December 1, 2017

Segelas Green Tea di Honje Mangkubumi


Jalan-jalan ke Jogja belum lengkap kalau gak mencoba nongkrong di cafe-cafe kece dan biasanya salah satu iten temen-temen saya dari luar kota kalau ke Jogja pasti minta diantar ke cafe.

welcome to Honje Mangkubumi

Salah satu cafe yang pernah saya kunjungi adalah Honje Resto. Beralamat di Jl. Margo Utomo No. 125, Kota Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis persis dengan Tugu. Berada di lantai 2 dengan ruangan yang terbuka sehingga bisa menikmati keramaian dan dimanjakan dengan salah satu iconnya milik Jogja, yap Tugu, kita bisa menikmati suasana malam di Tugu secara langsung. Oh ya jangan lupa jam bukanya mulai dari pukul 11 - 23 setiap harinya.


pintu masuk lantai 1, satu gedung dengan Dowa

Menu yang ditawarkan di cafe yang instagramable ini cukup beranekaragam, mulai dari makanan berat sampai makanan ringan dan beberapa minuman hangat dan dingin.

salah satu menu pavorit di tempat ini
Pertama kali ke sini nemenin neng cantik dari Jakarta, neng Oka buat ngobrol santai. Buat kami berdua tempatnya cukup nyaman dan makanan dan minumannyapun cocok di lidah.

Melihat dari instagramnya milik The Honje, ternyata mereka mempunyai kebun sendiri loh untuk mensuply makanan dan minuman yang mereka sajikan, keren kan dan pastinya keamanan dan kebersihannya lebih terjamin dong ya, semoga J

So, bisa di coba ya guys, pergi bersama teman-teman di malam hari akan lebih menyenangkan karena suasananya akan lebih hidup di malam hari.

Happy nongkrong J

November 15, 2017

Menikmati Alam Bawah Laut di Umbul Ponggok

Seperti biasa perjalanan kali ini unplan lagi. Berangkat pukul 7.00 WIB dengan menggunakan kendaraan roda empat bersama lima teman saya Rendy, Chris, Icha dan Cicit. Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam, karena kami mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu dan sempat salah memilih jalan.

At the end, we have arrived at this place at 9 am. Cuacanya sudah tak bersahabat lagi, terasa panas membakar kulit. Bagi yang membawa kendaraan roda empat sebaiknya teman-teman datang lebih pagi, karena area parkirnya cukup sempit. Setelah memarkir mobil, kami mengantri untuk membeli tiket. Harga tiket Rp 15.000,00 per orang dan free sebungkus snack tradisional bisa dimakan bisa juga untuk ikan.

tempat pembelian tiket masuk

Umbul Ponggok merupakan salah satu destinasi wisata yang terletak di Klaten. Sebuah keindahan alam bawah laut buatan yang menjadi daya tarik tersendiri, dengan ukuran 50 x 25 m dan kedalaman 1,5 – 2,6 m dipenuhi dengan berbagai jenis ikan yang berwarna-warni dan pasir putih yang persis seperti di dalam laut. Karena airnya mengalir terus menerus maka kolam buatan ini tidak akan tercium bau ikan-ikan tersebut. Tersedia juga kolam berukuran pendek untuk digunakan anak-anak.

Setelah masuk kami melihat-lihat dan memilih kursi untuk menyimpan barang-barang kami. Di area wisata ini juga disediakan tempat penitipan barang berupa locker dengan harga Rp 5.000,00 dapat digunakan oleh beberapa orang, waktu itu kami menyimpan barang sebanyak lima orang, untuk barang-barang berharga seperti dompet dan handphone.

Bagi teman-teman yang hobby-nya makan, jangan kawatir disini juga disediakan tempat makan, teman-teman tinggal memilih makanan kesukaannya. Ada juga yang berjualan buah-buahan, juice atau lainnya.

area makan di samping kolam


Nah ini yang paling penting, bagi teman-teman yang tidak bisa berenang, Umbul Ponggok menyediakan penyewaan alat-alat untuk snorkling, seperti fin, google, snorkel, dan pelampung. Untuk mengabadikan moment saat di dalam air, Umbul Ponggok juga menyediakan penyewaan kamera underwater atau paket-paket photo. Umbul ponggok ini sering digunakan banyak orang untuk latihan diving, preweding dan mereka juga menyediakan properti untuk photo. Saat itu kami menyewa kamera underwater tanpa atribut apapun dan sudah termasuk photographer dengan harga Rp 100.000,00 selama satu jam maksimal 7 orang.

