PENGALAMAN MENGIKUTI SEMINAR INTERNATIONAL CONFERENCE ON SUSTAINABLE TOURISM (ICST)
Mengikuti puluhan seminar selama beberapa tahun terakhir memberi saya pengalaman yang begitu beragam. Setiap forum menghadirkan sudut pandang baru, jejaring yang berbeda, serta pelajaran yang tak pernah benar-benar sama. Ada yang terasa biasa saja, ada pula yang meninggalkan jejak mendalam.
Namun dari sekian banyak seminar offline yang saya datangi, salah satu seminar yang paling berkesan adalah International Conference on Sustainable Tourism (ICST), sebuah konferensi internasional yang membuka cakrawala berpikir saya jauh lebih luas. Lalu kenapa konferensi tingkat internasional ini menjadi salah satu pengalaman seminar yang sangat mengesankan untuk saya? Keep reading.
Sekilas Tentang International Conference on Sustainable Tourism (ICST)
International Conference on Sustainable Tourism (ICST) adalah konferensi tingkat dunia yang fokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan, yang bertujuan mensinergikan lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi untuk masa depan.
Konferensi internasional ini diadakan pertama kalinya di Indonesia tahun 2017 sebagai salah satu tindak lanjut dari Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) 2017. Maka tak heran jika salah satu agenda konferensi internasional ini adalah pameran yang menampilkan para pemenang ISTA di berbagai bidang.
ISTA atau Indonesia Sustainable Tourism Awards sendiri merupakan ajang penghargaan yang diberikan kepada destinasi pariwisata di Indonesia yang berhasil menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. Program ini mengacu pada standar global dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC), mencakup aspek pengelolaan destinasi, manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya, serta perlindungan lingkungan.
International Conference on Sustainable Tourism (ICST) dilaksanakan selama dua hari yaitu pada 31 Oktober – 1 November 2017 yang diselenggarakan di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta. ICST mengundang sekitar 300 peserta yang terlibat dengan pariwisata berkelanjutan atau yang relate dengan hal tersebut dari dalam negeri dan luar negeri.
ICST ini merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia dengan beberapa organisasi internasional dan nasional seperti United Nations World Tourism Organization (UNWTO), Global Sustainable Tourism Council (GSTC), United in Diversity (UID), juga didukung oleh Sustainable Development Solutions Network dan beberapa universitas termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mana UGM sebagai pengelola desa wisata di Yogyakarta.
Konferensi internasional ini menghadirkan para pembicara kelas dunia yang berpengalaman dalam sektor pariwisata berkelanjutan. Di antara tokoh internasional yang hadir adalah Dirk Glaesser (Director for Sustainable Development of Tourism, UNWTO), Prof. Chris Cooper dari Oxford Brookes University (UK), dan Randy Durband selaku CEO GSTC. Hadir juga Mari Elka Pangestu (President of United in Diversity) dan praktisi bisnis Indonesia seperti Hermawan Kertajaya dari MarkPlus Inc. Serta Menteri Pariwisata, Arief Yahya.
Terpilih Menjadi Koordinator Pemenang ISTA di Bidang Lingkungan
Tahun 2017 saya adalah salah satu mahasiswa S2 di Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Tourism Studies. Betul sekali, konferensi internasional ini sangat relate dengan jurusan kuliah yang saya ambil yaitu bidang pariwisata. Selain itu kegiatan ini juga didukung penuh oleh UGM selaku pengelola desa wisata yang ada di Yogya. Maka tak heran jika kami mahasiswa pariwisata di UGM dilibatkan dalam kegiatan seminar ini untuk menambah wawasan dan membuka cakrawala pengetahuan kami terkait dengan pariwisata berkelanjutan.
Tidak hanya sebagai peserta seminar dalam konferensi internasional ini, saya juga mendapatkan kesempatan luar biasa untuk menjadi salah satu panitia yang ditunjuk dari Kementerian Pariwisata untuk membantu keberlangsungan seminar internasional ini.
Saya diberikan kesempatan sebagai Koordinator pemenang ISTA di bidang Lingkungan yang mana mereka akan hadir untuk mempresentasikan destinasi wisata yang dikelolanya dalam bentuk pameran di booth. Salah satu tugas penting saya adalah memastikan seluruh pemenang ISTA di bidang Lingkungan ini hadir dan siap pada konferensi internasional ini. Siap untuk melakukan pameran, wawancara, dan juga presentasi.
Tidak hanya itu, saya juga mempunyai tanggung jawab penuh mengenai teknis dan operasional pameran yang akan mereka gelar pada konferensi internasional ini. Beberapa bulan sebelum acara digelar, semua panitia banyak melakukan koordinasi secara offline dengan berbagai pihak termasuk dengan Kementerian Pariwisata selaku koordinator utama.
Sementara koordinasi mengenai kesiapan para pemenang ISTA ini saya lakukan by phone dan email. Hal ini mengingat lokasi pemenang ISTA di bidang lingkungan lebih banyak berada di luar pulau Jawa. Seperti Sumatera, Bintan, Bangka Belitung, sampai dengan Papua.
Hampir setiap hari saya akan berkomunikasi dengan mereka untuk memastikan apa yang mereka butuhkan dan apa saja yang perlu disiapkan pada acara di hari H. Termasuk materi apa saja yang akan mereka presentasikan apakah sudah siap, atau ada yang masih harus diperbaiki. Seringnya komunikasi by email dan phone selama beberapa bulan ke belakang membuat kami merasa akrab saat bertemu di H-1 acara.
Semua peserta yang jumlahnya sekitar 300 orang dari Indonesia dan juga beberapa dari negara lain ini, hadir di H-2 atau H-1 untuk persiapan. Terutama bagi tamu undangan yang hadir sebagai pemenang ISTA dan lokasinya di luar Pulau Jawa, termasuk pemenang ISTA di bidang Lingkungan yang saya koordinir.
Pengalaman Mengikuti Seminar Internasional ICST
Tiba acara di hari H yang dilaksanakan di Hotel Ambarukmo, Yogyakarta, saya cukup deg-degan. Karena selain saya sebagai peserta seminar di konferensi internasional ini, saya juga harus mendampingi para pemenang ISTA di bidang Lingkungan saat ada wawancara atau saat ada kunjungan dari tamu undangan.
Hari pertama acara, saya hadir sebagai peserta seminar di konferensi internasional ini. Proses registrasi cukup ketat, mengingat yang hadir pada acara ini adalah para ahli di bidang tourism tingkat dunia. Rundown acara terpampang nyata, semua peserta yang hadir juga sangat tertib ketika proses registrasi dan saat memasuki ruangan acara. Ruangan meeting Ambarukmo semakin terlihat megah dengan dekorasi yang dominan dengan warna kuning keemasan dan berbagai hiasan yang mencerminkan budaya Indonesia.
Ruangan ditata rapi dengan bentuk kelas dan menggunakan meja panjang dan dibungkus dengan kain hitam. Menambah kemewahan konferensi internasional ini. Seharian saya dan semua tamu undangan mendengarkan paparan mengenai pariwisata dari para pembicara dari berbagai negara, dan juga dari pembicara di Indonesia.
Paparan mengenai pariwisata berkelanjutan dari banyak pembicara dunia ini memberikan pengalaman tak terlupakan. Karena hal ini semakin menambah wawasan saya sebagai mahasiswa pariwisata mengenai perkembangan pariwisata berkelanjutan di tiap negara. Di sesi tanya jawab, para peserta sangat antusias, sayangnya karena keterbatasan waktu para penanya tidak semuanya diakomodir.
Di sesi ice breaking, para pembicara dan peserta mulai terlihat engagement-nya, bahkan kami pun banyak bertukar kartu nama untuk networking dengan para peserta lain dan juga pembicara. Momen ini terlihat sangat hangat. Selain itu sesi ini juga menjadi momen yang sangat penting untuk membangun relasi di masa yang akan datang.
Tiba di hari kedua, sesi pagi semua tamu undangan mulai berkeliling ke booth-booth para pemenang ISTA yang terdiri dari berbagai bidang yaitu bidang Lingkungan, Sosial Budaya, dan Ekonomi. Semua peserta sangat antusias bertanya, berinteraksi, dan mendokumentasikan masing-masing booth. Momen ini juga sekaligus menjadi momen untuk membangun networking antara pemenang ISTA dan juga para tamu undangan dari berbagai wilayah di Indonesia dan dari luar negeri.
Tidak hanya ilmu yang saya dapatkan pada konferensi internasional ini, tetapi kami juga mendapatkan berbagai seminar kit, mulai buku bacaan, tas kerajinan, sampai dengan berbagi informasi brosur mengenai pariwisata keberlanjutan.
My Thought
Dari seluruh rangkaian konferensi internasional ini, saya belajar bahwa seminar bukan sekadar duduk mendengarkan materi, tetapi tentang proses bertumbuh. ICST mengajarkan saya arti kolaborasi lintas negara, profesionalisme dalam penyelenggaraan acara, hingga pentingnya komunikasi yang konsisten dan empatik.
Jejaring yang terbangun membuka peluang akademik dan profesional yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Lebih dari itu, konferensi ini meneguhkan keyakinan saya untuk berkontribusi dalam pariwisata berkelanjutan. Ilmu yang didapat bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk cara pandang, sikap, dan arah langkah saya ke depan sebagai insan pariwisata.
Selain itu, melihat antusiasme para peserta saat berkeliling booth, saya menyadari bahwa konferensi ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang nyata untuk saling belajar dan menginspirasi. Saya berdiri di antara para praktisi, akademisi, dan pengelola destinasi yang benar-benar berjuang menjaga keberlanjutan di daerahnya masing-masing. Dari sanalah saya belajar bahwa pariwisata bukan hanya tentang angka kunjungan, tetapi tentang dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.
ICST 2017 menjadi titik balik perjalanan akademik sekaligus profesional saya. Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa saya berada di jalur yang tepat dalam dunia pariwisata berkelanjutan.







0 Comment
Silakan berkomentar dengan bijak dan positif. Terima kasih.