Looking for My Article

15 January 2021

MEIMOODAEMA.COM, IT'S MY IDENTITY

Blog aku dengan nama domain Meimoodaema, fokus pada niche traveling. Baru lahir empat tahun lalu. Sebenarnya aku sudah mengenal dunia blog dari tahun 2007. Tapi hanya sebatas membaca tulisan orang-orang. Padahal waktu itu sudah rajin pergi traveling. Namun belum tergugah untuk membuat dan mengisinya dengan cerita-cerita perjalananku yang penuh dengan kegalauan hehe. Apalagi keahlianku menuangkan cerita dalam bentuk storytelling masih jauh dengan kata sempurna.

meimoodaema travel blogger dan pecinta gunung
Menulis pengalaman traveling ke gunung adalah favorit aku


Terperangkap dalam dunia blog

Tahun 2012 mulai ada keinginan untuk menuangkan semua perjalananku dalam platform digital. Akhirnya setelah membaca beberapa referensi, aku menjatuhkan pilihan pada Blogspot. Sayangnya karena kesibukan kerja, blog itu kosong sampai aku lupa nama domainnya, parah banget ya. Alamat email untuk mendaftar pun sudah aku hapus.

Sempat sedih sih, kalau aku ingat sekarang, soalnya kan jadi history juga buat blog aku. Kalau aku udah punya blog dari 2013 loh. Butuh pengakuan banget deh, hahaha. Manusiawi.

Oktober 2016 aku melakukan perjalanan berkeliling dari Nusa Tenggara Barat (NTB) sampai ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Banyak tempat yang disinggahi. Desember 2016 aku juga melakukan perjalanan ke Himalaya, aku hampir sebulan tinggal di sana. Banyak teman yang japri. Mereka bertanya soal itenary, biaya, akses, dan lainnya. Akhirnya daripada jawab satu-satu kenapa enggak aku tulis aja di blog, pikirku.

Tanpa pikir panjang, November 2016 aku langsung membuat blog gratisan. Sempat galau tuh mau ngasih nama domainnya. Akhirnya domain Meimoodaema jadi pilihan. Aku usahakan unggah tulisan setiap minggunya. Lumayan 2 bulan di tahun 2016 terisi sesuai jadwal. 

Tahun 2017 aku melanjutkan studi. Kesibukan kuliah yang super padat, bahkan bisa ngga tidur sampai 2 hari itu sudah biasa, membuat lupa pada rumah online baru yang baru aku buat. Semua tugas kuliah dalam bentuk paper, dan hampir setiap hari. Jadi hampir setiap malam aku akan menulis artikel ilmiah. Jadwal kuliah juga full, Senin - Jumat dari pagi sampai sore. Weekend pergi ke lapangan untuk mengumpulkan data. Akhirnya sampai tahun 2019, blognya hanya terisi beberapa artikel saja.

Awal tahun 2019 aku mencari info komunitas menulis di Jogjakarta melalui Facebook. Akhirnya aku menemukan komunitas blogger di Jogja dan bergabung dengan group WA milik mereka. Aku mendapatkan banyak sharing dari blogger-blogger kece di komunitas ini. Perlahan, keinginan untuk menulis semua perjalananku di blog, mulai kembali bangkit.

Terbiasa menulis tugas kuliah dalam bentuk paper, membaca perjalanan para travel blogger dan bergabung dengan komunitas blogger, inilah titik awal aku terperangkap dalam dunia blogYa, meskipun keahlianku dalam storytelling masih zero. But life is about learning. The more you learn, the more you earn. Kalau kata Om Warren Buffett.

 

Jatuh cinta dengan blog

Bergabung dengan komunitas blogger, membuat kesempatan aku mengenal dunia blog makin terbuka lebar. Aku mulai sering mengikuti event-event yang diadakan oleh beberapa blogger Jogja yang bekerjasama dengan beberapa brand, komunitas, perusahaan lainnya. Jadi tidak hanya menulis artikel di blog, aku juga sering ikut event beberapa produk, yang review-nya hanya di akun media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram.

Review produk membuat aku makin banyak belajar menulis dalam bentuk microblogging. Ternyata storytelling produk itu bukan hal yang mudah. Termasuk juga menulis untuk blog. Membuat aku harus terus belajar dan improve my skill dalam dunia menulis. Salah satunya dengan sering berkunjung ke blog orang lain. Membaca blog teman-teman membuat aku menemukan jati diri dalam menulis. Mengambil ilmu dari mereka bagaimana membuat tulisan yang menarik.

Pada prinsipnya menulis sama dengan membaca. karena sebelum menulis kita harus banyak membaca agar tulisan kita berkualitas. Jadi paling penting buat aku, dengan menulis kita tidak berhenti belajar dan ilmu kita makin bertambah. Karena prinsip aku, hidup adalah belajar, jadi salah satu cara aku untuk terus belajar adalah dengan menulis.

Hal ini yang mendasari kenapa aku makin jatuh cinta dengan dunia menulis, khususnya menulis blog. Selain itu kita juga membangun relasi dengan berbagai pihak, yang akan membuat hidup kita lebih produktif.

 

Welcome to Meimoodaema, as My Identity

Waktu itu aku putuskan memilih platform blogspot, karena menurut aku lebih mudah untuk blogger newbe seperti aku. Terus kan enaknya bisa connect ke gmail juga. Setelah menentukan platform, terus aku galau dengan alamat domain. Sempat nyari-nyari nama dan diskusi sama teman buat nentuin nama. Ga mau salah pilih karena bakal jadi identitas aku kedepannya. Sampai akhirnya memilih Meimoodaema as my identity.


meimoodaema as my identity
Meimoodaema, My Identity


"Kenapa namanya Meimoodaema?"

Pernah seorang teman bertanya. Alasannya ya karena Mei dan Moo adalah nama panggilanku dan Daema adalah nama keluargaku. Selain menunjukan identitas pemiliknya, nama domain juga unik karena belum ada di google. Sesimple itu sih jawabannya. Tapi sebelum memilih nama ini memang  sempat galau lama. Lebih galau saat pisah sama dia, eh ups. Kan katanya nama itu jadi doa ya. Karena aku berharap, nama domainku ini membawa manfaat untuk aku dan banyak orang. Aamiin.

 

Mendulang Kepercayaan Dengan Top Level Domain (TLD)

Kegalauan memilih nama domain masih berlanjut ketika mau bermigrasi dari blog gratisan ke Top Level Domain (TLD). Yap, masih berkutat dengan nama domain. Saking galaunya aku membeli 2 alamat domain dengan nama Meimoodaema dan Meijourney. Tapi dipikir-pikir sepertinya Meijourney sudah umum dan aku lihat ada beberapa media sosial dengan nama akun itu. Akhirnya kurelakan hangus setelah 1 tahun.

"Terus alasan kamu apa Mei, pindah dari gratisan ke TLD?".

Banyak jawabannya. Mulai dari ikut-ikutan seperti orang lain hahaha, dinasehatin sama teman yang orang IT, masalah keamanan tulisan-tulisan, biar ga malu-maluin juga karena pakai gratisan padahal kan udah ada brand yang minta di-review, sampai pada alasan biar terlihat profesional.

Alasan terakhir menguatkan aku untuk pindah ke TLD. Dengan pindah ke TLD, jadi investasi juga kedepannya kan?. Orang-orang akan lebih trust saat berkunjung ke blog kita. Termasuk perusahaan atau brand yang ingin bekerjasama. Alhamdulillah semenjak bergabung dengan beberapa komunitas blogger dan pindah ke TLD, ada beberapa brand atau perusahaan yang mengajak kerjasama. Fee yang saya terima cukup untuk membayar biaya tahunan domain. Meskipun belum banyak, tak apalah. 

 

Traveling is a half my life

Bahas soal niche, blog aku berkaitan dengan dunia traveling. Isinya tentang perjalananku mengunjungi tempat wisata di Indonesia dan juga luar, terutama gunung. Selain gunung, aku juga suka mengunjungi pantai, membahas adat istiadat atau budaya, city tour, tempat wisata buatan, event, culinary, akomodasi, transportasi atau tips-tips yang berkaitan dengan traveling.

"Kenapa pilih niche traveling?"

Sejak SD aku suka dengan membaca. Masih kuingat jelas, setiap jam istirahat aku akan berlari menuju perpustakaan sekolah. Mencari-cari buku tentang tempat-tempat indah di dunia, di rak sekolah yang tingginya dua kali lipat dari tinggi tubuhku. Dengan menggunakan bangku yang disediakan perpustakaan, aku memilih buku-buku yang sudah hampir usang. Lalu aku akan duduk asyik membaca buku-buku itu di pojok perpustakaan sekolah yang catnya sudah hampir mengelupas.

Sejak Sekolah Dasar (SD), aku juga aktif dalam kegiatan sekolah yang berkaitan dengan alam, seperti kemping, menyusuri sungai, dan trekking. Hal ini membuat aku makin suka dengan kegiatan traveling yang berbau alam. Semenjak lulus kuliah, satu persatu mimpiku sewaktu SD untuk mengunjungi tempat-tempat indah mulai tercapai. 


meimoodaema my identity
Traveling, part of my life


Berawal dari membaca dan kecintaanku terhadap traveling inilah, aku memutuskan menulis blog dengan niche traveling. Aku benar-benar menikmatinya saat menuangkan perjalananku dalam bentuk tulisan di blog. Namun sayangnya tulisanku masih kaku, keahlian aku menceritakan perjalanan dalam bentuk storytelling masih harus terus diasah. Aku menilai saat aku menulis, rasa (let's say panca indra) tulisannya belum ada. Meskipun begitu, aku menikmati proses dalam menulis.

Alasan lain kenapa memilih niche traveling? Yang pasti bukan karena ikut-ikutan. Karena aku traveling sejak tahun 2000. Aku banyak mengunjungi tempat-tempat indah di Indonesia dan baru beberapa negara. Namun aku tidak pernah menuliskannya dalam platform online. Padahal mungkin banyak orang yang membutuhkan informasi itu. Kenapa ga menulis aja kan?

Alasan kedua karena aku lanjut sekolah di bidang tourism. Yap, master degree aku Tourism Studies. Aku banyak membaca artikel-artikel ilmiah tentang dunia pariwisata, membaca kondisi pariwisata di berbagai belahan dunia. Sharing dengan pemerhati pariwisata. Pokoknya aku belajar banyak tentang tourism.

Makin cinta deh sama traveling. Hope someday I will around the world, visit all beautiful places in the world. Aamiin. Jadi secara knowledge sedikit banyak aku paham tentang dunia pariwisataAlasan ini lah yang memperkuat aku untuk tetap bertahan di niche traveling.

Alasan lain, aku mau tulisanku tidak hanya sekedar menulis pengalaman perjalananku tapi juga mengenalkan ke orang-orang destinasi wisata yang ada di dunia. Paling penting, memberikan edukasi bahwa melakukan wisata itu harus dilakukan dengan bijak, cerdas, dan bertanggungjawab. Serta memberikan manfaat untuk tempat wisata yang kita kunjungi. Semisal melakukan voluntourism, seperti yang biasa aku lakukan. Jadi, selain kita bersenang-senang, kita juga memberikan manfaat untuk destinasi wisata yang kita kunjungi.

 

My Meimoodaema, My Hope

Setiap kali memutuskan sesuatu, kita pastinya mempunyai harapan besar terhadap keputusan itu kan? Sama dengan aku, saat memutuskan memilih domain Meimoodaema dengan niche traveling, mempunyai banyak harapan dan doa.


meimoodaema my identity voluntourism
Traveling sambil mengedukasi dan berbagi


Apa doanya dengan blog yang kamu buat Mei. Banyak hehehe

1. Menulis konten blog yang berkualitas.

Suka kalau bacain blog temen-temen traveling yang enak banget kalau dibaca, nagih untuk balik lagi ke blognya. Karena penggunaan bahasa yang simple, mudah dipahami, santai, detail. Aku kayak masuk dalam cerita mereka.

Nah, salah satu keinginanku dengan nama domain ini, aku bisa menulis konten yang berkualitas, belajar menulis dengan gaya storytelling yang bakal membuat pembaca terhipnotis dengan tulisanku dan bakal balik lagi bahkan menunggu tulisanku. Sehingga bermanfaat untuk semua pembacanya.

2. Menjadi platform edukasi tentang traveling

Melalui domain traveling yang aku miliki, aku bisa membantu mengedukasi masyarakat tentang berwisata yang bertanggung jawab, aman, bijak, dan cerdas. Contoh, saat berkunjung ke destinasi wisata kita tetap menjaga lingkungan destinasi wisata agar tetap bersih dan tidak merusaknya. Selalu mempersiapkan diri sebelum melakukan pendakian, atau berkaitan dengan safety lainnya. Berbagi untuk semua does dan don'ts di beberapa destinasi wisata.

3. Berbagi pengalaman perjalanan

Aku juga berharap domain aku dapat menjadi referensi saat orang lain akan melakukan perjalanan. Mulai dari persiapan, saat berada di destinasi wisata, dan sampai saat pulang lagi. Sehingga jika ada pengalaman yang kurang menyenangkan yang aku alami dapat menjadi pelajaran buat orang lain dan juga bisa melakukan antisipasi.

4. Bisa melakukan kerjasama dengan banyak pihak

Maksud bekerjasama di sini tidak melulu soal uang, tapi bisa jadi kerjasama yang sifatnya edukasi. Kerjasama dalam melakukan kegiatan bermanfaat seperti volunteering, atau melakukan kerjasama tentang dunia pendidikan, membantu promosi pariwisata, dan lainnya. Selama itu hal positif dan bermanfaat.


Kisah traveling semakin menarik dengan storytelling

Kamis produktif nan manis, semalam aku mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh Kelas Growthing Blogger (KGB). Dengan mengambil tema "Menetapkan Storytelling Pada Postingan Blog" yang dibawakan oleh Mas Bambang Irwanto Ripto. Materinya sangat bagus dan membuat aku makin lebih detail dalam menyampaikan informasi.

meimoodaema tips bercerita dengan storytelling
Tips storytelling


Karena setelah mendapatkan materinya, aku merenung, sepertinya tulisanku selama ini memang belum mengandung konsep storytelling. Feel-nya belum dapat. Aku jarang mengekspresikan perjalananku dengan panca indra. Sehingga orang tidak dengan mudah meresapi dan masuk ke dalam cerita perjalanan yang aku tulis.

karena pada dasarnya, perjalanan itu tentang rasa. Agar pembaca bisa membayangkan dan merasakan keadaan destinasi wisata yang kita kunjungi. Jadi dengan menggunakan teknik storytelling, pembaca benar-benar dapat menikmati perjalanan kita seperti yang kita alami. Nice share Mas Bambang, terima kasih untuk ilmunya.



11 January 2021

TRAVEL BLOGGER DAN LITERASI DIGITAL

Lahir dan besar di era digital, membuat saya tak asing lagi dengan literasi digital. Apalagi kita yang terlahir sebagai generasi Y dan Z, hampir semua keseharian kita berkaitan dengan dunia digital. Saya mulai memahami betul mengenal ilmu digital ketika saya melanjutkan pendidikan master saya. Hampir setiap hari saya mengakses informasi yang berkaitan dengan kegiatan akademisi. Pemahaman saya semakin bertambah ketika mulai terjun di dunia digital media sebagai travel blogger juga sebagai content creator.


pentingnya literasi digital
Membaca bisa kita lakukan di mana saja


Saat ini rasanya tidak mungkin untuk bisa hidup tanpa platform digital. Kemajuan teknologi membuat semuanya didigitalisasi dengan alasan kemudahan. Termasuk di masa pandemi seperti sekarang, siap tidak siap semua orang dipaksa untuk beralih ke dunia digital. Jika kita tidak mengikutinya pasti akan tertinggal. Namun, ada ruang kosong (lack of knowledge) yang terbentuk ketika kemajuan teknologi tidak diiringi dengan pengetahuan yang cukup untuk menghadapinya.

