December 9, 2018

Travelling Seru Bersama Azalea


Buat aku yang hobby-nya travelling, melakukan olahraga-olahraga yang menantang dan senang dengan kegiatan outdoor, menjadi tantangan tersendiri untuk dapat merawat my black hair. Aktifitas yang berlebih di luar ruangan membuat kulit kepala cepet kotor dan rambut jadi cepet lepek. Awalnya gak terlalu care soal perawatan rambut mungkin karena aku bisa dibilang cewek yang sedikit cuek sama penampilan, lama-lama ko jadi gak pede kalau rambutnya lepek.

Sempet bingung gimana caranya perawatan buat rambut hitamku ini yang lama-lama kok cepet banget lepek kalau kena debu, ditambah sering naik gunung berhari-hari, pastinya baukan heheeh. Stress pastinya dong, cewek gitu loh....

Eh beruntungnya Azalea by Nature ngadain temu bareng Blogger-blogger yang ada di Jogja untuk ngebahas bagaimana cara perawatan untuk rambut berhijab yang diadakan di Kunena Eatary pada 25 November  2019. Acaranya seru banget, jadi ajang ketemu sama blogger-bloger se-Jogja. Acara ini juga diisi dengan seminar tentang bagaimana cara membranding diri sebagai travel blogger oleh Mba Dian.

Dalam acara ini Nature sekaligus melaunching produk barunya yaitu Azalea Anti Dandruff dan Azalea Hair, Hijab & Body Mist sebagai shampoo hijab bagi perempuan berhijab, eiiittsssss tapi keduanya bisa dipakai juga buat yang gak berhijab kayak aku loooooh. Sebelumnya aku pernah mengalami rambut rontok dan sudah mencoba beberapa produk shampo anti rontok tapi gak bepengaruh apa-apa, sampai akhirnya menggunakan produk Nature ini daaaannnn rontokpun berkurang.

Dan ini keduakalinya menggunakan produk dari Nature, awal pemakaian rambut terasa sangat bersih, kesat namun agak kasar. Agak ragu mau melanjutkan produk ini, tapi beberapa informasi dari teman-teman yang sudah pakai, katanya awalnya memang seperti itu, akhirnya kuputuskan untuk terus menggunakan produk ini. Setelah pemakaian minggu kedua, perubahan rambut menjadi mengkilap, tidak terlalu lepek mulai terasa.

Saat ini saya menggunakan Shampo Azalea Shampoo Hijab warna hijau yang mengandung bahan alami Zaitun Oil, Ginseng Extract dan Menthol yang cocok dengan rambutku yang sering rontok. Selain itu juga membantu dalam proses perawatan rambut seperti :
  1. Membersihkan dan membantu merawat kulit kepala dan rambut tetap segar dan pastinya bebas lepek
  2. Membantu menjaga kekuatan akar rambut
  3. Membantu melembutkan rambut
  4. Mmebuat kulit kepala dan rambut terasa dingin dan sejuk

Paling suka sama Azalea Hair, Hijab & Body Mist karena selain bisa dipakai buat rambut bisa dipakai juga buat badan. Wanginya segar, dan aku pakai biasanya buat badan, kadang untuk rambut tapi penggunaannya aku semprot dulu ke sisir, jadi wanginya tidak terlalu nyengat di rambut. Konon katanya, produk azalea yang dikeluarkan oleh PT Gondowangi ini dibuat dari bahan-bahan alami yang tidak merusak rambut.

Sementara untuk produk hair body mistnya mengandung Zaitun Oil, Aloe Vera Extract dan Menthol yang mempunyai manfaat besar bagi rambut kita:
  1. Membantu mengharuskan dan menyegarkan rambut sehingga bebas dari bau lembab dan lepek
  2. Membantu mengharusmkan kerudung atau hijab
  3. membantu menutrisi dan merawat setiap helaian rambut

ukurannya mungil, cocok buat travelling

Pokoknya, shampo sama hair body mistnya rekomended banget deh, kemasannya simple dan enak kalau dibawa buat jalan-jalan kayak saya yang hobbynya travelling di alam bebas, apalagi hobby aku yang suka naik gunung sampai berhari-hari di atas gunung, ngebantu banget deh biar rambutnya gak bau, so simple.

Dan jangan lupa ya follow akun sosial medianya Nature khususnya Azalea untuk mendapatkan informasi dan update terbaru dari si produk cantik ini. IG nya bisa follow di @azaleabeautyhijab atau bisa like fanpage Facebook Azalea Beauty Hijab. 