harga penyewaan alat dan photo
sumber : web umbul ponggok

Selang beberapa waktu setelah berganti pakaian dan menggunakan beberapa alat, saya mulai turun dan woooooo beeeuuurrrr dingin sekali, padahal saya menggunakan pakaian renang panjang. Saya sudah sering bermain air di laut dan tidak ada trauma apa-apa tetapi selalu saja setiap kali akan turun ke air butuh waktu untuk penyesuaian, saya selalu takut sehingga selalu minta bantuan teman untuk menemani dulu sampai saya benar-benar merasa nyaman sendirian tanpa pelampung. Special thanks buat Rendy sama Cicit yang udah mau nemenin, hiksssssss maaf merepotkan…. 

salah satu photo underwater

Setelah memutuskan untuk turun, kami cukup lama berenang dan akhirnya saya mulai menikmati berenang sendirian sampai ke yang paling dalam. Sampai akhirnya tiba deh sesi pemotretan, kami bergiliran untuk berphoto sama ikan-ikan manis. Photographernya mengarahkan bagaimana caranya supaya photonya keren-keren. Saat giliran saya, badan sudah mulai menggigil, sampai akhirnya sesi photo yang harusnya menyenangkan, terlewatkan begitu saja.

ikannya malu malu ga mau disentuh ⌣⌣⌣
Akhirnya saya memutuskan untuk bersih-bersih dan ambil photo di atas aja deh. Melihat orang-orang yang belajar renang dan latihan diving lebih menyenangkan nampaknya.


Tak terasa kami sudah hampir empat jam di sini, setelah rapi-rapi dan mengambil hasil photo, kami memutuskan untuk pulang, dan makan enak pastinya………



November 1, 2017

Gumuk Pasir Parangkusumo, Pesona Sandboarding di Negeri Tropis

Gumuk Pasir dan Keunikannya.
welcome to Gumuk Pasir
Pertama kali mendengar nama tempat ini saya langsung membayangkan sebuah olahraga sandboarding yang banyak orang lakukan di Australia atau Afrika sana. Yap, ternyata Indonesia mempunyai potensi untuk olahraga itu di Gumuk Pasir Parangkusumo ini.
view di siang hari panasnya poooolll
Tempat ini mulai terkenal sejak fakultas Geografi dari UGM melakukan penelitian di tempat ini. Proses pembentukan gumuk ini cukup unik. Gundukan pasir ini terbentuk dari hasil erupsi Gunung Merapi yang endapannya dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke Pantai Selatan, antara lain Sungai Opak dan Sungai Progo.


beberapa tumbuhan di sekitar Gumuk Pasir
Gumuk Pasir ini merupakan jenis pasir sabit (Barchan Dune) satu-satunya di negara Indonesia bahkan Asia Tenggara, dengan ketinggian 5-15 meter. 

cocok untuk bermain sandboarding
Pasir tipe ini seharusnya terbentuk hanya di daerah beriklim kering, namun ternyata ada di Yogyakarta yang beriklim tropis basah. 
ceraaahhhhh
Konon katanya tempat seperti ini hanya ada di Meksiko dan Yogyakarta, Sehingga berpotensi menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO.
suasana hutan yang mengelilingi Gumuk Pasir, beberapa orang membawa hammock untuk bergelantungan
Di dekat Gumuk Pasir ini berdiri juga sebuah lab yang diberi nama Geomaritime Science Park, sebuah laboratorium alam Gumuk Pasir dan dijadikan sebagai pusat pelatihan, pengembangan ilmu dan teknologi yang didirikan pada 1 Oktober tahun 2002 dan peletakan batu pertamanya langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
kaktus, tumbuhan khas gurun pasir
Aktifitas yang dapat dilakukan di Gumuk Pasir
1.  Sandboarding, wisata minat khusus yang hampir mirip dengan snowboarding, meluncur di atas gundukan pasir dengan menggunakan papan peluncur, nah teman-teman bisa melakukan olahraga ini dengan membayar Rp 70.000, eits jangan lupa melakukan warming up dulu ya biar ga keram-keram kakinya, pakai pelindung mata dan hidung juga ya biar pasirnya ga masuk-masuk atau kehirup. Untuk menghemat, teman-teman bisa membawa peluncur sendiri.
2.  Mengendarai ATV, dengan membayar Rp 50.000 per 15 menit anda dapat mengelilingi gumuk ini dengan menyetir sendiri
3. Prewedding, ini dia kegiatan yang banyak orang lakukan di tempat ini, its free, hanya membayar biaya parkir mobil saja sebesar Rp 40.000.
4.  Photography, buat teman-teman yang hobbynya photo banyak spot yang dapat  dijadikan objek photo seperti landscape, human interest atau lainnya
5.  Sunset, yap tempat ini juga salah satu tempat yang menarik untuk menikmati matahari tenggelam di antara pasir-pasir yang beterbangan
6. Di dekat gumuk ini berdiri laboratorium Gemaritime Science Park, bagi teman-teman yang senang dengan edukasi, bisa mampir juga ke tempat ini untuk melihat beberapa penelitian atau sekedar bertanya tentang pasir-pasir ini
7.   Tempat syuting iklan dan videoclip

salah satu spot untuk photo

pasirnya lembut jadi aman deh buat sandboarding
siapa yang mau duduk di sini :)
photo taken by Afia

main pasir dulu ....
photo taken by Afia
salah satu spot photo pavorit
ada gardu pandangnya juga loh, dengan membayar Rp 5.000 anda dapat naik sampai atas

How to get there and facilities
Jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota Yogyakarta. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua sekitar 30 menit dari pusat kota dan 45 menitan menggunakan roda empat.

Disediakan beberapa homestay bagi turis yang ingin menikmati tempat ini lebih lama atau berkeliling ke daerah wisata yang dekat dengan Gumuk Pasir. Tersedia juga tempat makan, area parkir yang luas, toilet, penyewaan papan luncur dan ATV.

Biaya Masuk dan Parkir
Di pintu masuk anda akan dikenakan biaya Rp 5.000 per orang dan biaya parkir untuk roda dua Rp 3.000 untuk mobil Rp 10.000 dan bus Rp 20.000.

Tempat ini buka dari pukul 06.00 – 19.00 WIB.

Tips and Trik
1.  Datang di pagi hari atau sore hari sekalian untuk dapat menikmati sunset,  karena siang hari panasnya luar biasa
2.  Gunakan sunblock atau payung, untuk melindungi kulit, masker untuk menghindari pasir terhirup hidung ya kawan dan kacamata untuk kesehatan mata anda
3.  Membawa makanan dan minuman dari rumah, karena di daerah ini tempat makan dan minum masih terbatas atau hanya sekedar cemilan
4. Parkirlah di tempat yang sudah disediakan dan ada penjaganya, untuk keamanan kendaraan anda
5.   Bawa uang dari rumah, karena saya tidak menemukan ATM di sekitar sini atau mungkin jauh dari tempat ini
6.  Jangan buang sampah sembarangan ya, karena disini saya melihat banyak sampah yang berserakan, bahaya jika terinjak oleh pengunjung lainnya
7.    Membawa hammock anda bisa bergelantungan di tengah hutan pinus sambil menikmati matahari tenggelam atau menikmati orang-orang yang sedang melakukan sandboarding.

October 20, 2017

Kisah Secangkir Cokelat Manis di Griya Cokelat Nglanggeran

Berbicara pesona Desa Wisata Nglanggeran, memang tiada habisnya. Desa Wisata yang menang dalam penghargaan ISTA 2017 kategori Ekonomi ini masih menyisakan banyak tempat yang wajib dikunjungi. Setelah Gunung Api Purba, Kampung Pitu dan Embung Nglanggeran, berikutnya bagi anda pecinta kakao dapat mengunjungi Griya Cokelat yang diresmikan langsung oleh orang nomor satu di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2 Desember 2016.

welcome



Di depan pintu masuk disediakan gazebo untuk menikmati seduhan kakao

Griya Cokelat yang merupakan home industry ini berdiri dari hasil kerjasama masyarakat Desa Nglanggeran dengan LIPI dan BI. Coklat-coklat ini diproduksi menjadi berbagai olahan makanan dan minuman siap saji dengan berbagai variasi. 

beberapa contoh oalahan kakao menjadi makanan dan minuman

Seperti serbuk coklat yang siap seduh, olahan makanan seperti dodol, pisang yang disalut dengan coklat dan lainnya, bagi penikmat coklat disini juga disediakan olahan coklat batangan yang sudah dikemas dengan cantik yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh.

salah satu contoh olahan coklat bubuk yang sudah dikemas

olahan kakao dalam bentuk dodol

Selain sebagai galeri penjualan, tempat ini juga merupakan tempat produksi beberapa olahan kakao dengan konsep yang sederhana. Beberapa daerah juga melakukan studi banding mengenai pengolahan coklat di tempat ini.

