June 15, 2017

Negeri Dongeng Itu Bernama Kampung Adat Wae Rebo

Yap dimulai dari Labuan Bajo, tujuan perjalanan saya kali ini adalah Kampung Adat Wae Rebo, orang biasa memanggilnya Wae Rebo, sebuah kampung tradisional terpencil yang terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmase, Barat Daya Kota Ruteng dengan Ibukotanya Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini dikelilingi oleh pegunungan dan hutan tropis lebat, berada di sekitar lereng Gunung Ranaka dan bersebelahan langsung dengan Taman Nasional Komodo. 

Harga sewa kendaraan dari Labuan Bajo ke Wae Rebo 
Informasi dari pemilik penginapan di Labuan Bajo, harga yang ditawarkan untuk menuju kampung ini berkisar 2,5 juta – 3 juta per mobil, tergantung jenis mobil yang akan disewa. Kalau sistem sharedcost semakin banyak orang semakin murah. Saya bersama tiga teman yang bertemu di Labuan Bajo mencoba menawar harga sampai akhirnya mendapatkan kesepakatan harga 2.1 juta sudah termasuk bensin dan driver. Malamnya kami langsung berkemas karena berencana untuk berangkat pagi-pagi. Saya juga bertemu dengan yang menyewa sepeda motor dari Labuan Bajo, dengan  harga Rp 75.000/motor. Bensin sekitar Rp 100.000 pp dan lama perjalanan sekitar 7-8 jam. Lebih hemat tetapi kondisi jalan membuat badan lebih lelah dibandingkan dengan menggunakan mobil.

Akses dan lama perjalanan 
Akses menuju kampung adat ini dapat dilalui jalur darat dan laut. Waktu itu saya menggunakan jalur darat, kalau teman-teman berniat menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan moda transportasi berupa truk atau disana disebut dengan istilah oto kayu atau oto kol dengan kerangka atas dan alas duduknya terbuat dari rakitan kayu. Truk ini hanya ada dua buah dan berangkat dari Kota Ruteng ke Desa Denge pada sore hari dan kembali dari Desa Denge pagi hari, berangkat dari terminal bus Mena di Kota Ruteng yang melewati rute Desa Cancar, Pela, Todo, Dintor, dan Desa Denge yaitu desa terakhir yang dapat dilalui kendaraan sebelum trekking ke Kampung Adat Wae Rebo. Waktu tempuh dari terminal bus Mena ke Desa Denge sekitar 4 – 5 jam. Jaraknya ± 80 km dari pusat kota Ruteng.
Oto Kayu atau Oto Kol berupa kendaraan umum menuju Kampung Adat Wae Rebo

Atau teman-teman dari Labuan Bajo, bisa menyewa kendaraan roda empat, bus travel, ataupun roda dua yang langsung ke Desa Denge atau hanya sampai Ruteng terus dilanjutkan dengan truk tadi. Perjalanan dari Labuan Bajo sampai ke Desa Denge kurang lebih ditempuh 8 – 10 jam tergantung kendaraan yang digunakan dan kecepatannya. Kalau ada yang hendak menggunakan jalur laut dengan menggunakan perahu, berangkat dari Labuan Bajo menuju Nangalili dilanjutkan ke Desa Dintor sekitar 3 jam. Dari Dintor dilanjut lagi ke Desa Denge dengan menggunakan ojek atau menunggu truk. 

Wae Rebo I am coming
Pukul 08.00 WITA kami berangkat dari Labuan Bajo. Rute yang kami lewati adalah Ruteng. Sepanjang jalan kami disuguhi hamparan sawah yang menghijau indah, melewati pantai yang membentang luas, udara segar yang tidak pernah saya rasakan di ibukota. Tiga jam pertama, jalanan menuju Desa Ruteng masih beraspal. Dari Ruteng, perjalanan mulai sedikit sulit, jalanan mulai rusak dan sempit hanya cukup satu mobil, kanan kiri banyak berupa jurang, sehingga jika ada kendaraan dari arus berlawanan harus bergantian. Ditambah lagi beberapa spot berupa bebatuan yang membentuk tanjakan dan turunan, membuat mobil yang kami tumpangi sempat tidak bisa naik, karena batu-batunya terlalu besar, sehingga kami harus mendorong mobil tersebut. 
salah satu kondisi jalan yang penuh dengan bebatuan

Setelah tujuh jam perjalanan, tepatnya pukul 15.00 WITA kami sampai di Denge, desa terakhir sebelum menuju ke Wae Rebo. Driver sempat berhenti di sebuah rumah warga untuk mencarikan guide lokal untuk kami. Karena kampung ini sudah menerapkan sistem pariwisata berbasis komunitas (Community Based Tourism – CBT), wisatawan yang berkunjung ke tempat ini diwajibkan menggunakan guide sebagai bentuk dari pemberdayaan masyarakat dengan harga Rp 100.000,00 per group, maksimal lima orang. 