Selamat mencoba buat kamu yang mau menjaga rambut kesayangannya 🙂🙂🙂🙂



November 10, 2018

Melangkah Tegap Menuju Puncak Gunung Sindoro

Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung yang berada di antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai ketinggian 3.153 mdpl. Terkenal sebagai salah satu dari 3 gunung tertinggi di Jawa Tengah, dan banyak pendaki menyebutnya dengan istilah Gunung 3S, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Slamet. Karena ketiga gunung ini bersebelahan, sehingga kita bisa menikmati pemandangan Gunung Sumbing dan Gunung Slamet dari puncak gunung ini. Sindara atau Sundoro merupakan nama lain dari gunung ini. 

rute menuju puncak
pict taken by Kris, edited by me

Saya berangkat dari Yogyakarta bersama 3 orang teman dengan sistem shared cost menyewa kendaraan pribadi untuk satu hari (24 jam) dan melakukan pendakian melalui Kledung.

Hari ke-1 (Pos 1 – Sunrise Camp)
Saya bersama teman-teman berangkat dari Yogyakarta sekitar pukul 16.30, perjalanan ditempuh dengan normal sekitar 1-2 jam menggunakan kendaraan pribadi. Karena kami berangkat pas weekend jadilah kondisi jalan lumayan ramai dan padat.

Sampai di basecamp sekitar pukul 19.00. Kami merapikan barang-barang yang akan dibawa, makan malam, dan kemudian melakukan registrasi ke basecamp. untuk berempat kami membayar biaya registrasi sebesar 65 ribu rupiah (10 rb per orang, 5 rb untuk sumbangan, 3 ribu untuk PMR - untuk sumbangan dan PMR bayar per kelompok) dan menitipkan identitas (KTP) dan cukup menitipkan KTP satu orang saja namun tetap mencatat nama-nama kami demi keselamatan. Pastikan ya jumlah bukti bayar yang 10 rb per orang jumlahnya sesuai dengan jumlah orang, karena kami kemarin ber empat hanya diberikan bukti bayarnya 2 orang, jadi kalau ada apa-apa kita tidak punya bukti untuk claim).

Pukul 20.00 kami menuju Pos 1 dengan menggunakan jasa ojek sampai ke pertengahan pos 2. Kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki yang berjalan kaki yang akan naik ataupun turun. Perjalanan ojek ini sekitar 20 menitan. Waktu itu HP saya sempat ketinggalan di tempat makan, sehingga saya harus kembali lagi, untungnya masih dekat-dekat dengan basecamp dan motor bapak ojeknya bermasalah, jadilah kerumahnya dulu untuk ganti motor dan ini lumayan memakan waktu.

Pukul 20.45 kami memulai perjalanan kami menuju Pos 2, kami tempuh sekitar 35 menit atau sekitar pukul 21.20 kami tiba di Pos 2 namun saya dan teman-teman tidak berhenti dan lanjut ke Pos 3.

Dari Pos 2 ke Pos 3 ditempuh sekitar 1,5 jam atau kami tiba sekitar pukul 22.50 dan kami sempat beristirahat sebentar di Pos 3 kurang lebih 10 menit. Di pos ini saya lihat tenda-tenda sudah memenuhi semua area camp sampai ke jalur-jalur miringnya.

Pukul 23.05 kami lanjutkan ke Sunrise Camp. Pukul 23.20 saya dan teman-teman tiba di Sunrise Camp dan wooooooow penuh sekali dengan tenda-tenda pendaki, lumayan lama kami mencari-cari tempat mendirikan tenda namun tidak dapat tempat yang aman, akhirnya memutuskan mendirikan camp persis sebelah plang tulisan Sunrise Camp, karena hanya di tempat itu yang tanahnya datar.

Sunrise Camp, salah satu tempat camp yang bisa lihat sunrise/sunset
pict taken by Younkie

Pada malam hari, dari pos ini kita bisa menyaksikan tenda-tenda yang indah bertebaran di Pos 3 dengan lampu dan warna tenda yang bermacam-macam.

Selesai mendirikan tenda, kami masak, makan dan have a nice dream......

Hari ke-2
Kami bangun pukul 04.30 cuaca di luar cukup dingin sampai tenda kami berembun. Pukul 05.10 saya melihat sang mentari menyinarkan wajahnya. Sambil masak-masak saya dan teman-teman pendaki lainnya menikmati sunrise yang indah dari tempat ini.

