Looking for My Article

01 October 2020

Ngukuih Hajat, Ritual Adat Pendakian Gunung Bukit Raya

Salah satu pengalaman berkesan dalam pendakian Gunung Bukit Raya yang merupakan gunung tertinggi di Kalimantan ini adalah mengikuti upacara atau ritual adat yang harus dilakukan sebelum melakukan pendakian yaitu Ritual Adat Ngukuih HajatRitual adat ini merupakan upacara atau ritual yang wajib dilakukan oleh semua pendaki  yang hendak melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya. Upacara ini sudah turun temurun dilakukan oleh Suku Dayak Ot Danum, yaitu suku yang tinggal di kaki gunung atau desa terakhir sebelum melakukan pendakian Ke Gunung Bukit Raya. Upacara Adat Ngukuih Hajat dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada saat berangkat agar selama perjalanan kita diberikan perlindungan dan saat turun sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kita karena telah diberikan keselamatan sampai kembali lagi.



Persiapan Ritual Adat Ngukuih Hajat

Bapak Kepala Adat ditemani seorang warga memberitahu kami semua, bahwa sebelum melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya wajib melakukan ritual adat untuk keselamatan kami yaitu Ritual Adat Ngukuih Hajat. Bapak Kepala Adat, istri beserta satu orang warga akan membantu dalam proses pengumpulan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk upacara tersebut. Nanti kami tinggal membayar semua barang-barang tersebut. Tentu saja saya excited  banget ingin segera tahu prosesnya seperti apa. Karena saya selalu tertarik dengan budaya-budaya seperti ini. Menambah wawasan pastinya, dan semakin bangga menjadi warga +62 yang kayak akan peninggalan budayanya.


Bahan-bahan yang disiapkan

Beberapa barang yang digunakan untuk upacara adat Ngukuh Hajat ini adalah berupa ayam kampung, mandau (golok), beras kuning, gelang nanik yang talinya terbuat dari akar yang ada di hutan dan dianggap sakral bagi mereka. Setelah kami berkumpul, kami memulai berdoa dan dipimpin oleh Kepala Adat. Kepala Adat menggunakan pakaian khusus yaitu pakaian kehormatan yang hanya dipakai saat upacara/ritual yang penting saja, termasuk juga peci/kopiah. Kami semua sudah siap mengikuti ritual adat sebelum pendakian ke gunung tertinggi di Pulau Kalimantan ini.


Bagaimana proses ritual adat ini

Berdoa

Upacara Adat Ngukuh Hajat akan dimulai. Kami semua diminta untuk duduk berjejer menghadap matahari terbit. Kepala Adat mulai berdiri dan membacakan beberapa kalimat-kalimat dalam bahasa Dayak yang jujur saya tidak mengerti arti dan maksudnya. Hanya saja saya meyakini kalimat-kalimat tersebut merupakan doa yang dipanjatkan untuk keselamatan kami semua. Sambil mengayun--ayun ayam yang dipegangnya, Kepala Adat terus membacakan lafalan doa tersebut dalam rangkaian kalimat bahasa Dayak. Saya pun berdoa dalam hati sesuai dengan kepercayaan saya, agar kami semua dilindungi.  Selang beberapa menit, Kepala Adat meminta salah satu dari kami yang beragama muslim untuk menyembelih ayam tersebut.



Menyembelih ayam

Selesai berdoa, Om Ridwan sebagai perwakilan dari kami melakukan penyembelihan ayam dan darahnya diteteskan ke atas piring yang sudah ada beras kuningnya.

Mengoleskan darah ayam

Ritual berikutnya adalah, Kepala Adat sembari mengucapkan doa dalam bahasa Dayak mengoleskan darah ayam yang sudah dicampur dengan beras kuning yang sudah disiapkan di atas piring ke kaki, lutut, dahi, dan ubun-ubun kami.


Gambar: Om Mawardi


Menggigit mandau

Selesai diolesi dengan darah ayam, kami pun diminta untuk menggigit mandau yang sudah digunakan untuk menyembelih ayam sebanyak 3x. Tentu saja darahnya sudah dibersihkan terlebih dahulu. 