Dari Desa Denge, kami mulai melakukan trekking menuju Kampung Adat Wae Rebo, membutuhkan waktu 1 – 3 jam tergantung kecepatan kaki dengan jaraknya kurang lebih 9 km dengan kondisi jalan banyak menanjak dan hanya jalan setapak berbentuk tanah basah kalau musim hujan banyak lintah, info dari guide yang mengantar kami. Selain itu beberapa jalan juga berbentuk tangga-tangga terbuat dari bebatuan. Untuk menuju Wae Rebo, saya dan teman-teman harus melewati beberapa pos, mulai dari pos 1 yang disebut Wae Lomba dekat dengan Desa Denge, kemudian menuju pos 2 Poco Roko, dimana hasil dari PNPM di pos ini dibangun pagar pengaman di sisi tebing untuk keamanan karena jalan ini rawan dengan longsor. Menuju pos 3 yang yaitu jalur paling sulit, kami melewati jembatan gantung yang rawan putus sehingga harus berjalan secara bergiliran. Setelah melewati jembatan ini, kami disuguhi perkebunan kopi milik warga yang merupakan salah satu komoditi penghasilan mereka. 

Setelah melewati perkebunan kopi, kami menemukan pos 3 atau yang disebut dengan pos Ponto Nao atau disebut juga dengan nama pos Rumah Kasih Ibu, semua tamu akan berhenti di tempai ini sebelum memasuki Kampung Adat Waerebo. Di pos ini ada beberapa peraturan yang dipasang mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pengunjung selama bertamu di Kampung Adat Wae Rebo dan guidenya juga menjelaskan soal pelaturan ini. Bangunannya dibentuk seperti saung panggung dengan kedua atapnya berbentuk kerucut.
Peraturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berkunjung di Kampng Adat Wae Rebo

Pos 3 (Ponto Nao) atau disebut juga Rumah kasih Ibu
Pos sebelum masuk ke Kampung Adat Wae Rebo

Dari pos ini yang terletak lebih atas dari Kampung Wae Rebo, kami sudah mulai bisa melihat bentuk rumah Kampung Adat Wae Rebo. Di tempat ini terdapat sebuah kentongan yang berbentuk unik memanjang. Tamu yang berkunjung harus memukul kentongan tersebut dengan cara atau aturan yang sudah ada, dengan memukulnya sebagai penanda bahwa ada tamu yang hadir untuk berkunjung, suaranya akan terdengar sampai ke Kampung Adat Wae Rebo yang terletak di bawah pos ini. Jika mendengar suara kentongan tersebut, warga Kampung Adat Wae Rebo akan mempersiapkan upacara penerimaan tamu. Aturan bertamu ke kampung ini tidak lebih dari pukul 17.00 WITA karena upacara penerimaan tamu tidak boleh dilakukan di malam hari.
suasana pagi hari di Kampung Adat Wae Rebo
Karena di depan kami ada beberapa kelompok, sehingga kami harus antri untuk dapat masuk ke kampung adat ini. Tiba giliran kami untuk turun ke Kampung Adat Wae Rebo, setelah kami tiba di gapura masuk, guide langsung membawa kami untuk masuk ke rumah utama untuk diadakan ritual penyambutan tamu. Ritual penyambutan tamu ini dilakukan langsung oleh kepala adat Kampung Adat Wae Rebo, Bapak Alex Ngadus. Saat ritual ini semua tamu akan berbagi rezeki dengan Kepala Adat, tidak ada patokan harus berapa rupiah namun seikhlasnya sebagai tanda terima kasih tamu telah diterima di kampung yang penuh dengan kedamaian ini. Ritual selesai, artinya kami juga sudah resmi dianggap sebagai warga Kampung Adat Wae Rebo. Kemudian kami mulai berkeliling untuk melihat-lihat tempat ini. Keindahan ini seperti sebuah dongeng. Rumah kokoh yang jumlahnya hanya tujuh rumah ini berdiri dikelilingi pegunungan, persis seperti di sebuah lembah.
setelah upacara penerimaan tamu bersama kepala suku adat Wae Rebo, Bapak Alex Ngadus

