Festival film menjadi ruang penting untuk melahirkan sineas muda Indonesia yang berbakat. Melalui ajang ini, para kreator muda dapat menampilkan karya terbaik mereka, mengasah kemampuan, serta membangun jaringan dengan pelaku industri. Tidak sedikit film pendek maupun panjang yang lahir dari festival kemudian mendapat perhatian luas, bahkan menembus pasar internasional.
Dengan dukungan kurasi yang baik dan akses ke mentor profesional, festival film mampu menjadi batu loncatan bagi sineas muda untuk meraih penghargaan bergengsi. Kehadiran festival ini tidak hanya memperkaya industri perfilman nasional, tetapi juga mengangkat nama Indonesia di kancah global melalui karya-karya yang autentik dan berkualitas.
Dan salah satu festival film yang sangat memfasilitasi sineas muda untuk terus berkembang adalah IMAC Festival Film 2026. Penasaran tentang festival film ini? Keep reading.
IMAC Festival Film 2026 Dengan Tema Resilience
IMAC Film Festival 2026 adalah salah satu festival film tahunan yang digelar di Taman Ismail Marzuki pada 16–18 April 2026, dengan puncak acara penghargaan atau awarding pada 19 April 2026. Festival film ini menjadi tonggak penting karena berhasil naik kelas menjadi festival film pendek bertaraf internasional. Mendapatkan dukungan dari berbagai institusi seperti Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan. Tahun ini IMAC Festival Film menjadi tahun ke-3 kalinya digelar.
Festival film hasil kolaborasi antara ILUNI FIB UI bersama Suka Film ini, berhasil menjaring sebanyak 212 karya film pendek dari dalam dan luar negeri. Menariknya, partisipasi datang dari 18 negara, di antaranya India, Brasil, Nigeria, Malaysia, Pakistan, Tunisia, Italia, Argentina, hingga Vietnam. Kehadiran berbagai negara ini menegaskan posisi IMAC Festival Film sebagai platform global yang mempertemukan sineas muda lintas budaya dan memperluas jaringan industri perfilman. Keren dan sangat luar biasa.
Sebagai festival film bertaraf internasional, IMAC Festival Film 2026 tidak hanya menghadirkan kompetisi film, tetapi juga berbagai rangkaian kegiatan yang edukatif dan inspiratif. Program utama meliputi pemutaran film dari kategori Official Selection yang terbagi dalam empat kategori, yaitu National Student, Best National Film, Documentary, dan Best IMAC Film.
Selain itu, pada IMAC Festival Film 2026 terdapat diskusi film, showcase karya, masterclass bersama pelaku industri seperti dosen perfilman dan juga pembuat film. Serta talk show seperti Dari Buku ke Bioskop yang memberikan wawasan mendalam tentang proses kreatif di balik layar. Sangat insightful untuk semua acaranya.
Tidak hanya itu, IMAC Film Festival 2026 juga menghadirkan program IMAC Film Camp yang dirancang khusus untuk regenerasi sineas muda. Program ini menjadi ruang belajar bagi pelajar dan kreator pemula untuk mengembangkan ide, meningkatkan kemampuan storytelling, serta berkolaborasi secara kreatif. Kehadiran program ini memperkuat fungsi festival sebagai wadah edukasi sekaligus inkubator talenta baru di industri film.
Dengan mengangkat tema Resilience, IMAC Festival Film 2026 menampilkan karya-karya yang merefleksikan ketahanan individu dan masyarakat dalam menghadapi tantangan global. Melalui kurasi program seperti Echoes of Identity dan Beyond the Horizon, festival ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan sosial dan budaya yang relevan.
Resiliensi sendiri adalah kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali dari tekanan, tantangan, atau perubahan. Dalam konteks IMAC Film Festival 2026, resiliensi menjadi tema yang relevan karena banyak karya film yang mengangkat perjuangan individu maupun masyarakat menghadapi situasi sulit.
Melalui cerita-cerita di film tersebut, penonton diajak memahami bahwa setiap tantangan bisa menjadi proses pembelajaran. IMAC Festival Film 2026 juga mencerminkan resiliensi sineas muda yang terus berkarya meski menghadapi keterbatasan, serta berani menampilkan perspektif baru hingga mampu bersaing di tingkat internasional.
Secara keseluruhan, IMAC Film Festival 2026 menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghadirkan festival film berkualitas internasional. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga jembatan bagi sineas muda Indonesia untuk melangkah ke kancah global dan meraih pengakuan dunia.
Pengalaman Mengunjungi IMAC Festival Film 2026
Saya berkesempatan mengunjungi IMAC Film Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada hari ke-3 acara ini digelar yaitu pada Sabtu, 18 April 2026. Sore itu, dari pintu masuk saya sudah melihat umbul-umbul yang sangat eye catching berwarna kuning berjejer rapi. Menampilkan setiap narasumber yang sharing di acara IMAC Festival Film 2026 ini.
