Looking for My Article

20 October 2017

Menikmati Alam Bawah Laut di Umbul Ponggok

Seperti biasa perjalanan kali ini unplan lagi. Berangkat pukul 7.00 WIB dengan menggunakan kendaraan roda empat bersama lima teman saya Rendy, Chris, Icha dan Cicit. Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam, karena kami mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu dan sempat salah memilih jalan. Kita berencana lihat alam bawah laut di Umbul Ponggok.

At the end, we have arrived at this place at 9 am. Cuacanya sudah tak bersahabat lagi, terasa panas membakar kulit. Bagi yang membawa kendaraan roda empat sebaiknya teman-teman datang lebih pagi, karena area parkirnya cukup sempit. Setelah memarkir mobil, kami mengantri untuk membeli tiket. Harga tiket Rp 15.000,00 per orang dan free sebungkus snack tradisional bisa dimakan bisa juga untuk ikan.

tempat pembelian tiket masuk

Umbul Ponggok merupakan salah satu destinasi wisata yang terletak di Klaten. Sebuah keindahan alam bawah laut buatan yang menjadi daya tarik tersendiri, dengan ukuran 50 x 25 m dan kedalaman 1,5 – 2,6 m dipenuhi dengan berbagai jenis ikan yang berwarna-warni dan pasir putih yang persis seperti di dalam laut. Karena airnya mengalir terus menerus maka kolam buatan ini tidak akan tercium bau ikan-ikan tersebut, suasana dalam airnya persis kayak alam bawah laut. Tersedia juga kolam berukuran pendek untuk digunakan anak-anak.

Setelah masuk kami melihat-lihat dan memilih kursi untuk menyimpan barang-barang kami. Di Umbul Ponggok ini juga disediakan tempat penitipan barang berupa locker dengan harga Rp 5.000,00 dapat digunakan oleh beberapa orang, waktu itu kami menyimpan barang sebanyak lima orang, untuk barang-barang berharga seperti dompet dan handphone.

Bagi teman-teman yang hobby-nya makan, jangan khawatir disini juga disediakan tempat makan, teman-teman tinggal memilih makanan kesukaannya. Ada juga yang berjualan buah-buahan, juice atau lainnya.

area makan di samping kolam


Nah ini yang paling penting, bagi teman-teman yang tidak bisa berenang, Umbul Ponggok menyediakan penyewaan alat-alat untuk snorkling, seperti fin, google, snorkel, dan pelampung. Untuk mengabadikan moment saat di dalam air, Umbul Ponggok juga menyediakan penyewaan kamera underwater atau paket-paket photo. Umbul ponggok ini sering digunakan banyak orang untuk latihan diving, prewedding dan mereka juga menyediakan properti untuk photo. Saat itu kami menyewa kamera underwater tanpa atribut apapun dan sudah termasuk photographer dengan harga Rp 100.000,00 selama satu jam maksimal 7 orang. Dalamnya persih banget seperti alam bawah laut.

harga penyewaan alat dan photo
sumber : web umbul ponggok

Selang beberapa waktu setelah berganti pakaian dan menggunakan beberapa alat, saya mulai turun dan woooooo beeeuuurrrr dingin sekali, padahal saya menggunakan pakaian renang panjang. Saya sudah sering bermain air di laut dan tidak ada trauma apa-apa tetapi selalu saja setiap kali akan turun ke air butuh waktu untuk penyesuaian, saya selalu takut sehingga selalu minta bantuan teman untuk menemani dulu sampai saya benar-benar merasa nyaman sendirian tanpa pelampung. Special thanks buat Rendy sama Cicit yang udah mau nemenin, hiksssssss maaf merepotkan…. 

salah satu photo underwater

Setelah memutuskan untuk turun, kami cukup lama berenang dan akhirnya saya mulai menikmati berenang sendirian sampai ke yang paling dalam. Sampai akhirnya tiba deh sesi pemotretan, kami bergiliran untuk berphoto sama ikan-ikan manis. Di Umbul Ponggok ini, photographernya enak, kita diarahin biar foto-foto kita keceh dan keren. Saat giliran saya, badan sudah mulai menggigil, sampai akhirnya sesi photo yang harusnya menyenangkan, terlewatkan begitu saja.

ikannya malu malu ga mau disentuh ⌣⌣⌣
Akhirnya saya memutuskan untuk bersih-bersih dan ambil photo di atas aja deh. Melihat orang-orang yang belajar renang dan latihan diving lebih menyenangkan nampaknya. Sekalian juga karena badan udah menggigil dingin, karena air Umbul Ponggok ini dinginnya luar biasa.


Tempatnya ini pokoknya cocok banget deh buat yang pengen menikmatin laut tapi ga berani ke laut atau ga punya waktu buat ke laut, berasa kayak di alam bawah laut. Tak terasa kami sudah hampir empat jam di sini, setelah rapi-rapi dan mengambil hasil photo, kami memutuskan untuk pulang, dan makan enak pastinya………

see you next time Umbul Ponggok 

11 October 2017

Kampung Pitu, Kampung Adat Di Desa Wisata Nglanggeran

Turun dari Gunung Api Purba kami lanjutkan dan mencari-cari lokasi kampung ini. Tidak ada papan petunjuk menuju kampung ini, saya bersama teman sedikit kebingungan, hanya menebak-nebak saat menemukan jalan setapak, kami ikuti jalan tersebut, dan ternyata benar jalan itu merupakan jalan menuju Kampung Pitu. Di kalangan wisatawan mungkin kampung adat di Desa Wisata Nglanggeran ini belum begitu dikenal.

Pertama kali memasuki kampung ini, seperti tidak ada kehidupan. Jarak rumah satu dengan lainnya berjauhan, suasananya sepi, kami hanya melihat beberapa ekor binatang yang hidup di kampung ini. Rasa penasaran membawa saya terus bergerak melewati pematang sawah yang ternyata jalan itu menuju ke sebuah sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu.


jalan menuju ke Kampung Pitu
photo taken by Chris



bentuk sumber mata air atau sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu

Dari kejauhan saya melihat rumah yang hanya beberapa atap saja. Saya mulai yakin inilah Kampung Pitu, Kampung Adat di Desa Wisata Nglanggeran itu. Setelah mendekat kemudian saya melihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut. Beliau tersenyum ramah dan menyapa kami dengan bahasa yang saya belum pahami. Teman saya menjawab dengan bahasa yang sama, ah untunglah. Teman saya bilang, kita diajak mampir kerumahnya. Nama beliau adalah Ibu Sumbuk.

halaman belakang di salah satu rumah Kampung Pitu

narsis dikit di belakang rumah warga Kampung Pitu
photo taken by  Chris

Kebetulan sekali ternyata pemilik rumah ini adalah orang yang dituakan di Kampung Pitu ini, namanya Pak Yatnorejo. Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk ini belum bisa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian mereka memanggil anaknya namanya Pak Aan. Ternyata Pak Aan ini merupakan salah satu pengurus Pokdarwis di Nglanggeran. Kami mulai mengobrol dengan suasana hangat, disuguhi makanan khas tradisional namanya rengginang, ditemani juga secangkir teh manis hangat buatan Ibu Sumbuk, istri pemilik kampung adat di Desa Wisata Nglanggeran ini.

makanan tradisional rangginang ditemani segelas teh manis

Pak Aan bercerita banyak mengenai sejarah tentang Kampung Pitu.. Untuk mempertahankan pesan leluhur, rumah ini hanya boleh diisi oleh tujuh kepala keluarga meskipun ada sepuluh rumah. Jika sudah lebih dari tujuh keluarga maka berikutnya akan pindah dari kampung ini demi keselamatannya. Rumah-rumah ini terbentuk dari kayu-kayu kokoh tanpa ada sekat dan masih beralaskan tanah. Dan justru ini menjadi daya tarik tersendiri, namun sayangnya beberapa rumah sudah diubah sebagian bangunannya dengan menggunakan tembok, sehingga bangunan kampung adat di Desa Wisata Nglanggeran ini keasliannya sudah mulai hilang.

bentuk rumah warga kampung Pitu yang masih asli yang terbuat dari kayu-kayu kokoh



Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk - sepasang suami istri yang menjadi wakil yang dituakan

Kampung Pitu, kampung adat di Desa Wisata Nglanggeran ini masih memegang kehidupan yang selaras dengan alam dan menjaga beberapa budaya yang mereka miliki. Seperti masih mengadakan upacara-upacara adat atau tradisi seperti Tingalan, Tayub/Ledek, dan Rasulan. Warga kampung ini mempunyai sumber kehidupan dari bercocok tanam dan beternak. Untuk teman-teman yang ingin merasakan suasana Kampung Pitu ini, Desa Wisata Nglanggeran menyediakan paket Live In di rumah warga Kampung Pitu. Ratusan orang sudah mengunjungi kampung ini dan banyak mahasiswa juga sering mengadakan acara makrab di kampung ini.

Tak terasa kami mengobrol hampir dua jam, karena kami masih berniat melihat embung, maka kami pamit pulang dan sempat mengambil photo dengan keluarga yang penuh dengan ketulusan ini.

Jangan lupa ya kalau berkunjung ke kampung ini mengisi buku tamu dan silakan berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka...... Terima kasih untuk keluarga Pak Aan, Pak Yatno dan Ibu Sumbuk untuk kehangatannya hari ini….. Kalian sudah mengajarkan banyak bagaimana cara hidup sederhana dan tetap bersyukur dengan apa yang diberikan tuhan untuk kita, semoga kalian sehat selalu.......

