Skip to main content

Kisah Secangkir Cokelat Manis di Griya Cokelat Nglanggeran

Berbicara pesona Desa Wisata Nglanggeran, memang tiada habisnya. Desa Wisata yang menang dalam penghargaan ISTA 2017 kategori Ekonomi ini masih menyisakan banyak tempat yang wajib dikunjungi. Setelah Gunung Api Purba, Kampung Pitu dan Embung Nglanggeran, berikutnya bagi anda pecinta kakao dapat mengunjungi Griya Cokelat yang diresmikan langsung oleh orang nomor satu di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2 Desember 2016.

welcome



Di depan pintu masuk disediakan gazebo untuk menikmati seduhan kakao

Griya Cokelat yang merupakan home industry ini berdiri dari hasil kerjasama masyarakat Desa Nglanggeran dengan LIPI dan BI. Coklat-coklat ini diproduksi menjadi berbagai olahan makanan dan minuman siap saji dengan berbagai variasi. 

beberapa contoh oalahan kakao menjadi makanan dan minuman

Seperti serbuk coklat yang siap seduh, olahan makanan seperti dodol, pisang yang disalut dengan coklat dan lainnya, bagi penikmat coklat disini juga disediakan olahan coklat batangan yang sudah dikemas dengan cantik yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh.

salah satu contoh olahan coklat bubuk yang sudah dikemas

olahan kakao dalam bentuk dodol

Selain sebagai galeri penjualan, tempat ini juga merupakan tempat produksi beberapa olahan kakao dengan konsep yang sederhana. Beberapa daerah juga melakukan studi banding mengenai pengolahan coklat di tempat ini.

Selain dijual di galeri ini, pengurus juga menjualnya dibeberapa tempat oleh-oleh di Yogyakarta dan teman-teman dapat memesannya juga melalui akun instagramnya @griya.cokelat.nglanggeran

Nah bagi teman-teman pecinta kakao, wajib banget deh mampir ke tempat ini jika berkunjung ke Desa Wisata Nglanggeran, selain itu juga teman-teman sudah berkontribusi mendorong ekonomi warga desa ini.

 Nah bagaimana, penasaran kan….

Comments

  1. Wah aku belum pernah cobain. Ini dijualnya di satu area sama dengan obyek wisata Nglanggeran kah mbak??? Dulu pas kesana soalnya kyknya blm ada sih. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mba Ry bukanya Desember 2016, arahnya pas mau keluar

      Delete
  2. Ini di sebelah mananya Nglanggeran si mb? Udah lama nggak main-main ke gunungkidul. Pesen coklatnya via online aja bisa nggak ya. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa mereka ada IG nya ko, ini arah keluar sih saat mau pulang

      Delete
  3. Itu coklat lokal ya mba? Wah, kalau iya musti mampir nih kesana. Selain biar kita relax juga membantu kedai orang biar lbh dikenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mba punya masyarakat sana, betul Mba kita bantuin promosi produk lokal

      Delete
  4. Woooo baru tau kalo di Nglangeran ada griya cokelat ini. Lumayan nih buat santai2 sambil liat2 pemandangan di sana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mba abis keliling Ngelanggeran, trekking ke Gunung Api Purba atau Kampung Pituk bisa mampir ke sini

      Delete
  5. Gunungkidul yang dulu sangat terpencil, kini makin berkibar ya..
    Dan aku baru tahu kalo disana ada produksi coklat yang kece ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mba baru dibangun akhir Des 2016, produk lokal mereka, bagus untuk pengembangan ekonomi masyarakat sana. Bisa beli online juga

      Delete
  6. Bisa coba ini pecinta coklat, rasanya tidak terlalu manis ya?

    ReplyDelete
  7. Hhm penasaran nih gimana rasanya, aku penggemar coklat nih mbak... apa lagi minuman coklatnya, suka yang ada pait-paitnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa di coba ke sana Nis, banyak macamnya ada juga yang pahit-pahit gitu temanku sempat beli waktu itu

      Delete
  8. Saya tu termasuk cukup sering ke nglanggeran, tapi belum pernah sekalipun mampir ke tempat ini. Cuma lewat saja. Tapi kalau minum coklatnya pernah, dibawain teman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba Mba kesana asik deh sore-sore minum coklatnya di teras sambil lesehan ehheeh

      Delete
  9. Coklatnya enak ga Mei? Lebih pait atau lebih kental kalau dipakai minuman? Penasaran euy jadinya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Gunung Kerinci, Pesona Alam Penuh Misteri Di Atap Sumatera

Siapa yang tak mengenal Kerinci, gunung tertinggi yang pertama kali didaki oleh Von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877 ini berada di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan menjadi salah satu bucket list para penikmat ketinggian dari berbagai belahan Indonesia bahkan dunia. Gunung dengan nama lain Korinci, Gunung Gadang, Berapi Kurinci dan Puncak Indrapura ini juga menjadi rangkaian seven summit Indonesia.

Gunung yang mendapat julukan atap Sumatera ini masih tergolong aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009 dan mempunyai ketinggian 3.805 mdpl (meter di atas permukaan laut) serta berjenis gunung berapi bertipe stratovulcano. Lokasi gunung ini berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Hari ke-1 Saya bersama teman-teman lainnya mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi. Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam lagi untuk menuju desa terakhir sebelum pendakian yaitu Desa Kersik Tuo. Kami menye…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …