20 April 2020

Mendaki Gunung Merbabu Via Wekas, Disuguhi Padang Sabana

Merbabu menjadi salah satu gunung favorit banyak pendaki, selain memiliki pemandangan indah, lokasinya cukup mudah dijangkau dan berada di pulau jawa.


Gunung yang mempunyai ketinggian 3.142 mdpl ini memiliki 5 jalur untuk menuju puncak Merbabu yaitu jalur Wekas, jalur Suwanting, jalur Wekas, jalur Chuntel, dan jalur Thekelan. Mendaki Gunung Merbabu Via Wekas ini menjadi jalur yang paling banyak dipilih para pendaki karena paling cepat menuju puncak dan sumber mata air melimpah di jalur ini dan kamu bisa menikmati padang sabana indah.



Hari ke-1
Mendaki Gunung Merbabu Via Wekas, menjadi jalur pilihan saya dan teman-teman. Melalui jalur ini, kita bisa menikmati pemandangan hamparan sawah milik warga yang menghijau jika berkunjung pada musim hujan dan pastinya disuguhi padang sabana.




Dari Wekas saya dan teman-teman berangkat sekitar pukul 1 siang dengan kondisi hujan sangat lebat, karena menunggu beberapa waktu tidak reda-reda. Alhasil kami mendaki Gunung Merbabu via Wekas, dalam kondisi basah kuyup. Tujuan kami adalah Pos 3 dan butuh 3-4 jam menuju pos ini.



Baca juga : Gunung Kerinci Pesona Gunung Tertinggi


Mendaki Gunung Merbabu Via Wekas, gunung yang bertipe stato ini mempunyai 3 puncak utama ya itu Puncak Syarif, Puncak Triangulasi, dan Puncak Kenteng Songo yang merupakan puncak tertingginya gunung ini. Di sinilah hamparan padang sabana dapat dinikmati.





Sekitar pukul 9 malam kami sudah mulai beristirahat karena rencananya akan berangkat sebelum subuh untuk menyaksikan matahari terbit.

Hari ke-2
Kami semua bangun kesiangan, karena malam harinya hujan turun sangat lebat dan kami semua tertidur pulas. Akhirnya dengan kondisi yang masih mendung dan berkabut, kami berangkat sedikit siangan menuju puncak Kenteng Songo dan butuh sekitar sekitar 2-3 jam menuju tempat ini. Saya berkunjung pada bulan Februari tepat pada musim hujan jadi sepanjang  jalan kami bisa menikmati pemandangan sabana yang menghijau.










padang sabana terhampar luas sepanjang perjalanan menuju puncak





Setelah puas berfoto, akhirnya kami turun kembali ke pos 3 dan berkemas untuk segera turun melalui jalur yang sama. Beruntungnya cuaca cukup cerah saat kami turun sehingga dapat melihat pemandangan yang cukup indah sepanjang kami turun.








Well, kami sampai di basecamp sore hari dan kembali hujan turun dengan derasnya, akhirnya kami memutuskan menginap di basecamp dan besok paginya kami memutuskan untuk langsung ke merapi tektok.


Disclaimer:
Perjalanan ini saya lakukan pada Februari 2013. Cerita real berdasarkan pengalaman penulis, jika ada yang berbeda, mungkin sudaha da perubahan.

01 April 2020

Puncak Rantemario Gunung Latimojong, Atap Sulawesi Selatan

Puncak Rantemario Gunung Latimojong yang terletak di Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Enrekang, masuk dalam rangkaian seven summit gunung Indonesia dan menjadi salah satu bucket list bagi para penikmat ketinggian. Beruntung saya diberikan kesempatan menginjakan kaki ini pada April 2014, saya baru sempat menuliskannya :)

Gunung ini mempunyai beberapa puncak dan puncak tertingginya adalah Buntu Rante Mario dengan ketinggian 3.430 mdpl (meter di atas permukaan laut), diikuti  oleh Buntu Nenemori (3.097 mdpl), Buntu Rante Kambola (3.083 mdpl), Buntu Latimojong (2800 mdpl), Buntu Sikolong (2.754 mdpl), Buntu Bajaja (2.700 mdpl), dan Buntu Sinaji (2.430 mdpl).

 


Saya mengunjungi tempat ini pertama kalinya tahun 2013 melalui jalur Baraka Enrekang, jalur yang paling terkenal saat itu. Gunung dengan tipe hutan basah Montana ini masih banyak dipenuhi dengan lumut basah yang justru menambah keindahan pemandangan sepanjang perjalanan menuju gunung ini.