01 October 2017

Jelajah Wisata Di Lereng Merapi Yogyakarta

Lereng Merapi, dua kata itu mengingatkan saya pada film kolosal waktu saya masih duduk di bangku sekolah. Waktu itu saya tidak pernah membayangkan, jika saya dapat mengunjungi tempat ini, bahkan ini untuk kesekian kalinya.

Jelajah Wisata Lereng Di Merapi Yogyakarta, merupakan event rutin yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman ini cukup menarik banyak peserta tidak hanya dari Yogyakarta bahkan dari banyak kota besar di Indonesia. Sekitar 1.000 peserta dari berbagai usia berpartisipasi dalam event ini yang dikemas dalam bentuk sport tourism. Wisata trekking sepanjang 7 km ini disuguhkan untuk menikmati keindahan pemandangan alam, flora dan fauna yang ada di Lereng Merapi Yogyakarta seperti Anggrek Vanda Tricolor, Dendroblum Mutabile dan juga berbagai jenis bambu.

rute trekking menuju pos 1 (satu)
photo taken by Kris

Di hari H, saya berangkat bersama teman dengan menggunakan roda dua. Perjalanan seharusnya ditempuh sekitar 30-45 menit dari kota Yogyakarta. Acara Jelajah Wisata Lereng Di Merapi Yogyakarta dimulai pukul 07.00 – 11.00 WIB. Namun ditengah perjalanan, ban kami bocor, sementara hari masih pagi, tempat tambal ban belum ada yang buka. Akhirnya setelah menuntun motor cukup lama kami menemukan tempat tambal ban yang sebelahnya menjual sarapan. Akhirnya sambil menunggu, kami sarapan. Dan  teman yang sudah duluan sampai ke Lereng Merapi, turun kembali untuk membantu kami.



Singkat cerita kami sampai ke tempat acara pukul 08.05 WIB, pos pendaftaran sudah hampir ditutup dan….. pastinya kami peserta yang paling terakhir. Pukul 08.15 WIB kami start dari pos pertama. Di setiap pos, panitia akan memberikan cap pada kertas yang kami bawa, sebagai bukti kami sudah melewati pos-pos yang sudah ditentukan. Cap ini sebagai syarat untuk mengikuti undian hadiah atau doorprize.



Sepanjang perjalanan cuaca kurang bersahabat, kabut sudah mulai turun sejak kami dari pos pertama kemudian hujan gerimis terus mengikuti sepanjang perjalanan kami. Selain berjuang dengan cuaca, saya juga harus bergerak cepat karena dua teman saya jalannya super duper cepat, mereka memang hobby-nya naik gunung, bahkan yang satu seorang guide yang tersertifikasi. Udah bisa dibayangin dong jalan mereka kayak apa, cowok pula. Bukan jelajah wisata lagi tapi lomba lari hehehe.

salah satu jalan yang dilewati berupa jalan setapak
photo taken by Kris
Sepanjang perjalanan yang diselimuti kabut, kami banyak menyusuri jalan setapak, turun naik dan sedikit licin, sehingga kami harus berjalan pelan-pelan dan antri. Terlihat beberapa panitia stand by di beberapa titik untuk memastikan keselamatan semua peserta. Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas dan gambar atau hanya bertegur sapa dengan peserta lainnya. Jelajah Wisata ini diikuti oleh semua semua usia termasuk anak-anak. Saya bertemu dengan peserta yang masih anak-anak dan usia lanjut, mereka semangat sekali meski gerimis dan kabut enggan pergi. Ternyata sangat menyenangkan acara Jelajah Wisata Lereng Di Merapi Yogyakarta ini.

Sudah beberapa bulan saya tidak menginjakan kaki di ketinggian. Rasa rindu akan alam itu perlahan hilang setelah mendengar gemerisik khas pohon dan daun yang bergesekan, menghirup udara yang sejuk khas pegunungan dengan nakal menyapu hidungku yang mulai memerah karena dingin, mencium wangi pepohonan yang selalu membuatku rindu saat lama tak menghirupnya.

salah satu rute perjalanan, rimbunan bambu yang menjadi salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Lereng Merapi
photo taken by Kris

Tak terasa kami sudah tiba di pos terakhir, kulihat jam menunjukan pukul 9.20 WIB, hanya 1 jam 5 menit. Wow. Thanks to my god, we did. Sesampainya di pos terakhir, kami semua berkumpul di lapangan untuk menikmati makan siang dan menunggu peserta yang belum sampai. Puncak acaranya adalah pengundian hadiah yang dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ibu Sudarningsih. Diiringi musik dangdut pantura yang bahasanya belum saya pahami… 

At the end I got one of the prize, thanks to my God……………..


See you next Jelajah Wisata Lereng Di Merapi Yogyakarta.

Popular Posts

Mendaki Puncak Poon Hill di Himalaya

Poon Hill adalah satu dari belasan puncak gunung yang berderet di  Himalaya . Menjadi salah satu puncak gunung yang menjadi incaran banyak ...

Back to Top