May 15, 2017

Menyapa Warisan Dunia: Taman Nasional Komodo


Target perjalanan saya berikutnya adalah Pulau Komodo, kurang lebih 1 jam perjalanan dari Pulau Padar. Tapi jangan kawatir feeling bored ya, karena sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan alam yang luar biasa, gugusan pulau terbentang luas indah kecoklatan, suara air laut, udara segar dan semilir angin, langit yang biru, awan yang indah, kenikmatan yang tidak semua orang bisa rasakan, menjadi daya tarik tersendiri, apalagi buat teman-teman yang hobbynya taking picture. Seru jadinya.

pemandangan selama perjalanan, ga bakalan bosenkan?
bukit-bukit kecoklatan, suasana kontras yang indah
Tadaaaappppp akhirnya sampailah di pulau yang masuk dalam warisan dunia ini, yap Welcome to Komodo Island, tulisan tersebut menyambut kedatangan kami dan semua wisatawan dari berbagai belahan bumi. Sebelum berphoto dengan komodo, jangan lupa ya teman-teman ke tempat pembayaran tiket. Untuk wisatawan lokal biayanya Rp 80.000-, sudah termasuk asuransi, biaya ranger yang akan menemani sekaligus menjadi guide kita. Teman saya warga asing dikenakan biaya Rp 250.000-, kalau ini rinciannya kurang paham, kebetulan saya ga nanya-nanya 😊. Ranger kita namanya Pak Basra, orangnya ramah dan sopan.


ga pernah berencana kesini, ngikutin kaki saja :)

Welcome to Balai Taman Nasional Komodo :)

baby komodo
picture taken by Rendra 

Let’s go, kita bertamu ke rumah komodooooooo…..


untuk keselamatan dan kenyamanan, pengunjung dikasih arahan dulu sebelum memasuki hutan

Sepanjang berkeliling di kawasan tinggal komodo-komodo ini, Pak Basra bercerita banyak tentang komodo-komodo ini perkembangan pariwisata di pulau ini.

mendengarkan yang berpengalaman berbagi cerita
picture taken by Rendra
Saat kita mulai memasuki hutan, kami melihat beberapa ekor komodo yang masih bayi, namun mereka seperti ketakutan dan menghilang kembali. Banyak juga burung-burung, dan saya sempat melihat juga beberapa ekor kijang kecil dan binatang lainnya. Cukup lama saya menunggu komodo-komodo itu keluar, Pak Basra bilang karena itu belum jam makannya, jadi mereka gak keluar.

ada binatang lain juga loh selain komodo di pulau ini, kijangnya ga sempet diphoto :)

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih ½ jam, binatang yang hanya ada di Indonesia ini keluar dengan gagahnya dan banyak sekali. Badannya hampir 2 kali lipat dari badan saya dan panjang-panjang 

pura-pura berani
picture taken by Rendra
kalau liat aslinya hampir dua kali lipat ukuran badanku :)
picture taken by Rendra

Dengan menggunakan tongkat kayu yang bercabang dua, kayu cagak kalau kata orang sunda, konon katanya merupakan alat penakluk komodo-komodo ini, mereka terlihat tenang dan menurut sama ranger-ranger termasuk Pak Basra. Sempat takut dan gak mau berphoto, tapi sayang juga kalau ga ada kenang-kenangan, photo deh sama mereka.

akhirnya keluar banyak komodonya :)

friend from Canada
picture taken by Rendra
Setelah sekitar 1 jam mengelilingi hutan dan berphoto dengan komodo-komodo cantik ini, kami melanjutkan makan es kelapa milik para pedagang yang ada di Pulau Komodo. Waktu sudah hampir pukul 12 dan wow puanasssssss…….



photo dulu sebelum pulang
picture taken by Rendra

See youuuu komodo…… keberadaanmu sudah membawa nama Indonesia harum di mata dunia   

May 10, 2017

Susur Gua di Kota Labuan Bajo: Gua Batu Cermin


Destinasi berikutnya yang saya kunjungi selama di Labuan Bajo adalah Gua Batu Cermin. Lokasi tepatnya ada di Wae Kesambi, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, FLores, Nusa Tenggara Timur, sekitar ½ jam dari dari pusat kota. Saat datang, kami langsung diarahkan oleh beberapa orang guide ke pembayaran tiket. Harganya tiketnya Rp 20.000 per orang, taman wisata gua ini dikelola langsung oleh Dinas Pariwisata. Luas area wisata ini sekitar 19 hektar dengan tinggi 75 meter, cukup luas juga ya.

