August 30, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (The Last Part)


Hari ke-6 (Pos 7 Bayangan – Rantau Malam)

Pukul 06.15 pagi kami sudah memulai perjalanan untuk turun ke Rantau Malam. Sekuat tenaga kami berjalan untuk sampai ke basecamp.

suasana santai saat pulang, istirahat sambil dengerin cerita Bapak-Bapak Porter


Saya bersama porter dan beberapa teman lainnya berjalan turun dengan kondisi santai. Karena ada teman yang maagnya kambuh.

Pak Sardin dan Pak Yaqub, 2 dari 6 porter hebat yang jagain kami, terima kasih Bapak

Kami sempat berisitirahat di  4Pos 3 Hulu Menyanoi dan memasak. Kami juga sempat istirahat cukup lama di Korong Hape sambil menunggu ojek yang lewat. Setelah menunggu lama akhirnya ada ojek yang lewat dan kami sempat berhenti makan di pos ojek tempat sungai kami menyebrang sebelum menuju Rantau Malam. Pukul 09.10 malam kami baru sampai di Desa Rantau Malam.

suasana ritual adat setelah pendakian, muka-muka lelah dan ngantuk
pict taken by Om Maw

Setelah kami rapi-rapi dan kumpul semua, langsung diadakan ritual adat penutup sebagai ucapan syukur jika kami pulang dengan selamat. Kemudian dilanjutkan dengan packing dan istirahat.


Hari ke-7 (Rantau Malam – Pontianak)

Pukul 08.30 pagi kami memulai perjalanan menuju Sungai Serawai. Disinilah serunya. di penghujung kemarau, arus sungai sangat kecil dan dangkal, jadilah kami (team cowok sih ehhehe, perempuan nangkring cantik aja di atas perahu heheheh) harus dorong-dorong tuh klotok, tidak hanya sekali tapi berkali-kali.

karena airnya surut dan dangkal, jadilah dorong-dorong klotok sampai nemu sungai yang dalam

Belum lagi mereka harus berjalan menyusuri sungai, karena klotoknya tidak sanggup membawa beban berat, ya karena kondisi arus airnya yang kecil dan dangkal.

keseruan dorong klotok, kapan lagi kan :)

klotoknya ga bisa nahan beban, terpaksa ya anak cowoknya harus menyusur sungai :) ganbatte 

Kami tiba di Sungai Serawai sekitar pukul 03.20 sore. Pukul 03.35 sore kami lanjutkan perjalanan menuju Nanga Pinoh dengan menggunakan speed boat. Mengejar Damri pukul 07.00 malam, speed boat berjalan lebih cepat.

pemandangan sungai yang jernih dan pohon-pohon rindang sepanjang melewati Sungai Jelundung


pemandangan lainnya, kapal-kapal sedang bersandar di bahu sungai

pemandangan lain, warga sedang mencari ikan
ada juga menambang emas di sungai ini
Pukul 06.55 malam kami baru sampai ke dermaga Sungai Serawai. Sementara kami masih harus menggunakan angkot untuk menuju ke Terminal Nanga Pinoh tempat Damri yang akan mengangkut kami. Sayangnya kami sampai di sana sudah tidak ada satupun bus menuju Pontianak termasuk Damri.


narsis dulu on klotok ya guys, perjalanan masih berjam-jam
pict taken by Om Ihsan

susah dapat full teamnya :)

Dibantu oleh Bapak Supir Angkot yang mengantar kami dari dermaga, kami diantar ke salah satu agen bus yang tidak jauh dari terminal. Ternyata penumpangnya hanya kami saja, jadilah penguasa bus yang bebas mau pakai kursi mana saja.

Sekitar pukul 08.10 malam kami melanjutkan perjalanan menuju Terminal Soedarso Kota Pontianak.

Dan kami tiba pukul 03.50 pagi. Istirahat sejenak di terminal ini dan kami berkemas untuk kembali kekotanya masing-masing. Saya sendiri pamit duluan karena masih harus melanjutkan perjalanan ke kota lainnya sementara lainnya masih akan berkeliling city tour  and culinary di Kota Pontianak.


photo sebelum kembali ke kota masing-masing, see you next trip guys, thanks buat keseruannya

Terima kasih Tuhan sudah memberikan kesempatan untuk kembali melihat keindahan dan keajaiban negeriku. Perjalanan yang sangat melelahkan namun memberikan pengalaman yang sangat luar biasa yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Lagi-lagi mengingatkan saya jangan pernah menilai sebuah perjalanan hanya menghabiskan uang tapi lihatlah pengalaman berharga yang kita dapatkan.