Pukul 06.00 kami berangkat menuju puncak, perjalanan kali ini saya lalui dengan cukup santai, sembari menikmati pemandangan indah Gunung Slamet dan Sumbing, selian itu jalur menuju puncak berupa bebatuan berpasir dan menanjak membuat nafas saya ngos-ngosan karena lama tidak trekking dan olahraga :)


biar kekinian kayak gen-x :)
pict taken by Younkie

Pukul 08.00 kami sampai puncak dan mengambil beberapa photo. Selain menikmati pemandangan alam dan kawahnya yang kering, saya juga memperhatikan pemandangan takjub yang belum pernah saya lihat sebelumnya di puncak selama saya mendaki gunung. Jumlah pengunjung, yah jumlah pengunjung gunung saat itu lebih dari 200 orang dan saya lihat masih banyak dibawah yang belum sampai puncak. Ramai sekali untung saja puncak gunung ini cukup luas.

ga afdolll kalau ga photo keluarga di puncak :)

Pukul 09.00 kami memutuskan turun dan perjalanan lagi-lagi dilakukan dengan santai, karena turunannya sangat tajam, berkerikil, bebatuan dan berpasir sehingga harus hati agar tidak terpeleset dan debunya tidak kena ke pendaki di belakang atau di depan saya. saat turun saya dan teman-teman sempat berhenti beberapa kali untuk berphoto dibeberapa spot. Saat itu cuaca sangat cerah sehingga pemandangannya sangat cerah.

jalur turun ditemani pemandangan cerah nan indah

Sekitar pukul 11.00 kami sampai di Sunrise Camp, karena lelah saya dan teman-teman sempat tidur sebentar. Kemudian dilanjutkan masak, makan, dan berkemas untuk turun.

salah satu rute naik

Sekitar pukul 13.30an kami turun menuju basecamp. Pukul 15.35 kami sampai di basecamp, lanjut ke tempat pendaftaran untuk lapor bahwa kami sudah turun.

photo dulu di pintu rimba alias pintu masuk sebelum pulang

Pukul 16.00 mobil yang menjemput kami tiba, and I am coming Yogyakarta.
Feeling tired, thanks buat pengalamannya hari itu Tuhan dan terima kasih buat Kris, Diki, dan Yongki.

See you in the next trip ya guys......

August 30, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (The Last Part)


Hari ke-6 (Pos 7 Bayangan – Rantau Malam)

Pukul 06.15 pagi kami sudah memulai perjalanan untuk turun ke Rantau Malam. Sekuat tenaga kami berjalan untuk sampai ke basecamp.

suasana santai saat pulang, istirahat sambil dengerin cerita Bapak-Bapak Porter


Saya bersama porter dan beberapa teman lainnya berjalan turun dengan kondisi santai. Karena ada teman yang maagnya kambuh.

Pak Sardin dan Pak Yaqub, 2 dari 6 porter hebat yang jagain kami, terima kasih Bapak

Kami sempat berisitirahat di  4Pos 3 Hulu Menyanoi dan memasak. Kami juga sempat istirahat cukup lama di Korong Hape sambil menunggu ojek yang lewat. Setelah menunggu lama akhirnya ada ojek yang lewat dan kami sempat berhenti makan di pos ojek tempat sungai kami menyebrang sebelum menuju Rantau Malam. Pukul 09.10 malam kami baru sampai di Desa Rantau Malam.

suasana ritual adat setelah pendakian, muka-muka lelah dan ngantuk
pict taken by Om Maw

Setelah kami rapi-rapi dan kumpul semua, langsung diadakan ritual adat penutup sebagai ucapan syukur jika kami pulang dengan selamat. Kemudian dilanjutkan dengan packing dan istirahat.


Hari ke-7 (Rantau Malam – Pontianak)

Pukul 08.30 pagi kami memulai perjalanan menuju Sungai Serawai. Disinilah serunya. di penghujung kemarau, arus sungai sangat kecil dan dangkal, jadilah kami (team cowok sih ehhehe, perempuan nangkring cantik aja di atas perahu heheheh) harus dorong-dorong tuh klotok, tidak hanya sekali tapi berkali-kali.

karena airnya surut dan dangkal, jadilah dorong-dorong klotok sampai nemu sungai yang dalam

Belum lagi mereka harus berjalan menyusuri sungai, karena klotoknya tidak sanggup membawa beban berat, ya karena kondisi arus airnya yang kecil dan dangkal.

keseruan dorong klotok, kapan lagi kan :)

klotoknya ga bisa nahan beban, terpaksa ya anak cowoknya harus menyusur sungai :) ganbatte 

Kami tiba di Sungai Serawai sekitar pukul 03.20 sore. Pukul 03.35 sore kami lanjutkan perjalanan menuju Nanga Pinoh dengan menggunakan speed boat. Mengejar Damri pukul 07.00 malam, speed boat berjalan lebih cepat.

