Skip to main content

Desa Sasak Sade, Keindahan Budaya di Tengah Kota

Indonesia bagian Timur merupakan salah satu destinasi wisata yang menjadi incaran banyak wisatawan nusantara maupun mancanegara. Pesonanya memang luar biasa, selain terkenal dengan pantai dan kekayaan alam baharinya, juga ditengarai kaya akan keindahan budayanya. Salah satunya adalah Sade.


Selamat Datang di Dusun Sasak Sade

Sade atau Desa Sasak Sade adalah merupakan salah satu desa yang berbasis budaya yang terletak di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Akses menuju desa ini cukup mudah karena terletak di pinggir jalan raya. Desa ini terkenal karena masih mempertahankan budayanya yang sudah hampir 600 tahun. Desa ini juga dikenal dengan sebutan Desa Rambitan. Desa ini kurang lebih dihuni oleh 150 KK dan sekitar 700 jiwa tinggal di atas tanah seluas 5 hektar ini, yang semuanya menganut agama Islam Wektu Telu yaitu agama Islam yang dipengaruhi unsur agama Hindu dan Budha . Saat ini warga desa sudah mencapai generasi ke-15.

wefie dengan salah satu guide Desa Sasak Sade

Keunikan Desa Sasak Sade
Bentuk Rumah
Desa ini berbentuk sebuah perkampungan kecil dengan rumah-rumah yang unik. Atapnya disusun dari ijuk, dinding sebagai pelindung rumah dibuat dari rangkaian bambu dan lantai masih beralaskan tanah liat. Warga Desa Sasak Sade menyebut rumah sebagai bale.

lorong kecil menuju Desa Sasak Sade

Menurut guide, di Sade ini terdapat beberapa bale dan mempunyai fungsi masing-masing. Bale Kodong merupakan bale khusus untuk pasangan yang baru menikah, sebelum mereka membangun rumah yang lebih besar untuk ditinggali. Bale Berugak, tempat ini digunakan untuk menerima tamu atau tempat berkumpul warga desa untuk bersantai atau hanya sekedar mengobrol, dan tempat pertemuan untuk acara pernikahan, sunatan dan berembug untuk membahas suatu masalah, ada juga namanya Bale Lumbung, berfungsi untuk menyimpan padi. 

berpose depan rumah Desa Sasak Sade


Bale Tani adalah bale yang digunakan untuk tempat tinggal. Bale ini terbagi menjadi dua bagian, bagian dalam digunakan untuk anggota keluarga perempuan dan digunakan untuk memasak sementara bagian luar digunakan untuk anggota keluarga laki-laki sekaligus berfungsi untuk menerima tamu. Setiap rumah hanya mempunyai satu pintu untuk keluar masuk dan didepannya mempunyai tiga buah anak tangga yang menggambarkan lahir, berkembang dan meninggal.

bersama salah satu guide di Desa Sasak Sade

 Membersihkan Rumah dengan Kotoran Kerbau
Uniknya lagi mereka membersihkan lantai rumahnya dengan menggunakan kotoran kerbau yang dicampur sedikit air, kotoran ini dianggap dapat membuat ruangan lebih hangat dan dapat mengusir nyamuk. Penghuni rumah membersihkannya dua kali dalam seminggu sesuai dengan tradisi dari zaman dahulu.

teman-teman dari Kalimantan


Tradisi Pernikahan
Jika seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, maka laki-laki itu akan menculik perempuan itu pada malam hari dan mengembalikannya di pagi hari atu setelah beberapa hari. Itu merupakan cara romantis laki-laki untuk melamar wanita yang dicintainya. Tetapi jika wanita itu tidak mencintainya maka sebuah kemalangan karena dia tidak bisa menolak lamaran itu, jika ditolak maka akan berakibat buruk bagi dirinya dan tidak akan ada lagi laki-laki yang akan menikahinya.

Kegiatan Menenun Dan Bercocok Tanam
Menenun menjadi salah satu kegiatan perempuan di desa ini, selain itu juga ada kegiatan memintal benang. Mereka belajar menenun sejak usia sepuluh tahun. Katanya perempuan yang belum bisa menenun tidak boleh menikah, sehingga menenun merupakan kegiatan yang sangat berharga bagi kaum perempuan di Sade. 

salah satu wanita Desa Sasak Sade dalam kegiatan menenun

Tenunan yang dihasilkan sangat rapi, unik dan nyaman digunakan. 

salah satu hasil tenunan pengrajin di Desa Sasak Sade, kainnya halus dan adem

Selain dijual di desa ini, hasil tenunan mereka juga jual ke beberapa galeri penjualan oleh-oleh di Lombok. Selain menenun, sumber mata pencaharian desa ini adalah bercocok tanam yaitu padi dan sayuran.

salah satu warga Desa Sasak Sade menjual hasil tenun dirumahnya


wefie...... cheerrrssss

Jangan lupa kalau kesini membeli hasil tenun perempuan-perempuan hebat ini ya kawan, kainnya halus dan adem di kulit juga sebagai bentuk kepedulian kita untuk melestarikan dan mempromosikan kerajinan tenun dari Desa Sasak Sade ini.