See you next trip guys……..


Tips and Trik
  1. Cek tiket jauh-jauh hari ya biar dapat harga tiketnya murah J
  2. Untuk tiket Damri bisa book lebih awal ya untuk jaga-jaga dan datang lebih awal karena keberangkatan hanya 1 kali pukul 07.00 malam, jangan sampai ketinggalan
  3. Bagi yang punya penyakit, bawalah obat-obatan jangan sampai ketinggalan, biar kalau kambuh ada obatnya.
  4. Gunakan perlengkapan gunung yang aman untuk diri sendiri
  5. Bawalah bahan untuk penangkal pacet, kalau mereka menempel ya. Kalau tidak menggangu jangan diganggu.
  6. Kalau tertinggal damri, bisa menggunakan bus yang ada di agen-agen sekitar terminal.
  7. Sediakan waktu lebih panjang, agar dapat menikmati keindahan alam di gunung ini, normalnya katanya 6 hari untuk mendaki gunung ini. Kami kemarin hanya 3 ½ hari sehingga cenderung terburu-buru dna tidak dapat menikmati keindahan alamnya.
  8. Pastikan booking klotok dan speed boat jauh-jauh hari, jangan dadakan pas hari H
  9. Pastikan memahami dan mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh TNBBBR dan aturan adat dari Desa Rantau Malam
  10. Di Desa Rantau Malam ini dikembangkan dengan sistem Community Based Tourism (CBT) bahwa semua pengelolaan homestay dan porter dikelola dengan sangat baik oleh warga sekitarnya. Yang salah satu peraturannya adalah setiap 2 orang pendaki wajib menggunakan porter dan jika pendakian kurang dari 6 hari tetap bayar porternya 6 hari. Ini hanya sebagai informasi agar teman-teman pendaki bisa mempersiapkan biaya yang akan dikeluarkan.
  11. Persiapkan uang cash sedari awal, agar tidak kesulitan pada saat membutuhkan uang, karena dari Nanga Pinoh, kita tidak bisa menemukan lagi ATM.
  12. The last but not least and the most important is siapkan fisik dan mental sebelum mendaki, karena perjalanan mulai bandara sampai puncak gunungnya cukup panjang yang membutuhkan fisik dan mental yang luar biasa juga.

Budget
Boleh japri ya kalau ada yang butuh detail budgetnya.

Salam travelling, hope will be usefull for your trip :)


August 25, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (Part 2)

Hari ke-3 (Desa Jelundungan --> Rantau Malam --> Korong Hape --> Pos 4)

Pukul 06.00 pagi kami berangkat ke Desa Rantau Malam dengan menggunakan jasa ojeg. Perjalanan sekitar 25 menit dengan kondisi jalan yang sangat wow, offroad, melewati hutan dan beberapa jalan yang masih rusak berlobang, untungnya musim kemarau jadi tanahnya cukup kering, namun tetep aja ngeriiiiii dan bikin deg-degan.

Pukul 06.30an pagi kami sampai di Desa Rantau Malam. Kami langsung diarahkan ke Homestay milik Pak Jaka untuk melakukan ritual adat sebelum melakukan pendakian. Sekitar pukul 09.00 pagi kami melakukan ritual adat yang dipimpin oleh ketua adat saat ini.


salah satu ritual adat yang dilakukan oleh ketua adat sebelum melakukan pendakian ke Bukit Raya

Setelah selesai ritual adat dan menerima wejangan sebelum melakukan pendakian, pukul 10.00 pagi kami berangkat menggunakan ojek menuju Korong Hape. 

Perjalanan menuju Korong Hape ini cukup menguras adrenalin. Bagaimana tidak, kami harus melewati sungai, jadi kami harus turun dulu dari motor dan menyebrang sungai untungnya lagi musim kemarau, jadi airnya hanya selutut.

turun dari motor dulu buat nyebrang sungai dulu sebelum ke Korong Hape

Dilanjutkan dengan melewati tanah liat dengan tanjakan dan jalan yang wow sekali deh. Offroad lagiiiiiiii…. Sampai saya harus turun dari motor karena takut jatuh untuk beberapa spot karena seram liat jalanannya yang banyak berlubang.


salah satu jalur offroad menuju Korong Hape
pict taken by Om Ihsan

Pukul 11.00 siang sampai di Korong Hape. Kenapa disebut Korong hape, karena di tempat ini, teman-teman bisa mendapatkan sinyal, namun providernya hanya yang berwarna merah saja.


santai sejenak di Korong Hape sambil nunggu teman-teman lain
pict taken by Om Ihsan

Dari Desa Rantau Malam, ada 2 jalur pintu masuk untuk memulai pendakian menuju Bukit Raya, bisa dari Korong Hape atau melalui Pos 1 Batu Lintang. Jadi Korong Hape bukanlah Pos 1 tapi menurut porter-porter Rantau Malam, jalur ini dianggap lebih aman dan cepat karena dari Korong Hape kami tidak melewati Pos 1 dan Pos 2, jadi langsung ke Pos 3.
Setelah menunggu semua berkumpul, akhirnya pukul 01.20 siang, kami memulai pendakian dari Korong Hape untuk menuju pos 4 Sungai Mangan.

Pukul 03.20 kami sampai di Pos 3 Hulu Menyanoi di pos ini juga teman-teman dapat menemukan aliran sungai, hanya ambil beberapa photo kami lanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Kondisi jalan dari Korong Hape menuju Pos 4 masih dalam kondisi aman, hitungannnya masih datar, hanya sedikit saja jalan yang turun naik.

kondisi jalan masih terlihat nyaman alias datar menuju sampai menuju pos 4

Pukul 4.40 sore kami sampai di Pos 4 Sungai Mangan, di pos ini pendaki dapat menemukan aliran sungai yang sangat jernih yang hanya berjarak 2 atau 3 meter saja dari tempat mendirikan tenda, jadi kami leluasa dalam memasak air. Di pos ini tenda hanya dapat didirikan 4-5 tenda saja karena memang areanya tidak terlalu luas.

Saya dan beberapa teman yang datang paling duluan, akhirnya mendirikan tenda dan memasak. Sepanjang naik gunung, pertama kalinya saya tidak perlu menggunakan jaket bahkan tidurpun kami tidak perlu menggunakan sleeping bag karena udara di tempat ini cukup hangat. Setelah teman semua berkumpul, kami makan bersama dan beristirahat untuk perjalanan besok.

Hari ke-4 (Pos 4 --> Pos 7 Bayangan)

Pukul 06.40 pagi kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Jalanan masih terhitung datar, hanya beberapa meter sebelum sampai ke Pos 5 Hulu Rabang, jalanan mulai turun dan agak curam.
Pukul 09.05 pagi kami sampai di Pos 5 Hulu Rabang, di tempat ini ada sungai yang sangat jernih, dan bisa mandi kalau tahan dengan dinginnya. Kami sempat masak-masak juga di tempat ini dan bisa mendirikan tenda juga bagi yang ingin ngecamp di sini.


ada pos 5 Hulu Rabang ada sungai yang lumayan besar dan bisa mandi :)

sungai yang kami lewati saat di pos 5, jernih sekali dan adeeeemmmm

Pukul 10.10 pagi kami melanjutkan perjalan kami, menuju pos 6 Hulu Jelundung, jalanan mulai menanjak. Pukul 12.20 kami sampai di pos ini. Di pos ini juga masih bisa menemukan aliran sungai yang hanya berjarak 5 meter saja. Kami istirahat sebentar bikin kopi dan masak mie.

Pukul 02.05 siang kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 7 Linang, Porter bilang kalau lokasinya tidak terlalu luas hanya cukup 3 atau 4 tenda saja. Sementara di depan kami ada kelompok pendaki lainnya, jadi bisa dipastikan bahwa kami tidak bisa ngecamp di pos 7. Akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di Pos 7 Bayangan. Sekitar ½ jam di bawah Pos 7.

