas digabung dan ini kelas I dan kelas III 


Karena keterbatasan fasilitas dan guru, saya harus mengajar 2 tingkat di satu ruangan. Kelas I dengan kelas III. Kelas II dengan kelas IV dan Kelas V dengan kelas VI. Awalnya kewalahan, karena mereka pasti berisik dan agak sulit diatur, ya namanya juga anak-anak. Lama-lama saya terbiasa dan enjoy aja. Dan senyuman anak-anak di perbatasan Entikong ini membuat saya tidak merasakan lelah apapun. 




Karena keterbatasan dalam beberapa hal, cara mengajar mereka tidak bisa disamakan dengan sekolah SD pada umumnya yang ada di Pulau Jawa. Sehingga setiap malam saya menyusun cara mengajar yang menyenangkan untuk esok harinya agar mereka tetap bersemangat untuk tetap belajar. Beberapa anak di kelas IV bahkan ada yang belum mengenal huruf abjad dan angka.


 Gambar milik Paler, siswa kelas 3 yang belum menghafal alfabet dan angka, tapi gambarnya selalu juara

Namun anak ini sangat pintar menggambar. Semua gambarnya menggambarkan anak yang sangat imajinatif. Saya tidak mengukur kecerdasan seseorang dengan angka, namun saya harus tetap memutar otak agar anak ini bisa mengenal alfabet dan angka. Belum lagi kondisi anak lainnya yang sama uniknya. namun jadi tantangan tersendiri buat saya. Dan semakin menghargai peran guru itu sangat luar biasa. Tak ada kata atau apapun yang dapat dibandingkan dengan jasa-jasa mereka.




Selain membangun hubungan di kelas, kadang sepulang sekolah, sambil menunggu guru yang saya tumpangi selesai atau mengerjakan hal lain, saya juga bermain dengan anak-anak di perbatasan Indonesia Malaysia ini. Mereka mengajak saya bermain bola, bermain petak umpet, atau bermain galah di halaman sekolah, bahkan saya sering diajak memetik sayuran di kebun mereka. Atau diajak ke rumah mereka dan membakar ubi. Ah serunya.




Tak jarang juga saya mengobrol dengan orang tua mereka dan diajak ke hutan atau kebun milik mereka. Tak ayal sepulang sekolah saya sering diberikan oleh-oleh hasil kebun makanan dan minuman yang mereka beli dari Malaysia. Bukan sekali dua kali tapi hampir setiap hari. Saya akan pulang membuka sayuran, buah, atau minuman dari orang tua murid. Ketika di tempat lain saya melihat ada jarak antara guru dengan orang tua murid, di sini saya merasakan mereka begitu menghormati guru yang mengajar anak-anak mereka. Membuat saya terharu. Mereka sangat berterima kasih sekali karena sudah bersedia jauh-jauh dan ikhlas tanpa dibayar berbagi pengetahuan dengan anak-anak mereka. Sesederhana itu membuat orang lain bahagia.




Tibalah saatnya hari terakhir saya mengajar di tempat ini, saya merasa sedih sekali. Bagaimana tidak, 1 bulan saya bersama mereka, sudah seperti keluarga sendiri, kenal dekat dengan beberapa orangtua murid, ada ikatan batin yang tidak disengaja. Anak-anak ini sering kali bercerita soal mimpi-mimpi mereka kelak. Ada yang ingin menjadi guru, menjadi polisi, dokter, pilot, bahkan ada yang bermimpi kelak menjadi pemadam kebakaran. Sebuah mimpi-mimpi khas anak kecil.




Hari terakhir saya membagikan kenang-kenangan buku gambar lengkap dengan alat gambarnya. Hasil donasi dari teman saya juga. Anak-anak itu bahagia sekali mendapatkan buku gambar itu. Kami harus menangis ketika saya berpamitan, dan mereka meminta saya untuk bisa kembali ke tempat ini lagi suatu hari untuk bertemu mereka. Semoga Tuhan mengizinkan ya adek-adek, saya doakan semoga kelak semua mimpinya menjadi kenyataan, menjadi generasi muda yang mengharumkan bangsa Indonesia di kancah dunia. Kelak kalian yang akan memimpin bangsa ini.




