March 30, 2017

Gunung Tambora, Gunung dengan Sejuta Pesona (Part Terakhir)

Hari ke-6
Pukul 06.55 tanpa sarapan karena kehabisan air kami melanjutkan perjalanan ke pos 3 ternyata tidak jauh hanya sekitar 20 menit dengan jalanan yang mulai datar namun memang dipenuhi dengan pohon-pohon dan rumput-rumput yang tinggi. Kami lanjutkan menuju pos 2. Jalur menuju pos 2 ini sudah mulai sedikit terang, pohon sudah tidak terlalu tinggi, tetapi rumputnya masih cukup tinggi dan agak sedikit licin, banyak pohon yang tumbang dan sudah berlumut, sehingga kami harus berhati-hati untuk melangkah. Dengan semangat kami lanjutkan menuju pos 1.
jalur menuju pos 2, masih banyak turunannya
Pukul 12.00 kami berhenti untuk beristirahat diantara pos 2 dan pos 1, karena lokasinya mendekati sumber mata air. Di tempat ini kami memasak sebagai pengganti sarapan dan sekaligus makan siang.

wefie sebelum melanjutkan perjalanan, muka-muka kenyang :)
Pukul 13.00  cuaca mulai mendung dan sedikit gerimis. Perjalanan menuju pos ini, kami berjalan beriringan untuk menghindari tersesat, karena jalur tidak cukup jelas. Kami sempat kesasar, karena tanda-tanda pendakian yang digunakan sebelumnya sudah hilang, mungkin karena terlalu lama tidak dilewati, saat kesasar kami sempat beristirahat, menunggu kabar dari guide dan porter yang mencari jalur. 
sudah mau sampai
Sekembalinya mereka, kami melanjutkan perjalanan ternyata jalurnya masih belum jelas, karena sudah ditumbuhi rerumputan yang lebat. Sampai akhirnya kami mendengar suara mesin penebang pohon. Wajah lelah teman-teman berubah sumringah, kami berharap jalur ke desa sudah mulai dekat. Namun sayangnya kami salah jalur lagi. Sampai akhirnya kami menemukan pohon-pohon bekas tebangan, dan suara mesin-mesin penebang pohon.

Perlahan tapi pasti, senyum kami mulai mengembang, rasa lelah itu perlahan hilang tersapu senyum dan harapan bahwa kami akan segera sampai ke kendaraan yang akan menjemput kami. Suara mesin penebang pohon semakin jelas. Akhirnya kami sampai di jalan setapak yang berbentuk tanah, pasir kadang bebatuan. Namun teryata mobil penjemput kami tidak bisa naik ke pos 1, karena memang jalurnya licin.
pos terakhir niat hati sudah senang dijempu mobil, ternyata masih harus jalan kurang lebih 2 km lagi

Terpaksa dengan gontai kami masih harus berjalan sekitar 2 km untuk menuju mobil yang menjemput kami. Jalannya lebar dan sedikit berpasir. Terkadang tanah-tanah licin atau justru tanah kering berdebu. Akhirnya kami sampai pukul 17.15 di ketinggian 400 mdpl. Dari kejauhan kami melihat mobil truk yang hendak menjemput, saya berlari-lari kecil girang agar segera sampai di mobil yang sudah menanti kami.
kasihan banget sepatunya, perjalannanya padahal masih 2 km lagi :(
Wajah-wajah lelah itu perlahan mengembangkan senyumnya, kami menaiki truk itu dengan semangat. Mobil usang itu membawa kami dengan penuh kebahagiaan. Melepas penat kami yang berhari-hari harus melintasi hutan-hutan lebat.

sepanjang jalan dari pos terakhir banyak nemu ini, tumbuh liar dipetikin sama bapak porternya :)
Kami harus berpisah dengan Pak Jhon dan Pak Pote, orang yang menjaga dan membantu kami selama perjalanan. Keduanya sangat baik. Malam itu juga kami harus ke Bima, karena esok hari beberapa dari kami pulang ke kotanya masing-masing. Terima kasih Pak Jhon dan Pak Pote terima kasih untuk kebaikannya. See you Tambora, pesonamu takan usang oleh waktu.
muka-muka sumringah setelah jalan berhari-hari, padahal truknya sudah bolong-bolong yang penting senang :)

Kami diajak singgah di Pos Pengamatan Gunung Api Tambora. Setelah bersih-bersih, kami mengobrol dengan petugas yang berasal dari Bandung, yang sedang ditugaskan dari Kementerian ESDM untuk memonitoring kondisi Gunung Tambora.
rumah singgah milik Badan Geologi, abaikan kulit yang menghitam :)
Cara Tuhan memang selalu indah mempertemukan kami dalam minat yang sama dan sampai sekarang masih terjaga silaturahminya. Thanks ya buat teman-teman Sawi, Ichung, Lidia, Mba San, Pak De Agus, Pak Toto, Rendra, Ayu dan Zuzu. Om Mawardi semoga lain kali kita pergi bareng ya Om, see you next trip ya guys in Cartenz….……….

