Skip to main content

Menelisik Keberadaan Kampung Pitu

Turun dari Gunung Api Purba kami lanjutkan dan mencari-cari lokasi kampung ini. Tidak ada papan petunjuk menuju kampung ini, saya bersama teman sedikit kebingungan, hanya menebak-nebak saat menemukan jalan setapak, kami ikuti jalan tersebut, dan ternyata benar jalan itu merupakan jalan menuju Kampung Pitu.

Pertama kali memasuki kampung ini, seperti tidak ada kehidupan. Jarak rumah satu dengan lainnya berjauhan, suasananya sepi, kami hanya melihat beberapa ekor binatang yang hidup di kampung ini. Rasa penasaran membawa saya terus bergerak melewati pematang sawah yang ternyata jalan itu menuju ke sebuah sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu.


jalan menuju ke Kampung Pitu
photo taken by Chris



bentuk sumber mata air atau sumur yang dianggap sakral oleh warga Kampung Pitu

Dari kejauhan saya melihat rumah yang hanya beberapa atap saja. Saya mulai yakin inilah Kampung Pitu itu. Setelah mendekat kemudian saya melihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut. Beliau tersenyum ramah dan menyapa kami dengan bahasa yang saya belum pahami. Teman saya menjawab dengan bahasa yang sama, ah untunglah. Teman saya bilang, kita diajak mampir kerumahnya. Nama beliau adalah Ibu Sumbuk.

halaman belakang di salah satu rumah Kampung Pitu

narsis dikit di belakang rumah warga Kampung Pitu
photo taken by  Chris

Kebetulan sekali ternyata pemilik rumah ini adalah orang yang dituakan di kampung ini, namanya Pak Yatnorejo. Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk ini belum bisa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian mereka memanggil anaknya namanya Pak Aan. Ternyata Pak Aan ini merupakan salah satu pengurus Pokdarwis di Nglanggeran. Kami mulai mengobrol dengan suasana hangat, disuguhi makanan khas tradisional namanya rangginang, ditemani juga secangkir teh manis hangat buatan Ibu Sumbuk.

makanan tradisional rangginang ditemani segelas teh manis

Pak Aan bercerita banyak mengenai sejarah tentang Kampung Pitu. Untuk mempertahankan pesan leluhur, rumah ini hanya boleh diisi oleh tujuh kepala keluarga meskipun ada sepuluh rumah. Jika sudah lebih dari tujuh keluarga maka berikutnya akan pindah dari kampung ini demi keselamatannya. Rumah-rumah ini terbentuk dari kayu-kayu kokoh tanpa ada sekat dan masih beralaskan tanah. Dan justru ini menjadi daya tarik tersendiri, namun sayangnya beberapa rumah sudah diubah sebagian bangunannya dengan menggunakan tembok, jadi keasliannya sudah mulai hilang.

bentuk rumah warga kampung Pitu yang masih asli yang terbuat dari kayu-kayu kokoh



Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk - sepasang suami istri yang menjadi wakil yang dituakan

Kampung Pitu ini masih memegang kehidupan yang selaras dengan alam dan menjaga beberapa budaya yang mereka miliki. Seperti masih mengadakan upacara-upacara adat atau tradisi seperti Tingalan, Tayub/Ledek, dan Rasulan. Warga kampung ini mempunyai sumber kehidupan dari bercocok tanam dan beternak. Untuk teman-teman yang ingin merasakan suasana Kampung Pitu ini, Desa Wisata Nglanggeran menyediakan paket Live In di rumah warga Kampung Pitu. Ratusan orang sudah mengunjungi kampung ini dan banyak mahasiswa juga sering mengadakan acara makrab di kampung ini.

Tak terasa kami mengobrol hampir dua jam, karena kami masih berniat melihat embung, maka kami pamit pulang dan sempat mengambil photo dengan keluarga yang penuh dengan ketulusan ini.

Jangan lupa ya kalau berkunjung ke Kampung ini mengisi buku tamu dan silakan berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka...... Terima kasih untuk keluarga Pak Aan, Pak Yatno dan Ibu Sumbuk untuk kehangatannya hari ini….. Kalian sudah mengajarkan banyak bagaimana cara hidup sederhana dan tetap bersyukur dengan apa yang diberikan tuhan untuk kita, semoga kalian sehat selalu.......

Comments

  1. Kampung pitu ini dimana ya kak? Terus ada angkutan umum nggak ya menuju kesana? Sepertinya nggak ada ya hehehe.

    ReplyDelete
  2. Kakkk ini tuh d daerah kaki Gunung Api Purba, tepatnya daerah mana kak, penasaran siapa tau ada rezeki buat ngunjungin kampung pitu ini

    ReplyDelete
  3. Selalu seru dan nambah pengalaman baru kalo main ke kampung-kampung gini yaa Ka, sekaligus refreshing juga hihi

    ReplyDelete
  4. Mei, mungkin bisa ditambahkan keterangan, Kampung Pitu di Nglanggeran ini terletak di kota mana, karena tidak semua mengikuti kisah sebelumnya ya.

    Semoga keturunan berikutnya masih bisa melestarikan budaya di Kampung Pitu ya.

    ReplyDelete
  5. maaf ya mbak mei tapi kok aku horror liat sumurnya huhuhuu apalagi kalau malam ya

    ReplyDelete
  6. Mba ini Gunung Purba ada belah mana? dan kampung pitu juga di mana hahaha maklum geografiku kurang baik pas sekolah :D itu warisan leluhurnya harus pindah kalau lebih dari 7 kepala kelurga yah? pantes disebut pitu

    ReplyDelete
  7. Rangginang kesukaanku banget itu, aku selalu suka deh baca tulisanmu tentang traveling ini. Jadi nambah pengetahuan juga tentang beberapa tempat yang belum pernah aku kunjungi.