pemandangan sungai yang jernih dan pohon-pohon rindang sepanjang melewati Sungai Jelundung


pemandangan lainnya, kapal-kapal sedang bersandar di bahu sungai

pemandangan lain, warga sedang mencari ikan
ada juga menambang emas di sungai ini
Pukul 06.55 malam kami baru sampai ke dermaga Sungai Serawai. Sementara kami masih harus menggunakan angkot untuk menuju ke Terminal Nanga Pinoh tempat Damri yang akan mengangkut kami. Sayangnya kami sampai di sana sudah tidak ada satupun bus menuju Pontianak termasuk Damri.


narsis dulu on klotok ya guys, perjalanan masih berjam-jam
pict taken by Om Ihsan

susah dapat full teamnya :)

Dibantu oleh Bapak Supir Angkot yang mengantar kami dari dermaga, kami diantar ke salah satu agen bus yang tidak jauh dari terminal. Ternyata penumpangnya hanya kami saja, jadilah penguasa bus yang bebas mau pakai kursi mana saja.

Sekitar pukul 08.10 malam kami melanjutkan perjalanan menuju Terminal Soedarso Kota Pontianak.

Dan kami tiba pukul 03.50 pagi. Istirahat sejenak di terminal ini dan kami berkemas untuk kembali kekotanya masing-masing. Saya sendiri pamit duluan karena masih harus melanjutkan perjalanan ke kota lainnya sementara lainnya masih akan berkeliling city tour  and culinary di Kota Pontianak.


photo sebelum kembali ke kota masing-masing, see you next trip guys, thanks buat keseruannya

Terima kasih Tuhan sudah memberikan kesempatan untuk kembali melihat keindahan dan keajaiban negeriku. Perjalanan yang sangat melelahkan namun memberikan pengalaman yang sangat luar biasa yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Lagi-lagi mengingatkan saya jangan pernah menilai sebuah perjalanan hanya menghabiskan uang tapi lihatlah pengalaman berharga yang kita dapatkan.

See you next trip guys……..


Tips and Trik
  1. Cek tiket jauh-jauh hari ya biar dapat harga tiketnya murah J
  2. Untuk tiket Damri bisa book lebih awal ya untuk jaga-jaga dan datang lebih awal karena keberangkatan hanya 1 kali pukul 07.00 malam, jangan sampai ketinggalan
  3. Bagi yang punya penyakit, bawalah obat-obatan jangan sampai ketinggalan, biar kalau kambuh ada obatnya.
  4. Gunakan perlengkapan gunung yang aman untuk diri sendiri
  5. Bawalah bahan untuk penangkal pacet, kalau mereka menempel ya. Kalau tidak menggangu jangan diganggu.
  6. Kalau tertinggal damri, bisa menggunakan bus yang ada di agen-agen sekitar terminal.
  7. Sediakan waktu lebih panjang, agar dapat menikmati keindahan alam di gunung ini, normalnya katanya 6 hari untuk mendaki gunung ini. Kami kemarin hanya 3 ½ hari sehingga cenderung terburu-buru dna tidak dapat menikmati keindahan alamnya.
  8. Pastikan booking klotok dan speed boat jauh-jauh hari, jangan dadakan pas hari H
  9. Pastikan memahami dan mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh TNBBBR dan aturan adat dari Desa Rantau Malam
  10. Di Desa Rantau Malam ini dikembangkan dengan sistem Community Based Tourism (CBT) bahwa semua pengelolaan homestay dan porter dikelola dengan sangat baik oleh warga sekitarnya. Yang salah satu peraturannya adalah setiap 2 orang pendaki wajib menggunakan porter dan jika pendakian kurang dari 6 hari tetap bayar porternya 6 hari. Ini hanya sebagai informasi agar teman-teman pendaki bisa mempersiapkan biaya yang akan dikeluarkan.
  11. Persiapkan uang cash sedari awal, agar tidak kesulitan pada saat membutuhkan uang, karena dari Nanga Pinoh, kita tidak bisa menemukan lagi ATM.
  12. The last but not least and the most important is siapkan fisik dan mental sebelum mendaki, karena perjalanan mulai bandara sampai puncak gunungnya cukup panjang yang membutuhkan fisik dan mental yang luar biasa juga.

Budget
Boleh japri ya kalau ada yang butuh detail budgetnya.