Sebagai travel blogger, kehadiran platform digital sangat membantu. Perjalanan saya banyak berhasil karena kemajuan teknologi. Mulai dari mencari transportasi, akomodasi, akses, budget yang dibutuhkan, amenitas, dan lainnya. Atau mencari informasi yang berkaitan dengan destinasi wisata, secara real time kita bisa menemukannya dengan cepat. Namun, kemudahan dalam mengakses informasi tersebut harus dibarengi dengan sikap kritis dan cerdas. Kritis dalam membaca informasi yang didapat agar tidak merugikan diri sendiri dan juga orang lain.


APA ITU LITERASI DIGITAL?

Proyek digitalisasi sebenarnya sudah dicanangkan oleh UNESCO dari tahun 1980, namun mulai fokus dikembangkan sejak Mei 2007 setelah Konferensi Lisbon. Di Indonesia sendiri, literasi digital mulai dikenal sejak kurikulum Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang menjadi bagian dari kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Meskipun pada akhirnya dihilangkan pada kurikulum 2013 karena dianggap dapat digabung dengan mata pelajaran lainnya.


apa itu literasi digital


Secara sederhana, Gilster (1997) sebagai pencetus pertama konsep literasi digital dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy, mengungkapkan bahwa literasi digital merupakan kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Melengkapi pendapat dari Gilster, Bawden (2001) menambahkan bahwa literasi digital merupakan gabungan dari literasi komputer dan literasi informasi. 

Sementara menurut The American Library Association’s, literasi digital adalah kemampuan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencari, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan informasi yang memerlukan kemampuan kognitif dan keterampilan teknis.

Dari ketiga definisi di atas, secara sederhana literasi digital merupakan kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi dengan cerdas dan bijak.


TAHUKAH MINAT BACA MASYARAKAT INDONESIA SANGAT RENDAH?

Tesis mengantarkan saya pada perbatasan Indonesia-Malaysia. Selain melakukan penelitian, saya juga melakukan voluntourism, dengan mengajar anak-anak SD di wilayah perbatasan. Wilayah yang akses untuk mendapatkan pendidikan masih sangat terbatas. Seperti jalan yang rusak, tidak ada transportasi, kekurangan guru, tidak ada akses internet, bahkan warga di perbatasan ini melihat lampu listrik saja mungkin belum pernah. Ketika saya mengajar di kelas IV SD, ada beberapa anak yang belum mengenal huruf dan angka. Pengalaman ini menyadarkan saya, bagaimana mereka bisa dikenalkan dengan literasi digital? Hal-hal dasar untuk kegiatan pendidikan saja masih sangat terbatas.

Kasus di atas hanya satu dari ribuan kasus yang terjadi di Indonesia, yang menyebabkan kenapa literasi digital di Indonesia masih sangat rendah. Cerita yang saya alami, mendukung beberapa fakta yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia memang krisis akan minat baca yang berpengaruh terhadap minat dan kemampuan dalam literasi digital.


minat baca literasi digital
Minat baca masyarakat Indonesia rendah

Fakta pertama, penelitian yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) tahun 2015 menunjukan bahwa Indonesia menempati urutan ke-2 dari bawah soal minat bacanya.

Fakta kedua yang membuat saya tercengang, penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 menunjukan bahwa minat baca Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara.

Fakta ketiga, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia menempati urutan kedua dari bawah yaitu dari 1.000 orang warga Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca, artinya hanya 0,001%. Eh, tapi saya termasuk di 1 orang itu sih kayaknya hehehe.

Namun fakta berikutnya, justru patut dipertanyakan. Sebuah lembaga riset independen di Paris bernama Semiocast menunjukan bahwa Indonesia menempati urutan ke-5 dalam menatap layar gawai, meskipun disinyalir minat baca masyarakat kita rendah. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh digital marketing Emarketer tahun 2018, memperkirakan pengguna smartphone di Indonesia bisa mencapai 100 juta orang. Wow banget ya. Minat baca rendah tapi penggunaan smartphone sangat tinggi. Sepertinya patut diteliti apa yang mereka lakukan dengan smartphone tersebut.

Fakta-fakta di atas menurut saya wajib diwaspadai. Karena kalau kita cerna dengan teliti ada gap besar di mana minat baca sangat rendah yang mengakibatkan lack of knowledge, tapi kok suka banget ya menggunakan gadget. Dengan minimnya pengetahuan termasuk kritis terhadap informasi, para pengguna gadget tersebut bisa dengan mudah dihantam dengan informasi-informasi hoax dan mudah diprovokasi. Pada akhirnya akan ikut-ikutan menyebar informasi yang kebenarannya belum divalidasi dan akan merugikan banyak orang. Hal ini juga bisa berlaku bagi para travel blogger yang tidak memiliki kemampuan literasi digital.


BAGAIMANA PERAN TRAVEL BLOGGER DALAM MENDORONG MINAT LITERASI DIGITAL

Sebagai travel blogger yang sering membuat tulisan di platform online dan membagikannya juga di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, atau media sosial lainnya, sudah pasti kita harus memiliki kecakapan atau kemampuan dalam mengelola literasi digital ini. Tulisan kita akan bisa diakses kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja, sehingga ada tanggung jawab moral bahwa informasi yang kita sampaikan validitasnya aman. Tulisan kita benar-benar harus dianalisa dengan sangat baik agar tidak memberikan informasi yang keliru kepada pembaca kita. Terlebih kita sudah tahu audience kita siapa.

Seperti yang dituliskan oleh peneliti literasi digital Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya, yang menyebutkan bahwa ada 8 komponen yang sangat penting yang harus diperhatikan terkait dengan literasi digital, yang beberapa poin sudah saya sebutkan di atas.


meimoodaema digital literasi infografis
Komponen menurut Douglas A.J. Belshaw 


Dari delapan poin di atas, bisa menilai bahwa kita harus menggunakan informasi secara bijak. Lalu bagaimana peranan seorang travel blogger yang mempunyai kemampuan dalam membaca data melalui digital?


Berperan serta dalam mensosialisasikan Literasi Digital

Nah, salah satu peran yang bisa dilakukan oleh seorang travel blogger adalah membantu mensosialisasikan bagaimana meningkatkan kecakapan dalam literasi digital. Memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai apa itu dunia membaca melalui digital, manfaat atau dampak positifnya, serta bagaimana cara menggunakannya, apa yang does dan don'ts, bahkan kita dapat mengolah data dan berkomunikasi dengan semua orang di dunia melalui literasi dunia teknologi ini. Sosialisasi ini bisa dilakukan secara online atau pun offline. Salah satunya bisa menulis tentang pentingnya membaca melalui digital terhadap semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan wisata.


sosialisasi literasi digital
Peran guru dalam mendorong kemampuan membaca melalui digital di kelas


Menulis konten yang berkualitas

Menulis konten yang berdampak positif dan bermanfaat bagi para pembacanya menjadi sebuah kewajiban bagi siapa saja termasuk seorang travel blogger. Konten-konten yang berkualitas karena didapat dari berbagai sumber akan memberikan manfaat bagi pembacanya dan dapat mendorong seseorang untuk kembali ke blog kita, sehingga secara perlahan orang akan terbiasa dengan membaca dan mencari informasi melalui digital dan informasi yang didapatkan juga bermanfaat untuk para pembaca. Misalnya memberikan tips pada saat berkunjung ke destinasi wisata gunung.

Membuat konten tulisan yang menginspirasi

Selain konten yang bermanfaat dan positif, untuk mendorong membaca dan menemukan informasi melalui digital kita juga harus memberikan tulisan yang menginspirasi. Pengalaman saya, saat membaca sebuah tulisan melalui platform digital seperti blog, saya akan kembali ke blog tersebut karena penasaran dengan inspirasi-inspirasi yang akan diberikan berikutnya. Perlahan tapi pasti saya terbiasa dengan literasi digital. Hal ini pun pasti berlaku bagi pembaca lainnya. Salah satu yang suka saya tulis ketika berwisata adalah kegiatan volunteering saat berwisata. Kita bisa mengajak kepada pembaca bahwa jangan hanya sekedar traveling tapi kita juga bisa berbagi dengan masyarakat di sekitar destinasi wisata. Misalnya mengajar.