Festival film ini diadakan di Gedung Trisno Soemardjo Lantai 4 di beberapa ruang pemutaran seperti Sjuman Djaya dan Asrul Sani. Setibanya di lantai 4 saya langsung ke bagian pendaftaran, suasananya langsung terasa hidup. Banyak pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, komunitas film, hingga penikmat seni, semuanya berkumpul dengan antusias.
Area venue ditata dengan cukup rapi, dengan beberapa spot pemutaran film, ruang diskusi, serta area santai yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Karena acara yang akan saya ikuti sudah mulai, jadi saya langsung dipersilakan untuk masuk.
Jika melihat run down, rangkaian acara berjalan cukup padat. Ada pemutaran film dari berbagai kategori, baik film pendek nasional maupun internasional, yang memberikan perspektif baru tentang bagaimana cerita bisa disampaikan dengan cara yang unik. Selain itu, tersedia juga sesi masterclass dan diskusi yang menghadirkan para pelaku industri film. Tidak hanya sekadar menonton, pengunjung juga diajak untuk memahami proses kreatif di balik sebuah karya.
Salah satu momen yang paling saya tunggu pada IMAC Film Festival 2026 ini adalah sesi talk show Focus On Tonny dan Focus On Edwin. Di sesi ini, Tonny Trimarsanto yaitu seorang filmmaker kawakan yang meraih banyak penghargaan nasional dan internasional, berbagi pengalamannya dalam mengembangkan ide, menyusun cerita, hingga menghadapi tantangan dalam produksi film.
Selain Tonny Trimarsanto, hadir juga narasumber lainnya yaitu Ekky Imanjaya, seorang dosen perfilman di Universitas Bina Nusantara, hadir juga Nurrul Nelwan seorang perempuan hebat yang berpengalaman dalam pembuatan film sebagai script writer, film director juga producer. Terakhir ada Audrey Kartisha Mokobombang, seorang peneliti sekaligus aktivis yang berkaitan dengan isu-isu perempuan. Isu-isu perempuan ini juga banyak diangkat oleh Tonny Trimarsanto dalam karya-karyanya.
Buat saya yang bukan berasal dari latar belakang film, sesi ini terasa sangat insightful. Banyak hal yang sebelumnya terasa rumit jadi lebih mudah dipahami, mulai dari pentingnya riset, proses eksplorasi karakter, sampai bagaimana sebuah film bisa memiliki suara yang kuat.
Salutnya lagi karena kecintaannya pada dunia film, Tonny Trimarsanto sering kali membuat film dengan biaya sendiri. Membuat karya baik film pendek maupun film panjang ternyata sebuah calling dalam hidupnya, maka tak heran jika sering kali rela menggelontorkan dana pribadi untuk pembuatan filmnya.
Selain kegiatan utama seputar film, pada IMAC Film Festival 2026 menghadirkan hal-hal yang menarik, seperti layanan cek kesehatan gratis. Awalnya saya tidak menyangka akan menemukan fasilitas seperti ini di sebuah festival film, tapi justru hal ini menjadi nilai tambah. Pengunjung bisa beristirahat sejenak dari padatnya jadwal acara sambil memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga.
Jadi sebelum saya mengikuti acara berikutnya yaitu Focus On Edwin, saya sempatkan mengikuti cek kesehatan gratis di booth kesehatan yang diadakan oleh RS UI ini. Ada cek kesehatan kolesterol, gula darah, tekanan darah, sampai dengan asam urat, sehingga saya jadi tahu kondisi kesehatan saya terkait hal tersebut. Thank to God, semuanya dalam kondisi bagus.
Selesai cek kesehatan, saya lanjut mengikuti talk show berikutnya yaitu Focus On Edwin, menghadirkan narasumber Yow Chong Lie, seorang Film Lecturer di Universiti Malaysia Sarawak dan juga Erina Adeline Tandian yang juga seorang Film Lecturer di IKJ. Sama dengan Focus On Tonny, sesi ini juga menjadi momen yang insightful sekali untuk saya mengenai pembuatan film-film di era 2000an.
Selesai menghadiri talk show, saya berkeliling ke berbagai booth komunitas yang menampilkan karya mereka, mulai dari merchandise hingga proyek film independen. Interaksi antar pengunjung terasa hangat dan terbuka, membuat suasana festival tidak terasa kaku atau eksklusif. Semua orang terlihat bisa menikmati acara dengan cara mereka masing-masing. Pengunjung juga dapat melihat ratusan ratusan foto film yang masuk dalam festival ini.
Overall, menghadiri IMAC Film Festival 2026 ini menjadi pengalaman yang cukup berkesan buat saya, terutama sebagai orang awam yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan dunia perfilman. Festival ini bukan hanya untuk para pelaku industri, tapi juga sangat ramah untuk penonton biasa seperti saya.
Pada IMAC Film Festival 2026 ini, suasananya hidup, rangkaian acara yang beragam, hingga sesi talk show yang penuh insight, semuanya memberikan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya cara pandang saya terhadap dunia film. Senang banget dunia perfilman Indonesia semakin berkembang dan kegiatan ini melahirkan dan memfasilitasi para sineas muda berbakat dan berkualitas untuk terus berkembang. Sampai jumpa di IMAC Festival Film 2027.