Selain dijual di galeri ini, pengurus juga menjualnya dibeberapa tempat oleh-oleh di Yogyakarta dan teman-teman dapat memesannya juga melalui akun instagramnya @griya.cokelat.nglanggeran

Nah bagi teman-teman pecinta kakao, wajib banget deh mampir ke tempat ini jika berkunjung ke Desa Wisata Nglanggeran, selain itu juga teman-teman sudah berkontribusi mendorong ekonomi warga desa ini.

 Nah bagaimana, penasaran kan….

October 10, 2017

Embung Nglanggeran, Surga Hijau di Atas Ketinggian (Nglanggeran Part 3)

Selepas dari dari Kampung Pitu, saya melanjutkan perjalanan ke salah satu ikon Nglanggeran yang saat ini gambarnya banyak menghiasi sosial media, yap namanya Embung Nglanggeran. Perjalanan ditempuh sekitar 15-20 menit dari Kampung Pitu. Melewati pemandangan indah GunungApi Purba, jalannya pun sudah cukup bagus beraspal, hanya saja sebagian masih dalam tahap perbaikan. Dengan membayar retribusi Rp 10.000,00 per orang ditambah parkir motor Rp 2.000,00 per motor, teman-teman sudah dapat menikmati pemandangan embung yang diresmikan pada Februari 2013 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X ini dan juga wisata disekitarnya. Peresmian dilakukan oleh seorang sultan Yogyakarta mempunyai pengaruh besar terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke tempat ini.

Sugeng rawuh di Kebun Buah Nglanggeran ⌣⌣

Disediakan area parkir yang cukup luas untuk kendaraan roda dua dan empat atau bahkan untuk bus. Karena letaknya di ketinggian, setelah memarkir kendaraan, saya masih harus menaiki beberapa anak tangga untuk dapat menikmati embung ini. Saat melewati anak tangga terlihat tulisan Sapta Pesona milik Kementrian Pariwisata Indonesia dan ikon durian yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sapta Pesona

Saat sampai, mata saya sudah otomatis fokus pada embung yang yang berwarna kehijauan itu. Embung berukuran 60mx40m ini pada awalnya dibangun untuk menampung hujan dan airnya difungsikan untuk membantu perkebunan buah milik warga seluas 20 ha. Saat saya berkunjung, ada beberapa spot dalam tahap perbaikan. sayangnya saat saya sampai ke tempat ini, cuacanya sedang mendung.

Pesona Embung Nglanggeran

Terlihat pemandangan nan hijau disekeliling embung ini dan terdapat beberapa gazebo untuk berteduh bagi pengunjung yang datang. 

Gazebo untuk berteduh

Sedikit berjalan ke arah atas, disediakan dua gardu pandang untuk dapat menikmati dan mengambil photo embung ini secara keseluruhan. Teman-teman yang ingin menikmati sunset bisa mengunjungi tempat ini pada sore hari dan harga tiketnya sedikit berbeda. Yogyakarta memang benar-benar istimewa, tempat wisata di kota ini tak ada habisnya. Terletak di desa yang dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik Se-ASEAN tahun 2016 ini memang betul-betul indah.

Disekitar embung, arah pintu keluar terdapat sebuah bangunan megah hasil kerjasama UGM, Pemkab Gunungkidul dan Litbang Kementan. Di tempat ini dilakukan pengolahan beberapa produk yang dihasilkan oleh warga, salh satunya adalah pengolahan kakao dan susu sapi etawa. Teman-teman bisa mampir ke tempat ini untuk dapat melihat pengolahannya.

Pusat Pengolahan Coklat di sekitar Embung Nglanggeran

Dikarenakan tidak ada kendaraan umum, saya sarankan jika ingin berkunjung ke tempat ini untuk membawa kendaraan sendiri ya teman-teman. selain itu akan memudahkan teman-teman juga untuk mengunjungi tempat sekitar embung ini.

September 15, 2017

Menembus Kabut di Lereng Merapi

Lereng Merapi, dua kata itu mengingatkan saya pada film kolosal waktu saya masih duduk di bangku sekolah. Waktu itu saya tidak pernah membayangkan, jika saya dapat mengunjungi tempat ini, bahkan ini untuk kesekian kalinya.

Jelajah Wisata Lereng Merapi, merupakan event rutin yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman ini cukup menarik banyak peserta tidak hanya dari Yogyakarta bahkan dari banyak kota besar di Indonesia. Sekitar 1.000 peserta dari berbagai usia berpartisipasi dalam event ini yang dikemas dalam bentuk sport tourism. Wisata trekking sepanjang 7 km ini disuguhkan untuk menikmati keindahan pemandangan alam, flora dan fauna yang ada di Lereng Merapi seperti Anggrek Vanda Tricolor, Dendroblum Mutabile dan juga berbagai jenis bambu.

Di hari H, saya berangkat bersama teman dengan menggunakan roda dua. Perjalanan harusnya ditempuh sekitar 30-45 menit dari kota Yogyakarta. Acara dimulai pukul 07.00 – 11.00 WIB. Namun ditengah perjalanan, ban kami bocor, sementara hari masih pagi, tempat tambal ban belum ada yang buka. Akhirnya setelah menuntun motor cukup lama kami menemukan tempat tambal ban yang sebelahnya menjual sarapan. Akhirnya sambil menunggu, kami sarapan. Dan  teman yang sudah duluan sampai ke Lereng Merapi, turun kembali untuk membantu kami.

Singkat cerita kami sampai ke tempat acara pukul 08.05 WIB, pos pendaftaran sudah hampir ditutup dan….. pastinya kami peserta yang paling terakhir. Pukul 08.15 WIB kami start dari pos pertama. Di setiap pos, panitia akan memberikan cap pada kertas yang kami bawa, sebagai bukti kami sudah melewati pos-pos yang sudah ditentukan. Cap ini sebagai syarat untuk mengikuti undian hadiah atau doorprize.

Sepanjang perjalanan cuaca kurang bersahabat, kabut sudah mulai turun sejak kami dari pos pertama kemudian hujan gerimis terus mengikuti sepanjang perjalanan kami. Selain berjuang dengan cuaca, saya juga harus bergerak cepat karena dua teman saya jalannya super duper cepat, mereka memang hobby-nya naik gunung, bahkan yang satu seorang guide yang tersertifikasi. Udah bisa dibayangin dong jalan mereka kayak apa, cowok pula.
rute trekking menuju pos 1 (satu)
photo taken by Kris

Sepanjang perjalanan yang diselimuti kabut, kami banyak menyusuri jalan setapak, turun naik dan sedikit licin, sehingga kami harus berjalan pelan-pelan dan antri. Terlihat beberapa panitia stand by dibeberapa titik untuk memastikan keselamatan semua peserta. Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas dan gambar atau hanya bertegur sapa dengan peserta lainnya. Saya bertemu dengan peserta yang masih anak-anak dan usia lanjut, mereka semangat sekali meski gerimis dan kabut enggan pergi.

salah satu jalan yang dilewati berupa jalan setapak
photo taken by Kris


Sudah beberapa bulan saya tidak menginjakan kaki diketinggian. Rasa rindu akan alam itu perlahan hilang setelah mendengar gemerisik khas pohon dan daun yang bergesekan, menghirup udara yang sejuk khas pegunungan dengan nakal menyapu hidungku yang mulai memerah karena dingin, mencium wangi pepohonan yang selalu membuatku rindu saat lama tak menghirupnya.

salah satu rute perjalanan, rimbunan bambu yang menjadi salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Lereng Merapi
photo taken by Kris
Tak terasa kami sudah tiba di pos terakhir, kulihat jam menunjukan pukul 9.20 WIB, hanya 1 jam 5 menit. Wow. Thanks to my god, we did. Sesampainya di pos terakhir, kami semua berkumpul di lapangan untuk menikmati makan siang dan menunggu peserta yang belum sampai. Puncak acaranya adalah pengundian hadiah yang dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ibu Sudarningsih. Diiringi musik dangdut pantura yang bahasanya belum saya pahami… 

At the end I got one of the prize, thanks to my God……………..