Mengikatkan gelang di lengan

Selesai menggigit mandau, ritual dilanjutkan dengan mengikatkan gelang gelang di lengan kami yang terbuat dari akar kayu yang diambil dari hutan yang dianggap sakral oleh Suku Dayak Ot Danum. Gelang ini tidak boleh dilepas sampai kami turun kembali dari Gunung Bukit Raya. kecuali terlepas sendiri. 

Gambar: Om Mawardi

Talinya cukup kokoh, hampir 3 minggu gelang ini tidak lepas di tangan saya, sengaja saya tidak melepasnya saat turun karena saya masih melanjutkan perjalanan di wilayah pedalaman Kalimantan lainnya. Tangan kami wajib dikepalkan saat tali ini diikatkan di tangan kami.


Pelajaran yang bisa diambil

Toleransi

Pelajaran pertama yang saya dapat, mereka benar-benar menjunjung tinggi yang namanya toleransi. Kenapa?, karena mereka tahu dalam Islam ada aturan tertentu dalam menyembelih binatang, mereka paham orang muslim tidak boleh memakan binatang yang disembelih tanpa doa. Toleransi yang sangat besar namun terkadang terlewatkan untuk menjadi sebuah perhatian besar bagi sebagian banyak orang. Kalau tidak ada toleransi tentu saja Kepala Adat akan menyembelihnya sendiri atau menyuruh siapa saja, tanpa memikirkan yang beragama muslim bisa makan atau tidak. Tapi ternyata tidak seperti itu.


Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Pelajaran kedua yang saya dapat adalah, dimana bumi dipijak, maka disitu langit dijunjung. Di sini saya melihat teman-teman yang juga punya toleransi tinggi untuk mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat adat Suku Dayak sebelum melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya. Mengikuti bukan berarti kita menjadi bagiannya. Tapi lebih ke arah toleransi. Namanya bertamu ya ikuti aturan pemilik rumah. Jika tidak bisa, silakan anda tidak usah bertamu.

Gambar: Om Mawardi


Keberagaman budaya Indonesia

Melihat upacara atau ritual adat Suku Dayak Ot Danum ini, makin membuka pikiran saya, mengenai toleransi, keragamanan budaya, kearifan lokal yang unik yang masih terjaga. Membuat saya makin open minded terhadap keberagaman suku, agama, ras, dan lainnya. Kita patut bangga dengan keberagaman yang dimiliki Indonesia yang belum tentu dimiliki orang negara lain. kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikannya.

Sungguh indah engkau negeriku, semoga diberikan keluasan waktu dan rezeki untuk melihat keanekaragaman Indonesia lainnya lebih dekat.

Upacara selesai, ayam yang tadi disembelih ternyata dimasak oleh ibu Kepala Adat dan menjadi santapan makan malam kami.




Nah mau menyaksikan langsung ritual adat Ngukuh Hajat ini? seperti apa dan bagaimana, silakan berkunjung ke Gunung Bukit Raya ya. Sekarang pendaftarannya sudah bisa dilakukan online dan tentu saja itu mempermudah para pendaki untuk mengunjungi gunung ini.

See you soon Gunung Bukit Raya. Semoga tetap lestari Ritual Adat Ngukuih Hajat.


60 comments :

  1. Memang di mana pun kita harus menghormati adat-istiadat suatu tempat. Walau kadang sepertinya nggak masuk akal juga. Tapi intinya ritual ini buat berdoa memohon keselamatan dan semua berjalan dengan lancar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mba Yus, bumi dipijak maka langit dijunjung kata pepatah hehe

      Delete
    2. wow, salut, ternyata nggak sembarangan ya mbak mau naik gunung tuh dan senang melihat indahnya toleransi di sini :)

      Delete
  2. Aku selalu tertarik baca kisahmu, kak. Sebagai warga +62 harusnya bangga punya banyak ritual dan juga kekayaan toleransi. Bukannya malah dipakai buat senjata tembak tembakan saling menjatuhkan.
    Baru tahu lho kalau di Kalimantan juga bisa dipakai pendakian.
    Kak itu gelangnya dibawa pulang? Temanku asli Kalimantan, kakinya ada gelang anyaman gitu, katanya itu sudah sejak dia bayi dianyam langsung

    ReplyDelete
    Replies
    1. salahs atu seven summit Indonesia ada di Pulau Kalimantan Ka Mini, ga terlalu tinggi tapi panjang kayak uler treknya butuh 6 harian normalnya

      Delete
  3. Dhita Erdittya

    Oke banget ya manggil pendaki yang muslim untuk menyembelih ayam. Tadi aku udah mikir, wah sapa nih yang nyembelih? Toleransinya dijaga bener. Love it!