Notes :
1.    Selalu cek harga tiket pesawat untuk mendapatkan tiket lebih murah
2. Jalur yang kami lewati lintas jalur, berangkat dari Desa Pancasila dan turun lewat Doropeti sehingga membutuhkan waktu lebih lama.
3.  Perjalanan kami lakukan dengan sangat santai, jadi waktu yang kami gunakan lebih lama, selain itu ada satu hari di mana kami berkeliling Pulau Satonda, mungkin teman-teman bisa skip jika tidak punya waktu banyak.
4. Kebutuhan logistik, gas, parafin bisa dibeli di rumah Pak Saiful, atau sebelumnya bisa kontak beliau untuk pemesanan.
5. Porter dan Guide sesuai dengan kebutuhan, karena kami lintas jalur lebih aman untuk menyewa Guide dan Porter.
rute 1 menuju Desa Pancasila jika sewa mobil, lebih hemat waktu, bisa shared cost

rute 2 jika ingin menggunakan kendaraan umum

Bagi teman-teman yang butuh rincian budgetnya bisa kontak langsung.
Nah, semoga bermanfaat ya teman. Happy travelling. See you next mountain .......

March 20, 2017

Gunung Tambora, Gunung dengan Sejuta Pesona (Part 3)

Hari ke-5
Pukul 7.30 kami mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak. Pukul 8.30 kami sampai di pertigaan menuju Doropeti. Sebagai informasi perjalanan kami lintas jalur, naik dari Pancasila dan turun lewat Doropeti. Di pertigaan itu kami menyimpan barang-barang kami agar tidak terlalu berat saat menuju puncak.
semangat Pak De Agus dan Mba San, yang lain udah sampai, saya masih di belakang loh .....
Kurang lebih 15 menit dari pertigaan itu untuk menuju puncak. Beruntung matahari sangat cerah saat kami tiba di puncak. Setelah puas mengabadikan moment-moment indah dengan berphoto, kami melanjutkan perjalananan untuk turun ke Pos 4 lintas jalur ke Doropeti.
who wanna be here?
photo taken by Rendra
at the end we are in a frame, the power of tripod "family picture"

having more time being alone make you a greater and happier person
picture taken by Sawi
Sepanjang perjalanan menuju Pos 4 jalur Doropeti kami melewati kaldera yang selama ini menjadi perbincangan banyak orang di dunia, akhirnya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kawah seluas 8 km ini, mempunyai daya tarik tersendiri. Kalau Bromo punya lautan pasir berbisik, Tambora punya lautan pasir bergolak. Kenapa karena sepanjang kami melewati kaldera ini, kami selalu mendengar getaran dan letusan dari kawah kaldera yang masih aktif. 
saatnya turun dari puncak karena matahari semakin menyengat
picture taken by Rendra
Kami mencoba melihat kawah dari bibir tebing namun beberapa kali kami merasakan getaran yang cukup dahsyat, sampai akhirnya guide kami meminta untuk meninggalkan bibir kawah demi keselamatan kami. Berencana untuk turun ke kawah nampaknya memang harus diurungkan melihat kondisinya seperti ini. 


akhirnya bisa berdiri di pinggir kaldera terluas di dunia
picture take by Ichung
Udara semakin panas membawa saya mempercepat langkah untuk segera meninggalkan lautan pasir nan eksotis ini yang terhampar karena sebuah ledakan.
beautiful sky and sand...
Setelah melewati hamparan pasir ini, kami harus melewati tebing-tebing curam dan beralaskan bebatuan yang masih cukup runcing, bentuk jalanannya miring sehingga kami harus hati-hati dalam melangkah. Dari kejauhan saya melihat sebuah lembah yang sangat luas berupa bebatuan dan dihiasi  pohon-pohon kecil.

berbagi pohon ya.... karena puunnya cuma satu :)