September 10, 2017

Menelisik Keberadaan Kampung Pitu (Nglanggeran Part 2)

Turun dari Gunung Api Purba kami lanjutkan dan mencari-cari lokasi kampung ini. Tidak ada papan petunjuk menuju kampung ini, saya bersama teman sedikit kebingungan, hanya menebak-nebak saat menemukan jalan setapak, kami ikuti jalan tersebut, dan ternyata benar jalan itu merupakan jalan menuju Kampung Pitu.

Pertama kali memasuki kampung ini, seperti tidak ada kehidupan. Jarak rumah satu dengan lainnya berjauhan, suasananya sepi, kami hanya melihat beberapa ekor binatang yang hidup di kampung ini. Rasa penasaran membawa saya terus bergerak melewati pematang sawah yang ternyata jalan itu menuju ke sebuah sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu.


jalan menuju ke Kampung Pitu
photo taken by Chris



bentuk sumber mata air atau sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu

Dari kejauhan saya melihat rumah yang hanya beberapa atap saja. Saya mulai yakin inilah Kampung Pitu itu. Setelah mendekat kemudian saya melihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut. Beliau tersenyum ramah dan menyapa kami dengan bahasa yang saya belum pahami. Teman saya menjawab dengan bahasa yang sama, ah untunglah. Teman saya bilang, kita diajak mampir kerumahnya. Nama beliau adalah Ibu Sumbuk.

halaman belakang di salah satu rumah Kampung Pitu

narsis dikit di belakang rumah warga Kampung Pitu
photo taken by  Chris

Kebetulan sekali ternyata pemilik rumah ini adalah orang yang dituakan di kampung ini, namanya Pak Yatnorejo. Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk ini belum bisa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian mereka memanggil anaknya namanya Pak Aan. Ternyata Pak Aan ini merupakan salah satu pengurus Pokdarwis di Nglanggeran. Kami mulai mengobrol dengan suasana hangat, disuguhi makanan khas tradisional namanya rangginang, ditemani juga secangkir teh manis hangat buatan Ibu Sumbuk.

makanan tradisional rangginang ditemani segelas teh manis

Pak Aan bercerita banyak mengenai sejarah tentang Kampung Pitu. Untuk mempertahankan pesan leluhur, rumah ini hanya boleh diisi oleh tujuh kepala keluarga meskipun ada sepuluh rumah. Jika sudah lebih dari tujuh keluarga maka berikutnya akan pindah dari kampung ini demi keselamatannya. Rumah-rumah ini terbentuk dari kayu-kayu kokoh tanpa ada sekat dan masih beralaskan tanah. Dan justru ini menjadi daya tarik tersendiri, namun sayangnya beberapa rumah sudah diubah sebagian bangunannya dengan menggunakan tembok, jadi keasliannya sudah mulai hilang.

bentuk rumah warga kampung Pitu yang masih asli yang terbuat dari kayu-kayu kokoh



Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk - sepasang suami istri yang menjadi wakil yang dituakan


Kampung Pitu ini masih memegang kehidupan yang selaras dengan alam dan menjaga beberapa budaya yang mereka miliki. Seperti masih mengadakan upacara-upacara adat atau tradisi seperti Tingalan, Tayub/Ledek, dan Rasulan. Warga kampung ini mempunyai sumber kehidupan dari bercocok tanam dan beternak. Untuk teman-teman yang ingin merasakan suasana Kampung Pitu ini, Desa Wisata Nglanggeran menyediakan paket Live In di rumah warga Kampung Pitu. Ratusan orang sudah mengunjungi kampung ini dan banyak mahasiswa juga sering mengadakan acara makrab di kampung ini.

Tak terasa kami mengobrol hampir dua jam, karena kami masih berniat melihat embung, maka kami pamit pulang dan sempat mengambil photo dengan keluarga yang penuh dengan ketulusan ini.

Jangan lupa ya kalau berkunjung ke Kampung ini mengisi buku tamu dan silakan berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka...... Terima kasih untuk keluarga Pak Aan, Pak Yatno dan Ibu Sumbuk untuk kehangatannya hari ini….. Kalian sudah mengajarkan banyak bagaimana cara hidup sederhana dan tetap bersyukur dengan apa yang diberikan tuhan untuk kita, semoga kalian sehat selalu.......