Salam travelling, hope will be usefull for your trip :)


August 25, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (Part 2)

Hari ke-3 (Desa Jelundungan --> Rantau Malam --> Korong Hape --> Pos 4)

Pukul 06.00 pagi kami berangkat ke Desa Rantau Malam dengan menggunakan jasa ojeg. Perjalanan sekitar 25 menit dengan kondisi jalan yang sangat wow, offroad, melewati hutan dan beberapa jalan yang masih rusak berlobang, untungnya musim kemarau jadi tanahnya cukup kering, namun tetep aja ngeriiiiii dan bikin deg-degan.

Pukul 06.30an pagi kami sampai di Desa Rantau Malam. Kami langsung diarahkan ke Homestay milik Pak Jaka untuk melakukan ritual adat sebelum melakukan pendakian. Sekitar pukul 09.00 pagi kami melakukan ritual adat yang dipimpin oleh ketua adat saat ini.


salah satu ritual adat yang dilakukan oleh ketua adat sebelum melakukan pendakian ke Bukit Raya

Setelah selesai ritual adat dan menerima wejangan sebelum melakukan pendakian, pukul 10.00 pagi kami berangkat menggunakan ojek menuju Korong Hape. 

Perjalanan menuju Korong Hape ini cukup menguras adrenalin. Bagaimana tidak, kami harus melewati sungai, jadi kami harus turun dulu dari motor dan menyebrang sungai untungnya lagi musim kemarau, jadi airnya hanya selutut.

turun dari motor dulu buat nyebrang sungai dulu sebelum ke Korong Hape

Dilanjutkan dengan melewati tanah liat dengan tanjakan dan jalan yang wow sekali deh. Offroad lagiiiiiiii…. Sampai saya harus turun dari motor karena takut jatuh untuk beberapa spot karena seram liat jalanannya yang banyak berlubang.


salah satu jalur offroad menuju Korong Hape
pict taken by Om Ihsan

Pukul 11.00 siang sampai di Korong Hape. Kenapa disebut Korong hape, karena di tempat ini, teman-teman bisa mendapatkan sinyal, namun providernya hanya yang berwarna merah saja.


santai sejenak di Korong Hape sambil nunggu teman-teman lain
pict taken by Om Ihsan

Dari Desa Rantau Malam, ada 2 jalur pintu masuk untuk memulai pendakian menuju Bukit Raya, bisa dari Korong Hape atau melalui Pos 1 Batu Lintang. Jadi Korong Hape bukanlah Pos 1 tapi menurut porter-porter Rantau Malam, jalur ini dianggap lebih aman dan cepat karena dari Korong Hape kami tidak melewati Pos 1 dan Pos 2, jadi langsung ke Pos 3.
Setelah menunggu semua berkumpul, akhirnya pukul 01.20 siang, kami memulai pendakian dari Korong Hape untuk menuju pos 4 Sungai Mangan.

Pukul 03.20 kami sampai di Pos 3 Hulu Menyanoi di pos ini juga teman-teman dapat menemukan aliran sungai, hanya ambil beberapa photo kami lanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Kondisi jalan dari Korong Hape menuju Pos 4 masih dalam kondisi aman, hitungannnya masih datar, hanya sedikit saja jalan yang turun naik.

kondisi jalan masih terlihat nyaman alias datar menuju sampai menuju pos 4

Pukul 4.40 sore kami sampai di Pos 4 Sungai Mangan, di pos ini pendaki dapat menemukan aliran sungai yang sangat jernih yang hanya berjarak 2 atau 3 meter saja dari tempat mendirikan tenda, jadi kami leluasa dalam memasak air. Di pos ini tenda hanya dapat didirikan 4-5 tenda saja karena memang areanya tidak terlalu luas.

Saya dan beberapa teman yang datang paling duluan, akhirnya mendirikan tenda dan memasak. Sepanjang naik gunung, pertama kalinya saya tidak perlu menggunakan jaket bahkan tidurpun kami tidak perlu menggunakan sleeping bag karena udara di tempat ini cukup hangat. Setelah teman semua berkumpul, kami makan bersama dan beristirahat untuk perjalanan besok.

