20 February 2020

Gunung Kerinci, Pesona Gunung Tertinggi Di Sumatera

Siapa yang tak mengenal Gunung Kerinci, gunung tertinggi yang pertama kali didaki oleh Von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877 ini berada di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan menjadi salah satu bucket list para penikmat ketinggian dari berbagai belahan Indonesia bahkan dunia. Gunung dengan nama lain Korinci, Gunung Gadang, Berapi Kerinci dan Puncak Indrapura ini juga menjadi rangkaian seven summit Indonesia. Beruntung saya dapat mengunjungi tempat ini pada Oktober 2013, pada saat musim cerah.

Gunung Kerinci, yang mendapat julukan atap Sumatera ini masih tergolong aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009 dan mempunyai ketinggian 3.805 mdpl (meter di atas permukaan laut) serta berjenis gunung berapi bertipe strato vulcano. Lokasi gunung ini berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Makin bikin penasaran niy gunung tertinggi di Sumatera ini.

thanks to my God, sampai puncak juga, meski penuh drama

Hari ke-1
Saya bersama teman-teman lainnya mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi.  tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan gunung tertinggi di Sumatera. Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam lagi untuk menuju desa terakhir sebelum pendakian yaitu Desa Kersik Tuo. Kami menyewa elf berkapasitas 16 orang. Malam hari kami tiba di basecamp dan sudah ada beberapa teman seperjalanan yang sudah tiba lebih awal. Kami melakukan packing dan istirahat di basecamp Kerinci dengan membayar biaya menginap dan makan seikhlasnya.


gunung tertinggi di Sumatera ini sudah mulai terlihat

Hari ke-2
Pagi sekitar pukul 7 kami mulai melakukan perjalanan menuju tempat pendaftaran untuk mengurus perizinan dengan menyewa sepeda motorsetelah selesai semua perizinan kami memulai perjalanan dari pintu rimba dan tiba di shelter 2 sekitar pukul 5 sore. Kami memutuskan untuk memasang tenda di tempat ini, karena hari sudah hampir gelap dan satu orang teman kami terkena cedera lutut.


selfie sebentar di depan pos perizinan

foto keluarga dulu sebelum mulai pendakian
sepertinya ini pendakian paling banyakan

welcome to shelter 2, Gunung Kerinci



selfie dulu di shelter 2

Hari ke-3
Pukul 3.00 pagi setempat saya bersama teman-teman dan guide kami Mas Yuda, sudah bangun dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju summit ke Gunung Kerinci,. Ternyata dua teman kami mengalami kelelahan dan cedera lutut sehingga memutuskan untuk tidak ikut menuju puncak. Puncak 4.00 waktu setempat kami mulai melakukan pendakian dengan bermodalkan daypack kecil untuk membawa makanan dan minuman untuk perjalanan serta membawa lampu senter untuk penerang jalan. Udara sangat dingin dan jalan yang kami lalui cukup menantang. Jalan menuju puncak berupa jalan dengan hutan basah yang masih rapat, penuh dengan akar-akar besar yang menanjak hampir 80 derajat, dada ketemu lutut. Rute jalannya bener-bener gunung tertinggi di Sumatera. Challenging banget deh pokoknya….


sunrise menuju pos 2

karena kabut menikmati danaunya dari bawah saja sebelum berkabut

Tiba di pos 2 sekitar pukul ½ 6 pagi, kami beristirahat karena kabut turun dan angin berhembus dengan cukup kencang. Pukul 07.00 waktu setempat kami lanjutkan perjalanan, namun kabut dan angin makin kencang sehingga kami harus berlindung di antara bebatuan-bebatuan besar.



menunggu sunrise di pos 2

perjalanan menuju puncak

menunggu badai dan kabut reda, berlindung di aliran air dan di bawah bebatuan besar






Saya bersama 3 orang teman lainnya paling belakang, berjalan santai sambil mengambil beberapa gambar. Rasa dingin di Gunung Kerincisudah tidak kami hiraukan lagi. Kami melihat teman kami satu orang yang cedera lututnya ada di belakang dengan hanya bermodalkan jaket tipis dan celana pendek. Kami tunggu dia dan dia bilang dia tidak ikut ke puncak hanya menyusul dan menunggu di pos 2. Tapi kami lihat dia tetap mengikuti kami. Kami perhatikan terus dari atas, sampai akhirnya kami lihat dia kena hypo dan kami membawa dia turun ke tenda pendaki yang ada di pos 2. Bersamaan dengan dia sembuh, teman-teman kami yang sudah ke puncak, turun dengan muka penuh kepuasan karena sudah sampai puncak.