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mba Dhita, banyak kisah2 inspiratif seperti ini yang jarang diangkat

      Delete
  4. Makin bangga jadi orang Indonesia.

    BTW sungguh keren tuh toleransinya. The real toleransi. Tanpa banyak narasi.

    ReplyDelete
  5. Baru tahu ada upacara seperti ini.. makasih infonya.. apakah di Google translate ada bahasa dayak? soalnya penasaran juga sama yang diucapkan sama pemimpin ritualnya...oya, tentang ayam yang disembelih muslim itu cukup menunjukkan toleransi ya.. sekedar saran juga kalau bisa mandau yang digigit di bagian yang tidak ada darahnya ya.. soalnya sebaiknya orang Islam juga tidak boleh termakan darah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya darahnya dilap dulu mba, nanti saya coba tambahkan ya di notenya, terima kasih feed back baiknya mba Anti

      Delete
  6. kangen jalan-jalan lagi deh tiap liat foto-doto di blog mba mei, selalu ada cerita yang tersampaikan... terutama soal budaya tempat tempat yang sudah mba mei singgahi... aduh jadi kangen sama mba meinya. melipir dulu lah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kangen juga ketemu Agi kalau udah jelasin soal blog itu nacep banget. untungnyan bisa bercengkrama sama tulisan Agi, selalu suka dan kamu jadi role model buat blog aku Gi

      Delete
  7. Keren ceuuu aku kok jadi merinding ya ceuuu aura mistis mistis gitu, tapi percaya ga percaya. Dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak. Jaga kesehatan ya Ceuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi lebih serem kalau pas lagi ngikutin ritualnya, untung siang, aman ko

      Delete
    2. hahahaa kalau yang berbau mistis gitu emang agak2 seram ya mbak, tapi ga papa asal kita ga niat macam2 ga akan kenapa2 kok

      Delete
  8. Indah sekali kisahmu mbak, sungguh menambah wawasan sekaligus bikin bangga bahwa toleransi dan kearifan lokal masih terjaga di suatu daerah di Indonesia ~

    ReplyDelete
  9. Ritual adatnya kental banget yaaa di masyarakat. Seneng deh lihat beginian, masih melestarikan adat di tengah era digital seperti sekarang. Hummm, kangen jalan2 nih jadinya 😅😅

    ReplyDelete
  10. Beruntungnya mbak Mei bisa keliling nusantara mengenal beragam adat yang berbeda. Semakin bangga ya dengan Indonesia. Meskipun beragam adat, budaya, dan agama, namun tetap rukun dan tentram. Semoga selalu terjaga. Haru aku bacanya..hihi. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih haru saat menyaksikan di sana mba Sapti, bangga ya jadi Indonesian

      Delete
  11. Justru bagus pendaki gunung belajar secara langsung mengenai adat istiadat daerah yang ditujunya karena ada sesuatu di dalam kisah upacara adat yang hanya dipahami masyarakat asli sana.
    Sebagai tamu wajib mengikuti aturan tuan rumah demi kebaikan. Alam mengajarkan petanda kepada penghuni aslinya.
    Tapi penasaran juga mengapa harus menggigit ujung Mandau?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih ke runtutan ritual adat teteh kan ada potong ayam, terus gigit mandau, terus diolesn darah ayamnya, dan diikat tali

      Delete
  12. Menarik sekali ya. Hal yang paling menarik saat kita mengunjungi satu daerah adalah mengenal kekhasan daerah tersebut, termasuk ritual adat dan kearifan lokalnya. Tiap daerah di Indonesia ini kaya sekali hal-hal semacam ini. Saya punya teman orang Dayak, dia sering cerita tentang adat istiadat di daerah asalnya. Kalau dari cerita Mbak Mei, sepertinya itu ritual adat yang sebenarnya bertujuan mendoakan keselamatan. Tapi bagus juga kepala adatnya juga melihat dari sudut pandang tamunya. Jadi ketika bagian menyembelih ayam, dia mempersilakan agar tamunya ikut mendoakan menurut kepercayaannya juga. Keren sekali ya, toleransi yang telah diterapkan di tempat ini.