Hari ke-4 (Pos 4 --> Pos 7 Bayangan)

Pukul 06.40 pagi kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Jalanan masih terhitung datar, hanya beberapa meter sebelum sampai ke Pos 5 Hulu Rabang, jalanan mulai turun dan agak curam.
Pukul 09.05 pagi kami sampai di Pos 5 Hulu Rabang, di tempat ini ada sungai yang sangat jernih, dan bisa mandi kalau tahan dengan dinginnya. Kami sempat masak-masak juga di tempat ini dan bisa mendirikan tenda juga bagi yang ingin ngecamp di sini.


ada pos 5 Hulu Rabang ada sungai yang lumayan besar dan bisa mandi :)

sungai yang kami lewati saat di pos 5, jernih sekali dan adeeeemmmm

Pukul 10.10 pagi kami melanjutkan perjalan kami, menuju pos 6 Hulu Jelundung, jalanan mulai menanjak. Pukul 12.20 kami sampai di pos ini. Di pos ini juga masih bisa menemukan aliran sungai yang hanya berjarak 5 meter saja. Kami istirahat sebentar bikin kopi dan masak mie.

Pukul 02.05 siang kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 7 Linang, Porter bilang kalau lokasinya tidak terlalu luas hanya cukup 3 atau 4 tenda saja. Sementara di depan kami ada kelompok pendaki lainnya, jadi bisa dipastikan bahwa kami tidak bisa ngecamp di pos 7. Akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di Pos 7 Bayangan. Sekitar ½ jam di bawah Pos 7.

Pukul 03.10 sore, saya dan beberapa teman sampai di pos bayangan ini, kami mendirikan tenda dan memasak. Di pos ini, ke tempat sumber air cukup jauh, sekitar 1 jam pulang pergi.

Masih sama dengan tempat camp pertama, udaranya cukup hangat, saya yang alergi dingin, bahkan hanya memakai kaos tipis tanpa jaket, begitupun saat tidur tidak menggunakan sleeping bag karena hawa udaranya masih hangat apalagi kalau sudah di dalam tenda. Setelah kumpul semua, kami makan dan beristirahat.
team lengkap sama porter, keceriaan saat menemukan makanan enak
masakan Om Ihsan, Om Maw sama Dimas yang katanya masakannya selalu "COZY" :)
saya tahunya delicious Dims :)
Hari ke-5 (Pos 7 Bayangan --> Puncak --> Pos 7 Bayangan)

Pukul 04.50 pagi kami sudah memulai perjalanan untuk summit. Pukul 05.15 pagi saya dan beberapa teman sudah sampai di Pos 7, ternyata betul areanya sempit. Istirahat sejenak dan pukul 05.30 pagi saya lanjutkan perjalanan menuju puncak.

Jalan yang harus kami lewati sangat panjang, naik dan turunan yang sangat curam bahkan beberapa spot ada yang kemiringannya 90 derajat, sehingga kami harus pegangan ke akar-akar dengan cukup hati-hati.

rutenya yang luar biasah menuju Pos 7, merayap dan merangkak
pict taken by Om Maw

Mendekati ke arah puncak, hutan berlumut mulai nampak dan banyak pohon-pohon dan akar-akar yang rindang.


hutan lumut dan pohon-pohon yang rendah, jadinya harus nunduk-nunduk jalannya
pict taken by Om Maw

Sehingga nampak beberapa spot terbentuk seperti gua dan kami harus melewatinya dengan merundukan badan.


hutan lumut, salah satu rute yang harus dilewati menuju pos 7
boleh naikin puunnya atau merangkak buat lewatin pohon-pohon ini
pict taken by Om Maw
yang ini harus sampai bergelantungan :)
pict taken by Om Maw
ada juga rute yang miringnya kayak begini :)
pict taken by Om Maw
Dari awal perjalanan saya melihat hasil kerja Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya membuat papan petunjuk mengenai jarak. Mendekati arah puncak, saya mulai ambil peduli dengan papan-papan petunjuk jarak tersebut. Saya menghitung setiap seratus meter perjalanan saya, Setidaknya saya tahu, bahwa rute yang panjang dan melelahkan sedikit demi sedikit berkurang. Di 1000 meter terakhir terasa berat buat saya karena sudah kehabisan air dan dengkul mulai terasa lelah. Namun di 500 meter terakhir papan petunjuk jarak tersebut dihiasi dengan tulisan-tulisan pemberi semangat yang lumayan membantu semangat saya kembali J, kreatif juga ya taman nasionalnya.


semangat ya 100 meter lagi menuju puncak
pict taken by Om Maw
Akhirnya setelah 6 jam perjalanan lebih, pukul 11.05 siang, saya dan beberapa teman sampai ke puncak. Sambil menunggu yang masih di belakang, kami istirahat dan ambil beberapa photo.
full team, family picture, the power of tripod
congrat guys

Pukul 12.40 siang, kami melanjutkan perjalanan turun. Saya bersama 2 orang turun dengan mencoba berjalan santai. Sampai ke Pos 7 Bayangan sekitar pukul 06.20 malam. Karena rute turun sama saja dengan rute pada saat naik, menanjak dan turunan ditambah dengkul kami sudah cukup kelelahan L

