September 10, 2017

Menelisik Keberadaan Kampung Pitu (Nglanggeran Part 2)

Turun dari Gunung Api Purba kami lanjutkan dan mencari-cari lokasi kampung ini. Tidak ada papan petunjuk menuju kampung ini, saya bersama teman sedikit kebingungan, hanya menebak-nebak saat menemukan jalan setapak, kami ikuti jalan tersebut, dan ternyata benar jalan itu merupakan jalan menuju Kampung Pitu.

Pertama kali memasuki kampung ini, seperti tidak ada kehidupan. Jarak rumah satu dengan lainnya berjauhan, suasananya sepi, kami hanya melihat beberapa ekor binatang yang hidup di kampung ini. Rasa penasaran membawa saya terus bergerak melewati pematang sawah yang ternyata jalan itu menuju ke sebuah sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu.


jalan menuju ke Kampung Pitu
photo taken by Chris



bentuk sumber mata air atau sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu

Dari kejauhan saya melihat rumah yang hanya beberapa atap saja. Saya mulai yakin inilah Kampung Pitu itu. Setelah mendekat kemudian saya melihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut. Beliau tersenyum ramah dan menyapa kami dengan bahasa yang saya belum pahami. Teman saya menjawab dengan bahasa yang sama, ah untunglah. Teman saya bilang, kita diajak mampir kerumahnya. Nama beliau adalah Ibu Sumbuk.

halaman belakang di salah satu rumah Kampung Pitu

narsis dikit di belakang rumah warga Kampung Pitu
photo taken by  Chris

Kebetulan sekali ternyata pemilik rumah ini adalah orang yang dituakan di kampung ini, namanya Pak Yatnorejo. Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk ini belum bisa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian mereka memanggil anaknya namanya Pak Aan. Ternyata Pak Aan ini merupakan salah satu pengurus Pokdarwis di Nglanggeran. Kami mulai mengobrol dengan suasana hangat, disuguhi makanan khas tradisional namanya rangginang, ditemani juga secangkir teh manis hangat buatan Ibu Sumbuk.

makanan tradisional rangginang ditemani segelas teh manis

Pak Aan bercerita banyak mengenai sejarah tentang Kampung Pitu. Untuk mempertahankan pesan leluhur, rumah ini hanya boleh diisi oleh tujuh kepala keluarga meskipun ada sepuluh rumah. Jika sudah lebih dari tujuh keluarga maka berikutnya akan pindah dari kampung ini demi keselamatannya. Rumah-rumah ini terbentuk dari kayu-kayu kokoh tanpa ada sekat dan masih beralaskan tanah. Dan justru ini menjadi daya tarik tersendiri, namun sayangnya beberapa rumah sudah diubah sebagian bangunannya dengan menggunakan tembok, jadi keasliannya sudah mulai hilang.

bentuk rumah warga kampung Pitu yang masih asli yang terbuat dari kayu-kayu kokoh



Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk - sepasang suami istri yang menjadi wakil yang dituakan


Kampung Pitu ini masih memegang kehidupan yang selaras dengan alam dan menjaga beberapa budaya yang mereka miliki. Seperti masih mengadakan upacara-upacara adat atau tradisi seperti Tingalan, Tayub/Ledek, dan Rasulan. Warga kampung ini mempunyai sumber kehidupan dari bercocok tanam dan beternak. Untuk teman-teman yang ingin merasakan suasana Kampung Pitu ini, Desa Wisata Nglanggeran menyediakan paket Live In di rumah warga Kampung Pitu. Ratusan orang sudah mengunjungi kampung ini dan banyak mahasiswa juga sering mengadakan acara makrab di kampung ini.

Tak terasa kami mengobrol hampir dua jam, karena kami masih berniat melihat embung, maka kami pamit pulang dan sempat mengambil photo dengan keluarga yang penuh dengan ketulusan ini.

Jangan lupa ya kalau berkunjung ke Kampung ini mengisi buku tamu dan silakan berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka...... Terima kasih untuk keluarga Pak Aan, Pak Yatno dan Ibu Sumbuk untuk kehangatannya hari ini….. Kalian sudah mengajarkan banyak bagaimana cara hidup sederhana dan tetap bersyukur dengan apa yang diberikan tuhan untuk kita, semoga kalian sehat selalu.......

No comments:

Post a Comment