Welcome to Batu Cermin

Kami dipandu oleh 2 orang siswa SMK yang sedang magang di tempat itu. Dari cerita mereka, konon katanya tempat ini adalah asal muasal dari sejarah terbentuknya Kota Labuan Bajo, dimana Labuan Bajo dipercayai terbentuk dari sebuah lautan. Sejarah ini diungkapkan oleh Theodore Verhoven, seorang pastor sekaligus arkeolog Belanda yang melakukan penelitian di tempat ini pada tahun 1951.

beberapa gazeboo untuk pengunjung, dalam tahap renovasi
Sepanjang jalan kami melewati jalan yang dikelilinginya hutan kering dan pohon bambu berduri bentuk daunnya kecil-kecil, warga Labuan Bajo menyebutnya Bambu Toe. Siswa-siswa itu juga bercerita kalau pas musim hujan kadang suka banyak ular hijau. Saat kami datang hampir pukul 4.00 sore, hanya ada 6 orang termasuk kami. Jadi kami tidak perlu mengantri untuk masuk gua tersebut.

pohon bambu Toe yang masih hijau
Pintu masuknya hanya berbentuk celah sehingga kami harus masuk bergiliran. Guide akan menyediakan lampu senter untuk pengunjung karena di dalam sangat gelap. So, buat teman yang hobbynya photo harus bawa flash niy supaya photo-photonya bagus. Susur gua batu ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan jumlah pengunjung yang masuk dibatasi hanya 10 orang saja. Mungkin biar ga pengap juga kali ya teman-teman.

depan gua sebelum pintu masuk
Saat di dalam pengunjung akan menemukan beberapa fosil spesies peninggalan zaman dulu. Stalagtit dan stalagmit itu berkilauan indah saat terkena cahaya dari lampu senter kami. Kami juga melihat dinding yang katanya kalau pas terkena matahari akan berkilau kebiruan. Kami coba sorot dengan senter, ternyata memang pantulan cahayanya mengasilkan warna biru terang berkilauan. Saya juga melihat beberapa fosil yang menempel di dinding gua, sayangnya hasil photo saya tidak terlalu bagus karena gelap.
salah satu dinding gua yang berbentuk fosil-fosil

salah satu dinding gua yang berbentuk fosil-fosil
Setelah hampir ½ jam akhirnya kami keluar, dan ternyata puluhan wisatawan mancanegara sedang mengantri untuk melihat keindahan dan pesona gua ini.
So, tunggu apa lagi, pack and go to see this 😊

Air Tejun Cunca Wulang: Pesona Air Terjun di Kota Flores


Hari kedua di Labuan Bajo, sempat bingung mau kemana, seperti biasa perjalanan saya unplaned lagi, jangan diikutin ya hehehheh,,,, Hasil ngobrol sama mbah google dan tanya-tanya sama pemilik penginapan, akhirnya bersama teman yang baru saya kenal waktu ke Tambora namanya Rendra dan 2 orang teman yang saya kenal di homestay, kami memutuskan untuk keliling Kota Labuan Bajo. Kami menyewa sepeda motor dengan harga Rp 75.000 untuk seharian, biaya bensin Rp 20.000 untuk seharian. Kemana saja yuk kita disimak.

Air Terjun Cunca Wulang
Tujuan pertama kami adalah ke Air Tejun Cunca Wulang. Air terjunnya berada di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeilling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, karena letaknya berada di Desa Cunca Wulang maka diberi nama Air Terjun Cunca Wulang. Jaraknya sekitar 30 km dari pusat Kota Labuan Bajo. Menuju tempat ini teman-teman akan disuguhi pemandangan yang indah. 

Jalan menuju Air Terjun Cunca Wulang

Pukul 09.00 pagi kami berangkat, 30 menit pertama jalan yang kami lewati bagus dan mulus, kemudian melewati perkampungan dimana jalannya mulai berbentuk bebatuan bahkan tanah. Hampir 1 jam perjalanan dan akhirnya sampai juga di pos pintu masuk sekalian untuk membeli tiket. Harga tiket per orang adalah Rp 50.000 sudah termasuk guide. Bisa juga menyewa pelampung dengan harga Rp 10.000.

