Skip to main content

Puncak Rantemario Gunung Latimojong, Atap Sulawesi Selatan

Puncak Rantemario Gunung Latimojong yang terletak di Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Enrekang, masuk dalam rangkaian seven summit gunung Indonesia dan menjadi salah satu bucket list bagi para penikmat ketinggian. Beruntung saya diberikan kesempatan menginjakan kaki ini pada April 2014, saya baru sempat menuliskannya :)

Gunung ini mempunyai beberapa puncak dan puncak tertingginya adalah Buntu Rante Mario dengan ketinggian 3.430 mdpl (meter di atas permukaan laut), diikuti  oleh Buntu Nenemori (3.097 mdpl), Buntu Rante Kambola (3.083 mdpl), Buntu Latimojong (2800 mdpl), Buntu Sikolong (2.754 mdpl), Buntu Bajaja (2.700 mdpl), dan Buntu Sinaji (2.430 mdpl).

 


Saya mengunjungi tempat ini pertama kalinya tahun 2013 melalui jalur Baraka Enrekang, jalur yang paling terkenal saat itu. Gunung dengan tipe hutan basah Montana ini masih banyak dipenuhi dengan lumut basah yang justru menambah keindahan pemandangan sepanjang perjalanan menuju gunung ini.

Hari ke-1
Kami memulai perjalanan dari Jakarta (Soeta) menuju Makassar (Sultan Hasanuddin) dan tiba pada siang hari. Dari Bandara kami menyewa kendaraan pribadi menuju basecamp Lembayung di Desa Baraka. Perjalanan lumayan memakan waktu sekitar 8 jam dan kami tiba pada malam hari di basecamp ini. Setibanya di basecamp kami melakukan packing ulang semua bawaan dan menitipkan beberapa barang-barang yang tidak kami pakai, setelah ishoma kemudian beristirahat untuk persiapan tenaga esok pagi, menuju ke Desa Karangan, desa terakhir sebelum menginjakan kaki di atap Sulawesi Selatan ini.


abaikan sandal jepitnya :)

Di Baraka kami mengurus semua perizinan sebelum melakukan pendakian yang dibantu oleh Pak Dadang, guide yang menjaga kami sepanjang perjalanan ke Latimojong. Orangnya sangat ramah dan baik.

Hari ke-2
Pagi-pagi kami sudah bersiap untuk menuju Desa Karangan yang merupakan desa terakhir sebelum melakukan pendakian ke Puncak Rantemario Gunung Latimojong. Kami menumpang mobil yang mengangkut kebutuhan sembako masyarakat di Desa Karangan. Pukul 09.00an kami baru memulai perjalanan. Mobil ini hanya ada di hari Senin dan Kamis, kayak puasa aja ya hehehe…. Hanya inilah satu-satunya kendaraan yang bisa membawa kami ke Desa Karangan.

kendaraan yang kami tumpangi
pict taken Babang Tuah

Perjalanan menuju atap Sulawesi Selatan ini ditempuh sekitar kurang lebih 3 jam dengan kondisi jalan yang aduhai, kami sebenarnya kurang nyaman duduk karena banyak sayuran dan makanan serta gas di mobil jenis touring R-300 yang kami tumpangi. Takut rusak.


kondisi jalan yang berkelok, sebelahnya jurang semua tapi indah
pict taken Babang Tuah

Jalan yang kami lewati berupa jalan tanah yang masih sangat licin karena musim hujan dan berkelok-kelok serta pinggirnya berupa jurang-jurang yang membuat dada kami deg-degan serta berteriak setiap kali berada di tikungan, bagaimana tidak dibawahnya adalah jurang dalam. Tapi kami sangat menikmati perjalanannya karena pemandangan sepanjang jalan sangat indah hijau. Pokoknya kami pengen melihat dan menikmati atap Sulawesi Selatan yang katanya sangat indah.

foto dulu bersama anak-anak di kaki gunung Latimojong

Sore sekitar pukul 1 atau 2 siang kami baru tiba di Desa Karangan karena mobil yang kami tumpangi harus berhenti di beberapa tempat untuk drop off barang-barang milik warga. Tiba di Desa Karangan kami langsung diarahkan ke sebuah rumah panggung milik kepala desa yang biasa digunakan untuk menginap para pendaki yang hendak ke pun  Puncak Rantemario Gunung Latimojong.