Kami bertiga pasrah tidak sampai puncak Gunung Kerincikarena hari sudah siang dan berkabut pula. Tetiba ada pendaki solo yang hendak ke puncak dan kami diajak bareng. Akhirnya kami memutuskan ikut gabung dan akhirnya kami berempat menuju puncak, meski hari masih berkabut dan angin masih berhembus.




Alhamdulillah dengan penuh perjuangan menghadapi kabut dan angin kami sampai ke puncak gunung tertinggi di Sumatera ini sekitar pukul 14.00 waktu setempat meski kawah yang berluas 400 x 120 meter dan berwarna hijau ini tidak sempat kami lihat. Meski dalam kondisi cuaca mendung, kami ambil beberapa foto di puncak Gunung Kerincidan memutuskan turun sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Selepas magrib kami baru tiba di shelter 2 dan melihat tenda teman-teman masih berdiri, karena rencananya kami akan turun ke basecamp hari itu, namun ternyata teman-teman memutuskan menginap kembali di shelter dua karena ada beberapa teman yang mengalami kelelahan dan cedera akibat kondisi cuaca dan jalan yang memang lumayan berat.

kabutnya masih banyak, jarak pandang kurang dari 3 meter
harus hati-hati biar ga kesasar
Hari ke-4
Pagi-pagi kami bersiap untuk turun ke basecamp, beruntung cuaca cukup cerah. Saya turun berkelompok dengan dua teman dan nampaknya kami jauh dari kelompok lain, akhirnya kami lari-lari dan sekitar pukul 12 waktu setempat kami sampai di pintu rimba dan langsung menuju basecamp dan beristirahat di ladang milik warga sembari menunggu teman lainnya. setelah semua berkumpul kami berjalan menuju basecamp dan tiba sore hari. Kemudian bersiap-siap karena malam kami akan melanjutkan perjalanan menuju bandara yang akan ditempuh sekitar 10 jam.
Tepat pukul 9 malam kami mulai melanjutkan perjalanan menuju bandara. Tepat sekali malam itu adalah malam hari raya idul adha.

Hari ke-5
Pukul 6 pagi kami tiba di bandara dan melakukan sholat idul adha di masjid bandara. Setelah itu kami bersiap-siap karena pesawat kami akan berangkat sekitar pukul 11 siang waktu setempat.


foto dulu sebelum pulang di ikonnya Desa Kersik Tuo: Tugu Macan
See you Gunung kerinci, gunung tertinggi di Sumatera, terima kasih untuk pelajaran yang sudah diberikan kepada kami.


Alamat
Jalan Raya Kersik Tuo, Padang, Kersik Tuo, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi

Jam buka tutup
Basecampnya terbuka selama 24 jam untuk para pendaki.
Pendakian saat kami mendaki hanya diperbolehkan dari subuh dan turun maksimal pukul 5 waktu setempat, dikarenakan gunung ini masih banyak binatang buas.

Waktu tempuh perjalanan
Jika kondisi anda dan teman-teman, perjalanan dari basecamp sampai dengan turun kembali dapat ditempuh dua hari saja, tetapi jika bersantai tiga hari akan lebih aman.

Waktu yang tepat untuk berkunjung
Berkunjunglah saat musim kemarau, selain kondisi jalan kering dan tidak becek, akan lebih memungkinkan melihat keindahan alamnya dalam kondisi cerah, dan pastinya lebih aman bagi para pendaki.

Tempat wisata atau gunung sekitar
- Gunung Tujuh
- Danau Kaco
- Gunung Dempo

Aktivitas yang dapat dilakukan
- Trekking dan camping

Fasilitas
- Baseccamp menginap para pendaki
- SAR
- Tempat perizinan dan pendaftaran

10 February 2020

Menikmati Senja Di Pura Uluwatu, Pesona Tari Kecak di Atas Tebing

Bali selalu mempunyai pesona untuk menarik para wisatawan berkunjung. Salah satunya adalah Pura Uluwatu atau disebut juga Pulau Luwur yang menjadi salah satu destinasi wisata kayak akan budaya yang banyak diburu oleh wisatawan domestik dan juga mancanegara. Pura ini menjadi satu dari enam pura yang disucikan karena merupakan Pura Kahiyangan sebagai pilar spiritual bagi masyarakat pulau Bali.


Suasana pembukaan Tari Kecak 

Harga tiket dewasa per orang untuk wisnus


Selain tiket masuk, pengunjung juga mendapat selebaran tentang Tari Kecak

Pura Uluwatu yang keberadaannya di atas tebing dan berada di ujung Barat Daya pulau Bali dan berada 30 km dari kota Denpasar, menjadikannya destinasi wisata yang banyak dipilih untuk menikmati sunset sembari menikmati Tari Kecak dari atas tebing dengan pemandangan langsung ke laut.



Salah satu view dari atas tebing Pura Uluwatu
Pict taken by Tami

 Panggung terbuka tempat pementasan Tari Kecak

Pura Uluwatu sempat terbakar karena petir tahun 1999 ini, mengadakan Tari Kecak secara rutin yang sangat dinanti-nanti oleh wisatawan. Tarian ini sudah dilakukan beberapa modifikasi, karena aslinya merupakan tarian sakral yang hanya boleh dilakukan pada saat upacara tertentu.

Salah satu view yang dapat dinikmati di Pura Uluwatu

Berpakaianlah yang sopan saat masuk ke dalam destinasi wisata Pura Uluwatu, karena tempat ini merupakan salah satu tempat ibadah bagi warga Bali dan datanglah lebih awal jika kamu ingin menyaksikan Tari Kecak sebelum jam tiket buka agar tidak mengantri atau bisa juga membelinya melalui online.

Pengunjungnya hampir wisatawan mancanegara semua


Selain menyaksikan Tari Kecak dengan panggung terbuka, wisatawan juga dapat mengelilingi dan mengambil beberapa photo di kawasan pura ini dengan pemandangan laut lepas yang indah dan juga beberapa bangunan khas bali.


Sunset di Pura Uluwatu masih malu-malu :)

Happy hunting.


Alamat
Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, kabupaten Badung

Harga Tiket Masuk (HTM)
Domestik Dewasa Rp. 30.000,00
Domestik Anak-anak Rp. 20.000,00

Mancanegara Dewasa Rp. 50.000,00
Mancanegara Anak-anak Rp. 30.000,00

Biaya Parkir
Mobil  Rp. 5.000-,

Tiket Tari Kecak Rp. 90.000 (saya membeli secara online)
Tiket Tari Kecak Rp. 100.000 (jika membeli secara langsung)
Konser dimulai pada pukul 18.15 WIT – 19.00 WIT

Jam Buka Tutup
Buka pukul 07.00 WITA
Tutup pukul 19.00 WITA

Waktu tempuh perjalanan
Kurang lebih 1 jam dari Kota Bali

Waktu yang tepat untuk berkunjung
Berkunjunglah pada sore hari agar tidak terlalu panas menyengat.
Untuk acara Tari Kecak diadakan pada sore hari.

Fasilitas
Area parkir
Tempat makan
Toilet dan tempat mandi
Pintu karcis masuk
Tourist information

Rute
Jaraknya sekitar 20 km atau sekitar 30 menit - 1 jam dari Bandara Ngurah Rai Bali dalam kondisi normal.
Pantai ini juga dapat ditempuh dengan memilih rute melewati GWK, Tol Bali Mandara, atau melewati Kampus UNUD.

Apa saja yang dapat dinikmati di pantai ini?
Menikmati sunset dari atas tebing pura
Menikmati view laut dari ketinggian
Menyaksikan Tari Kecak
Berfoto di pura

01 February 2020

Desa Wisata Penglipuran, Desa Terbersih Dan Desa Terbaik Di Dunia

Bali selalu punya cara untuk menarik wisatawan berkunjung. Kali ini saya mengunjungi desa adat yang disulap menjadi sebuah konsep desa wisata yang kaya akan budaya. Yap, Desa Wisata Penglipuran, desa wisata yang saat ini sudah mendunia karena masuk dalam 3 desa terbersih di dunia versi majalah internasional Boombastic setelah didahului oleh Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Bahkan didapuk sebagai desa terbaik di dunia kedua versi TripAdvisor tahun 2016 berdasarkan pilihan para traveller setelah Kepulauan Galapangos di Ekuador (sumber dari Indonesia.go.id).

Welcome to Desa Penglipuran
Pict taken by Hanifah

Awalnya desa yang masuk dalam salah satu desa terbersih di dunia sekaligus salah satu desa terbaik di dunia ini merupakan sebuah desa konservasi untuk adat dan budaya agar tetap terjaga. Pada tahun 1989/1990 desa ini dilakukan penataan pemukiman oleh dinas PU. Selama proyek berjalan, beberapa mahasiswa Udayana melakukan KKN di tempat ini, selama proses ini maka berkembanglah menjadi tempat wisata secara perlahan.