Hari mulai gelap, guide kami mulai mengarahkan kami untuk masuk dan berkumpul dengan pengunjung lain ke dalam rumah panggung yang unik ini. Kami disuguhi welcome drink berupa kopi khas Wae Rebo sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Setelah itu dilanjutkan makan malam berupa nasi goreng dengan sambal khas Wae Rebo. Pengunjung yang tidak menginap dikenakan biaya Rp 100.000 dan mendapatkan makan 1x, nah bagi yang menginap di tempat ini dikenakan biaya Rp 325.000,00 per orang sudah dapat makan malam dan sarapan. Selain itu jangan kawatir juga, warga kampung ini sudah menyediakan kasur dan selimut dan bantal untuk teman-teman. Karena pengunjung setiap tahunnya bertambah, maka diputuskan untuk menambah dua rumah yang khusus untuk menampung tamu-tamu yang datang ke tempat ini. Bentuk dalamnya sedikit berbeda, berupa area terbuka seperti barak. Selain wisatawan domestik ada juga beberapa wisatawan mancanegara yang berkunjung ke tempat ini.
tempat tidur yang disediakan untuk tamu yang berkunjung ke Wae Rebo
ada bantal, selimut hangat, kasur


Selain menikmati rumah adat ini, ada beberapa objek wisata yang dapat dinikmati oleh kami di kampung ini, ada objek wisata alam dan budaya. Untuk objek wisata alamnya ada juga (1) Satwa. Wae Rebo dikelilingi oleh hutan lebat dan tinggi sehingga masih banyak binatang-binatang seperti monyet, musang, babi hutan, dan berbagai jenis burung. Salah satu atraksi wisata yang dikembangkan di Wae Rebo adalah bird watching yaitu mengamati burung-burung yang hidup di kawasan Wae Rebo. (2) Air Terjun Cunca Neweng, kurang lebih sekitar empat puluh lima menit dari kampung ini yang mempunyai ketinggian 15 meter (3) Hutan. Sebelum masuk ke kampung ini, wisatawan akan melewati hutan Poco Roko dan Ponto Nao, dikelilingi oleh pegunungan sehingga mempunyai hawa yang sangat sejuk. Selain itu kampung ini berbentuk seperti lembah yang berwarna hijau sebelum masuk gerbang kampung tersebut.

suasana pagi hari, salah satu warga sedang menjemur kopi dan kayu manis
morning view

Di pagi hari jika cuaca cerah wisatawan dapat menikmati indahnya matahari terbit sambil menikmati kopi khas Wae Rebo dan sorenya dapat menikmati matahari tenggelam berwarna keemasan diatas pegunungan yang sangat hijau dan melihat burung-burung ramai beterbangan. Pada malam hari jika cuaca cerah, wisatawan dapat menikmati indahnya langit yang bertabur bintang di halaman terbuka dan bagi wisatawan yang mempunyai hobby photography akan dapat mengambil moment milky way negeri di atas awan ini. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi dan menikmati semua keindahan itu, karena cuaca saat itu tidak memungkinkan dan sangat dingin.

anak-anak Wae Rebo sedang bermain, lucu-lucu :)

bahagia itu sederhana, bermain dengan teman-teman sambil bergelantungan :) keep smile ya adek-adek......

Selain itu ada juga atraksi kesenian (Upacara dan Kesenian Tradisional) yang dapat dinikmati oleh  pengunjung , namun sayangnya waktu saya ke sana tidak bertepatan dengan upacara-upacara tersebut. (1) Upacara Adat Penti, salah satu seremoni sakral atau hari suci adat bagi masyarakat Wae Rebo, yaitu upacara penyambutan tahun baru sesuai dengan kalender adat masyarakat Wae Rebo, yang merupakan upacara sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, alam dan kehidupan yang sudah mereka jalani. Upacara ini juga dilakukan pada saat panen. Upacara Penti diadakan pada bulan November setiap tahunnya. Tahun 2015 mulai ditetapkan diadakan di tanggal 16 November untuk memudahkan wisatawan yang ingin datang melihat. Dalam upacara ini juga dilakukan beberapa ritual seperti tarian Caci dan Mbata. (2) Upacara Adat Kasawiang. (3) Kesenian Tradisional Ronda. (4) Kesenian Tradisional Caci. (6) Upacara Ancam atau Raket Bobong. (7) Upacara We’e Mbaru. (8) Kesenian Tradisional Mbata. (9) Kesenian Tradisional Dende atau Nggejang. (10) Kesenian Tradisional Tuak Curuk Manuk Kapu. (11) Kesenian Tradisional Sanda. Budaya Indonesia memang tiada habisnya.

salah satu warga Kampung Adat Wae Rebo yang sedang menumbuk kopi
salah satu sumber mata pencaharian warga, kopi asli Wae Rebo, wanginya .......

