Skip to main content

Menyapa Bogor dari Puncak Gunung Batu

Anda punya hobby trekking tapi tidak punya waktu banyak ? Yap, Gunung Batu yang terletak di Jonggol Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor ini bisa menjadi alternatif bagi teman-teman yang ingin menghirup udara segar dan mencium bau pohon-pohon khas ketinggian namun tidak punya waktu banyak. Berkunjung ke gunung ini bisa dilakukan pulang pergi di hari yang sama loh…. Nah hemat waktu kan ? hemat di kantong juga pastinya 😊

Gunung Batu yang bentuknya lebih seperti tebing atau bukit ini, belakangan ramai dibicarakan banyak orang. Jarak tempuh normalnya hanya 2-3 jam dari Jakarta dan mempunyai ketinggian sekitar 875 mdpl dan jarak tempuhnya pun cukup pendek. Tapi jangan dianggap remeh juga ya, karena jalanan menuju gunung ini berupa tanah, sehingga kalau berkunjung pada musim hujan jalanan akan sangat licin dan tipe tanah miring, kemudian jalan menuju puncak berupa bebatuan yang curam membuat anda harus sedikit berjuang lebih keras untuk sampai ke puncak gunung ini. Tapi jangan kawatir, gunung ini cukup aman bagi pemula, asal teman-teman melakukan persiapan yang matang sama seperti ke gunung lain pada umumnya.

Saya berangkat bersama teman-teman dari jakarta dengan tujuan untuk menghemat waktu dan mengingat tidak ada kendaraan umum ke arah gunung ini sehingga lebih aman ditempuh dengan motor.

Dari jakarta kami berangkat pukul 08.00 WIB dengan kondisi yang sudah mulai rintik hujan. Sepanjang jalan kami melewati jalanan yang berkelok-kelok, kondisi jalan yang rusak berlobang dan melewati banyak jalan yang masih berupa tanah membuat kami harus berkendara pelan-pelan. Motor salah satu teman sempat bocor, sehingga kami berhenti untuk menunggu teman menambal ban motornya. Kami juga melewati hutan-hutan dan jalanan sepi dan melewati beberapa rumah milik warga sekitar Gunung Batu.

berphoto sebelum melakukan trekking

Sampai di bawah kaki gunung sudah hampir pukul 12.00 WIB. Kami langsung ke area parkir yang dikelola oleh warga sekitar untuk menyimpan kendaraan kami dengan membayar Rp 15.000,00 sudah termasuk biaya masuk. Tempat parkir ini buka selama 24 jam. Perut kami sudah mulai mengais-ngais karena lapar, akhirnya kami memutuskan untuk makan dahulu di warung yang tidak jauh dari area parkir sebelum melakukan trekking. Saat kami hendak melanjutkan perjalanan untuk trekking, hujan turun cukup deras. Akhirnya kami kembali duduk manis menunggu hujan reda.

Sekitar pukul 13.00 WIB, gerimis masih menyapa kami, dengan berbekal jas hujan kami memutuskan untuk tetap melanjutkan trekking ke Gunung Batu ini. Beginilah kalau sudah jalan sama master-master gunung, hujan sudah bukan rintangan lagi 


salah satu jalur tanah licin saat naik

Berjalan dari area parkir kurang lebih sepuluh menit untuk menuju pintu utama trekking. Dari pintu masuk sudah terlihat tanah licin karena baru turun hujan, sehingga kami harus berjalan pelan-pelan. 

antri ya teman-teman


Kurang lebih satu jam kami sudah hampir sampai puncak. Rute menuju puncak berupa batu-batu berbentuk miring, harus didaki dengan pelan-pelan dan menggunakan tali yang sudah tersedia di tempat ini. Kami harus naik bergiliran menuju puncak ini. Tali yang terkena hujan sehingga licin ditambah kabut yang semakin tebal membuat perjalanan ini sedikit sulit.

jalan menuju ke puncaknya curam kayak gini, harus ekstra hati-hati

Perlahan tapi pasti kami sampai di puncak, dan cuaca mulai bersahabat meski sebentar terang sebentar gelap and finally we can enjoyed a great scene, yah pemandangan alam yang menghijau.


menunggu langitnya cerah, iseng ga pakai jaket meski akhirnya nyerah karena menggigil :)

Area puncaknya sempit untungnya hanya ada kami dan beberapa orang saat itu. Kami sempat mengambil beberapa photo meski harus menunggu langit bersahabat.

cuaca mulai sedikit bersahabat, cerah

Saat hendak turun sempat terjadi badai, sehingga kami harus berlindung di pinggir-pinggir bebatuan. Semakin sore udara semakin dingin sampai terasa menusuk tulang belulang, sehingga kami harus mempercepat perjalanan turun kami meskipun kondisi jalan licin dan curam.


sempat-sempatnya berphoto di tengah badai
with Nisa, peace


Setibanya di pos parkir, kami melihat kabut semakin tebal. Kami cepat-cepat berkemas untuk pulang ke Jakarta agar tidak kena hujan lagi. Mengingat perjalanan kami masih panjang. Tapi lelahnya terbayar karena sudah sempat menikmati pemandangan alam nan hijau dari puncak gunung ini.

pulangnya mampir ke abang petruk, duriaaaaannnnnnn


Thanks Bang Matz, Bang Rama, Nisa, Om Wongso, Niken and your husband.
Kalian luar biasa …….

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …

Gereja Ayam dan Bukit Rhema, Gereja di Tengah Hutan

Dari Puthuk Setumbu, kami lanjutkan ke Gereja Ayam dan Bukit Rhema yang jaraknya tidak jauh masih dalam kawasan Bukit Menoreh, trekking sekitar 15-20 menit. Kondisi jalan saat itu sedikit basah, sepanjang jalan dikelilingi oleh hutan terbuka. Lokasi tepatnya berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah.



Destinasi ini juga menjadi salah satu tempat syuting film AADC, sehingga kemudian menjadi destinasi populer. Gereja Ayam ini terletak di Bukit Rema Borobudur, Gereja ini merupakan sebuah rumah doa, pada tahun 2000 sempat di tutup karena ditolak oleh warga namun ada juga yang bilang kalau biaya pembangunannya terlalu mahal. Namun kemudian pada tahun 2014 dibuka kembali namun beralih fungsi menjadi tempat wisata.

Dengan membayar Rp 10.000 per orang, wisatawan bisa masuk dan berkeliling gereja ini. Gereja Ayam ini sebenarnya bangunan yang diatasnya dibangun dengan desain awalnya adalah seekor merpati namun banyak orang menganggapnya sebagai seekor ayam. Sehingga terke…