September 1, 2017

Menyapa Gunung Api Purba (Nglanggeran Part 1)

Tahukah kamu dimana desa terbaik di Asia Tenggara ?
Betul sekali. Salah satu dari tiga desa terbaik itu terletak di Indonesia namanya Desa Wisata Nglanggeran, tepatnya terletak di Patuk, Gunung Kidul. Nama itu sudah tidak asing lagi bagi sebagian banyak orang yang hobby-nya travelling. Dimana embung menjadi salah satu icon-nya. Dapat ditempuh sekitar 1-1,5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dari pusat kota Yogyakarta. Jalan menuju kesana sudah beraspal dan bagus.

Awal tahun 2017 tempat wisata ini dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik se-Asia Tenggara 2016, menyusul Desa Wisata Dieng Kulon di Banjarnegara dan Desa Wisata Panglipuran di Bali. Ketiga desa ini terpilih oleh Kementrian Pariwisata yang akan dikirim ke Singapore untuk menerima penghargaan Asean CBT Awards. Karena ketiga desa ini telah menerapkan prinsip-prinsip pengelolaannya yang berbasis masyarakat atu dikenal dengan istilah Community Based Tourism (CBT).

Saya berangkat dari jalan Kaliurang sekitar pukul 7.00, sampai di pintu utama kawasan ekowisata Nglanggeran sekitar pukul 08.30. Kami sempat bertemu dengan Pak Sugeng beliau adalah Pengelola Desa Wisata Nglanggeran, beliau menjelaskan beberapa tempat yang dapat dikunjungi. Ada atraksi budaya juga atraksi alam seperti melihat tanaman atau pohon Termas, Kampung Pitu yang terletak di puncak Gunung Api Purba, Sumber Mata Air Comberan, Arca tanpa Kepala, Embung Kebun Buah Nglanggeran, dan Air Terjun Njurug Talang Purba dan Kedung Kandang. Bagi teman-teman yang hobby climbing, rafling, trekking atau camping bahkan live in dengan warga desa, Nglanggeran menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut. Karena saya hanya punya satu hari, jadi saya tidak sempat mencicipi semua atraksi tersebut.

Gunung Api Purba

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Gunung Api Purba. Tempat ini menjadi alternatif bagi yang hobby-nya trekking. Gunung Api Purba ini mempunyai beberapa puncak gunung dan dapat dikunjungi dari beberapa jalur. Waktu itu saya masuk dari jalur Kampung Pitu. Jalan menuju tempat ini sedikit menanjak, sebagian bebatuan dan sebagian lagi bersemen namun cukup lebar. 

Pintu masuk utama menuju Gunung Api Purba

pemandangan dari salah satu puncak Gunung Api Purba
photo taken by Chris

beberapa puncak di Gunung Api Purba ini


Kampung Pitu dari atas Gunung Api Purba

salah satu pemandangan di puncak dan rute trekking dari satu puncak ke puncak lainnya

Dengan biaya masuk sebesar Rp. 15.000,- dari loket masuk kamu dapat berjalan kaki hanya berjarak kurang lebih 5-10 menit, kamu sudah berada di salah satu puncak gunung ini. Atau bisa juga membawa kendaraan roda dua kamu sampai di bawah salah satu puncak gunung ini. Informasinya, tempat ini menjadi salah satu tempat favorit wisatawan untuk berkemah dan memang suasananya sangat nyaman untuk mendirikan tenda. Dari tempat ini juga kita bisa menyaksikan sunrise dan sunset yang menawan.

jalan menuju ke Puncak Gunung Api Purba
photo taken by Chris

jalanan menuju salah satu puncak Gunung Api Purba
photo taken by Chris

Gunung api purba ini memiliki beberapa puncak. Dari atas puncak ini kamu dapat menikmati pemandangan alam desa Nglanggeran yang hijau dan asri. Berjalan sedikit ke puncak satunya lagi, kamu dapat menikmati embung yang menjadi icon desa wisata ini dan desa Kampung Pitu. Meskipun cuacanya agak sedikit panas, namun udaranya sangat sejuk. Kamu bisa bersantai di atas rerumputan pinggir gunung ini tapi hati-hati ya karena bentuknya miring, kamu bisa terjatuh kalau tidak hati-hati.

salah satu pemandangan dari atas puncak Gunung Api Purba

bentuk bebatuan yang ada di Gunung Api Purba

Well, saya tidak bisa berlama-lama disini. Hanya berbekal handphone cekrak-cekrek hanya ambil beberapa photo seadanya, kali ini keindahan alam ini hanya ada di kepala.  Next time I have to well prepare, biar dapat photo-photo kece yang teman-teman ya ⌣⌣⌣