Budget yang harus dikeluarkan
  1. Sewa kendaraan (mobil) : Rp 2.100.000 : 4 orang = Rp. 525.000
  2. Menginap di Wae Rebo Rp. 325.000 per orang
  3. Untuk upacara : Rp. 100.000 : 4 (orang) : Rp. 25.000
  4. Guide Rp. 200.000 : 4 (orang) = Rp. 50.000
  5. Total Budget = Rp. 857.000
Semakin banyak teman semakin murah, dan pengeluaran di atas diluar pengeluaran pribadi ya.
Untuk Guide boleh dilebihkan sesuai dengan keohklasan teman-teman dan upacara seikhlasnya boleh berapa saja.

Waktu yang tepat untuk berkunjung dan waktu penerimaan tamu
Lakukan di musim panas karena kalau perginya di musim hujan, jalan menuju Wae Rebo dari Desa Denge akan licin karena masih berbentuk tanah.
Penerimaan tamu hanya sampai pukul 17.00, so berangkatlah lebih pagi dari Labuan Bajo jika ingin trekking di hari yang sama, atau teman-teman bisa menginap dahulu di Desa Denge baru melakukan trekking esok hari

Tips and Trick
  1. karena biaya menuju tempat ini cukup mahal, maka disarankan mencari teman untuk menuju tempat ini
  2. bagi yang belum pernah trekking, mungkin bisa olahraga dulu untuk menuju tempat ini
  3. teman-teman bisa membawa buku untuk dibagikan ke anak-anak yang ada di wae Rebo dan belajar bersama mereka, mereka sangat senang sekali kalau kita mengajari mereka entah membaca, menghitung, menari atau lainnya
  4. karena udara di tempat ini cukup dingin, disarankan untuk membawa jaket, sleeping bag.
  5. bawalah makanan untuk kebutuhan diri sendiri, karena di kampung ini tidak ada yang berjualan makanan
  6. sediakan uang lebih untuk membeli beberapa cendera mata milik warga disini berupa kopi khas Wae Rebo, kain tenun atau kayu manis sebagai bentuk kontribusi kita terhadap pemberdayaan masayarakat
  7. berkunjunglah ke tempat ini saat musim panas dan jika berkunjung di musim hujan gunakan alas kaki yang aman seperti sepatu trekking
  8. dan yang paling penting adalah "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung". hormati budaya dan adat istiadat dan patuhi aturan yang ada di tempat ini seperti berpakaian yang sopan, berbicara yang sopan dan tidak berteriak dan lainnya dan berbaurlah dengan warga di sana, mereka akan sangat senang
Informasi tambahan
Bangunan kampung adat ini pernah direnovasi oleh Yori Antar, seorang arsitektur Indonesia yang mengantarkan bangunan Mbaru Niang ini bersama 42 kandidat lainnya dari 11 negara se-Asia Pasifik masuk dalam nominasi penghargaan UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservationpada 27 Agustus 2012 yang diadakan di Bangkok. Dalam penghargaan ini Kampung Adat Wae Rebo mendapatkan Award of Excellence yaitu penghargaan tertinggi dalam awards ini. Penghargaan ini dianugerahkan kepada proyek-proyek konservasi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir untuk bangunan yang telah mencapai usia lima puluh tahun. Lalu pada tahun 2013, arsitektur rumah Mbaru Niang kembali masuk dalam 20 nominasi dalam Aga Khan Award for Architecture. Pada bulan Maret 2017, prestasi ditorehkan kembali oleh Kampung Adat Wae Rebo dengan memenangkan The Best Exhibitor 2017 dalam International Tourismus Borse (ITB) Berlin yang merupakan The Worlds Biggest Tourism Exhibition dilaksanakan di Berlin, Jerman yang diikuti oleh 187 negara, 10,000 peserta pdan dikunjungi oleh 180,000 orang. Wah membanggakan sekali ya teman-teman. Negara kita kaya akan budaya yang dikenal oleh dunia.

Perjalanan yang sangat menyenangkan bisa berbaur dengan masyarakat lokal, belajar banyak hal dari mereka, memberikan pengertian bahwa hidup tidak hanya melulu dengan materi, terima kasih untuk Pak Alex Ngadus dan warga Wae Rebo, teman-teman seperjalanan Rendara, Imas dan Agung, juga buat Bapak Guide Pak.
Semua perjalanan yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya pribadi, mungkin akan berbeda dengan lainnya. Semoga bermanfaat.