August 20, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (Part 1)


Bukit Raya, pastinya sudah tidak asing lagi bagi para pendaki Indonesia atau bahkan untuk pendaki dari luar, karena masuk dalam Seven Summit-nya Indonesia. Gunung ini merupakan gunung yang ketinggiannya paling rendah dibandingkan dengan gunung yang masuk kategori Seven Summit Indonesia lainnya yaitu sekitar 2.278 mdpl, namun siapa sangka kalau rutenya lumayan menguras kesabaran karena lumayan panjang.

akhirnya sampai puncak......
picture taken by Mifta

Kami berangkat bulan Agustus tahun ini, dimana musimnya masih musim kemarau. Setidaknya meminimalisir bertemu dengan penghuni sejati gunung ini, yap “sang pacet si penguasa gunung ini”. Binatang ini tidak berbahaya, namun cukup bikin gemas kalau sampai masuk-masuk ke kaki dan menempel di tubuh kita. Serta bentuknya yang kenyal-kenyal bikin geli kalau sampai nempel di kulit.

Berawal dari postingan di sebuah group pendaki, saya daftar untuk gabung, namun ternyata sudah full kuotanya. Tetiba menjelang hari H dikabarin ada slot kosong, thanks to my God, selalu indah pada waktunya J

Seperti biasa, tak ada satupun yang saya kenal sebelumnya, namun justru ini yang bikin seru, ketemu temen-temen baru J


Hari ke-1 (Jakarta à Bandara Internasional Supadio à Pool Damri à Nango Pinoh)

Kami berangkat bersebelas orang, ada yang dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan saya sendiri berangkat dari Kalimantan karena sedang ada pekerjaan di kota ini. Untuk menuju tempat ini, dapat menggunakan pesawat ke Bandara Internasional Supadio Pontianak dengan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 jam dengan rate tiket pesawat 500-1 juta, tergantung waktu kapan membelinya dan maskapai yang digunakan.

Meeting point kami di Pool Damri Pontianak yang ada di Jalan Pahlawan Kota Pontianak, tempat ini dipilih karena dekat dengan bandara dan juga salah satu tempat penjualan tiket Damri ke Nango Pinoh yaitu lokasi terakhir kendaraan darat sebelum ke Rantau Malam yang merupakan desa terakhir sebelum pendakian.

Dari Bandara dilanjutkan ke Pool Damri menggunakan taksi lokal dengan tarif sudah ditentukan sesuai tujuan, kalau banyakan bisa shared cost dan jadi lebih murah. Teman-teman juga bisa menggunakan kendaraan online namun harus jalan jauh keluar, karena transportasi online masih belum boleh masuk ke bandara ini, ya sama seperti di kota-kota lainnya dimana bandara menjadi salah satu zona merah untuk transportasi online.


Kontak Damri Pontianak
Pict taken by Om Maw

Sampai di Pool Damri, teman-teman bisa langsung membeli tiket Damri dengan harga Rp. 175.000 per orang. Tiket bisa juga dipesan jauh-jauh hari sebelumnya melalui telepon. Keberangkatan ke Nango Pinoh hanya ada satu kali setiap pukul 07.00 malam dari Terminal Soedarso. Pool Damri ini bukan tempat keberangkatan, namun hanya untuk pembelian tiket saja. Masih sekitar 10-15 menit lagi dari tempat ini untuk menuju terminal keberangkatan yaitu Terminal Soedarso. Tapi jangan khawatir teman-teman, Pool Damri ini menyediakan jasa antar gratis ke Terminal Soedarso dengan menggunakan mobil elf.

Sambil menunggu diantar ke Terminal Soedarso, teman-teman juga bisa beristirahat di Pool Damri ini. Ada ruang tunggu di lantai 2, ada tempat tidurnya juga, lumayan kan bisa istirahat leyeh-leyeh, gratiiiiiiissss. Ada toilet, mushola juga. Nah kalau mau cari makanan atau wifi bisa geser ke sebrang, ada cafe yang terkenal di Jakarta dan Yogyakarta buka di sini, lumayan kan bisi wifi-an :)


suasana ruang tunggu Pool Damri di Jl. Pahlawan Pontianak
pict taken by Om Ihsan

ada musholanya juga buat penumpang yang hendak beribadah
pict taken by Om Ihsan

Sore sekitar pukul 17.30an kami diantar ke Terminal Soedarso. Sekitar 10 menit kami sudah sampai. Pukul 07.00 malam, bus sudah berangkat menuju Nanga Pinoh. Fasilitas Damrinya cukup memuaskan, AC yang super sejuk, selimut, tempat duduk slipper yang empuk yang bisa dinaikan dan diturunkan kursinya jadi bisa tidur nyaman tuh, ada buat charge, toilet, wifi dan dikasih snack juga loh, nyamanlah pokoknya.