Banyak pelajaran yang saya dapat dari kegiatan voluntourism di perbatasan Entikong, perbatasan Indonesia Malaysia ini. Terima kasih untuk semua guru di Desa Entikong. Terima kasih untuk semua warga di perbatasan Entikong, dan terima kasih untuk anak-anak cerdas yang sudah memberikan pelajaran berharga dalam hidup saya.

20 November 2020

TIPS MENJAGA KEBERSIHAN BADAN SELAMA PENDAKIAN BAGI PEREMPUAN

Buat para perempuan yang hobby-nya naik gunung, pasti sudah tahu lah ya, gimana rasanya dilema agar tetap bersih selama melakukan pendakian. Kadang kalau sudah lelah selama perjalanan, udah gak peduli loh sama kebersihan badan kita. Sampai di area camp, udah aja tuh lempar carrier, buka sepatu langsung rebahan masuk ke dalam tenda yang udah dipasangin sama anak-anak cowok dan tidur deh ampe pagi. Ada yang seperti itu? ada loh, saya pernah melihatnya. Mungkin saking lelahnya, banyak perempuan yang lupa bagaimana menjaga kebersihan badan selama pendakian.




Sebagai perempuan, kita wajib peduli dengan kebersihan diri sendiri dalam kondisi apapun apalagi saat melakukan pendakian. Bersih-bersih dulu sebelum tidur apalagi saat mendaki karena badan pasti berkeringat saat perjalanan, dan wajib makan juga pastinya, biar stamina kita selama pendakian tetap ok. Selain nyaman buat tubuh kita, nyaman juga buat orang yang dekat dengan kita, kalau kita menjaga kebersihan badan selama pendakian.

Nah, aku punya beberapa tips yang bisa dilakukan oleh para pendaki perempuan atau perempuan yang baru mau mendaki agar tetap bersih dan fresh selama melakukan pendakian di gunung. Semua tips menjaga kebersihan badan selama pendakian khususnya bagi perempuan ini, berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing dengan beberapa teman perempuan yang suka trekking.

Apa saja? yuk check it out.


KEBERSIHAN KEPALA DAN RAMBUT

Berkeramas sebelum melakukan pendakian

Nah jangan lupa, sebelum melakukan pendakian, usahakan untuk cuci rambut agar saat kita berangkat dalam keadaan bersih. Ini wajib saya lakukan. Selain membuat kita lebih nyaman, juga rambut tidak kotor dalam waktu yang terlalu lama.

Membawa semprotan pewangi rambut

Nah kalau kamu care banget sama wangi dan kebersihan rambut kamu, kamu sebagai pendaki perempuan, bawa pewangi rambut dalam bentuk semprotan yang berukuran kecil. Dulu saya pernah melakukannya, tapi sekarang sudah mulai cuek hehehe. Ini bisa dipakai di pagi hari sebelum melakukan pendakian setiap harinya. Agar rambut kamu tetap wangi dan ternutrisi dengan cairan tersebut. Kalau pendakian hanya 2-3 hari sepertinya tidak perlu membawa alat ini.

Gunakan penutup kepala

Tips kedua untuk menjaga kebersihan badan selama pendakian adalah, saat kamu sedang melakukan perjalanan, gunakan penutup kepala berupa topi, atau sejenisnya dan bisa juga menggunakan jaket yang ada penutup kepalanya, agar terhindar dari kotoran seperti debu jika mendaki ke gunung yang berdebu atau berpasir. Pastinya menggunakan topi akan membuat rambut kamu tidak cepat kotor akibat debu loh.




Menggunakan topi juga menghindari dari ranting-ranting ketika mendaki gunung yang berhutan lebat. Nah selain alasan kebersihan, menggunakan topi juga menjamin keselamatan kamu.

Gunakan kacamata

Selain untuk alasan keamanan seperti terlindungi dari sinar matahari, penggunaan kacamata saat melakukan pendakian juga berkaitan dengan alasan kebersihan yaitu area mata kamu. Dengan kacamata bisa menghindari debu masuk ke mata ketika mendaki gunung yang berpasir atau penuh dengan debu, semisal di musim kemarau.