Hari ke-1
Kami memulai perjalanan dari Jakarta (Soeta) menuju Makassar (Sultan Hasanuddin) dan tiba pada siang hari. Dari Bandara kami menyewa kendaraan pribadi menuju basecamp Lembayung di Desa Baraka. Perjalanan lumayan memakan waktu sekitar 8 jam dan kami tiba pada malam hari di basecamp ini. Setibanya di basecamp kami melakukan packing ulang semua bawaan dan menitipkan beberapa barang-barang yang tidak kami pakai, setelah ishoma kemudian beristirahat untuk persiapan tenaga esok pagi, menuju ke Desa Karangan, desa terakhir sebelum menginjakan kaki di atap Sulawesi Selatan ini.


abaikan sandal jepitnya :)

Di Baraka kami mengurus semua perizinan sebelum melakukan pendakian yang dibantu oleh Pak Dadang, guide yang menjaga kami sepanjang perjalanan ke Latimojong. Orangnya sangat ramah dan baik.

Hari ke-2
Pagi-pagi kami sudah bersiap untuk menuju Desa Karangan yang merupakan desa terakhir sebelum melakukan pendakian ke Puncak Rantemario Gunung Latimojong. Kami menumpang mobil yang mengangkut kebutuhan sembako masyarakat di Desa Karangan. Pukul 09.00an kami baru memulai perjalanan. Mobil ini hanya ada di hari Senin dan Kamis, kayak puasa aja ya hehehe…. Hanya inilah satu-satunya kendaraan yang bisa membawa kami ke Desa Karangan.

kendaraan yang kami tumpangi
pict taken Babang Tuah

Perjalanan menuju atap Sulawesi Selatan ini ditempuh sekitar kurang lebih 3 jam dengan kondisi jalan yang aduhai, kami sebenarnya kurang nyaman duduk karena banyak sayuran dan makanan serta gas di mobil jenis touring R-300 yang kami tumpangi. Takut rusak.


kondisi jalan yang berkelok, sebelahnya jurang semua tapi indah
pict taken Babang Tuah

Jalan yang kami lewati berupa jalan tanah yang masih sangat licin karena musim hujan dan berkelok-kelok serta pinggirnya berupa jurang-jurang yang membuat dada kami deg-degan serta berteriak setiap kali berada di tikungan, bagaimana tidak dibawahnya adalah jurang dalam. Tapi kami sangat menikmati perjalanannya karena pemandangan sepanjang jalan sangat indah hijau. Pokoknya kami pengen melihat dan menikmati atap Sulawesi Selatan yang katanya sangat indah.

foto dulu bersama anak-anak di kaki gunung Latimojong

Sore sekitar pukul 1 atau 2 siang kami baru tiba di Desa Karangan karena mobil yang kami tumpangi harus berhenti di beberapa tempat untuk drop off barang-barang milik warga. Tiba di Desa Karangan kami langsung diarahkan ke sebuah rumah panggung milik kepala desa yang biasa digunakan untuk menginap para pendaki yang hendak ke pun  Puncak Rantemario Gunung Latimojong.

Saat kami bersiap melakukan pendakian sekitar sore hari, hujan deras turun, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pendakian besok paginya. Kami menginap di rumah panggung ini sekalian melakukan packing ulang untuk barang-barang yang akan kami bawa untuk mendaki besok.

Hari ke-3
Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap untuk melakukan pendakian, setelah sarapan, packing, dan berdoa, kami memulai perjalanan dengan ditemani langit yang sangat cerah.


salah satu jalur dari pos 1 menuju pos 2, perkebunan wargapict taken by Bang Matz

Desa karangan menuju Pos 1 (Pos Buntu Kaciling) kurang lebih ditempuh selama 2 jam, karena kami memang santai dengan banyak beristirahat dan mengambil gambar di beberapa lokasi. Menuju pos ini kami masih melihat beberapa warga menggunakan motor untuk menuju kebun, karena memang sampai pos 1 masih merupakan perkebunan milik warga.
Mulai dari Pos 1 menuju Pos 2 (Pos Gua Sarung Pa’ak) sekitar 2,5 jam. Pos 2 menuju Pos 3 (Pos Lantang Nase) ditempuh sekitar 1,5 jam. Di pos ini terdapat camping ground yang dapat digunakan pendaki untuk berkemah.




Kami melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4 (Pos Buntu Lebu) sekitar 1,5 jam. Di pos ini juga kami beristirahat untuk ibadah dan makan siang. Gerimis mulai mengiringi perjalanan kami dan ternyata ada 1 teman kami yang maagnya kambuh, sehingga memutuskan untuk membuat tenda di tempat ini. Malam hari hujan sangat deras sehingga tenda yang kami dirikan digenangi oleh aliran air untungnya tenda kami aman. Tidurpun tidak nyenyak karena mendengar juga beberapa lolongan binatang yang sangat jelas. Namun tetap semangat kami untuk melihat atap Sulawesi Selatan tertap membara.