    ReplyDelete
  8. Baru denger aku Kak ada Kampung pilu ini ini. Seru ya main-main ke kampung begini.

    ReplyDelete
  9. Unik banget yah kampung pitu, aku kaya ngerasa kesan mistis gitu, cuma boleh 7 keluarga, wow banget!

    ReplyDelete
  10. Mba ini lokasi Kampung Pitu di mana ya? Sepertinya akses jalannya sulit ya. Tapi seneng lihatnya, jadi pengalaman berkesan bisa berkunjung ke sana. Suguhan rangginang sama tehnya juara banget sih.

    ReplyDelete
  11. Mba, mau tanya itu Kampung Pitu dimana ya mba? Kampung Pitu masih asli ya penduduknya dan juga suasana nya. Apakah di Kampung Pitu ini merupakan salah satu tempat wisata yang memang di rekomendasikan oleh pemerintah daerah Mba?

    ReplyDelete
  12. Jadi inget dulu live-in pas SMA. Ngerasain hidup di desa. Desa yg sekolahku tuju uda termasuk desa modern sih. Rumah udah bertembok dan bapak yang punya rumah sudah punya motor untuk beraktivitas. Keluarga yang kami singgahi punya ternak babi dan sapi. Pengalaman yang gak terlupakan selama tinggal di sana. Terutama pas pagi hari, air mandinya dingin amit2 brrrr... 🤣

    ReplyDelete
  13. Mba, kenapa dinamakan kampung pitu ? Ini lokasi tepatnya dimana ya mba dan aksesnya gimana ? Kalau dekat Jakarta, bolehlah sesekali berkunjung :)

    ReplyDelete
  14. Ngobrol sama Pak Yatnorejo dan Ibu Sumbuk menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah setempat, kak?
    Seru banget bila kita mengunjungi sebuah tempat sambil mempelajari budaya serta kehidupan asli warganya. Berpadu dengan lingkungan tempat kita berada.

    ReplyDelete
  15. Sumurnya meskipun dianggap keramat tapi udah dibikin modern ya. Udah ada pompa untuk naikkan air.
    Baru tau nih tentang Kampung Pitu yang di dalam rumah bisa terdiri dari banyak keluarga, maksimal 7 keluarga gitu. Ini mendukung orang untuk merantau ya setelah lebih dari 7 keluarga.

    ReplyDelete
  16. aku tuh kayak pernah denger ttg kampung pitu ini tapi lupa baca di mana hahahaa ini letaknya di mana sih mba?

    ReplyDelete
  17. aku baru tahu ada kampung pitu mbak itu daerahnya dimana kalo ga mampir kesini aku ga tahu

    ReplyDelete
  18. KOndisi skarang kadi butuh banget bisa ke kampung pitu mba. LOkasinya kliatan nyaman sekali dan incip ah makanan tradisionalnyaa

    ReplyDelete
  19. Waktu 3 tahun lalu, aku sering banget mba ke tempat perkampungan seperti ini yang mana kampungnya punya sejarah. Di luar pulau Jawa tapi.

    ReplyDelete
  20. Semoga kampungnya bisa semakin ramai dan banyak dikunjungi orang ya 😄

    ReplyDelete
  21. Lucuk juga ya bertamu ke kampung harus mengisi daftar tamu, well bagus bgt sih sebenarnya supaya lebih kenal satu sama lain ya

    ReplyDelete
  22. Jadi kehidupan di Kampung Pitu ini masih dekat sekali dengan alam ya Kak. Btw sebut2 rengginang saya juga udah lama nggak ngemil cemilan itu hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Mau Mandi Parfum Setiap Hari, Pakai Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash

Melakukan olahraga yang membutuhkan ketangkasan fisik seperti trekking, wall climbing, latihan menembak, jogging, bersepeda, dan berkuda adalah aktivitas yang rutin aku lakukan dan tentunya memicu keringat yang berlebih. Nah sebagai perempuan yang aktif dalam kegiatan di luar ruangan dan berkaitan dengan alam bebas, pastinya butuh nutrisi yang lebih buat kulitnya, sering juga khawatir soal bau badan kulitnya jadi kering. Tapi itu dulu... Sekarang kawatir itu sudah hilang setelah bertemu sahabat baru yang selalu nenangin kalau habis berkeringat, yapppp Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash. Sabun ini membuat aku merasa mandi parfum setiap hari.



By the way, sejak pertengahan tahun 2019, Vitalis mulai melakukan penetrasi produk parfumnya ke body wash yang punya high quality moisturizer. Nah penasaran kan varian body wash-nya seperti apa? Ternyata Vitalis Perfumed Moisturizing Body Washmembuat 3 pilihan varian yang punya manfaat masing-masing yang dibutuhkan kulit, tentunya dengan vitali…

Gunung Kerinci, Pesona Alam Penuh Misteri Di Atap Sumatera

Siapa yang tak mengenal Kerinci, gunung tertinggi yang pertama kali didaki oleh Von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877 ini berada di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan menjadi salah satu bucket list para penikmat ketinggian dari berbagai belahan Indonesia bahkan dunia. Gunung dengan nama lain Korinci, Gunung Gadang, Berapi Kurinci dan Puncak Indrapura ini juga menjadi rangkaian seven summit Indonesia.

Gunung yang mendapat julukan atap Sumatera ini masih tergolong aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009 dan mempunyai ketinggian 3.805 mdpl (meter di atas permukaan laut) serta berjenis gunung berapi bertipe stratovulcano. Lokasi gunung ini berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Hari ke-1 Saya bersama teman-teman lainnya mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi. Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam lagi untuk menuju desa terakhir sebelum pendakian yaitu Desa Kersik Tuo. Kami menye…