Jangan terlalu sering menyentuh area rambut atau kepala

Hindari bolak balik melepas dan mengikat rambut ketika sepanjang perjalanan, apalagi tanpa melepas sarung tangan yang bisa saja kotor dengan debu atau kotoran lainnya. Karena akan mengotori rambut atau bagian kepala kamu. Itu dia tips berikutnya untuk menjaga kebersihan badan selama pendakian khususnya bagi perempuan.

Gunakan masker atau buff

Lagi-lagi selain alasan keselamatan, masker atau buff juga bisa membantu area wajah kamu tetap bersih saat melakukan pendakian. Pastinya akan terhindari dari debu atau kotoran lainnya selama mendaki. Gunakan masker atau buff yang nyaman saat kamu bernafas.




KEBERSIHAN AREA BADAN

Ganti pakaian saat hendak tidur

Salah satu cara agar badan kamu tetap bersih saat mendaki gunung adalah memisahkan pakaian untuk trekking dan untuk tidur. Karena pakaian trekking pasti akan basah oleh keringat dan debu saat perjalanan. Saat perjalanan biasanya saya menggunakan sepatu trekking, kaos kaki, pakaian atas bawah, dan jaket. Nah, saat hendak tidur maka gantilah semua pakaian trekking dengan pakai bersih, agar tidur kamu lebih nyaman. 

Termasuk jaket, gunakan jaket tipis ketika kamu sedang melakukan perjalanan, agar siklus udara tetap berjalan baik pada tubuh kita. Gunakan jaket hangat ketika kamu hendak tidur di tenda pada malam hari, yang tahan angin (wind proof) dan tahan cuaca dingin.

Selalu ganti pakaian dalam

Saya minimal 2x sehari untuk mengganti pakaian dalam dimanapun, termasuk di gunung. Sebelum tidur dan saat akan mendaki saya akan selalu mengganti pakaian dalam. Jadi banyak dong ya kalau misalkan mendakinya dalam waktu yang lama? Yap, pastinya, tapi saya ada tipsnya juga loh soal ini.

Ini adalah tips menjaga kebersihan badan selama pendakian paling penting buat saya, apalagi saya perempuan yang clean-freak. Ga bisa banget pakai pakaian kotor yang berkeringat.


Jangan sharing perlengkapan pribadi dengan orang lain

Untuk menjaga kebersihan, saya tidak pernah sharing perlengkapan pribadi dengan orang lain. Mulai dari pakaian, perlengkapan mandi, handuk, perlengkapan kosmetik atau skincare, ataupun barang lainnya yang bersentuhan langsung dengan kulit kita. Tidak hanya dengan orang lain, bahkan dengan saudara perempuan saya sendiri, saya tidak pernah melakukannya. Jadi saat naik gunung, jangan pernah menggunakan barang temannya ya, atau juga membiarkan orang lain menggunakan perlengkapan pribadi kita yang bersentuhan langsung dengan kulit.

Membawa perlengkapan pembersih mulut dan gigi

Tips menjaga kebersihan badan selama pendakian bagi perempuan berikutnya adalah alat pembersih mulut dan gigi. Jangan lupa pergi kemanapun untuk selalu membawa perlengkapan gosok gigi. Air untuk sekedar gosok gigi pasti ada lah ya. Agar area gigi kamu tetap bersih. Atau kamu bisa menggantinya dengan mouthwash untuk berkumur agar area mulut kamu tetap bersih selama di gunung.

Membawa perlengkapan mandi

Perlengkapan mandi menjadi perlengkapan wajib dibawa kemana-mana termasuk saat mendaki gunung. Kalau di atas gunung memang ga mungkin untuk mandi ya, karena jarang ada sumber mata air besar saat di puncak atau sepanjang perjalanan yang bisa dipakai untuk mandi, tapi kita bisa menggunakan perlengkapan mandi ini saat sebelum atau sesudah turun dari tempat pendakian, agar badannya terbantu tetap fresh.

Tenda yang bersih

Penggunaan tenda yang bersih, juga salah satu cara untuk menjaga agar badan kita tetap bersih. Agar saat tidur kita terasa nyaman, maka selalu cuci dan bersihkan tenda setelah dipakai, sehingga pada saat akan digunakan dalam kondisi bersih. Hal ini akan berpengaruh terhadap kebersihan badan kita juga, kalau tendanya kotor maka badan kita juga akan kena imbas kotornya.