Kemudian diikuti jalanan menurun, menanjak, menurun lagi, menanjak lagi dan hanya melihat satu pohon besar di atas sana. “ayo Mba sebentar lagi kita sampai di pohon itu, ada air di sana” tukas porternya. “berapa lama Pak ke sana” sambungku. “paling 30 menit kita sampai”. “berarti tiga jam” gumamku dalam hati. Ternyata kami harus melewati lembah itu untuk sampai ke Pos 4.
no need caption
picture taken by Rendra
Ternyata betul lebih dari satu jam saya berjalan, masih gak sampai-sampai  “Bapak php niy” gurauku pada Pak Pote sesosok laki-laki tangguh yang murah senyum dan penuh kesederhanaan ini. Beliau hanya tersenyum.

miring-miring jalannya, tapi seru
photo taken by Rendra
Matahari yang mulai menyengat tidak membuat kami untuk mempercepat langkah kami, karena jalanan cukup curam.
jalan menuju pos 4 jalur Doropeti, puun cemaranya ga keliatan-keliatan :)
picture taken by Rendra
jalanannya naik turun gak sampai-sampai
Ternyata betul dugaanku, hampir tiga jam kami baru sampai di bawah pohon cemara ini. Kami memberi nama tempat ini Pos Cemoro 1. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kurang lebih dua puluh menit, kami sampai di Cemoro 2. 
semangat Sawi, Pos Cemoronya dikit lagi :)
Di Pos Cemoro 2 ini tersedia sumber mata air, kurang lebih satu jam bolak-balik dari tempat ini. Disini kami beristirahat cukup lama dan memasak untuk makan siang. Di pos yang berada di ketinggian ini, kami dapat melihat lembah yang tadi kami lewati begitu panjang, sejauh mata memandang.
blue, green and yellow created by God
Tebing-tebingnya menjulang tinggi. ditambah desiran angin yang meniup pohon-pohon cemara itu, membuat suasana terasa damai.

di bawah Pos Cemoro 1 kita dapat mneikmati hamparan gunung, lembah dan tebing, kabut, langit biru :)
picture taken by Sawi
Pukul 16.00 kamu lanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Dari sini kami mulai memasuki hutan lebat yang sudah cukup lama tidak dijamah oleh manusia, guidenya bilang hampir dua tahun tidak pernah ada yang melewati jalur ini. Kami seperti team ekspedisi pembuka jalur jadinya.

jalur menuju pos 3 via doropeti
Rumput-rumput tumbuh sangat tinggi dan tidak ada celah untuk kami bisa melewatinya. Selain itu juga kami harus melewati jalanan yang cukup curam. Kami menamakan turunan menuju Pos 3 ini sebagai turunan Kesedihan. 

menuju pos 3 melewati pohon-pohon kering yang membuat pemandangan makin indah
photo taken by Rendra
akhirnya empat tahun menemani, tumbang juga sampai diikat tali rapia :)
jalur sempit antara pos 3 dan 2
Kurang lebih 1 ½ jam kami tiba di hutan yang penuh dengan pohon pinus. Hari mulai gelap, kami memutuskan perjalanan ke pos 3 akan dilanjutkan besok dan kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat ini, meskipun camp area-nya sangat sempit, tapi untungnya cukup untuk tenda kami. 

Lanjut ke part 4 terakhir ya

March 10, 2017

Gunung Tambora, Gunung dengan Sejuta Pesona (Part 2)

Hari ke-3
Setelah packing, sarapan dan check semua kebutuhan, pukul 07.50 kami berangkat dari Desa Pancasila. Untuk menghemat waktu kami berangkat menggunakan motor menuju pintu rimba dengan membayar Rp 50.000 per orang, teman-teman juga bisa membayar Rp 75.000 sampai ke pintu pertengahan dan Rp 100.000 sampai ke Pos 1. Jalanannya sangat licin karena turun hujan beberapa hari sebelumnya. Selain itu jalanannya offroad, karena saya takut jatuh saya memilih untuk berjalan kaki melewati beberapa spot jalanan licin, berlubang dan miring. Dua puluh menit kemudian kami sampai di Pintu Rimba.


berphoto sebelum berangkat ke Pos Rimba
pintu masuk Gunung Tambora via Desa Pancasila
Dari Pintu Rimba sekitar pukul 08.30 kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 1 yang mempunyai ketinggian 1.050 mdpl. Kami berjalan dengan cukup santai, dan kami tiba di Pos 1 pukul 11.45. Di pos ini kami sempat berhenti untuk makan dan sholat.
wefie dulu di Pintu Rimba sambil menunggu yang lain
Lidia dan Juju, wanita super ini sedang menuju Pos 1
Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2, masih sama kami berjalan dengan santai namun tanpa berhenti, kami tiba pukul 14.50. Di pos ini kami istirahat cukup lama untuk menunggu teman-teman yang masih di belakang. Di Pos 2 dengan ketinggian 1.290 mdpl ini kita bisa menemukan aliran air sungai dan sumber mata air yang dapat diminum.