Membantu mendorong minat baca masyarakat melalui tulisan yang menarik dan detail

Jika konten kita bermanfaat, maka otomatis pembaca akan repeat ke blog kita. Hal ini menjadi peluang besar untuk kita sebagai travel blogger untuk memberikan pengaruh kepada pembaca untuk terus aktif membaca. Misalkan dengan pemilihan gambar destinasi wisata yang bagus, menggunakan infografis, tampilan blog yang rapi dan user friendly, informasi yang ditampilkan detail misalkan biaya yang perlu dipersiapkan untuk mengunjungi destinasi wisata tersebut, atau hal lainnya. Hal ini akan berpengaruh pada minat baca yang mereka miliki.


MENGAPA KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL PENTING?

Memiliki kemampuan dalam membaca sebuah informasi melalui digital sangatlah penting. Dengan begitu kita akan berpikir kritis terhadap informasi yang kita baca atau yang akan kita sebarkan. Kita akan berpikir terlebih dahulu sebelum menyebarkan sebuah informasi, apakah kebenarannya valid atau tidak. Termasuk untuk seorang travel blogger yang tulisannya bisa diakses oleh semua kalangan.

Selain berpikir kritis, kita sebagai makhluk sosial kita mempunyai tanggung jawab untuk saling melindungi sesama kita dari informasi yang kita sebarkan. Sehingga kita mempunyai kewajiban untuk melakukan pengecekan terhadap semua informasi yang akan kita disebarluaskan.


KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL DENGAN TATA BAHASA

Nah, embel-embel seorang blogger termasuk travel blogger pastinya berkaitan dengan tulisan bukan? Informasi melalui digital lekat dengan tulisan, karena semua informasi yang kita unggah atau pun unduh bentuknya dalam tulisan atau gambar. Untuk menjadikan tulisan kita bermanfaat dan menarik tentu saja harus disampaikan dengan tulisan yang baik dan benar.


literasi digital kelebihan menulis
Materi tentang Teknik Menulis dan Editing Blog Post


Beruntungnya semalam saya mengikuti kelas Teknik Menulis dan Editing untuk blog post. Kelas diadakan Kelas Growthing Blogger (KGB) bersama teteh cantik dari Bandung, teh Gilang Maulani yang akrab dikenal dengan nama Gemaulani. Ternyata untuk memaksimalkan literasi digital ini, harus didukung dengan tulisan yang baik dan benar, mulai dari memperhatikan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), pemilihan bahasa, penggunaan huruf besar dan kecil, kata hubung, singkatan, penggunaan huruf kapital, juga termasuk penggunaan tanda baca. 

Satu hal yang tak kalah penting, lakukan research untuk semua tulisan kita, agar informasi yang disampaikan sesuai fakta dan valid. Senin yang bermanfaat deh semalam itu.


MEMAKSIMALKAN LITERASI DIGITAL DENGAN EDITING TULISAN

Nah, sebelum kita menyebarkan tulisan kita ke khalayak ramai, misalnya saya menulis tentang sebuah destinasi wisata, saya akan memastikan bahwa informasi yang kita sampaikan memang sesuai di lapangan, termasuk foto-foto yang kita unggah sesuai dengan kondisi di lapangan. Jika memang tulisan berdasarkan opini pribadi, makan gunakan disclaimer jika itu merupakan pengalaman pribadi. Perhatikan juga typo, struktur blog, keterkaitan paragraf satu dengan lainnya, ini sangat penting agar informasi yang disampaikan tidak keliru.

REFERENSI

Gilster, P., & Glister, P. (1997). Digital literacy. Wiley Computer Pub. New York.

https://clalliance.org/wp-content/uploads/files/doug-belshaw-edd-thesis-final.pdf

https://www.ccsu.edu/wmln/rank.html

https://literasinusantara.com/literasi-digital-pengertian-tantangan-dan-peluang/

https://www.theguardian.com/books/2016/mar/11/finland-ranked-worlds-most-literate-nation

Popular Posts

Mendaki Puncak Poon Hill di Himalaya

Poon Hill adalah satu dari belasan puncak gunung yang berderet di  Himalaya . Menjadi salah satu puncak gunung yang menjadi incaran banyak ...

Back to Top