Bersihkan muka dengan tisu muka atau perawatan lainnya

Membawa produk perawatan kulit bagi perempuan saat mendaki gunung, sah-sah saja ko, ga ada larangan. Selama dalam batas wajar ya, alias seperlunya aja. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit kita juga. Misalkan membawa lip balm agar bibirnya tidak pecah dan kering karena udara dingin. Atau membawa sunblock agar tidak terkena paparan sinar matahari. Atau body lotion dan pelembab muka agar kulit badan dan mukanya terhindar dari kekeringan. Membawa kapas, toner atau micellar water buat aku sih wajib, untuk membantu menghapus debu dan kotoran yang menempel selama perjalanan, apalagi kalau mendakinya saat musim kemarau. Wajib banget. Tapi ingat, seperlunya dan yang standar aja ya.




Nah agar muka tetap bersih, kamu bisa membawa tisu basah atau pembersih muka berbentuk cairan yang tidak perlu dibilas dengan air. Sekarang sudah ada beberapa produk semacam ini sehingga ga perlu ribet saat melakukan trekking. Dan ini adalah tips menjaga kebersihan badan nomor 2 yang saya anggap penting selama pendakian bagi perempuan.

Matras dan sleeping bag bersih

Selain tenda, matras dan sleeping bag juga wajib dibersihkan setiap kali selesai digunakan. Kalau kotor maka kotorannya akan kena ke badan kita juga, akhirnya ga nyaman kan tidurnya? So, jangan lupa bersihkan matras sama sleeping bag-nya untuk menjaga kebersihan badan kita selama di gunung.

Bersihkan badan dengan tisu basah

Bawalah tisu basah secukupnya sesuai dengan lama pendakian. Gunakan tisu basah untuk membersihkan area badan kamu sebelum kamu kamu tidur dan menggantinya dengan pakain bersih. Tisu basah juga bisa kamu gunakan untuk membersihkan area intim kamu atau pada saat kamu hendak membuang air besar dan kecil. Carilah tisu basah yang non alkohol dan lebih lembut untuk area intim kamu. Bisa menggunakan tisu basah untuk bayi, selain lebih lembut biasanya lebih lembut. Pastikan gunakan tisu seperlunya dan sampahnya dibawa turun ya guys.



Mengganti pembalut secara teratur

Mengetahui siklus menstruasi sangat penting banget untuk buat perempuan sebelum melakukan pendakian, jika tahu sudah waktunya haid, jangan lupa membawa pembalut. Ganti setiap 4 jam sekali, agar area intim kamu tetap bersih dan nyaman selama pendakian. Ingat ya, bekas pembalutnya dilipat, dibungkus, dan dibawa turun kembali. Tips ini merupakan tips yang tak kalah penting buat saya, yang wajib dilakukan untuk menjaga kebersihan badan selama pendakian.

Jangan keseringan menyentuh muka

Hindari keseringan menyentuh area muka selama dalam perjalanan. Karena tangan atau sarung tangan yang kamu kenakan bisa saja penuh dengan kotoran atau debu. Sehingga debu-debu tersebut akan mengotori area muka kamu.


KEBERSIHAN KAKI DAN TANGAN

Gunakan sarung tangan

Menjaga kebersihan badan selama pendakian juga termasuk area kaki dan tangan guys. Apalagi perempuan mempunyai kulit yang lebih sensitif. Buat saya, sarung tangan adalah perlengkapan wajib yang harus saya gunakan saat melakukan pendakian. Selain menghangatkan tangan, melindungi kulit kita dari duri atau barang berbahaya lainnya, juga menjaga kita dari kotoran apapun yang bisa saja kita sentuh tanpa kita sadari saat perjalanan mendaki.

Rapikan sepatu dan kaos kaki

Nah kadang banyak perempuan yang suka lalai soal sepatu dan kaos kaki ketika mendaki. Biasanya ketika sudah sampai camp area, karena sudah lelah, biasanya langsung buka sepatu dan kaos kaki dan menyimpannya sembarangan. Kalau menyimpannya sembarangan, resiko kotor sangatlah tinggi. Misalnya, keinjek orang lain kan jadi kotor tuh, ada debu dan kotoran masuk, kena hujan jika sedang musim hujan atau menjadi lembab karena udara yang sangat dingin, atau ada hewan kecil yang masuk yang bisa membahayakan kaki kita.