Pukul 15.10 kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Pos 3. Hari mulai gelap, saya hampir kesasar karena ada beberapa jalan yang terlihat sama. Sempat memanggil-manggil nama teman yang paling depan, tapi tidak ada jawaban artinya jarak kami sudah cukup jauh. Seperti biasa saat ada yang aneh feeling saya langsung nge-warningniy kaki kayaknya gak mau diajak ke arah sana. Akhirnya putar arah. Beruntunglah kami mengambil jalur yang tepat. Singkat cerita kami sampai di Pos 3 lebih dari pukul 19.00. 
Mba Santi lagi rapi-rapi tenda, pagi hari di Pos 3, siap-siap menuju Pos 4

Di Pos 3 kelompok paling depan sudah mendirikan tenda dan memasak makanan untuk kami, asiiiikkk. Setelah makan dan rapi-rapi kami siap-siap tidur.
wefie dulu sebelum ke Pos 4
Hari ke-4
Setelah berkemas dan sarapan, pukul 08.50 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Di jalur menuju Pos 4 ini banyak tumbuhan Jelantang, kalau kesentuh meskipun pakai sarung tangan efek sakitnya terasa panas dan lama bisa berjam-jam seperti ditusuk jarum, jadi mesti hati-hati.
tumbuhan Jelantang, tersentuh meskipun pakai sarung tangan efeknya panas berjam-jam
Kami berhenti bisa sampai 30 menit dan sempat tidur untuk beberapa saat dalam perjalanan, benar-benar santai. Karena ada teman juga yang kakinya cedera. Sampai di Pos 4 pukul 11.00. 


jalur menuju pos 5, padang rumput yang masih menghijau
Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan menuju camp area di atas perbukitan. Pemandangan yang sangat indah berbentuk lembah berupa pasir-pasir dan dikelilingi oleh tumbuhan hijau, tebing-tebing yang menghitam, rumput-rumput kering, sungguh indahnya bumi kelahiranku. 
Kelokan .......
photo taken by Rendra
Kami tiba di camp area pukul 18.00. Matahari tenggelam masih indah menghiasi tenda-tenda kami. Menyemburkan warna kuning keemasannya yang membuat kami tenggelam dalam pesonanya. Area ini berbentuk dataran yang dihiasi dengan hamparan pasir dan beberapa batuan hitam.
jalannya ..........
it was so much fun.... see you onother day blue ......
blue and yellow or green... whatever it is, I love it because created by God

Selain itu sepanjang perjalanan kami ditemani 
sunset yang sangat indah. 
salah satu flora di Gunung Tambora
Dari kejauhan kami melihat beberapa tenda sudah berdiri. Itu tandanya teman kami sudah sampai di sana. Karena saat itu hanya kami yang melakukan perjalanan ini.
sunrise sebelum camp area Pos 5
photo taken by 
Rendra
Kami tiba pukul 18.00 WITA. Perjalanan lama karena kami sering berhenti untuk mengambil photo.
hai awan titip rinduku untuknya :)
Saat badai di malam hari kami hanya dapat berlindung di dalam tenda. Sehingga dingin udara terasa begitu menusuk tubuh. Di malam hari kita bisa menikmati langit indah bertabur bintang dan bagi yang hobby photo disini surganya milkyway. Sayangnya saya sudah tidak sanggup keluar tenda untuk menikmati keindahan itu karena udara sangat dingin.

Puncaknya di Part 3 ya .....

March 1, 2017

Gunung Tambora, Gunung dengan Sejuta Pesona (Part 1)

Siapa yang tidak ingin menginjakan kakinya di Gunung Tambora, gunung yang mendunia dengan sejuta pesonanya. Sebelum terjadinya ledakan pada 1815 Gunung Tambora termasuk dalam gunung tertinggi kedua dalam Seven Summit Indonesia. Ledakan setinggi 43 km itu mengikis ketinggiannya dari dari 4.200 mdpl menjadi 2.700 mdpl dan asapnya menyebar hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Ledakan itu menciptakan kaldera sedalam 1.1 km yang berdiameter 6.2 km.


