Skip to main content

Pulau Satonda, Pulau Biru di Ujung Negeriku


Welcome to Satonda Island

Pulau Satonda, sudahkah teman-teman mengunjungi pulau cantik ini ?
Pulau indah ini terletak di daerah Dompu. sebelum melakukan pendakian ke Gunung Tambora kami menyempatkan diri untuk mengunjungi pulau kecil ini. Kami menyewa kendaraan bak terbuka, cukup untuk dua puluh orang dengan harga Rp 500.000,00 untuk dapat pergi kesana. Ternyata ada lima pendaki lain yang hendak kesana dan meminta bergabung dengan kami untuk shared cost. Sehingga jumlah kami jadi lima belas orang and biayanya jadi lebih murah dunk.

Dari Desa Pancasila ke Pulau Satonda, ditempuh kurang lebih setengah jam, jalanannya cukup nyaman, sudah beraspal. Di perjalanan menuju pulau ini kami sempat berhenti sejenak untuk membeli makanan untuk makan siang. Mobil sampai di sebuah pinggir pantai, saya pikir sudah sampai, ternyata kami masih harus menyebrang lagi menggunakan kapal kecil. Oh my god.


Kemudian kami menyebrang lautan menggunakan kapal kecil kurang lebih setengah jam untuk dapat sampai ke Pulau Satonda ini. Tiba di pinggir pantai, ternyata kami harus trekking lagi kurang lebih 5-10 menit. Karena udara sangat panas, kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan memotong buah semangka yang dibeli Pak Totok. Waahahaha nikmatnya pas lagi panas-panasnya belah semangka ⌣⌣⌣⌣⌣⌣ Ingat satu hal, Tuhan akan mendekatkan kita dengan orang-orang yang sejenis dengan kita, itu yang saya rasakan, keakraban diantara kami sudah mulai terasa di hari pertama. 

perjalanan menggunakan kapal kecil menuju Pulau Satonda

Selesai makan semangka kami santai sejenak dan mengobrol ceria. Di sini kami bertemu dengan beberapa ibu-ibu, mereka menyapa kami dan bertanya asal kami, kami jawab dari Jakarta. Ternyata ibunya adalah Kepala Dinas Pariwisata Dompu, beliau sangat senang kalau ada yang berkunjung ke pulau ini.


setelah naik tangga sekarang harus turun tangga

Kami pamit untuk melihat Pulau Satonda. Meski harus panas-panasan, sedikit menaiki dan menuruni anak tangga, namun saat kami tiba, semuanya terbayarkan, pulau sepi nan biru itu tersenyum dengan indah menyambut kami. Saya menyebutnya seperti sebuah danau. Sangat biru.


no caption

Kami duduk manis menikmati pemandangan indah itu dan beberapa dari kami makan siang di tempat ini. Selang beberapa waktu ternyata Ibu Kepala Dinas tadi tiba dengan beberapa teamnya untuk mengambil beberapa gambar dan mereka mengajak ngobrol dengan kami.

birunya cantik

Di bibir danau itu ada sebuah kapal kecil yang diikatkan, terlihat sepertinya kapal itu tidak pernah digunakan namun terlihat dalam kondisi yang masih aman untuk digunakan. Kemudian Ibu-nya menawarkan kami untuk menaiki kapal itu bersama mereka. Karena penasaran akhirnya kami meutuskan untuk ikut mengelilingi pulau ini menggunakan kapal itu, Kami mengambil beberapa gambar bahkan Rendra sempat turun berenang bersama Ibu Kepala Dinas. 

ki-ka : Pak Agus, Zuzu, Ayuti, Ichung, me, Rendra, Pak Totok

Di sini kita bisa melihat ada sebuah pohon yang setiap orang boleh menggantungkan batu dengan mengikatkannya pada batang pohon ini, sebagai tanda kalau kita pernah ke tempat ini. Kita juga bisa melihat pulau cantik ini dari atas bukit-bukit, dengan sedikit melakukan trekking lebih ke atas lagi.

yang datang ke sini boleh mengikat batu di pohon ini

Di sekitar pantai ini juga tersedia toilet, tempat ibadah dan beberapa gazebo untuk berteduh. 
Tak terasa sudah hampir dua jam kami di sini, kami memutuskan untuk pulang. Karena perjalanan menuju homestay masih cukup jauh dan kami ditunggu mobil sewaan kami.