depan-belakang - Om Maksun, Om Ridwan, Me, Om Ihsan, Om Komeng, Mels, Dims, Om Maw, Mifta, Bina, Om Rudy
interior Pool Damri, wefie dulu sebelum perjalanan 9 jam ke Nango Pinoh
pict taken by Om Riswan

Perjalanan akan ditempuh sekitar 8-9 jam sampai Nanga Pinoh. Pukul 11.00 malam bus sempat berhenti di Desa Sosok sekitar ½ jam untuk istirahat dan makan. Pukul 11.30 malam bus kembali melaju dan kami tidur lagi ya teman-teman, buat persiapan trekking yang katanya panjang sekali rutenya dan juga katanya harus bungkuk-bungkuk sebelum ke puncak, have a nice sleep…….


Hari ke-2 (Nanga Pinoh à Dermaga Sungai Serawai à Sungai Serawai à Desa Jelundungan)

Pukul 03.40 pagi kami tiba di Terminal Nango Pinoh. Suasananya cukup dingin dan masih sepi hanya ada beberapa bus yang baru sampai dari kota lainnya. Kami isitirahat di warung depan terminal sambil menunggu angkot yang akan mengantar kami ke dermaga.

Di sekitar terminal ini ada masjid, warung makan, swalayan seperti Alfamart/Indomaret, ATM, toilet juga ada. Bisa untuk membeli beberapa kebutuhan logistik. Untuk sayuran bisa dibeli di pasar tradisional Nango Pinoh dekat dermaga Sungai Serawai.

Dermaga Sungai Serawai. Pasarnya sangat lengkap. Dari sembako sampai pakaianpun ada. Setelah makan, sholat dan rapi-rapi, pukul 06.00 pagi kami berangkat dengan menggunakan satu angkot menuju Dermaga Sungai Serawai. Sekitar 10 menit kami tiba di dermaga menuju Sungai Serawai.


suasana pagi Pasar Tradisional di Dermaga Sungai Serawai

Dua orang dari kami mengurus perizinan Simaksi. Lainnya loading barang dan perempuannya belanja logistik untuk kebutuhan kami beberapa hari. Untuk gas kami beli di Kota Pontianak, ada di beberapa toko dan swalayan karena di Pasar Nango Pinoh kawatir tidak ada.

Tepat pukul 08.00 pagi kami berangkat ke Sungai Serawai dengan menggunakan speed boat yang hanya muat maksimal 7 orang termasuk nakhodanya, sehingga kami harus pesan 2 speed boat. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 5 jam termasuk istirahat makan di rumah makan terapung di sepanjang Sungai Serawai.


wefie dulu di atas speed boat di Dermaga Sungai Serawai
pict taken by Om Maw

sekitar pukul 10.00 pagi kami sempat berhenti untuk makan
pict taken by Om Maw

Pukul 01.00 siang, kami tiba di Sungai Serawai. Dilanjutkan dengan menggunakan Klotok untuk menuju Desa Rantau Malam, yaitu desa terakhir atau basecamp sekaligus di desa ini juga dilakukan ritual adat sebelum melakukan pendakian. Ada sedikit kendala mengenai Klotok yang kami pesan, sehingga pukul 03.00 sore kami baru berangkat menuju Desa Rantau Malam dan kami berangkat dengan 2 buah Klotok.


bentuk klotok yang kami tumpangi untuk menuju Desa Rantau Malam

Karena musim kemarau arus air sangat kecil sehingga Klotok yang kami tumpangi tidak bisa berjalan dengan cepat. Akibatnya kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Rantau Malam. Sekitar pukul 07.40 malam kami tiba di desa ini. Sementara 1 klotok lagi yang teman kami tumpangi, baru tiba pukul 10.00 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menginap di Desa Jelundungan.
jadi total perjalanan kami adalah 9 jam perjalanan darat ke Nango Pinoh, 5 jam lewatin sungai ke Serawai, dan 7 jam perjalanan sungai lagi, menuju Desa Glundung, total 21 jam darat dan sungai, maboooooookkkkkkk

Eits, jangan senag dulu, masih ada perjalanan offroadnya juga berjam-jam, sebelum melakukan pendakian, seruuuu bangetttt, pokoknya, penasaran????