Saat kami bersiap melakukan pendakian sekitar sore hari, hujan deras turun, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pendakian besok paginya. Kami menginap di rumah panggung ini sekalian melakukan packing ulang untuk barang-barang yang akan kami bawa untuk mendaki besok.

Hari ke-3
Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap untuk melakukan pendakian, setelah sarapan, packing, dan berdoa, kami memulai perjalanan dengan ditemani langit yang sangat cerah.


salah satu jalur dari pos 1 menuju pos 2, perkebunan wargapict taken by Bang Matz

Desa karangan menuju Pos 1 (Pos Buntu Kaciling) kurang lebih ditempuh selama 2 jam, karena kami memang santai dengan banyak beristirahat dan mengambil gambar di beberapa lokasi. Menuju pos ini kami masih melihat beberapa warga menggunakan motor untuk menuju kebun, karena memang sampai pos 1 masih merupakan perkebunan milik warga.
Mulai dari Pos 1 menuju Pos 2 (Pos Gua Sarung Pa’ak) sekitar 2,5 jam. Pos 2 menuju Pos 3 (Pos Lantang Nase) ditempuh sekitar 1,5 jam. Di pos ini terdapat camping ground yang dapat digunakan pendaki untuk berkemah.




Kami melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4 (Pos Buntu Lebu) sekitar 1,5 jam. Di pos ini juga kami beristirahat untuk ibadah dan makan siang. Gerimis mulai mengiringi perjalanan kami dan ternyata ada 1 teman kami yang maagnya kambuh, sehingga memutuskan untuk membuat tenda di tempat ini. Malam hari hujan sangat deras sehingga tenda yang kami dirikan digenangi oleh aliran air untungnya tenda kami aman. Tidurpun tidak nyenyak karena mendengar juga beberapa lolongan binatang yang sangat jelas. Namun tetap semangat kami untuk melihat atap Sulawesi Selatan tertap membara.

Hari ke-4
Pagi sekitar pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 (Pos Soloh Tamah) yang ditempuh sekitar 3 jam. 


jalurnya mulai terjal
pict taken Babang Tuah





Menuju pos ini kami melewati aliran air sungai, lumayan untuk stock minum kami. Di pos 5 ini kita bisa mendirikan tenda atau sekedar memasak dan istirahat sebelum lanjut ke pos berikutnya. Di pos 5 ini juga kita masih dapat menemukan sumber air dengan berjalan sekitar 15-20 menit.





Dari pos 5 kami lanjutkan menuju Pos 6 (Pos Buntu Latimojong). Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Langit sudah mulai terlihat cukup luas artinya perjalanan menuju puncak sudah semakin dekat. Pohon-pohon sudah mulai rendah dan mulai terlihat banyak pepohonan berlumut.







Dari Pos 6 kami lanjutkan ke Pos 7 (Pos Kolong Buntu). Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam.  Menuju pos ini kita mulai memasuki hutan lebat berlumut dan suasananya kadang gelap karena saking rapatnya. Udaranya sangat segar dan dingin, kabut ikut menambah suasana tempat ini makin gelap, tapi pastinya ciamik buat pe-foto-an di sini ya :)




hutan lumut sebelum puncak
pict taken by Bang Tuah

Mendekati post 7, beberapa lokasi harus menggunakan webbing karena jalannya memang cukup terjal. Sehingga kami bergantian untuk naik dengan menggunakan webbing. Lelah? pastinya, tapi semangat kami untuk melihat atap Sulawesi Selatan lebih besar dari lelah itu.






Jalanan menuju pos pos 7
pict taken by Babang Matz
Inilah area camping ground yang banyak digunakan oleh pendaki sebelum menuju puncak. Berupa dataran luas yang dipenuhi dengan bebatuan dan berlumut. Di tempat ini kita bisa menemukan sebuah kolam kecil sumber mata air untuk memasak, minum, atau beribadah.




Setibanya mendekati Puncak Rantemario Gunung Latimojong dan sebelum hari gelap kami mengambil beberapa foto sunset, serta mengambil foto di beberapa tempat yang viewnya ciamik banget buat selfie wefie hehehe…..