    Saya setuju sekali dengan kutipan peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Semoga Indonesia dan segala kearifan lokalnya tetap lestari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali mba Nieke, saya jadi tertarik buat mempelajari budaya-budaya gara-gara ikut upacara adat ini

      Delete
  13. Indonesia mmg kaya akan adat istiadat. Beribu suku yg ada punya adat masing² yg unik. Menarik ya liat dr dekat ritual adat kyk gini.

    ReplyDelete
  14. Menarik juga ritualnya. Ini bisa bikin kita menghargai adat budaya setempat ya, Mbak. Sehingga perjalanannya makin terasa berkesan.

    ReplyDelete
  15. seneng kalau bisa menjadi bagian dari tradisi ini.. suatu hal yang menarik jika kita berkunjung di suatu daerah yang masih kental dengan tradisi penyambutan yang sakral seperti ini.
    mungkin bagi yang nggak terbiasa seperti aneh, tapi hal ini wajar wajar saja, karena cara yang dianut tiap daerah berbeda beda. dan senengnya bisa tinggal di Indonesia yang beragam

    ReplyDelete
  16. Menarik nih ritualnya bisa untuk atraksi wisata..tapi ini khusus untuk pendaki gunung ya..klo pas kita datang ke sana ga ada yg mau daki gunung gabisa dunk lihat ritualnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang ke sana pasti naik gunung Kak, karena tempat wisatanya hanya itu, perjalanan ke sana butuh 23 pas saya ke sana

      Delete
  17. Betapa senangnya melihat budaya yg masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat, dan di balik itu toleransi sangat terasa, pintu terbuka untuk kita yg mau mengenal ya, semoga suatu hari nanti bisa main juga kesana

    ReplyDelete
  18. Aku selalu bangga kalo baca2 ttg budaya adat begini, Indonesia tuh kaya keberagaman dan diimbangi dgn toleransi. Semoga kita bs ambil pelajaran dan lakukan di mana kita tinggal

    ReplyDelete
  19. Ini yang harus dipertahankan di daerah, ada istiadat agar tetap lestari. Karena dengan berkembangnya negara kadang suka hilang adat istiadatnya.

    ReplyDelete
  20. Ada-ada ajaa ya mba adat yang harus diikuti, dan ini justru memberikan pengalaman yang sangat berharga ya. Baca kisahnya seakan menyaksikan langsung

    ReplyDelete
  21. Sebagai tamu, kita emang harus menghormati ada istiadat tempat tempat yang didatangi ya mbak. Biar segala urusan dilancarkan. Beruntung aku tinggal di Indonesia, banyak banget tradisi dan kebudayaan yang unik. Jadi nambah wawasan deh hehe.

    ReplyDelete
  22. Wah bener mbak dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, bener bener seru pengalamannya mbak bisa tahu adat istiadat daerah tidak hanya menikmati alamnya saja

    ReplyDelete
  23. kearifan lokal yg harus selalu dijunjung dan dilestarikan, biasanay banyak filosofinya

    ReplyDelete
  24. Serem enggak sih kak mengikuti ritual ini? aku kok bacanya merinding yaa heuheu sereem gitu. karena ada ritual ritualnya.

    ReplyDelete
  25. Indonesia ini kaya dengan khasanah tradisionalnya yaa. acara ritual ini menjadi bukti salah satu kekayaan Indonesia dan itu menarik baik bagi wisatawan domestik maupun luar.

    ReplyDelete
  26. Waah unik juga yaa Kak sebelum pendakian diadakan ritual seperti ini dulu dan hal ini yang jadi keberagaman tradisi dan adat yang ada di Indonesia

    ReplyDelete
  27. Kesempatan emas ya melihat dari dekat kehidupan masyarakat pedalaman Kalimantan, mengenal budayanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget deh mbak, aku pun kadang tuh masih suka penasaran juga dengan kehidupan masyarakat di pedalaman.

      Delete
  28. Hebat banget yaa...kak Mei.
    Para leluhur masih menjaga keselarasannya dengan Budaya. Tapi pasti ada maknanya yaa..mengapa dilakukan Upacara Adat Ngukuih.

    ReplyDelete
  29. Kenapa baca ceritanya aku malah jadi merinding ya Mba....jadi berasa serem dan takutnya hehehe. Dasar aku nya aja yang terlalu khawatir hehehe.

    ReplyDelete
  30. Ini pengalaman berharga banget ya Kak, yang nggak semua orang bisa menikmatinya dan ikut serta di dalamnya melakukan ritual. Indonesia kaya akan budaya banget ya kak. Kak Mei terus menginspirasi dengan cerita-cerita pendakiannya.

    ReplyDelete
  31. saya juga sangat senang uk mengenal adat kebudayaan seperti ini, senang sekali membaca cerita pengalamannya. memang harus banget kita istilahnya permisi ya sebelum berwisata ke alam seperti itu.

    ReplyDelete
  32. Wah, untuk mendaki gunung paling tinggi di Kalimantan harus melakukan ritual itu yaa k? menarik banget, aku suka deh belajar kebudayaan langsung seperti itu, kapan yaa bisa naik gunung di Kalimantan hehehe. Makasih sharingnya k, paling ga bisa jadi referensi buat yang ingin mendaki di sana ya.

    ReplyDelete
  33. wah keren banget. belajar budaya baru. indahnya indonesia ya :)

    ReplyDelete
  34. Menurutku ritual seperti ini yang menjadi keunikan budaya di Indonesia yaa Kak Seruu nambah belajar budaya baru hihi

    ReplyDelete
  35. manrik ya mba adat istiadat yang masih dijunjung tinggi di Kalimantan dan di banyak daerah di Indonesia. Aku aga jerih juga melihat ritualnya and like it or not we gotta respect that

    ReplyDelete
  36. Menarik banget asat istiadat yang dilestarikan . Hal inilah membuat indonesia menjadi unik dan beragam karna toleransinya juga

    ReplyDelete
  37. kearifan yang masih dijaga yaa. jadi inget sama film tanah jawa, mendaki gunung tanpa ijin dari warga sekitar memang membuat ngeri yaa. dengan mendapat restu dari warga sekitar, terutama petinggi dusun, kita menjalankan etika , sopan santun insyaAllah mendaki dengan penuh bahagia yaa.

    ReplyDelete
  38. Adat memang banyak macemnya ya. Aku baru tau soal ini. Asik juga bisa belajar bareng di sana.

    ReplyDelete
  39. Waaah unik juga ya mei. Pake acara ritual dulu. Aku lgs kepikiran, pas disuruh sembelih Ama yg muslim, kalo semuanya ga terbiasa nyembelih ayam piyeeee ituuu hahahaha. Aku ngeliat disembelih aja lgs lemes apalagi pas keluar darah -_- ..

    Iyaaa, saluut yaa Ama toleransi dan pengetahuan mereka ttg muslim. Eh orang2 Dayak ini aku percaya memang ada kekuatan khusus sih. Jd inget pas pecah perng antara Dayak dan Madura, itu salah satu temenku yg pas kejadian ada di Kalimantan, nyaksiin sendiri pasukan Dayak ini menyerang dan bisa ngebedain mana orang madur ato bukan hanya dengan penciuman. Walopun kemudian cara mereka menghabisinya lgs bikin trauma :(. Di depan mata temenku .. ga kebayang kalo aku ngeliat sendiri. Baca dr koran pas kejadian aja lemeees.

    ReplyDelete
  40. Meiiii, selama mendaki gunung ada pernah punya cerita2 yang mistis ga Mei? Mau dibagi ya di blognya, biar bisa belajar dari pengalamanmu.

    ReplyDelete

Silakan komentar sesuai dengan aturan dan gunakan bahasa yang baik dan sopan. Tolong jangan tinggalkan link aktif, sebagai bentuk sopan santun anda. Mari sebarkan energi positif.

Popular Posts

Mendaki Puncak Poon Hill di Himalaya

Poon Hill adalah satu dari belasan puncak gunung yang berderet di  Himalaya . Menjadi salah satu puncak gunung yang menjadi incaran banyak ...

Back to Top