Desa Wisata Penglipuran sudah ditetapkan sebagai desa wisata sejak tahun 1995 ini, mempunyai keunikan yang jarang ada di tempat lain. Adat desa ini melarang laki-laki untuk berpoligami dan menganggapnya sebagai dosa besar, jika dilakukan maka akan dikucilkan dan dipindahkan ke sebuah tempat yang bernama Karang Memadu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan untuk perempuan dan perlindungan atas haknya yaitu suami. Wah unik ya.....

Kegiatan anak-anak sore hari adalah bersekolah
Pict taken by Tami

Desa wisata yang masuk dalam salah satu desa terbersih di dunia sekaligus salah satu desa terbaik di dunia ini nyaris tanpa ada kendaraan sehingga tempatnya sangat asri dan bebas polusi. Ketiga, desa wisata ini memegang konsep Tri Mandala, yaitu membagi konsep ruang menjadi 3 bagian sesuai dengan fungsinya yaitu ruang utama madya, dan nistra, yang membujur dari utara (gunung) dan selatan (laut).


Pura tempat ibadah warga Desa Wisata Penglipuran


Salah satu spot foto di Penglipuran: Kebun Bambu
Pict taken by Tami

Desa Wisata Penglipuran ini memiliki luas sekitar 112 ha yang dikelilingi oleh hutan bambu seluas 45 ha, yang menjadi salah satu objek wisata tempat ini. Desa ini memiliki jalan yang sangat bersih dan asri. Saat masuk pintu gerbang, terdapat Catus Pata yaitu tempat yang terdiri dari balai desa, fasilitas masyarakat, dan area terbuka hijau. Sangat wajar desa ini masuk dalam salah satu desa terbersih di dunia sekaligus salah satu desa terbaik di dunia.


Jalannya bersih sehingga mendapat Desa Wisata Terbersih Kedua di Dunia
Pict taken by Tami



Rumah-rumah yang berdiri di Desa Wisata Penglipuran semuanya berbentuk tradisional khas desa di Bali. Setiap rumah diberikan tanda nama pemilik rumah serta anggota keluarga. Masing-masing rumah juga memiliki tempat pemujaan. Satu lagi yang menurut saya unik adalah semua pintu rumah didesain sama atau yang disebut dengan nama angko-angko. Desain rumah juga mengikuti aturan yang ada dan seragam untuk semuanya.


Suasana Desa Wisata Penglipuran
Dengan Angko-angko yaitu pintu masuk rumah yang bentuknya sama

Souvenir hasil karya warga Desa Penglipuran

Di Desa Wisata Penglipuran kita dapat berfoto bebas dan ala-ala selegram, hehehe apalagi pas musim cerah, berlatar belakang rumah adat dan langit biru bikin makin indah photo-photo kita. Ada yang mau coba kesini guys?


Gagal bikin foto ala selegram, inilah favorit spot foto buat saya
 Taken pict by Hanifah

Penasaran untuk mengunjungi Desa Wisata Penglipuran yang masuk dalam salah satu desa terbersih di dunia sekaligus salah satu desa terbaik di dunia ini kan?

Alamat
L. Rambutan, Gang 3 A1, Kawan, Kubu, Kabupaten Bangli

Harga Tiket Masuk (HTM)

Domestik Dewasa Rp. 15.000 dan Anak-anak Rp. 10.000
Mancanegara Dewasa Rp. 30.000 dan Anak-anak Rp. 25.000
Parkir Rp. 5.000 untuk mobil

Jam buka tutup
Buka pukul 08.00 WIT dan tutup pada pukul 17.00 WIT

Waktu tempuh perjalanan/cara menuju tempat ini

Waktu tempuh kurang lebih 1 jam dari Kuta atau hanya berjarak sekitar 54 km.
Dapat menggunakan kendaraan umum atau menyewa kendaraan motor dan mobil

Waktu yang tepat untuk berkunjung
Berkunjunglah pada saat musim panas ya, bukan musim hujan biar dapat photo-photo keceh dan datanglah di pagi atau sore hari sekalian biar ga panas-panasan.

Tempat wisata sekitar
Hutan bambu Penglipuran
Air terjun Cukad Cepung
Pura Tirta Empul Segara Merta Sari
Gunung kawi
Air terjun Tibumana
Pura Besakih

Aktivitas yang dapat dilakukan
Selfie Wefie dengan background view langit indah, rumah dan masyarakat adat
Hutan bambu
Membeli souvenir
Wisata kuliner, makan dan minum di warung rumah warga
Photo di pintu-pintu pura dan rumah milik warga
Melihat aktifitas masyarakat adat
Menikmati suasana alam dan view sekitar desa
Belajar tata cara hidup masyarakat adat
Live in

Fasilitas
Pura
Toilet
Rumah makan
Gazebo
Pusat informasi
Penginapan


Back to Top