Selamat tinggal Satonda yang indah, kecantikan negeriku tak pernah terkalahkan.



Comments

  1. Senang sekali kalo mampir ke blog ini, selalu mendapat cerita menarik tentang tempat-tempat yang indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih Mba Yus, mudah-mudahan lebih rajin lagi tar nulisnya :)

      Delete
  2. Wuaahhh mba mei udah nyampe sulawesi.. seneng banget baca2 pengalaman temen2 yg travelingnya asyik ky gini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini Nusa Tenggara Barat neng bukan sulawesi, Sulawesi nanti saya upload ya

      Delete
  3. Ehhh.. Ada ya desa bernama Pancasila, baru tahu ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. desa ini sangat terkenal bagi penyuka gunung karena ada di kaki gunung Tambora, gunung impian banyak umat pendaki :) karena start untuk menuju Tambora sering dari desa ini Mba

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Sejak baca-baca blognya mb Mei jadi tau tempat-tempat baru di Indonesia yang belum pernah aku denger sebelumnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheheheh masih ada puluhan ribu tempat cantik di Indonesia juga yang belum saya kunjungi :)

      Delete
  6. dompu ini ada di wishlist aku! keren bisa sampe ketemu ibu kepala dinas segalaaaa :"")

    oot dikit tapi aku jadi penasaran sama filosofi dibalik gantungin batu di pohon itu. kenapa ya? apa emang cuma sebagai penanda sudah pernah datang atau ada legend dibalik nggantungin batu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waktu itu tanya sama orang sana bahkan sama ibu kepala dinas pariwisatanya, ga ada legenda apa-apa hanya nandain aja katanya ehheheheeh

      Delete
  7. Naik kapalnya mahal gak kak Mei? Ada yang bilang kalau gakda barengan akan dipatok lebih mahal ya .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu 500 ribu pp 1 kapal, semakin banyak orang semakin murah, jadi kalau sedikitin ya pasti mahal

      Delete
  8. Waaaa mainnya Mei jauh2 yaa, blm pernah ke sini dan baru denger karena baca blog ini. Asyik yaaaa diajak jalan2 sama Mei terus ni..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehhhe kalau saya menginspirasi traveling, tulisan2 Mba juga menginspirasi ko, pengen jadi blogger keren kayak Mba Manda��

      Delete
  9. Wah aku mau mbak kalo ke pulau2 di Indonesia lagi Ajak2 ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …

Gereja Ayam dan Bukit Rhema, Gereja di Tengah Hutan

Dari Puthuk Setumbu, kami lanjutkan ke Gereja Ayam dan Bukit Rhema yang jaraknya tidak jauh masih dalam kawasan Bukit Menoreh, trekking sekitar 15-20 menit. Kondisi jalan saat itu sedikit basah, sepanjang jalan dikelilingi oleh hutan terbuka. Lokasi tepatnya berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah.



Destinasi ini juga menjadi salah satu tempat syuting film AADC, sehingga kemudian menjadi destinasi populer. Gereja Ayam ini terletak di Bukit Rema Borobudur, Gereja ini merupakan sebuah rumah doa, pada tahun 2000 sempat di tutup karena ditolak oleh warga namun ada juga yang bilang kalau biaya pembangunannya terlalu mahal. Namun kemudian pada tahun 2014 dibuka kembali namun beralih fungsi menjadi tempat wisata.

Dengan membayar Rp 10.000 per orang, wisatawan bisa masuk dan berkeliling gereja ini. Gereja Ayam ini sebenarnya bangunan yang diatasnya dibangun dengan desain awalnya adalah seekor merpati namun banyak orang menganggapnya sebagai seekor ayam. Sehingga terke…