Setelah hari mulai gelap, kami bersih-bersih, rapi-rapi, masak, makan, ibadah, dan bercengkrama dengan beberapa teman yang baru saya kenal. Then siap-siap tidur untuk menuju puncak Rante  Mario esok subuh.

Hari ke-5
Pagi-pagi sekali kami bangun dan bersiap untuk menuju puncak Rante Mario. Tidak lupa kami membawa makanan dan minuman secukupnya serta pastinya perlengkapan foto ga boleh ketinggalan, wajib dibawa heheheh. Perjalanan menuju puncak ditempuh sekitar 1,5 jam.




Menuju puncak, jalan yang dilewati berupa bebatuan kehitaman dan pohon-pohon pendek yang asik buat pe-foto-an, then finally kita sampai Puncak Rantemario Gunung Latimojonghappy bangetttt pastinya. Setelah puas berfoto dan sarapan, kami kembali ke pos 7 dan packing untuk turun.





Perjalanan turun terasa lebih berat karena berupa turunan terjal, langkah kaki harus diatur agar tidak terjatuh atau kakinya tidak luka. Saking semangatnya masih di pos 6, kaki saya cedera karena jalan di turunan terlalu cepat. Mulai dari pos 5 saya berjalan pelan-pelan dan mencoba paling depan agar tidak tertinggal. Thanks to my God dengan kaki yang sakit, saya ditemani Bang matz tiba di Desa Karangan paling awal sekitar pukul 7-an. Saya beristirahat, bersih-bersih, dan makan sambil menunggu teman-teman yang belum sampai. Teman-teman yang lain ada yang baru tiba pukul 11 malam.

Hari ke-6
Esok hari mobil yang sudah kami pesan tak kunjung tiba, sehingga kamu harus berjalan menuju desa sebelah. Kami sempat makan dan minum di warung milik warga sembari menunggu mobil yang menjemput kami.


bersama babang Tuah sebelum pulang ke kota

salah satu view di desa terakhir sebelum menuju Latimojong
belakangnya rumah adat warga

Akhirnya siang hari mobil yang kami tunggu tiba juga, sumringah kami menyambutnya, sore hari kami sampai kembali di Baraka, dan langsung malam harinya kami melanjutkan perjalanan ke Makassar. Karena esok hari, kami harus terbang ke Jakarta.

Hari ke 7
Go home to Jakarta, see you laters Puncak Rantemario Gunung Latimojong.



Comments

  1. Seru banget petualangannya Mba Mei, nggak kebayang deh jalan di tengah hutan gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fotonya keren-keren. Yang di atas jurang itu lho mencekam banget! Asyiknya bisa menyusuri pedalaman hutan juga.

      Delete
  2. jadi ingat Dora the explorer tiap kali lihat fotomu mba pas naik gunung.

    ReplyDelete
  3. Mei, seruuuu bangetttt. Aku selalu rindu naik gunung. Sayangnya secara fisik sekarang aku sudah tak mampu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mei.. aku balik lagi ke sini, karena selalu terasa wow gitu kalo membaca pengalamanmu naik gunung, foto-fotonya juga cakep-cakep sih...

      Delete
  4. Keren bangeet engkau, keliling Indonesia

    ReplyDelete
  5. Pepohonann yang dilewati menuju Latimojong seperti pohon-pohon yang berumur ratusan ya Mbak, mirip kayak hutan di film - film kolosal jaman dulu, pepohonan dengan tetumbuhan lumut, terlihat magis

    ReplyDelete
  6. Seneng banget kalo liat postingannya mba mei tuh... ceritanya runtut, terus ada banyak foto-fotonya juga... ak penasaran deh, kapan sih mba mei pertama kali mendaki???
    Pengen jadi travel blogger yang "beneran" karena aku masih abal-abal hahaha... Tapi apalah daya akhirnya aku malah jadi blogger staycation... hehe

    ReplyDelete
  7. Mba Mei bikin mupeng aja nih udah sampe Latimojong aja. Seru petualangannya.

    ReplyDelete
  8. Orang yang suka naik gunung tu pasti orangnya fleksibel dan mudah adaptasi ya. Karena biasa berhadapan dengan situasi alam yang mudah berubah.. Saluut banget deh

    ReplyDelete
  9. Daerah pelosok tuh masih keliatan asri banget ya dan adatnya masih kental.