Jadi, saat sampai di camp area, rapikan sepatu dan kaos kaki dengan membungkusnya misalnya menggunakan plastik, kemudian simpan di tempat yang aman, seperti di dalam tenda. Sebelumnya kamu bisa menyimpannya sebentar agar kena angin, sehingga ada siklus udara yang bertukar di sepatu dan kaos kakimu agar tidak lembab.

Hal ini penting agar kondisi kaki tetap bersih, tidak lembab, dan tetap nyaman ketika menggunakan sepatu dan kaos kaki. Satu lagi agar kaki tidak bau juga. jadi wajib dijaga kebersihannya ya.

Memotong kuku kaki dan tangan

Saya biasanya akan selalu mendaki dengan kondisi kuku kaki dan tangan yang pendek. Kenapa? karena kalau misalkan panjang selain beresiko luka, juga biasanya suka banyak debu atau tanah yang menempel di sela kuku. So, potong dulu ya kukunya, untuk alasan kebersihan kamu juga loh.

Membawa hand sanitizer

Barang ini selalu ada di tas saya kemanapun pergi, termasuk saat melakukan pendakian. Fungsinya sebagai pengganti air, pastinya setidaknya membersihkan tangan kita dari kuman-kuman yang menghampiri selama melakukan perjalanan.



Membawa gunting kuku

Tips terakhir untuk menjaga kebersihan badan selama pendakian khususnya bagi perempuan adalah, barang ini juga wajib saya bawa selama melakukan trekking. Jaga-jaga kalau misalkan kuku kita kemasukan debu atau tanah. Karena beberapa kali pengalaman seperti ini, nah biar kukunya tetap bersih, gunting kuku adalah barang yang wajib dibawa.

Nah, sekian dulu beberapa tips yang biasanya saya lakukan untuk menjaga kebersihan badan selama melakukan pendakian khususnya bagi perempuan.

Silakan berbagi di kolom komentar ya kalau teman-teman punya cerita lain.

10 November 2020

GARDEN OF DREAMS, TAMAN OASE DI TENGAH KOTA KATHMANDU, NEPAL

Cerita tentang perjalanan solo traveling saya ke Nepal, membawa saya mengenal banyak teman dari berbagai negara. Hari itu selepas turun dari pendakian dan setelah puas berkeliling di kota Pokhara, saya memutuskan kembali ke kota Kathmandu bersama beberapa teman pendaki yang bertemu di perjalanan. Mereka berasal dari Belanda, Jerman, dan Australia. Mereka bertiga adalah traveler sekaligus volunteer. Dari mereka inilah saya mengenal tempat-tempat tersembunyi di negara atap dunia ini. Termasuk mengetahui sebuah taman tersembunyi di tengah kota Kathmandu, namanya yaitu Garden of Dreams.


Beautiful picture from https://www.thecommonwanderer.com


Setibanya di Thamel, kota paling ramai di Kathmandu, ibukota Nepal, kami memutuskan untuk menyewa kamar dormit dengan bunk bed berjumlah 4 orang. Sesampainya di penginapan, kami langsung bersih-bersih dan langsung menuju tempat tidur masing-masing. Kami melewatkan makan malam karena sudah lelah dan kami tertidur pulas sampai esok pagi. Saya baru bangun pukul 8an. Teman-teman dormit saya sudah tidak ada di kamar, saya hanya melihat tas dan pakaian yang berserakan di tempat tidurnya masing-masing. Dengan mata yang masih perih dan setengah sadar, saya melihat suhu ruangan 1 derajat celcius dari pengukur suhu yang tertempel di dinding kamar. Membuat saya malas untuk beranjak dari tempat tidur, padahal usus perut rasanya sudah mengais-ngais meminta makan.



Badan rasanya masih remek banget akibat melakukan pendakian dan perjalanan selama hampir 10 hari. Jari kaki dan tangan terasa masih beku akibat dingin di puncak ABC mencapai -25 derajat. Selain itu saya membayangkan Thamel yang sangat sibuk dengan lalu lalang orang, penuh dengan debu, dan smell body yang belum bersahabat dengan hidung saya yang sangat sensitif. Belum lagi kebiasaan banyak orang di tempat ini spit carelessly, feeling nausea and vomit membayangkan itu. Makin membuat saya enggan keluar kamar.

