Skip to main content

Gunung Tambora, Gunung dengan Sejuta Pesona (Part 2)

Hari ke-3
Setelah packing, sarapan dan check semua kebutuhan, pukul 07.50 kami berangkat dari Desa Pancasila. Untuk menghemat waktu kami berangkat menggunakan motor menuju pintu rimba dengan membayar Rp 50.000 per orang, teman-teman juga bisa membayar Rp 75.000 sampai ke pintu pertengahan dan Rp 100.000 sampai ke Pos 1. Jalanannya sangat licin karena turun hujan beberapa hari sebelumnya. Selain itu jalanannya offroad, karena saya takut jatuh saya memilih untuk berjalan kaki melewati beberapa spot jalanan licin, berlubang dan miring. Dua puluh menit kemudian kami sampai di Pintu Rimba.


berphoto sebelum berangkat ke Pos Rimba
pintu masuk Gunung Tambora via Desa Pancasila
Dari Pintu Rimba sekitar pukul 08.30 kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 1 yang mempunyai ketinggian 1.050 mdpl. Kami berjalan dengan cukup santai, dan kami tiba di Pos 1 pukul 11.45. Di pos ini kami sempat berhenti untuk makan dan sholat.
wefie dulu di Pintu Rimba sambil menunggu yang lain
Lidia dan Juju, wanita super ini sedang menuju Pos 1
Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2, masih sama kami berjalan dengan santai namun tanpa berhenti, kami tiba pukul 14.50. Di pos ini kami istirahat cukup lama untuk menunggu teman-teman yang masih di belakang. Di Pos 2 dengan ketinggian 1.290 mdpl ini kita bisa menemukan aliran air sungai dan sumber mata air yang dapat diminum.

Pukul 15.10 kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Pos 3. Hari mulai gelap, saya hampir kesasar karena ada beberapa jalan yang terlihat sama. Sempat memanggil-manggil nama teman yang paling depan, tapi tidak ada jawaban artinya jarak kami sudah cukup jauh. Seperti biasa saat ada yang aneh feeling saya langsung nge-warningniy kaki kayaknya gak mau diajak ke arah sana. Akhirnya putar arah. Beruntunglah kami mengambil jalur yang tepat. Singkat cerita kami sampai di Pos 3 lebih dari pukul 19.00. 
Mba Santi lagi rapi-rapi tenda, pagi hari di Pos 3, siap-siap menuju Pos 4

Di Pos 3 kelompok paling depan sudah mendirikan tenda dan memasak makanan untuk kami, asiiiikkk. Setelah makan dan rapi-rapi kami siap-siap tidur.
wefie dulu sebelum ke Pos 4
Hari ke-4
Setelah berkemas dan sarapan, pukul 08.50 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Di jalur menuju Pos 4 ini banyak tumbuhan Jelantang, kalau kesentuh meskipun pakai sarung tangan efek sakitnya terasa panas dan lama bisa berjam-jam seperti ditusuk jarum, jadi mesti hati-hati.
tumbuhan Jelantang, tersentuh meskipun pakai sarung tangan efeknya panas berjam-jam
Kami berhenti bisa sampai 30 menit dan sempat tidur untuk beberapa saat dalam perjalanan, benar-benar santai. Karena ada teman juga yang kakinya cedera. Sampai di Pos 4 pukul 11.00. 


jalur menuju pos 5, padang rumput yang masih menghijau
Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan menuju camp area di atas perbukitan. Pemandangan yang sangat indah berbentuk lembah berupa pasir-pasir dan dikelilingi oleh tumbuhan hijau, tebing-tebing yang menghitam, rumput-rumput kering, sungguh indahnya bumi kelahiranku. 
Kelokan .......
photo taken by Rendra
Kami tiba di camp area pukul 18.00. Matahari tenggelam masih indah menghiasi tenda-tenda kami. Menyemburkan warna kuning keemasannya yang membuat kami tenggelam dalam pesonanya. Area ini berbentuk dataran yang dihiasi dengan hamparan pasir dan beberapa batuan hitam.
jalannya ..........
it was so much fun.... see you onother day blue ......
blue and yellow or green... whatever it is, I love it because created by God

Selain itu sepanjang perjalanan kami ditemani 
sunset yang sangat indah. 
salah satu flora di Gunung Tambora
Dari kejauhan kami melihat beberapa tenda sudah berdiri. Itu tandanya teman kami sudah sampai di sana. Karena saat itu hanya kami yang melakukan perjalanan ini.
sunrise sebelum camp area Pos 5
photo taken by 
Rendra
Kami tiba pukul 18.00 WITA. Perjalanan lama karena kami sering berhenti untuk mengambil photo.
hai awan titip rinduku untuknya :)
Saat badai di malam hari kami hanya dapat berlindung di dalam tenda. Sehingga dingin udara terasa begitu menusuk tubuh. Di malam hari kita bisa menikmati langit indah bertabur bintang dan bagi yang hobby photo disini surganya milkyway. Sayangnya saya sudah tidak sanggup keluar tenda untuk menikmati keindahan itu karena udara sangat dingin.

Puncaknya di Part 3 ya .....

Comments

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …

Gereja Ayam dan Bukit Rhema, Gereja di Tengah Hutan

Dari Puthuk Setumbu, kami lanjutkan ke Gereja Ayam dan Bukit Rhema yang jaraknya tidak jauh masih dalam kawasan Bukit Menoreh, trekking sekitar 15-20 menit. Kondisi jalan saat itu sedikit basah, sepanjang jalan dikelilingi oleh hutan terbuka. Lokasi tepatnya berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah.



Destinasi ini juga menjadi salah satu tempat syuting film AADC, sehingga kemudian menjadi destinasi populer. Gereja Ayam ini terletak di Bukit Rema Borobudur, Gereja ini merupakan sebuah rumah doa, pada tahun 2000 sempat di tutup karena ditolak oleh warga namun ada juga yang bilang kalau biaya pembangunannya terlalu mahal. Namun kemudian pada tahun 2014 dibuka kembali namun beralih fungsi menjadi tempat wisata.

Dengan membayar Rp 10.000 per orang, wisatawan bisa masuk dan berkeliling gereja ini. Gereja Ayam ini sebenarnya bangunan yang diatasnya dibangun dengan desain awalnya adalah seekor merpati namun banyak orang menganggapnya sebagai seekor ayam. Sehingga terke…