    ReplyDelete
  10. Story traveling gunungnya selalu menarik untuk dibaca. Jujur hal yang aku rasa belum sanggup aku lakukan ya naik gunung begini ehehe...

    ReplyDelete
  11. Tapi pas naik gunungnya uda siap pake sepatu hiking doonk...hihii~
    Bener-bener petualangan yang gak terlupakan yaa, kak.
    Dan aku serem banget liat jurang-jurang yang dalam begitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bucket list hiking berikutnya kemana, kak?
      Seru yaa...bisa menyatu dengan alam begini...

      Delete
  12. seru banget nih kak perjalanannya! BTW kakak foto2nya pake HP kah? apakah di sana bisa nge charge hp atau cuma dinyalain pas mau foto ajaa?

    ReplyDelete
  13. Menantang banget kalo muncak ya, aku bisa sampai ke puncaknya nggak ya, aku ga tahan jalan kaki lama-lama

    ReplyDelete
  14. Seru banget nih kayanya perjalanannya, dari dlu pngn banget nih pergi"an kaya gini. Tp kadang kondisi tubuh sering drop :'))

    ReplyDelete
  15. Luar biasa banget ya jalanan nya di sana. Aku ngebayangin perjalanan dalam mobil yang di sampingnya jurang gitu, kayanya ngeri banget ya.. :"

    ReplyDelete
  16. aku baru liaht foto2nya aja udah ngos2an berasa aku yang naik turun gunung hahahaa kalau beneran kayaknya besoknya encok ga bisa bangun

    ReplyDelete
  17. Seru banget ini lihat perjalananmu naik gunung, semoga pandemi ini cepat berakhir ya agar bisa berkeliling Indonesia. AKu pun sudah kangen traveling, jadi sekarang membagikan postingan yang sudah lalu saja.

    ReplyDelete
  18. Keren banget ya mbak pengalamannya, suka sama perjalanannya, hebat mbak bisa menaklukkan gunung dimana mana

    ReplyDelete
  19. waaa keren banget ini liatnyaaa, aku udah lumayan lama penasaran pengen naik gunung tapi masih belum diberi keberanian nih hihihi

    ReplyDelete
  20. Selalu amaze baca cerita perjalananmu Mba, ditambah lihat foto-fotonya malah aku yang deg-degan, tapi aku bayangin keseruannya kayak apa, adrenaline rush-nya pasti bikin ketagihan ya. Satu lagi bukti nyata kalau Indonesia ini kaya dengan tempat-tempat indahnya.

    ReplyDelete
  21. Naik gunung aja uda tantangan banget, eh ini turunan juga ya dan malah medannya lebih berat 😅

    ReplyDelete
  22. kaaakk... kamu hebat pisan euy! aku ke Tanjung Bira pakai jalur darat aja rasanya cape banget, gimana kamu yang mesti laluin perjalanan darat pakai mobil/bus lalu mendaki gunung pulak

    ReplyDelete
  23. Mba..beneran itu perjalanannya seperti itu untuk menuju ke puncak gunungnya? Wow banget kamu Mba bisa sampai kesana dengan melalui jalanan terjang seperti itu. Aku pasti sudah nangis minta balik saja lagi ehehe atau ngga nunggu ada eskalator saja baru ke puncak gunung. Keren kamu Mba.

    ReplyDelete
  24. Mbak, terhitung udah berapa gunung yang dinaiki? Kayaknya seru banget nih, hampir semua gunung udah dinaiki. Pasti udah kangen banget naik gunung lagi ya?

    ReplyDelete
  25. Duh liat tulisan ini seketika aku jadi rindu hiking juga nih, btw pemandangan Gunung Latimojong ini indah banget yaa Ka Seru banget deh liatnya

    ReplyDelete
  26. Ya ampun teteh keren sekaliii.. Seru lihatnya.. Aku belum tentu sanggup hiking sampe puncak. Sekarang lagi pandemi gini pasti kangen banget ya naik gunung?