Setelah kurang lebih satu jam mengelilingi desa asri ini, akhirnya kami harus pamit untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. see you Sade......



Comments

  1. Bagus ya desa Sade. Aku ke sini zaman belum ada kamera hp yang bagus. Dokumentasi masih pakai roll. Wkkka. Mupeng gelang dari tanduk sapi nya pas aku ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo ke sana lagi Mba, bagus, bersih, dan tenang tempatnya :)

      Delete
  2. Wow, rumah2nya terbuat dari bambu. Pasti nuansanya adem gitu ya mbak. Keren nih, pantes aja jadi desa wisata. Ditunggu review lainnya mbak 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya rumah tradisional gitu, suku asli sana.
      siap untuk review lainnya ya Mba...

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Ke sini tahun 2017 ya mb?. Aku rencana mau ke Lombok tapi karena kemarin 2018 ada gempa di Lombok jadi ditunda. Semoga bisa ke sini juga. Vibenya cantik banget 💜💜

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini perjalanan tahun 2016 awal kayaknya Mba, cuman baru ditulis tahun 2017 biasa suka latepost :)

      Delete
  5. Sangat unik ya tradisi di desa Sade. Nggak kebayang deh kalo jadi gadis di sana harus bisa menenun & diculik sebelum nikah, wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha jangan dibayangin diculiknya Mba, apalagi soal nenun kalau ga bisa tar ga nikah--nikah :)
      bayangin aja lagi jalan-jalan ke benua lain dengan pasangan tercinta hehehe

      Delete
  6. Membersihkan dengan kotoran kerbau, itu yang agak kontradiktif ya mb...membersihkan tapi dengan kotoran...hihi..tapi bgtlah kearifan lokal...btw kalau dibersihkan gt ada aroma khas yang tertinggal ga mb? 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. waktu kami masuk ke sana, sama sekali tidak tercium bau apa-apa Mba Sapti

      Delete
  7. Rumahnya ternyata unik dan menarik ya, ada beberapa tipe dan penggunaannya juga beda-beda... Kamu smpat tidur di dalam rumahnya kah mbak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga neng, visit one day saja :) mereka gak buka untuk penginapan

      Delete
  8. Satu hal yang selalu kuingat dari Desa Sade adalah bersihin rumahnya pake kotoran kerbau. Itu dulu ada di pelajaran jamnn SD kayaknya hihihi. Semoga kelak bisa mampir ke tempat ini ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih sampai sekarang Mba, itu kan adat ya mungkin mereka jaga sampai sekarang dan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, sebagai salah satu kelestarian adat dan budaya mereka

      Delete
  9. Wah, nggak bau ya mba lantainya dibersihin pake kotoran kerbau.
    Suka deh liat keragaman budaya kek gini. Pengin

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga Mba pas saya masuk ga mencium apa apa, tapi anehnya malah bisa ngusir nyamuk ya, penciuman kita sama nyamuk karena beda kayaknya :)
      unik lah

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …

Gereja Ayam dan Bukit Rhema, Gereja di Tengah Hutan

Dari Puthuk Setumbu, kami lanjutkan ke Gereja Ayam dan Bukit Rhema yang jaraknya tidak jauh masih dalam kawasan Bukit Menoreh, trekking sekitar 15-20 menit. Kondisi jalan saat itu sedikit basah, sepanjang jalan dikelilingi oleh hutan terbuka. Lokasi tepatnya berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah.



Destinasi ini juga menjadi salah satu tempat syuting film AADC, sehingga kemudian menjadi destinasi populer. Gereja Ayam ini terletak di Bukit Rema Borobudur, Gereja ini merupakan sebuah rumah doa, pada tahun 2000 sempat di tutup karena ditolak oleh warga namun ada juga yang bilang kalau biaya pembangunannya terlalu mahal. Namun kemudian pada tahun 2014 dibuka kembali namun beralih fungsi menjadi tempat wisata.

Dengan membayar Rp 10.000 per orang, wisatawan bisa masuk dan berkeliling gereja ini. Gereja Ayam ini sebenarnya bangunan yang diatasnya dibangun dengan desain awalnya adalah seekor merpati namun banyak orang menganggapnya sebagai seekor ayam. Sehingga terke…