Selamat Datang di Air Terjun Cunca Wulang

Peta Air Terjun Cunca Wulang
Kami lanjutkan perjalanan menuju air terjun dengan menggunakan motor, tujuannya untuk menghemat waktu, namun jalannya berbentuk bebatuan besar sehingga kami agak kesulitan dan saya sempat turun dari boncengan. Tiba di pintu masuk, kami mulai melakukan trekking, jalannya licin dan hanya setapak, kami lihat bekas kaki masih cukup jelas, artinya ada orang di depan kami. Ternyata semakin lama jalannya juga turun naik dan miring, sehingga kami harus pelan-pelan dan hati-hati. Setelah 20 menit perjalanan kami mulai mendengar suara air mengalir dan perlahan semakin bergemuruh.

jalur motor sebelum memasuki hutan untuk trekking
jalur trekking di dalam hutan
picture taken by Rendra
jalannya miring-miring
picture taken by Rendra

Akhirnya saya melihat aliran sungai yang cukup luas dan akhirnya air terjunnya mulai terlihat. Bebatuannya besar-besar dan licin sehingga harus hati-hati agar tidak terpleset. Karena baru selesai hujan, jadi air terjunnya sudah tidak bening lagi, keruh.

sungai sebelum menuju ke air terjun
picture taken by Rendra
Setelah sempat berphoto-photo, Rendra dan 2 teman saya lainnya selesai mandi juga, kami memutuskan untuk segera pulang karena cuaca terlihat mendung. 
Rendra dengan gaya khasnya :)
 
pemandangan air terjun dengan ketinggian 20 meter
picture taken by Rendra

airnya keruh
picture taken by Rendra

Ternyata semakin siang semakin banyak orang yang datang ke tempat ini.
semakin siang semakin banyak yang datang
Menuju arah pulang sudah sempat gerimis dan motor kami agak sulit naik, perjuangan yang lumayan sulit saat arah pulang bahkan rantai motor guide kami putus, akhirnya saya harus jalan kaki karena motor ketiga teman sayapun tidak bisa digunakan untuk boncengan. Sampai di pos pintu masuk, hujan semakin deras, untuk pulang kami harus menunggu hujan reda dahulu.

Perjalanan yang menyenangkan, thanks Air Terjun Cunca Wulang :)

May 1, 2017

Pink Beach, Pesona Indonesia Timur

Yap, destinasi terakhir sailing trip selama di Flores adalah mengunjungi pantai dengan pasir berwarna pink. Pink Beach menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak diimpikan traveller khususnya Indonesia dan sudah menjadi destinasi wajib dikunjungi kalau kita pergi ke Flores.

Menuju pulau ini, sepanjang jalan wisatawan akan disuguhi pemandangan nan biru, laut dan langit yang sama-sama biru bersih tanpa awan seolah bersatu menambah suasana siang makin cerah dan indah. Bukit-bukit cantik yang berwarna kecoklatan, saat anda datang ke tempat ini di musim kemarau menambah pemandangan semakin indah.

beberapa kapal yang menuju ke pink beach

biru dan coklat yang alami

salah satu bukit yang kami lewati saat menuju pink beach

Lama perjalanan sekitar 45 menit dari Pulau Komodo. Saat kami tiba pengunjungnya lagi ramai sekali. Jadi airnya juga sudah keruh. Mungkin juga karena terik matahari lagi tinggi-tingginya, sehingga warna pasirnya tidak kelihatan pink. Pasirnya juga sudah tercampur dengan jejak kaki para pengunjung, indahnya sudah tidak kelihatan lagi. Dan awan lagi banyak-banyaknya jadi sedikit rusak pemandangan indahnya.

saat itu hampir semuanya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke tempat ini

nyobain main pasir pink beach, photonya blur :)
picture taken by Om Back, guide kami
Karena panas juga kami hanya snorkling sebentar. Akhirnya kami memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan pulang.

beberapa pengunjung melakukan snorkling
picture taken by Om Back, guide kami

pemandangan pantai pink beach saat awan lagi mendung
picture taken by Om Back, guide kami
just enjoyed the waterpicture taken by Om Back, guide kami

Sebelum pulang salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah manta ray point, matahari masih tinggi sehingga manta-manta yang bermunculan terkena silauan matahari. Begitu banyak manta di pulau ini bermunculan. Sayangnya baterai gopro saya habis. But I got some picture of them even unclear :)

manta ray point

Saat kami pulang hari sudah mulai sore, mentari sore sudah mulai menampakan keindahannya. Menikmati matahari terbenam diatas laut itu sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

sepanjang jalan pulang ditemani sunset

See you pink beach, see you manta ray point.