Pukul 03.10 sore, saya dan beberapa teman sampai di pos bayangan ini, kami mendirikan tenda dan memasak. Di pos ini, ke tempat sumber air cukup jauh, sekitar 1 jam pulang pergi.

Masih sama dengan tempat camp pertama, udaranya cukup hangat, saya yang alergi dingin, bahkan hanya memakai kaos tipis tanpa jaket, begitupun saat tidur tidak menggunakan sleeping bag karena hawa udaranya masih hangat apalagi kalau sudah di dalam tenda. Setelah kumpul semua, kami makan dan beristirahat.
team lengkap sama porter, keceriaan saat menemukan makanan enak
masakan Om Ihsan, Om Maw sama Dimas yang katanya masakannya selalu "COZY" :)
saya tahunya delicious Dims :)
Hari ke-5 (Pos 7 Bayangan --> Puncak --> Pos 7 Bayangan)

Pukul 04.50 pagi kami sudah memulai perjalanan untuk summit. Pukul 05.15 pagi saya dan beberapa teman sudah sampai di Pos 7, ternyata betul areanya sempit. Istirahat sejenak dan pukul 05.30 pagi saya lanjutkan perjalanan menuju puncak.

Jalan yang harus kami lewati sangat panjang, naik dan turunan yang sangat curam bahkan beberapa spot ada yang kemiringannya 90 derajat, sehingga kami harus pegangan ke akar-akar dengan cukup hati-hati.

rutenya yang luar biasah menuju Pos 7, merayap dan merangkak
pict taken by Om Maw

Mendekati ke arah puncak, hutan berlumut mulai nampak dan banyak pohon-pohon dan akar-akar yang rindang.


hutan lumut dan pohon-pohon yang rendah, jadinya harus nunduk-nunduk jalannya
pict taken by Om Maw

Sehingga nampak beberapa spot terbentuk seperti gua dan kami harus melewatinya dengan merundukan badan.


hutan lumut, salah satu rute yang harus dilewati menuju pos 7
boleh naikin puunnya atau merangkak buat lewatin pohon-pohon ini
pict taken by Om Maw
yang ini harus sampai bergelantungan :)
pict taken by Om Maw
ada juga rute yang miringnya kayak begini :)
pict taken by Om Maw
Dari awal perjalanan saya melihat hasil kerja Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya membuat papan petunjuk mengenai jarak. Mendekati arah puncak, saya mulai ambil peduli dengan papan-papan petunjuk jarak tersebut. Saya menghitung setiap seratus meter perjalanan saya, Setidaknya saya tahu, bahwa rute yang panjang dan melelahkan sedikit demi sedikit berkurang. Di 1000 meter terakhir terasa berat buat saya karena sudah kehabisan air dan dengkul mulai terasa lelah. Namun di 500 meter terakhir papan petunjuk jarak tersebut dihiasi dengan tulisan-tulisan pemberi semangat yang lumayan membantu semangat saya kembali J, kreatif juga ya taman nasionalnya.


semangat ya 100 meter lagi menuju puncak
pict taken by Om Maw
Akhirnya setelah 6 jam perjalanan lebih, pukul 11.05 siang, saya dan beberapa teman sampai ke puncak. Sambil menunggu yang masih di belakang, kami istirahat dan ambil beberapa photo.
full team, family picture, the power of tripod
congrat guys

Pukul 12.40 siang, kami melanjutkan perjalanan turun. Saya bersama 2 orang turun dengan mencoba berjalan santai. Sampai ke Pos 7 Bayangan sekitar pukul 06.20 malam. Karena rute turun sama saja dengan rute pada saat naik, menanjak dan turunan ditambah dengkul kami sudah cukup kelelahan L

August 20, 2018

Bukit Raya, Bukit Perjuangan di Pulau Borneo (Part 1)


Bukit Raya, pastinya sudah tidak asing lagi bagi para pendaki Indonesia atau bahkan untuk pendaki dari luar, karena masuk dalam Seven Summit-nya Indonesia. Gunung ini merupakan gunung yang ketinggiannya paling rendah dibandingkan dengan gunung yang masuk kategori Seven Summit Indonesia lainnya yaitu sekitar 2.278 mdpl, namun siapa sangka kalau rutenya lumayan menguras kesabaran karena lumayan panjang.

akhirnya sampai puncak......
picture taken by Mifta

Kami berangkat bulan Agustus tahun ini, dimana musimnya masih musim kemarau. Setidaknya meminimalisir bertemu dengan penghuni sejati gunung ini, yap “sang pacet si penguasa gunung ini”. Binatang ini tidak berbahaya, namun cukup bikin gemas kalau sampai masuk-masuk ke kaki dan menempel di tubuh kita. Serta bentuknya yang kenyal-kenyal bikin geli kalau sampai nempel di kulit.