Puncak Gunung Tambora
photo taken by anonimous

Bertepatan dengan 200 tahun pasca ledakan, 11  April 2015, pemerintah meresmikan Gunung Tambora sebagai salah satu kawasan Taman Nasional di Indonesia dan menjadikan event Festival Pesona Tambora sebagai event tahunan yang diresmikan oleh Kementerian Pariwisata. 

Pesona kalderanya menjadikan gunung ini sebagai salah satu bucket list  gunung bagi pecinta gunung. Termasuk saya, namun agak kesulitan mencari teman seperjalanan. Sampai akhirnya saya tanya ke Om Mawardi, salah satu senior urusan gunung, ternyata Om Maw berencana kesana, akhirnya terkumpul sebelas orang. Koordinasi hanya lewat group WA, kami tidak saling mengenal.

Singkat cerita ticket booked, kami berangkat bulan Oktober 2016. Meeting point di bandara Lombok dan sebagian di Desa Pancasila. Ada yang berangkat dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Bekasi, Bangka Belitung, Bogor, Depok dan Balikpapan. Namun sayangnya Om Maw justru sebagai koordinator gak bisa ikut, karena ada pekerjaan.


Selamat Datang di Bandar Udara Sultan M. Salahuddin Bima

Hari ke-1
Saya berangkat dari jakarta menuju Lombok menggunakan pesawat Batik Air penerbangan pertama pukul 08.50 WIB, dilanjutkan ke Bandara Sultan Muhammad Salahudin menggunakan pesawat kecil Wings Air dengan penerbangan terakhir pukul 15.40. Bima menjadi meeting point untuk beberapa orang dari kami. Pak Agus, Pak Toto, Mba Santi, Sawi, Lidia dan saya naik di pesawat yang sama, tetapi karena kami belum saling kenal, baru bertemu setelah landing pukul 17.00. Di bandara Bima kami berpisah dengan Pak Agus karena harus bertemu dengan sahabat lamanya dan sekalian menunggu teman kami yang empat orang lagi yang baru akan tiba besok pagi.

Sewa Mobil menuju Desa Pancasila
Pukul 17.15, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Pancasila dengan menyewa mobil. Perjalanan kami melewati Desa Doropeti, salah satu pintu pendakian ke Gunung Tambora. Kalau siang kami bisa melihat pemandangan indah padang rumput sabana yang menguning indah, karena saat itu sedang musim kemarau.


Halaman depan rumah Pak Saiful di pagi hari

Pak Man, nama Driver kami hobby-nya memang balapan kayaknya, gaspol beneran deh. Just believe to him we will be safe and finally we  arrived on 9.45 pm at Pancasila village, 3 hours earlier than scheduled. Thanks to my Allah.

Kami langsung diantar ke rumah milik Pak Saiful. Semua pendaki yang melewati jalur Desa Pancasila akan menginap di tempat beliau. Kami dipersilakan istirahat sejenak dirumahnya, sambil berkenalan dan mengobrol, kami disuguhi teh hangat dan pisang goreng, cukup membantu sejenak melepaskan lelah dan lapar kami.

Homestay di Desa Pancasila
Akhirnya Pak Saiful mempersilakan kami untuk beristirahat di homestay yang akan kami tempati tepat disebelah rumahnya. Homestay yang berjumlah tujuh kamar ini terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Harga/malamnya Rp 100.000,00 dan dapat dihuni oleh 4-6 orang dengan dua kamar mandi di luar.


Homestay milik Pak Saiful di Desa Pancasila

Logistik dan perlengkapan memasak
Pak Saiful juga membuka warung yang menyediakan logistik, gas, parafin dan makanan untuk sarapan, makan siang dan makan malam dengan harga antara Rp 15.000 – Rp 20.000. Juga menjual madu asli dengan harga Rp 150.000,00 per botol ukuran 600 ml. Ada juga kaos Gunung Tambora harganya Rp 100.000,00 kainnya bagus halus dan adem. Untuk sayuran pagi-pagi di depan rumah Pak Saiful ada yang berjualan sayuran, ikan dan lainnya.


Sarapan pagi di rumah Pak Saiful



My partner in crime, minus Zuzu

Hari Ke-2

Note :
Cerita selanjutnya di Part 2