    ReplyDelete
  27. baca cerita perjalanan menuju puncak seru banget mba, keren banget deh. Itu jalanannya juga curam dan serem yaa, hebat mba bisa melaluinya :D

    ReplyDelete
  28. selalu seksama kalo baca cerita ka mei. seru bangettt. seperti ikut berpergian didalam ceritanya hehe

    ReplyDelete
  29. The journey is long and winding but the view is so worth it. Baguuuus banget diatas gunungnya mbak :) Tapi ini lumayan terjal yaa trailnya hehehe.

    ReplyDelete
  30. hihi aku suka kalo ada foto anak-anak daerah gitu, mereka wajahnya polos tapi khas banget ekspresinya.

    ReplyDelete
  31. aku liat artikel kak Mei jadi kangen mendaki nih, apalagi medannya juga lumayanan tinggi ya itu aku jadi ingat pas naik gunung Manglayang

    ReplyDelete
  32. wah ini yang fotonya di instagram keliatan horor itu ya haha duh aku mah jelas ga berani sih wkwk kebayang deh mbak gimana suasananya waktu itu, tapi kalo bareng2 sih lebih selow ya ngadepinnya

    ReplyDelete
  33. waa ternyata track ke gunung ini terjal banget ya yang inii, agak serem karna tracknya kecil banget juga huhuhuhu, kagum sama para pendaki gunung

    ReplyDelete
  34. Butuh usaha banget nih, apalagi jalurnya panjang dan kondisi jalan nggak mulus ya. Btw, banyak foto yang nggak terbuka, sayang nih padahal fotonya kan baguus

    ReplyDelete
  35. Aku belum pernah naik gunung, paling bukit aja.. itupun yg masih bagus track-nya dan masih capek 😂 tapi pemandangannya memang membayar kelelahan yaa.. makin kangen jalan-jalan~

    ReplyDelete
  36. wahhh gunungnya masih asri banget mbak, masih bersih dari penebangan liar

    ReplyDelete
  37. Asliii ini keren banget tuisan dan pengalaman nya. Seruuu eksplorasi hutan.

    ReplyDelete
  38. Wah senengnya ya bs hiking sampe puncak ke Gunung Latimojong, di Sulawesi Selatan ya . Seru beud deh palagi yg skalian nebeng mobil sembako, pengalaman tak terlupakan ya Mbak

    ReplyDelete
  39. Ah seru kali memang naik gunung ini ya, dan aku belum pernaaaah huhu, pasti happy ya kak udah sampe puncak Gunung Latimojong

    ReplyDelete
  40. Seru banget dulu Aku sering naik gunung kalo skg kaki dan nafas udah gakuat hahaha. Seru banget kalo naik gunung melatih kesabaran

    ReplyDelete
  41. asik banget sih. aku mah baca tulisannya aja udah degdegan. liat fotonya ikut senang. aku bukan pendaki, sadar diri takutnya malah nyusahin. tapi seneng baca tulisan-tulisan teman.

    ReplyDelete
  42. Wow poto2nya bikin aku kek ikut naik gunung. Suka sama.poto2 nya

    ReplyDelete
  43. Duh serunya naik gunung. perjuangan banget yah kak. Sampai puncak indah banget. Aku terpesona sama pemandangan sepanjang perjalanan. Serasa kayak ikutan naik gunung hehehe

    ReplyDelete
  44. Wah ini bucket list tahun ini si bisa explore sulawesi dan naik gunung latimojong sih, semoga covid berlalu dan bisa terlaksana sih,. aduh udah ga sabar buat mendaki gunun g ini hahah thnks artikelnya kak

    ReplyDelete
  45. Ini mah cocok buat pak suami saya suka naik gunung deh

    ReplyDelete
  46. waaah seru banget bisa explore sulawesi, aku bahkan belum pernah berkunjung ke sulawesi hihihi, foto foto digunung tu selalu cantik yaa

    ReplyDelete
  47. Wah jalur pendakiaannya cukup sulit ya, jalannya kecil dan terjal. Tetapi justru itu yang memberikan tantangan tersendiri ya kak...pengalaman explore Sulawesi yang cukup seru dan menyenangkan ya kak.. .