Berawal dari postingan di sebuah group pendaki, saya daftar untuk gabung, namun ternyata sudah full kuotanya. Tetiba menjelang hari H dikabarin ada slot kosong, thanks to my God, selalu indah pada waktunya J

Seperti biasa, tak ada satupun yang saya kenal sebelumnya, namun justru ini yang bikin seru, ketemu temen-temen baru J


Hari ke-1 (Jakarta à Bandara Internasional Supadio à Pool Damri à Nango Pinoh)

Kami berangkat bersebelas orang, ada yang dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan saya sendiri berangkat dari Kalimantan karena sedang ada pekerjaan di kota ini. Untuk menuju tempat ini, dapat menggunakan pesawat ke Bandara Internasional Supadio Pontianak dengan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 jam dengan rate tiket pesawat 500-1 juta, tergantung waktu kapan membelinya dan maskapai yang digunakan.

Meeting point kami di Pool Damri Pontianak yang ada di Jalan Pahlawan Kota Pontianak, tempat ini dipilih karena dekat dengan bandara dan juga salah satu tempat penjualan tiket Damri ke Nango Pinoh yaitu lokasi terakhir kendaraan darat sebelum ke Rantau Malam yang merupakan desa terakhir sebelum pendakian.

Dari Bandara dilanjutkan ke Pool Damri menggunakan taksi lokal dengan tarif sudah ditentukan sesuai tujuan, kalau banyakan bisa shared cost dan jadi lebih murah. Teman-teman juga bisa menggunakan kendaraan online namun harus jalan jauh keluar, karena transportasi online masih belum boleh masuk ke bandara ini, ya sama seperti di kota-kota lainnya dimana bandara menjadi salah satu zona merah untuk transportasi online.


Kontak Damri Pontianak
Pict taken by Om Maw

Sampai di Pool Damri, teman-teman bisa langsung membeli tiket Damri dengan harga Rp. 175.000 per orang. Tiket bisa juga dipesan jauh-jauh hari sebelumnya melalui telepon. Keberangkatan ke Nango Pinoh hanya ada satu kali setiap pukul 07.00 malam dari Terminal Soedarso. Pool Damri ini bukan tempat keberangkatan, namun hanya untuk pembelian tiket saja. Masih sekitar 10-15 menit lagi dari tempat ini untuk menuju terminal keberangkatan yaitu Terminal Soedarso. Tapi jangan khawatir teman-teman, Pool Damri ini menyediakan jasa antar gratis ke Terminal Soedarso dengan menggunakan mobil elf.

Sambil menunggu diantar ke Terminal Soedarso, teman-teman juga bisa beristirahat di Pool Damri ini. Ada ruang tunggu di lantai 2, ada tempat tidurnya juga, lumayan kan bisa istirahat leyeh-leyeh, gratiiiiiiissss. Ada toilet, mushola juga. Nah kalau mau cari makanan atau wifi bisa geser ke sebrang, ada cafe yang terkenal di Jakarta dan Yogyakarta buka di sini, lumayan kan bisi wifi-an :)


suasana ruang tunggu Pool Damri di Jl. Pahlawan Pontianak
pict taken by Om Ihsan

ada musholanya juga buat penumpang yang hendak beribadah
pict taken by Om Ihsan

Sore sekitar pukul 17.30an kami diantar ke Terminal Soedarso. Sekitar 10 menit kami sudah sampai. Pukul 07.00 malam, bus sudah berangkat menuju Nanga Pinoh. Fasilitas Damrinya cukup memuaskan, AC yang super sejuk, selimut, tempat duduk slipper yang empuk yang bisa dinaikan dan diturunkan kursinya jadi bisa tidur nyaman tuh, ada buat charge, toilet, wifi dan dikasih snack juga loh, nyamanlah pokoknya.