Tetiba di balik pintu muncul seorang laki-laki berkulit putih dengan tinggi kurang lebih 190 cm, yap dia teman dormit saya dari Belanda, Joel, dengan e-book digenggamannya. Kulihat dia hanya menggunakan kaos tipis dan celana pendek. Sementara saya lengkap dengan jaket super tebal saja masih merasa kedinginan. Inilah bedanya orang negara 4 musim dan 2 musim menghadapi suhu 1 derajat hehehe.

Joel: "Hey you, just wake up? still feeling tired? "Your breakfast already made it. I'll go to the park, just reading a book, wanna join? just a breath fresh air".

Ucapnya terus menyerocos tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab satu-satu pertanyaanya.

Me: "Park?"

Tanyaku dengan sedikit mengantuk namun sumringah, membuat Joel tahu jawabannya, bahwa saya mau ikut.

Joel: "Yap, small park but it's beautiful, you'll love it. Garden of Dreams. I often reading book there. Ok, clean up your body! I will pick up your breakfast. Then we go".

Tanpa menunggu jawabanku, laki-laki lulusan master of engineering dari London ini langsung keluar kamar. Baru mengenalnya beberapa hari but I know he is such a kind person. He kept me up like his sister. Aku langsung berkemas dan rapi-rapi. 10 menitan Joel kembali ke kamar dengan nampan berisi hot chocolate kesukaanku dan menu sarapan pagi yang menggiurkan. Yap, potongan buah segar dengan dry fruits, biji gandum dan yogurt yang melimpah.

Joel: "Have a breakfast, then we go. Oh ya Amanda and Billy are going to the field, maybe they will be back before noon. And tonight we're going dinner at the best food here. Halal food, save for you, it's good taste, you'll like it".

 

Beautiful picture from Canva


Cerocosnya dan saya hanya pasrah menerima nampan itu dengan sedikit masih lemas. 

Me: "Far from here?"

Tanyaku sambil mengunyah sarapan yang dibawakan oleh Joel dan memperhatikan dia merapikan air minum dan buku ke dalam tas kecil warna hitam campur tosca, warna kesukaanku, dengan brand terkenal dari negaranya.

Joel: "10 minutes, on foot"."

Jawabnya. He gave me an answer in a nutshell, sambil menatap dan mencoba meyakinkanku bahwa itu beneran 10 menit loh.

Buat dia mungkin 5 menit sampai dengan kaki panjangnya hehe.

Joel: "Finish it"

Perintahnya. Sambil menunjuk sarapanku yang masih melimpah di bowl berukuran jumbo itu.

Selesai sarapan dan merapikan tas bawaan, kami keluar menuju taman itu. Garden of Dreams, Taman Tersembunyi Di Tengah Kota Kathmandu, I am coming. 

Betul saja, jarak dari penginapan menuju taman ini tidak begitu jauh hanya sekitar 10-15 menit saja, itupun karena saya sempat ambil beberapa gambar sepanjang jalan. Lokasinya cukup tertutup, saya tidak mengira didalamnya ada sebuah taman yang asri dan nyaman. Hanya pintu gerbag kecil yang loket masuk pembayarannya ada di dalam.


TENTANG GARDEN of DREAMS

Garden of Dreams atau sering disebut juga dengan Swapna Bagaicha atau dengan nama aslinya adalah The Garden of Six Seasons adalah sebuah taman tersembunyi di kota Kathmandu yang luasnya hanya 6.895 meter persegi. Taman ini dibangun oleh Kaisar Sumsher Ranadi tahun 1920-an yang terinspirasi dari gaya Edwardian yaitu Raja  Edward VII Belanda. Desain taman ini dipercayakan kepada arsitek ternama Kishore Narsingh. Taman ini bagai sebuah oase yang membuat mata kita lebih segar di tengah hiruk pikuk dan padatnya kota Kathmandu. Sehingga sangat kontras dengan kondisi Kathmandu yang sangat berdebu dan gersang.  


