September 15, 2017

Menembus Kabut di Lereng Merapi

Lereng Merapi, dua kata itu mengingatkan saya pada film kolosal waktu saya masih duduk di bangku sekolah. Waktu itu saya tidak pernah membayangkan, jika saya dapat mengunjungi tempat ini, bahkan ini untuk kesekian kalinya.

Jelajah Wisata Lereng Merapi, merupakan event rutin yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman ini cukup menarik banyak peserta tidak hanya dari Yogyakarta bahkan dari banyak kota besar di Indonesia. Sekitar 1.000 peserta dari berbagai usia berpartisipasi dalam event ini yang dikemas dalam bentuk sport tourism. Wisata trekking sepanjang 7 km ini disuguhkan untuk menikmati keindahan pemandangan alam, flora dan fauna yang ada di Lereng Merapi seperti Anggrek Vanda Tricolor, Dendroblum Mutabile dan juga berbagai jenis bambu.

Di hari H, saya berangkat bersama teman dengan menggunakan roda dua. Perjalanan harusnya ditempuh sekitar 30-45 menit dari kota Yogyakarta. Acara dimulai pukul 07.00 – 11.00 WIB. Namun ditengah perjalanan, ban kami bocor, sementara hari masih pagi, tempat tambal ban belum ada yang buka. Akhirnya setelah menuntun motor cukup lama kami menemukan tempat tambal ban yang sebelahnya menjual sarapan. Akhirnya sambil menunggu, kami sarapan. Dan  teman yang sudah duluan sampai ke Lereng Merapi, turun kembali untuk membantu kami.

Singkat cerita kami sampai ke tempat acara pukul 08.05 WIB, pos pendaftaran sudah hampir ditutup dan….. pastinya kami peserta yang paling terakhir. Pukul 08.15 WIB kami start dari pos pertama. Di setiap pos, panitia akan memberikan cap pada kertas yang kami bawa, sebagai bukti kami sudah melewati pos-pos yang sudah ditentukan. Cap ini sebagai syarat untuk mengikuti undian hadiah atau doorprize.

Sepanjang perjalanan cuaca kurang bersahabat, kabut sudah mulai turun sejak kami dari pos pertama kemudian hujan gerimis terus mengikuti sepanjang perjalanan kami. Selain berjuang dengan cuaca, saya juga harus bergerak cepat karena dua teman saya jalannya super duper cepat, mereka memang hobby-nya naik gunung, bahkan yang satu seorang guide yang tersertifikasi. Udah bisa dibayangin dong jalan mereka kayak apa, cowok pula.
rute trekking menuju pos 1 (satu)
photo taken by Kris

Sepanjang perjalanan yang diselimuti kabut, kami banyak menyusuri jalan setapak, turun naik dan sedikit licin, sehingga kami harus berjalan pelan-pelan dan antri. Terlihat beberapa panitia stand by dibeberapa titik untuk memastikan keselamatan semua peserta. Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas dan gambar atau hanya bertegur sapa dengan peserta lainnya. Saya bertemu dengan peserta yang masih anak-anak dan usia lanjut, mereka semangat sekali meski gerimis dan kabut enggan pergi.

salah satu jalan yang dilewati berupa jalan setapak
photo taken by Kris


Sudah beberapa bulan saya tidak menginjakan kaki diketinggian. Rasa rindu akan alam itu perlahan hilang setelah mendengar gemerisik khas pohon dan daun yang bergesekan, menghirup udara yang sejuk khas pegunungan dengan nakal menyapu hidungku yang mulai memerah karena dingin, mencium wangi pepohonan yang selalu membuatku rindu saat lama tak menghirupnya.

salah satu rute perjalanan, rimbunan bambu yang menjadi salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Lereng Merapi
photo taken by Kris
Tak terasa kami sudah tiba di pos terakhir, kulihat jam menunjukan pukul 9.20 WIB, hanya 1 jam 5 menit. Wow. Thanks to my god, we did. Sesampainya di pos terakhir, kami semua berkumpul di lapangan untuk menikmati makan siang dan menunggu peserta yang belum sampai. Puncak acaranya adalah pengundian hadiah yang dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ibu Sudarningsih. Diiringi musik dangdut pantura yang bahasanya belum saya pahami… 

At the end I got one of the prize, thanks to my God……………..

No comments:

Post a Comment