Skip to main content

Menelisik Keberadaan Kampung Pitu (Nglanggeran Part 2)

Turun dari Gunung Api Purba kami lanjutkan dan mencari-cari lokasi kampung ini. Tidak ada papan petunjuk menuju kampung ini, saya bersama teman sedikit kebingungan, hanya menebak-nebak saat menemukan jalan setapak, kami ikuti jalan tersebut, dan ternyata benar jalan itu merupakan jalan menuju Kampung Pitu.

Pertama kali memasuki kampung ini, seperti tidak ada kehidupan. Jarak rumah satu dengan lainnya berjauhan, suasananya sepi, kami hanya melihat beberapa ekor binatang yang hidup di kampung ini. Rasa penasaran membawa saya terus bergerak melewati pematang sawah yang ternyata jalan itu menuju ke sebuah sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu.


jalan menuju ke Kampung Pitu
photo taken by Chris



bentuk sumber mata air atau sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu

Dari kejauhan saya melihat rumah yang hanya beberapa atap saja. Saya mulai yakin inilah Kampung Pitu itu. Setelah mendekat kemudian saya melihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut. Beliau tersenyum ramah dan menyapa kami dengan bahasa yang saya belum pahami. Teman saya menjawab dengan bahasa yang sama, ah untunglah. Teman saya bilang, kita diajak mampir kerumahnya. Nama beliau adalah Ibu Sumbuk.

halaman belakang di salah satu rumah Kampung Pitu

narsis dikit di belakang rumah warga Kampung Pitu
photo taken by  Chris

Kebetulan sekali ternyata pemilik rumah ini adalah orang yang dituakan di kampung ini, namanya Pak Yatnorejo. Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk ini belum bisa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian mereka memanggil anaknya namanya Pak Aan. Ternyata Pak Aan ini merupakan salah satu pengurus Pokdarwis di Nglanggeran. Kami mulai mengobrol dengan suasana hangat, disuguhi makanan khas tradisional namanya rangginang, ditemani juga secangkir teh manis hangat buatan Ibu Sumbuk.

makanan tradisional rangginang ditemani segelas teh manis

Pak Aan bercerita banyak mengenai sejarah tentang Kampung Pitu. Untuk mempertahankan pesan leluhur, rumah ini hanya boleh diisi oleh tujuh kepala keluarga meskipun ada sepuluh rumah. Jika sudah lebih dari tujuh keluarga maka berikutnya akan pindah dari kampung ini demi keselamatannya. Rumah-rumah ini terbentuk dari kayu-kayu kokoh tanpa ada sekat dan masih beralaskan tanah. Dan justru ini menjadi daya tarik tersendiri, namun sayangnya beberapa rumah sudah diubah sebagian bangunannya dengan menggunakan tembok, jadi keasliannya sudah mulai hilang.

bentuk rumah warga kampung Pitu yang masih asli yang terbuat dari kayu-kayu kokoh



Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk - sepasang suami istri yang menjadi wakil yang dituakan


Kampung Pitu ini masih memegang kehidupan yang selaras dengan alam dan menjaga beberapa budaya yang mereka miliki. Seperti masih mengadakan upacara-upacara adat atau tradisi seperti Tingalan, Tayub/Ledek, dan Rasulan. Warga kampung ini mempunyai sumber kehidupan dari bercocok tanam dan beternak. Untuk teman-teman yang ingin merasakan suasana Kampung Pitu ini, Desa Wisata Nglanggeran menyediakan paket Live In di rumah warga Kampung Pitu. Ratusan orang sudah mengunjungi kampung ini dan banyak mahasiswa juga sering mengadakan acara makrab di kampung ini.

Tak terasa kami mengobrol hampir dua jam, karena kami masih berniat melihat embung, maka kami pamit pulang dan sempat mengambil photo dengan keluarga yang penuh dengan ketulusan ini.

Jangan lupa ya kalau berkunjung ke Kampung ini mengisi buku tamu dan silakan berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka...... Terima kasih untuk keluarga Pak Aan, Pak Yatno dan Ibu Sumbuk untuk kehangatannya hari ini….. Kalian sudah mengajarkan banyak bagaimana cara hidup sederhana dan tetap bersyukur dengan apa yang diberikan tuhan untuk kita, semoga kalian sehat selalu.......

Comments

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …

Gereja Ayam dan Bukit Rhema, Gereja di Tengah Hutan

Dari Puthuk Setumbu, kami lanjutkan ke Gereja Ayam dan Bukit Rhema yang jaraknya tidak jauh masih dalam kawasan Bukit Menoreh, trekking sekitar 15-20 menit. Kondisi jalan saat itu sedikit basah, sepanjang jalan dikelilingi oleh hutan terbuka. Lokasi tepatnya berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah.



Destinasi ini juga menjadi salah satu tempat syuting film AADC, sehingga kemudian menjadi destinasi populer. Gereja Ayam ini terletak di Bukit Rema Borobudur, Gereja ini merupakan sebuah rumah doa, pada tahun 2000 sempat di tutup karena ditolak oleh warga namun ada juga yang bilang kalau biaya pembangunannya terlalu mahal. Namun kemudian pada tahun 2014 dibuka kembali namun beralih fungsi menjadi tempat wisata.

Dengan membayar Rp 10.000 per orang, wisatawan bisa masuk dan berkeliling gereja ini. Gereja Ayam ini sebenarnya bangunan yang diatasnya dibangun dengan desain awalnya adalah seekor merpati namun banyak orang menganggapnya sebagai seekor ayam. Sehingga terke…