depan-belakang - Om Maksun, Om Ridwan, Me, Om Ihsan, Om Komeng, Mels, Dims, Om Maw, Mifta, Bina, Om Rudy
interior Pool Damri, wefie dulu sebelum perjalanan 9 jam ke Nango Pinoh
pict taken by Om Riswan

Perjalanan akan ditempuh sekitar 8-9 jam sampai Nanga Pinoh. Pukul 11.00 malam bus sempat berhenti di Desa Sosok sekitar ½ jam untuk istirahat dan makan. Pukul 11.30 malam bus kembali melaju dan kami tidur lagi ya teman-teman, buat persiapan trekking yang katanya panjang sekali rutenya dan juga katanya harus bungkuk-bungkuk sebelum ke puncak, have a nice sleep…….


Hari ke-2 (Nanga Pinoh à Dermaga Sungai Serawai à Sungai Serawai à Desa Jelundungan)

Pukul 03.40 pagi kami tiba di Terminal Nango Pinoh. Suasananya cukup dingin dan masih sepi hanya ada beberapa bus yang baru sampai dari kota lainnya. Kami isitirahat di warung depan terminal sambil menunggu angkot yang akan mengantar kami ke dermaga.

Di sekitar terminal ini ada masjid, warung makan, swalayan seperti Alfamart/Indomaret, ATM, toilet juga ada. Bisa untuk membeli beberapa kebutuhan logistik. Untuk sayuran bisa dibeli di pasar tradisional Nango Pinoh dekat dermaga Sungai Serawai.

Dermaga Sungai Serawai. Pasarnya sangat lengkap. Dari sembako sampai pakaianpun ada. Setelah makan, sholat dan rapi-rapi, pukul 06.00 pagi kami berangkat dengan menggunakan satu angkot menuju Dermaga Sungai Serawai. Sekitar 10 menit kami tiba di dermaga menuju Sungai Serawai.


suasana pagi Pasar Tradisional di Dermaga Sungai Serawai

Dua orang dari kami mengurus perizinan Simaksi. Lainnya loading barang dan perempuannya belanja logistik untuk kebutuhan kami beberapa hari. Untuk gas kami beli di Kota Pontianak, ada di beberapa toko dan swalayan karena di Pasar Nango Pinoh kawatir tidak ada.

Tepat pukul 08.00 pagi kami berangkat ke Sungai Serawai dengan menggunakan speed boat yang hanya muat maksimal 7 orang termasuk nakhodanya, sehingga kami harus pesan 2 speed boat. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 5 jam termasuk istirahat makan di rumah makan terapung di sepanjang Sungai Serawai.


wefie dulu di atas speed boat di Dermaga Sungai Serawai
pict taken by Om Maw

sekitar pukul 10.00 pagi kami sempat berhenti untuk makan
pict taken by Om Maw

Pukul 01.00 siang, kami tiba di Sungai Serawai. Dilanjutkan dengan menggunakan Klotok untuk menuju Desa Rantau Malam, yaitu desa terakhir atau basecamp sekaligus di desa ini juga dilakukan ritual adat sebelum melakukan pendakian. Ada sedikit kendala mengenai Klotok yang kami pesan, sehingga pukul 03.00 sore kami baru berangkat menuju Desa Rantau Malam dan kami berangkat dengan 2 buah Klotok.


bentuk klotok yang kami tumpangi untuk menuju Desa Rantau Malam

Karena musim kemarau arus air sangat kecil sehingga Klotok yang kami tumpangi tidak bisa berjalan dengan cepat. Akibatnya kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Rantau Malam. Sekitar pukul 07.40 malam kami tiba di desa ini. Sementara 1 klotok lagi yang teman kami tumpangi, baru tiba pukul 10.00 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menginap di Desa Jelundungan.
jadi total perjalanan kami adalah 9 jam perjalanan darat ke Nango Pinoh, 5 jam lewatin sungai ke Serawai, dan 7 jam perjalanan sungai lagi, menuju Desa Glundung, total 21 jam darat dan sungai, maboooooookkkkkkk

Eits, jangan senag dulu, masih ada perjalanan offroadnya juga berjam-jam, sebelum melakukan pendakian, seruuuu bangetttt, pokoknya, penasaran????