Beautiful picture from https://www.thecommonwanderer.com


Saat masuk taman ini, kita akan disuguhkan dengan kolam teratai yang cantik dengan air mancur yang tidak begitu tinggi. Garden of Dreams didesain dengan nuansa Eropa yang cukup kental. Taman neo-klasik ini mempunyai beberapa area yaitu theater terbuka (theater outdoor), kolam teratai, pergola, guci dan juga 6 paviliun yang mewakili 6 musim di Nepal yaitu Basanta Ritu (Spring), Grishma Ritu (Early Summer), Barkha Ritu (Summer Monsoon season), Sharad Ritu (Early Autumn), Hemanta Ritu (Late autumn), dan Shishir Ritu (Winter).

Setelah Kaisar Sumsher Ranadi meninggal, taman tersembunyi di tengah kota Kathmandu ini diserahkan kepada pemerintah Nepal namun terbengkalai selama beberapa dekade. Kemudian dilakukan renovasi antara tahun 2000-2007 dengan bantuan dari pemerintah Austria, yang bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nepal. Maka tidak heran jika desain bangunannya mirip dengan bangunan-bangunan di Wina, ibukota Austria. Dulunya taman ini dikhususkan untuk kalangan bangsawan, namun saat ini terbuka untuk umum termasuk wisatawan asing. Harga tiket masuk taman ini masuk ke kas negara Nepal sebagai salah satu devisa negara dari sektor pariwisata.



Sebagai wisatawan asing, saya harus membayar sekitar Rp. 20.000-, per orang jika dirupiahkan, cukup murah bukan. Dan kami bisa menikmati sepuasnya taman tersembunyi di tengah kota Kathmandu ini sepanjang yang kita mau. Membaca buku, mendengarkan musik, dan juga rebahan. Saya membiarkan Joel asik dengan e-book-nya, dan saya hanya rebahan di atas kain yang kami bawa.


Beautiful picture from https://www.thecommonwanderer.com


LOKASI

Garden of Dreams ini terletak di pusat kota Kathmandu, tepatnya di Tridevi Sadak, Kathmandu 44600. Mudah dijangkau karena lokasinya memang berada di pusat kota.

JAM OPERASIONAL

Senin - Minggu pukul 09.00 - 22.00 waktu setempat.

HARGA TIKET MASUK

Wisatawan lokal: NRs 100

Wisatawan Asing: NRs 200

FASILITAS

  1. Setelah pintu masuk kita akan menuju langsung ke loket masuk untuk membayar tiket masuk.
  2. Terdapat tempat duduk berupa kursi yang memang tidak begitu banyak di tempat ini. Sisanya kalau tidak kebagian kita bisa duduk-duduk atau rebahan di atas rumput taman ini. Saya sarankan membawa kain atau alas untuk bisa rebahan di taman cantik ini.
  3. Di sini juga tersedia toilet laki-laki dan perempuan yang bisa digunakan.
  4. Hampir semua area instagramable, semua spot bisa kita nikmati untuk berfoto, kalau kamu yang hobby-nya selfie.
  5. Wifi juga terpasang di tempat ini dan cukup membayar dengan harga tertentu saja. Waktu itu kurang lebih Rupee Nepal 50 per jam.
  6. Di Garden of Dreams juga tersedia cafe atau restoran dan bar yang bisa kita nikmati oleh pengunjung, makanannya khas western dengan perpaduan makanan khas Nepal. Cukup bersahabat di lidah orang timur seperti kita. Harganya? siapkan saja uang lebih untuk makan di tempat ini.
  7. Garden of Dreams juga menyediakan souvenir berupa kaos dan postcard yang bisa dibeli oleh pengunjung sebagai kenang-kenangan.
  8. Berkunjunglah pagi hari jika ingin terlalu ramai, atau sore menjelang malam sambil menikmati pemandangan lampu-lampu taman yang indah.
Nah, kalau kamu berkunjung ke Nepal, sempatkan waktu mengunjungi Garden of Dreamstaman tersembunyi di tengah kota Kathmandu. Salah satu tempat untuk menghirup udara segar di pusat kota Kathmandu yang berdebu.

Popular Posts

Mendaki Puncak Poon Hill di Himalaya

Poon Hill adalah satu dari belasan puncak gunung yang berderet di  Himalaya . Menjadi salah satu puncak gunung yang menjadi incaran banyak ...

Back to Top