    ReplyDelete
  48. Ya Allah, aku tuh takut ketinggian. Lihat foto-foto di tulisan mbak ini aku berasa deg2an bayangin aku yg lg mendaki. Seru lho mba ceritanya. Ditunggu cerita travelling selanjutnya

    ReplyDelete
  49. WOW! Trackingnya lumayan banget ya. Bagi orang seperti saya, tracking gini bonus karena ada pegangan saat jalan. Jadi lebih mudah meski perjalanan panjang. Saya bosan kalau jalanan landai dan hanya menanjak. Biasanya langsung mudah lelah. Kalau ngetrack lagi, semangat terpantik lagi.
    Tapi itu 18 tahun lalu. Wkwk. Sekarang naik yang 1000an dpl saja sudah ngos-ngosan dan balik pulang. Seperti saat naik ke Puncak Songolikur di kota saya sendiri. Saya balik turun dengan izin tim, dan memilih tidur di basecamp. Padahal sudah dapat separuh perjalanan. Sudah naik sekitar 2 jam.

    ReplyDelete
  50. waaahh keren banget mbaa...udah kemana-mana yah naik gunungnya. Jalurnya berat juga yah itu mba.. Tapi pasti puas banget yah bisa sampai di puncak

    ReplyDelete
  51. Luar biasa perjalanan nya kak, dan sungguh indah banget view-nya ketika sampe puncak ya. Terbayar sudah susahnya perjalanan kesana ya. Aku belum pernah naik gunung kak, tapi suka baca cerita petualangan kakak.

    ReplyDelete
  52. Aku sudah jiper duluan nih kalau harus berpetualang dengan naik gunung seperti ini. Makanya aku salut banget kepada para pendaki yang semangatnya luar biasa untuk menaklukkan puncak

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Gunung Kerinci, Pesona Gunung Tertinggi Di Sumatera

Siapa yang tak mengenal Gunung Kerinci, gunung tertinggi yang pertama kali didaki oleh Von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877 ini berada di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan menjadi salah satu bucket list para penikmat ketinggian dari berbagai belahan Indonesia bahkan dunia. Gunung dengan nama lain Korinci, Gunung Gadang, Berapi Kerinci dan Puncak Indrapura ini juga menjadi rangkaian seven summit Indonesia. Beruntung saya dapat mengunjungi tempat ini pada Oktober 2013, pada saat musim cerah.

Gunung Kerinci,yang mendapat julukan atap Sumatera ini masih tergolong aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009 dan mempunyai ketinggian 3.805 mdpl (meter di atas permukaan laut) serta berjenis gunung berapi bertipe strato vulcano. Lokasi gunung ini berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Makin bikin penasaran niy gunung tertinggi di Sumatera ini.

Hari ke-1 Saya bersama teman-teman lainnya mendarat di bandara Sultan Thaha…

Stonehenge Cangkringan, Wisata Millenial di Jogja

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia, apalagi destinasi wisata millenial.

Nah salah satu destinasi wisata millenial yang ada di Jogja adalah Stonehenge Cangkringan, belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris, cocoklah buat tempat wisata millenial.


Untuk menuju Stonehenge Cangkringan, saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum…

Bermain Dengan Ubur-Ubur Jinak di Pulau Derawan

Kepulauan Derawan tidak hanya dikenal di Indonesia saja tetapi juga di mata dunia bahkan berdasarkan informasi dari webnya kaltimprov.go.id tahun 2005 dicalonkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO karena taman bawah lautnya yang sangat mempesona. Kepulauan ini terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Bandara Berau dan Tarakan menjadi titik awal untuk menuju kepulauan ini. Kepulauan Derawan terdiri dari 31 pulau termasuk didalamnya yang sangat terkenal adalah Pulau Derawan (terkenal dengan penyu-penyu besarnya), Pulau Kakaban (terkenal dengan ubur-ubur jinak), Pulau Sangalaki (terkenal dengan Manta Ray) dan Pulau Maratua (terkenal dengan resort-resort bagus seperti di Maldives). Sangat beruntung saya dapat mengunjungi tempat ini pada Maret 2013 di musim yang sangat cerah.

Saya memutuskan menggunakan jasa travel mengingat biaya untuk sewa boat sangat mahal dan saya mengambil paket selama 4D3N. Saya menggunakan pesawat menuju Bandara Tarakan, dari Bandara Tarakan saya dij…