Skip to main content

Menembus Kabut di Lereng Merapi

Lereng Merapi, dua kata itu mengingatkan saya pada film kolosal waktu saya masih duduk di bangku sekolah. Waktu itu saya tidak pernah membayangkan, jika saya dapat mengunjungi tempat ini, bahkan ini untuk kesekian kalinya.

Jelajah Wisata Lereng Merapi, merupakan event rutin yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman ini cukup menarik banyak peserta tidak hanya dari Yogyakarta bahkan dari banyak kota besar di Indonesia. Sekitar 1.000 peserta dari berbagai usia berpartisipasi dalam event ini yang dikemas dalam bentuk sport tourism. Wisata trekking sepanjang 7 km ini disuguhkan untuk menikmati keindahan pemandangan alam, flora dan fauna yang ada di Lereng Merapi seperti Anggrek Vanda Tricolor, Dendroblum Mutabile dan juga berbagai jenis bambu.

Di hari H, saya berangkat bersama teman dengan menggunakan roda dua. Perjalanan harusnya ditempuh sekitar 30-45 menit dari kota Yogyakarta. Acara dimulai pukul 07.00 – 11.00 WIB. Namun ditengah perjalanan, ban kami bocor, sementara hari masih pagi, tempat tambal ban belum ada yang buka. Akhirnya setelah menuntun motor cukup lama kami menemukan tempat tambal ban yang sebelahnya menjual sarapan. Akhirnya sambil menunggu, kami sarapan. Dan  teman yang sudah duluan sampai ke Lereng Merapi, turun kembali untuk membantu kami.

Singkat cerita kami sampai ke tempat acara pukul 08.05 WIB, pos pendaftaran sudah hampir ditutup dan….. pastinya kami peserta yang paling terakhir. Pukul 08.15 WIB kami start dari pos pertama. Di setiap pos, panitia akan memberikan cap pada kertas yang kami bawa, sebagai bukti kami sudah melewati pos-pos yang sudah ditentukan. Cap ini sebagai syarat untuk mengikuti undian hadiah atau doorprize.

Sepanjang perjalanan cuaca kurang bersahabat, kabut sudah mulai turun sejak kami dari pos pertama kemudian hujan gerimis terus mengikuti sepanjang perjalanan kami. Selain berjuang dengan cuaca, saya juga harus bergerak cepat karena dua teman saya jalannya super duper cepat, mereka memang hobby-nya naik gunung, bahkan yang satu seorang guide yang tersertifikasi. Udah bisa dibayangin dong jalan mereka kayak apa, cowok pula.
rute trekking menuju pos 1 (satu)
photo taken by Kris

Sepanjang perjalanan yang diselimuti kabut, kami banyak menyusuri jalan setapak, turun naik dan sedikit licin, sehingga kami harus berjalan pelan-pelan dan antri. Terlihat beberapa panitia stand by dibeberapa titik untuk memastikan keselamatan semua peserta. Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas dan gambar atau hanya bertegur sapa dengan peserta lainnya. Saya bertemu dengan peserta yang masih anak-anak dan usia lanjut, mereka semangat sekali meski gerimis dan kabut enggan pergi.

salah satu jalan yang dilewati berupa jalan setapak
photo taken by Kris


Sudah beberapa bulan saya tidak menginjakan kaki diketinggian. Rasa rindu akan alam itu perlahan hilang setelah mendengar gemerisik khas pohon dan daun yang bergesekan, menghirup udara yang sejuk khas pegunungan dengan nakal menyapu hidungku yang mulai memerah karena dingin, mencium wangi pepohonan yang selalu membuatku rindu saat lama tak menghirupnya.

salah satu rute perjalanan, rimbunan bambu yang menjadi salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Lereng Merapi
photo taken by Kris
Tak terasa kami sudah tiba di pos terakhir, kulihat jam menunjukan pukul 9.20 WIB, hanya 1 jam 5 menit. Wow. Thanks to my god, we did. Sesampainya di pos terakhir, kami semua berkumpul di lapangan untuk menikmati makan siang dan menunggu peserta yang belum sampai. Puncak acaranya adalah pengundian hadiah yang dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ibu Sudarningsih. Diiringi musik dangdut pantura yang bahasanya belum saya pahami… 

At the end I got one of the prize, thanks to my God……………..

Comments

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Gunung Kerinci, Pesona Alam Penuh Misteri Di Atap Sumatera

Siapa yang tak mengenal Kerinci, gunung tertinggi yang pertama kali didaki oleh Von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877 ini berada di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan menjadi salah satu bucket list para penikmat ketinggian dari berbagai belahan Indonesia bahkan dunia. Gunung dengan nama lain Korinci, Gunung Gadang, Berapi Kurinci dan Puncak Indrapura ini juga menjadi rangkaian seven summit Indonesia.

Gunung yang mendapat julukan atap Sumatera ini masih tergolong aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009 dan mempunyai ketinggian 3.805 mdpl (meter di atas permukaan laut) serta berjenis gunung berapi bertipe stratovulcano. Lokasi gunung ini berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Hari ke-1 Saya bersama teman-teman lainnya mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi. Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam lagi untuk menuju desa terakhir sebelum pendakian yaitu Desa Kersik Tuo. Kami menye…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …