Skip to main content

Embung Nglanggeran, Surga Hijau di Atas Ketinggian (Nglanggeran Part 3)

Selepas dari dari Kampung Pitu, saya melanjutkan perjalanan ke salah satu ikon Nglanggeran yang saat ini gambarnya banyak menghiasi sosial media, yap namanya Embung Nglanggeran. Perjalanan ditempuh sekitar 15-20 menit dari Kampung Pitu. Melewati pemandangan indah GunungApi Purba, jalannya pun sudah cukup bagus beraspal, hanya saja sebagian masih dalam tahap perbaikan. Dengan membayar retribusi Rp 10.000,00 per orang ditambah parkir motor Rp 2.000,00 per motor, teman-teman sudah dapat menikmati pemandangan embung yang diresmikan pada Februari 2013 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X ini dan juga wisata disekitarnya. Peresmian dilakukan oleh seorang sultan Yogyakarta mempunyai pengaruh besar terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke tempat ini.

Sugeng rawuh di Kebun Buah Nglanggeran ⌣⌣

Disediakan area parkir yang cukup luas untuk kendaraan roda dua dan empat atau bahkan untuk bus. Karena letaknya di ketinggian, setelah memarkir kendaraan, saya masih harus menaiki beberapa anak tangga untuk dapat menikmati embung ini. Saat melewati anak tangga terlihat tulisan Sapta Pesona milik Kementrian Pariwisata Indonesia dan ikon durian yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sapta Pesona

Saat sampai, mata saya sudah otomatis fokus pada embung yang yang berwarna kehijauan itu. Embung berukuran 60mx40m ini pada awalnya dibangun untuk menampung hujan dan airnya difungsikan untuk membantu perkebunan buah milik warga seluas 20 ha. Saat saya berkunjung, ada beberapa spot dalam tahap perbaikan. sayangnya saat saya sampai ke tempat ini, cuacanya sedang mendung.

Pesona Embung Nglanggeran

Terlihat pemandangan nan hijau disekeliling embung ini dan terdapat beberapa gazebo untuk berteduh bagi pengunjung yang datang. 

Gazebo untuk berteduh

Sedikit berjalan ke arah atas, disediakan dua gardu pandang untuk dapat menikmati dan mengambil photo embung ini secara keseluruhan. Teman-teman yang ingin menikmati sunset bisa mengunjungi tempat ini pada sore hari dan harga tiketnya sedikit berbeda. Yogyakarta memang benar-benar istimewa, tempat wisata di kota ini tak ada habisnya. Terletak di desa yang dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik Se-ASEAN tahun 2016 ini memang betul-betul indah.

Disekitar embung, arah pintu keluar terdapat sebuah bangunan megah hasil kerjasama UGM, Pemkab Gunungkidul dan Litbang Kementan. Di tempat ini dilakukan pengolahan beberapa produk yang dihasilkan oleh warga, salh satunya adalah pengolahan kakao dan susu sapi etawa. Teman-teman bisa mampir ke tempat ini untuk dapat melihat pengolahannya.

Pusat Pengolahan Coklat di sekitar Embung Nglanggeran

Dikarenakan tidak ada kendaraan umum, saya sarankan jika ingin berkunjung ke tempat ini untuk membawa kendaraan sendiri ya teman-teman. selain itu akan memudahkan teman-teman juga untuk mengunjungi tempat sekitar embung ini.

Comments

Popular posts from this blog

Wisata Millenial ke Stonehenge Cangkringan

Pesona wisata Jogja memang tak ada habisnya untuk menciptakan sebuah destinasi wisata yang dapat menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Gambar Stonehenge Cangkringan di Yogyakarta belakangan ini mulai ramai menghiasi sosial media. Daya tarik wisata ini mulai dibuka pada awal tahun 2017. The power of social media membuat destinasi wisata ini langsung hits di kalangan milenial sampai usia sepuh. Daya tarik wisata buatan hampir mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris.


Saya bertiga dengan teman-teman sekitar pukul 04.00 sore menggunakan kendaraan roda empat, cuacanya kurang bersahabat alias mendung pas kami tiba, jadi Gunung Merapinya tidak terlihat dengan jelas. Dengan modal menggunakan google map, malah kami kesasar ke hutan-hutan dan hanya jalan setapak untungnya masih muat untuk mobil meski bebatuan :).
Sebelum pulang saya sempatkan tanya pada petugas karcis, untuk rute yang mudah lewat mana, petugasnya kasih dua alternatif jalan.




Tempat ini bisa dipergunakan jug…

Gunung Kerinci, Pesona Alam Penuh Misteri Di Atap Sumatera

Siapa yang tak mengenal Kerinci, gunung tertinggi yang pertama kali didaki oleh Von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877 ini berada di daerah perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan menjadi salah satu bucket list para penikmat ketinggian dari berbagai belahan Indonesia bahkan dunia. Gunung dengan nama lain Korinci, Gunung Gadang, Berapi Kurinci dan Puncak Indrapura ini juga menjadi rangkaian seven summit Indonesia.

Gunung yang mendapat julukan atap Sumatera ini masih tergolong aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009 dan mempunyai ketinggian 3.805 mdpl (meter di atas permukaan laut) serta berjenis gunung berapi bertipe stratovulcano. Lokasi gunung ini berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Hari ke-1 Saya bersama teman-teman lainnya mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi. Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam lagi untuk menuju desa terakhir sebelum pendakian yaitu Desa Kersik Tuo. Kami menye…

Museum Ullen Sentalu, Museum Kerajaan Mataram

Museum Ullen Sentalu yang didirikan pada tahun 1994 ini, merupakan museum milik swasta yang ada di Yogyakarta. Pemiliknya Keluarga Haryono merupakan salah satu bangsawan di Yogyakarta dan merupakan seorang pembatik. Ullen Sentalu sendiri merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang artinya Lampu Blencong yaitu lampu yang digunakan saat pertunjukkan wayang kulit, yang secara filosofi maksudnya adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.


Didalam museum ini menjelaskan beberapa sejarah tentang empat kerajaan yang berada di Solo dan Yogyakarta, yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Benda-benda yang terdapat di dalam museum merupakan hibah dari kerajaan Solo dan Yogyakarta, seperti gamelan, kain dengan berbagai corak khas Yogyakarta dan Solo, tulisan-tulisan dari putri kerajaan Solo. Semua benda-benda tersebut merupakan peninggalan budaya dan peninggalan bangsawan Jawa …