37 comments:

  1. Setuju Mbak, hidup tidak melulu soal materi tetapi juga kebersamaan dan keikhlasan

    ReplyDelete
  2. Wah, ternyata budget yang diperlukan untuk ke tempat ini banyak juga ya. Salut, sama mba Mei yang terus berpetualang ke pelosok negeri. Makasih mba Mei, informasinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mba, semoga bisa ke sana ya

      Delete
  3. masih sangat alami ya, hum udaranya pasti masih seger banget ya mba. Note ah buat next jalan-jalan kalau dana dah cukup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saking segernya keluar udara dari mulut mba, adem dan beerrrr banget suhunya

      Delete
  4. Rumah-rumah di wae rebo lucu ya.. Kayak tumpeng.. Beruntungnya mbak mei bisa bertualang menyusuri sudut-sudut nusantara... Terima kasih juga telah bercerita. Indahnya Indonesia...

    ReplyDelete
  5. Wah mantap nih shay ke waerebo, kulit sampai eksotik gt, agendakan nabung biar bisa kesini dehh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga perlu mahal2 di tanning ya Mba heheheh

      Delete
  6. Sederhana bangeeetttt tapi kalau liat alamnya yang masih asri kayak gitu jadi makin pengen nyobain buat pergi ke sana jugaaa <3

    ReplyDelete
  7. Pengalaman yang sangat menarik dan pastinya berkesan mendalam mbak. Duh, aku jadi makin mupeng main ke Wae Rebo. Alamnya itu lho, menyihir banget, cantik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga mba busa ke sana ya suatu hari nanti

      Delete
  8. mbaaaaa, punya vlogkah? ini keren banget kalo dibikin audio visual, makin nyatahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belom ada Mba, belom berani bikin2 vlog heheheh nextnya ya

      Delete
  9. udah beberapa kali denger soal kampung wae rebo ini tapi belom pernah liat penampakannya. akhirnya sekarang liat via blognya mbak mei <3

    ReplyDelete
  10. Kampungnya cantikkkk bangettt. How wonderful Indonesia! Btw aku suka ngeliat truknya yang beratap itu. Truss, kalo pake kendaraan modern (semacam mobil putih itu) ngeri yaa kalo sampai macet di tengah jalan.. Ahhh.. penginnn bisa keliling Indonesia seperti Mei..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin Mba one day mba bakal keliling Indonesia bahkan dunia, insyaallah asal yakin hehehe

      Delete
  11. whoaaa merinding liat foto rumah adat dengan pemandangan sekelilingnya. cakep bangett mb \O.O/

    Indonesia nih bener-bener ya... KEREN

    ReplyDelete
  12. Mbaaak, baca tulisanmu ini bikin aku teringat pada sebuah komik tentang perjalanan ke Labu as n Bajo d as n Wae Rebo... Apa yang ada di komik menjelma jadi foto-fotomu iniiih, bahkan aku mengikatnya di blog kok ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahah gitu ya Mba aku belom baca komiknya, terima kasih Mba

      Delete
  13. Yuhh, seru banget perjalananmu, rumah-rumahnya kerena banget... Oleh2 khas dari sana apa ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. kain tenun sama kopi neng, ada juga kerajinan tangan kayak gelang gitu

      Delete
  14. Waahh..makasih sharingnya..aku tu suka lo liat cerita perjalanan gini.. Bisa ngerasain ikut jalan2 tanpa capek. Hehe

    ReplyDelete
  15. Uwowwww, aku tuh sangat ingin ke sini. Semoga segera kesampaian deh. Biar bisa posting posting macem temen temen gini, ehe, mulia sekali kan alasan eike

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheh aamiin Mba one day bakal ke sana ya, semangat

      Delete
  16. Wah asyiknya. Bentuk kampung adat War Rebo ini selama ini cuma bisa saya lihat dari bacaan atau literasi digital. Perjuangan yang gak sia2 ya mbak 😍👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhehehe dan kampung adat ini lebih populer di wisatawan asing daripada nusantara sayang sekali

      Delete
  17. Lengkap Mbak tulisannya. Coba dkirim ke majalah Mbak. Bakal terbit kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada referensi Mba ke majalah apa ? aku masih belajar soalnya

      Delete
  18. Damai banget kek nya hidup di sana. Semoga segala adat istiadatbdi Wae Rebo tetap lestari, ya.

    ReplyDelete
  19. Rasanya nyaman lihat kampungnya dari atas gitu. Perpaduan antara hitam atap dan hijau rumput. Semoga bisa ke sana. Tfs, ya Mbak

    ReplyDelete