Hari ke-4
Pagi sekitar pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 (Pos Soloh Tamah) yang ditempuh sekitar 3 jam. 


jalurnya mulai terjal
pict taken Babang Tuah





Menuju pos ini kami melewati aliran air sungai, lumayan untuk stock minum kami. Di pos 5 ini kita bisa mendirikan tenda atau sekedar memasak dan istirahat sebelum lanjut ke pos berikutnya. Di pos 5 ini juga kita masih dapat menemukan sumber air dengan berjalan sekitar 15-20 menit.





Dari pos 5 kami lanjutkan menuju Pos 6 (Pos Buntu Latimojong). Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Langit sudah mulai terlihat cukup luas artinya perjalanan menuju puncak sudah semakin dekat. Pohon-pohon sudah mulai rendah dan mulai terlihat banyak pepohonan berlumut.







Dari Pos 6 kami lanjutkan ke Pos 7 (Pos Kolong Buntu). Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam.  Menuju pos ini kita mulai memasuki hutan lebat berlumut dan suasananya kadang gelap karena saking rapatnya. Udaranya sangat segar dan dingin, kabut ikut menambah suasana tempat ini makin gelap, tapi pastinya ciamik buat pe-foto-an di sini ya :)




hutan lumut sebelum puncak
pict taken by Bang Tuah

Mendekati post 7, beberapa lokasi harus menggunakan webbing karena jalannya memang cukup terjal. Sehingga kami bergantian untuk naik dengan menggunakan webbing. Lelah? pastinya, tapi semangat kami untuk melihat atap Sulawesi Selatan lebih besar dari lelah itu.






Jalanan menuju pos pos 7
pict taken by Babang Matz
Inilah area camping ground yang banyak digunakan oleh pendaki sebelum menuju puncak. Berupa dataran luas yang dipenuhi dengan bebatuan dan berlumut. Di tempat ini kita bisa menemukan sebuah kolam kecil sumber mata air untuk memasak, minum, atau beribadah.




Setibanya mendekati Puncak Rantemario Gunung Latimojong dan sebelum hari gelap kami mengambil beberapa foto sunset, serta mengambil foto di beberapa tempat yang viewnya ciamik banget buat selfie wefie hehehe…..




Setelah hari mulai gelap, kami bersih-bersih, rapi-rapi, masak, makan, ibadah, dan bercengkrama dengan beberapa teman yang baru saya kenal. Then siap-siap tidur untuk menuju puncak Rante  Mario esok subuh.

Hari ke-5
Pagi-pagi sekali kami bangun dan bersiap untuk menuju puncak Rante Mario. Tidak lupa kami membawa makanan dan minuman secukupnya serta pastinya perlengkapan foto ga boleh ketinggalan, wajib dibawa heheheh. Perjalanan menuju puncak ditempuh sekitar 1,5 jam.




Menuju puncak, jalan yang dilewati berupa bebatuan kehitaman dan pohon-pohon pendek yang asik buat pe-foto-an, then finally kita sampai Puncak Rantemario Gunung Latimojonghappy bangetttt pastinya. Setelah puas berfoto dan sarapan, kami kembali ke pos 7 dan packing untuk turun.





Perjalanan turun terasa lebih berat karena berupa turunan terjal, langkah kaki harus diatur agar tidak terjatuh atau kakinya tidak luka. Saking semangatnya masih di pos 6, kaki saya cedera karena jalan di turunan terlalu cepat. Mulai dari pos 5 saya berjalan pelan-pelan dan mencoba paling depan agar tidak tertinggal. Thanks to my God dengan kaki yang sakit, saya ditemani Bang matz tiba di Desa Karangan paling awal sekitar pukul 7-an. Saya beristirahat, bersih-bersih, dan makan sambil menunggu teman-teman yang belum sampai. Teman-teman yang lain ada yang baru tiba pukul 11 malam.

Hari ke-6
Esok hari mobil yang sudah kami pesan tak kunjung tiba, sehingga kamu harus berjalan menuju desa sebelah. Kami sempat makan dan minum di warung milik warga sembari menunggu mobil yang menjemput kami.


bersama babang Tuah sebelum pulang ke kota

salah satu view di desa terakhir sebelum menuju Latimojong
belakangnya rumah adat warga

Akhirnya siang hari mobil yang kami tunggu tiba juga, sumringah kami menyambutnya, sore hari kami sampai kembali di Baraka, dan langsung malam harinya kami melanjutkan perjalanan ke Makassar. Karena esok hari, kami harus terbang ke Jakarta.

Hari ke 7
Go home to Jakarta, see you laters Puncak Rantemario Gunung Latimojong.



Back to Top